
Pagi itu Bima sampai di kantor dan melihat pemandangan yang tidak biasa pada rekan-rekannya. Semua berkumpul pada satu meja melakukan sesuatu yang aneh. Bima penasaran hingga mendekati meja itu.
“Ada apa ini?”
“Ah … Pak Bima sudah datang, Pagi Pak ….” Ujar semuanya.
“Kami sedang memandikan peluru-peluru ini ke dalam jus bawang putih, Pak!”
“Hah?” Bima membelalakan bola matanya, merasa geram seketika. Hingga menyentak kepala mereka satu persatu.
“Apa kalian sudah gila? Hah!” Memberikan tatapan tajamnya. Sontak semuanya berhenti melakukan kegiatan itu.
“Mandiin peluru? Kenapa enggak sekalian kalian yang mandi,” sambung Bima kesal.
Tiba-tiba Eddie datang dengan memakai kalung rangkaian bawang putih yang melingkar di lehernya. Semua rekannya tidak tahan hingga menertawakannya, berusaha keras menutupi kelucuan itu dengan kedua tangan hingga mengeluarkan suara aneh dari tertawa yang ditahan.
“Eddieeeeeeeee!” Bima berteriak sambil berkacak pinggang. Dengan wajah tidak bersalah Eddie melepas kalung itu setelah melihat rekan-rekannya memberikan gestur untuk melepasnya segera.
Pak Bima marah, kamu akan mati Eddie, lepaskan kalung itu.
“Pak Bim, Dokter Puput sedang membedah zombie itu di ruang otopsi,” ujar petugas lain.
Bima terkejut hingga bergegas meninggalkan mereka begitu saja. Dirinya sangat mengkhawatirkan Dokter Puput yang tetap saja mengotopsi mayat hidup itu setelah terluka seperti kemarin. Dengan cepat berlari menuju ruang otopsi yang berada di gedung lain, memasuki ruang otopsi dengan tergesa-gesa. Di dalam sana mayat hidup itu sudah terbelah dan di ambil organ-organ dalamnya. Kekhawatiran Bima surut seketika melihat dua orang petugas menjaga Dokter Puput selagi melakukan pekerjaan.
“Kalian boleh pergi, biar aku saja,” ujar Bima.
Mendekati Dokter Puput yang lebih serius ketimbang sebelumnya. Rasa penasarannya untuk mencaritahu apa penyebab mayat ini hidup kembali.
“Mahasiswa semester 1 bernama Januar Helmy, masih sangat muda untuk berada di sini!” sembari mengambil 15 proyektil yang bersarang di organ dalam mayat itu.
“Aku penasaran hingga mencari alasan bagaimana mayat bisa hidup, secara medis sulit untuk menjelaskannya. Hingga aku mencaritahu kasus-kasus tentang zombie di seluruh dunia. Ada beberapa yang menarik dan membuat rasa penasaranku untuk melakukan otopsi pagi ini.”
“Iya … tapi kondisimu itu belum sehat!”
“Jika aku enggak bisa mengungkap misteri dari mayat hidup ini, aku enggak akan bisa hidup dengan tenang. Selalu akan ada perasaan jika mayat-mayat yang diotopsi menyerangku.”
“Baiklah, aku akan menemanimu hingga selesai.”
Sembari melakukan risetnya, Dokter Puput menceritakan jika pada tahun 1907 di Haiti yang terkenal dengan ilmu Voodoo-nya. Ada seorang wanita yang sudah meninggal kala itu bernama Felicia Felix Mentor, beberapa tahun kemudian mayatnya berjalan-jalan dengan bertelanjang. Tatapannya kosong dan menyeramkan, benar-benar seperti mayat hidup. Setiap hari pergi ke ladang gula atau perkebunan. Seorang dukun Voodoo telah menghidupkan mayat-mayat itu untuk dijadikan budak sebagai pekerja gratisan.
Mulai bermunculan mayat-mayat hidup yang tidak berkeinginan hanya melakukan apa yang diperintahkan tuan-nya.
Hingga para ilmuwan merayu seorang dukun ilmu Voodoo itu untuk memberitahukan ramuan rahasianya yang bisa membangkitkan orang mati. Ramuan itu terdiri dari tengkorak bayi, kulit katak bufo (bufotoxin) dan unsur yang paling ampuh adalah organ reproduksi pada ikan buntal yang mengandung racun syaraf (tetrodoxin) hingga menyebabkan sampai pada titik kematian.
“Jadi dukun Voodoo itu sengaja membuat mereka seperti mati? Dan bukannya menghidupkan orang mati?”
“Ya … seorang mayat hidup bernama Clairvius Narcisse mengatakan jika seorang dukun memberikan ramuan itu pada kulitnya yang terkelupas. Dirinya menjadi koma, terlihat mirip orang mati lalu dikubur hidup-hidup. Kemudian mayatnya di gali diberikan Datura Stramonium agar seperti terhipnotis, tidak berkeinginan dan mengikuti perintah apapun.”
“Tapi, berbeda dengan mayat hidup ini … sangat agresif dan bahkan hampir membunuhmu dan Eddie?”
“Itu yang sedang ingin kutelusuri, aku mencurigai suatu zat yang bernama … Flakka! Bingo*!***” Sembari memberikan hasil positif pada temuannya.
Flakka?
Flakka (alpha-pyrrolidinopentiophenonen atau alpha-PVP), sebuah cathinone sintetis yang termasuk dalam kelas obat-obatan psikoaktif. Berasal dari Afrika, berupa semak-semak yang biasanya dikunyah oleh masyarakat sana selama berabad-abad sebagai stimulan. Padahal jenis ini bukan hanya dapat meningkatkan efektivitas tetapi juga halusinasi yang bisa mengubah pikiran, gangguan perasaan dan daya pandang yang berbeda.
“Seseorang bisa menjadi agresif, membunuh tanpa perasaan dan pikiran.”
Bima semakin kalut dengan misteri penemuan Dokter Puput hingga mengusap kepalanya beberapa kali. Pertanyaan demi pertanyaan yang melintas di kepalanya terlalu banyak.
“Jadi, kedua korban Derry dan Januar, apakah mereka sudah mati atau belum ketika ditemukan polisi?”
“Tidak ada Flakka dalam tubuh Derry, ia sudah mati ketika ditemukan sedangkan Januar, kemungkinan mati ketika kamu menembakkan 15 peluru ke tubuhnya.”
Aku telah membunuh seorang pemuda?
“Baiklah laporan penemuanmu pada Pak Dean … aku harus menangkap para pengedar yang sudah membuatku membunuh seorang pemuda.” Pungkas Bima sambil lalu. Meninggalkannya sendirian, Bima merasa harus menemukan para penjahat itu sebelum mereka membuat seseorang menjadi seperti mayat hidup dan membuat polisi terpaksa membunuh mereka.
Bima memerintahkan seluruh unit agar segera melakukan penyisiran di kampus Nin. Kepolisian sedang berhadapan dengan peredaran organisasi narkotika yang cukup besar. Mereka menargetkan kampus menjadi sasaran empuk, terutama mahasiswa-mahasiswa baru. Tetapi, kenapa mereka membuatnya seperti mayat hidup, bukannya membuat ketergantungan saja. Itu lebih menguntungkan untuk mengeruk uang dari bisnis narkoba.
Aaarrrrrgggghhhhh!
“Jadi, bawang putih ini enggak ngaruh yah, Pak?” ujar Eddie sembari melepas gelang bawang putih. Bima memberinya pukulan telak di kepala hingga Eddie mengaduh dan mulai sadar. Mungkin benturan di kepalanya akibat serangan zombie itu membuat otaknya geser 180 derajat.
Tiba-tiba Nin menelepon Bima.
Deerrrttt, deerrtttt.
Nin memberitahukan keadaan kampusnya saat ini sangat rusuh. Semua orang berlarian ketakutan karena beberapa mahasiswa menyerang mereka dengan agresif seperti zombie. Nin terjebak di ruangannya.
"Sialan! Kalah cepat dari mereka!"
“Perhatian seluruh unit, serangan di kampus sudah terjadi, kerahkan seluruh unit yang ada. Jangan ada yang menggunakan senjata api. Berikan saja mereka pukulan melumpuhkan dan borgol.”
“Unit menerima perintah Pak … tapi bagaimana jika mereka terlalu agresif Pak?”
“Jangan pakai senjata api, ini perintah! Mereka masih hidup dan di bawah pengaruh narkoba!”
Mobil-mobil seluruh unit sampai di depan gerbang kampus. Mahasiswa mulai berhamburan keluar, Mereka histeris dan berteriak ketakutan. Wajah-wajah yang pucat, agresif menyerang dan menakutkan itu mengejar se-isi kampus dan mulai memukuli sesama mahasiswa. Para zombie tidak memandang itu perempuan atau laki-laki, mereka tidak merasakan ketakutan. Pandangan mereka sangat kosong.
Aaahhhh!
Jangan!
Tolong!
Tolong!
Zombie itu menangkap seseorang dan mulai memukulinya bertubi-tubi, korban berusaha menghindari pukulan itu. Gigitannya yang mengoyak kulit tubuhnya hingga terlihat daging segar mengangga. Darah mulai mengalir dan berceceran memenuhi halaman kampus.
Teriakan demi teriakan dari mahasiswa-mahasiswa yang terluka akibat gigitan dan pukulan, membuat kampus itu menjadi lokasi paling berdarah dan mengerikan sepanjang sejarah. Teriakan meminta tolong dan mengaduh kesakitan menandakan mereka masih hidup dan tersiksa.
Tidak ada lokasi tanpa darah yang berceceran dan bergelimpangan korban yang mulai tidak sadarkan diri akibat pukulan atau hampir kehabisan darah. Zombie itu mengoyak leher korban hingga menyembur deras darah seperti keran terbuka.
Petugas polisi membawa tameng dan tongkat pemukul untuk melumpuhkan para zombie itu. Baku hantam mulai terjadi, beberapa zombie terkena pukulan telak dari tongkat polisi, tetapi bangkit lagi dan membalas pukulan itu dengan gigitan dan pukulan bertubi-tubi.
Para zombie tidak merasakan kesakitan, bahkan bertambah agresif sehabis dipukul. Hingga seorang petugas merasa panik dan mengeluarkan pistolnya, menembakkan letusan ke atas.
Deeeesssssiiiiiing!
Tiba-tiba para zombie itu semakin marah dan menyerang petugas yang telah menembakkan pistol ke atas.
Zombie itu berdatangan dari segala arah hingga tidak terhingga. Bima melihat Nin berada di lantai tiga, sendirian diruangannya terjebak. Tiba-tiba beberapa mobil anti peluru masuk ke dalam halaman kampus. Dean keluar dari mobil itu dan beraksi. Melempar banyak borgol untuk digunakan polisi agar bisa mengikat para zombie. Melumpuhkan sementara kaki dan tangan mereka.
Dean mengikat tangan dan kaki itu bersilangan. Itu cara yang paling efektif agar mereka tidak bisa mengejar lagi. Zombie tengkurap dengan tangan dan kaki terikat menyilang memenuhi halaman. Cara Dean sangat efektif menghentikan laju para zombie.
“Pak Dean, Nin di atas!” sembari menunjukkan ruangan Nin di atas.
Dean mengangguk dan mulai berlari menuju lantai atas dengan menggunakan lift. Ketika membuka lift para zombie itu menyerang Dean hingga tersudut di dalam lift. Memberikan mereka perlawanan sengit, namun Dean kewalahan jumlah mereka terlalu banyak. Dean terkena pukulan dan gigitan di bahu dan kakinya.
Aaaaaahhhhhhh!
Zombie itu seperti kerasukan dan membabi-buta memukul dan mengigit semua bagian tubuh yang terkoyak hingga hampir terlihat tulangnya dengan darah yang menodai seluruh pakaian Dean.
Bima datang dari arah tangga dan membantu Dean untuk keluar dari lift. Menyekap para zombie itu di dalam lift.
Napas Bima dan Dean yang tersengal-sengal kelelahan dan jalan yang mulai terseok-seok karena beberapa luka di bagian tubuhnya. Terlihat Nin keluar dari ruangannya setelah keadaan cukup aman. Tiba-tiba dua helikopter datang dan mengalihkan pandangan Dean, Bima dan Nin kearah jendela.
Berondongan senjata mulai diletuskan dari senjata mesin berat berjenis DShK-38 di atas helikopter yang mampu memuntahkan 600 butir peluru permenit-nya. Mereka menembaki seluruh zombie yang terlihat bergerak dan berlarian.
“Jangaaaan! Hentikaann! ….” Bima berteriak sangat kencang. Bima memberikan perintah untuk menghentikan penembakan itu.
Halaman kampus menjadi lautan manusia tak bernyawa.
***
#Part Virus Zombie adalah kesukaan Author karena harus mengulik referensi yang cukup banyak dan memunculkan ide yang memuaskan Author. Semoga kalian suka )
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )