The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 24 Dean Kehilangan



Setelah dobrakan pintu yang ketiga kalinya akhirnya berhasil membuka pintu kamar yang terkunci dari dalam. Beberapa orang masuk


untuk memberikan pertolongan pertama.


Aku melihat tubuhnya sudah mulai pucat kehilangan banyak darah. Ibunya hanya menangis histeris sambil memegang tubuh anaknya yang mulai kehilangan suhu hangatnya. Sedangkan aku hanya terdiam seperti patung, terkenang kejadian pada masa lalu.


 


Ketika aku pulang kerumah dengan perasaan bangga karena sudah menyelesaikan pendidikan dan akan menerima pangkat menjadi Letnan Satu.


Keluarga yang sangat ingin kutemui adalah Kakak. Aku ingin beliau yang pertama tahu tentang prestasiku. Ayah dan Ibu tidak sedang dirumah padahal waktu itu adalah hari libur. Aku sengaja menyempatkan liburan kali ini untuk menemuinya.


 


Kubuka pintu kamar itu dengan perasaan gembira. Namun yang kulihat adalah pemandangan yang menakutkan. Aku melihat tubuh yang sudah bergantung kaku diatas lubang ventilasi udara. Kakak menggantungkan tali disana untuk membunuh dirinya.


Aku bersimpuh dengan kedua lututku dilantai dan tertegun dengan tangisan tidak percaya, melihat tubuhnya yang melerai disana. Dengan kelengkapan pakaian dokternya yang serba putih, wajahnya yang melotot meregang nyawa, tersembunyi oleh cahaya mentari yang membias. Aku merayap dan merayap mendekat. Airmata ini jatuh dan terjatuh. Langkah ini begitu berat untuk mendekat. Kenapa Kak? Kenapa?.


Memohon agar dia kembali, kusentuh jemari kakinya yang tak hangat lagi, kaku, dingin dan membiru. Aku memeluknya,dan mengatakan. Aku akan menyelamatkanmu Kak, ini belum terlambat, Aku berteriak “Aku akan menolongmu, ini belum terlambat.” Menahan berat tubuh itu dengan sekuat tenaga.


”Bangunlah, ini belum berakhir.”


Ibu dan Ayah yang tiba dan melihat apa yang sedang berlangsung. Ibu berjalan masuk dan


hilang kesadaran. Ayah yang tidak berdaya dan bingung dengan keacuhannya. Setelah tubuh itu berhasil diturunkan, aku melihat secarik kertas diatas meja belajarnya yang begitu rapih tersusun.


“Tak ada yang lebih berat dari mencari isi dalam kekosongan. Tak ada yang lebih berat dari mencari dikedalaman lautan. Bila saja aku sedikit memiliki keberanian menghadapinya, aku akan mulai mengisi kekosongan ini. Bila saja aku sedikit memiliki keberanian untuk menyatakan aku


tidak bahagia, ini bukan aku. Apakah aku masih disayangi? ....” Ibu, Ayah, Dean. Menyayangi kalian dalam jiwaku yang kosong.


Kuremas kertas perpisahan itu dan melemparnya, aku ingin Ayah merasakan penyesalan. Apa yang sudah dilakukannya tidak benar, menyebabkan Kakak frustrasi. Aku bergerak pergi meninggalkan mereka.


Dan langkahku semakin berat meninggalkan jenazahnya ketika Ayah mengucapkan perkataan yang membuatku semakin membencinya.


“Dasar anak tidak tahu diuntung, dibesarkan susah payah, dengan mudahnya mengakhiri semua seperti ini.”


Mengucapkan perkataan itu didepan jenazah Kakak, benar-benar sudah hilang akal sehatnya. Kuhantam pintu kamar Kakak dan memberikan pandangan murka kepadanya. Aku marah dan hancur bersamaan. Aku menangis dan marah tanpa melihat lagi kebelakang. Semenjak itu aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki dirumah itu.


Sejak itu aku hancur. Linglung dengan tujuanku, bagaimana bisa menjadi seorang penegak hukum jika keadilan didepan mata tidak bisa aku hadapi. Serasa Berlari dalam sebuah labirin, aku yakin berada dalam jalan yang benar tetapi pintu keluarnya berbeda. Tidak sesuai dengan keinginanku.


Setiap hari kehidupan malam dan selalu datang terlambat. Mendapatkan hukuman demi hukuman dengan senang kujalani. Aku senang mendapatkan hukuman seakan-akan kematian Kakak adalah salahku. Aku tidak menolongnya


meskipun aku mampu. Seharusnya aku sadar Kakak meminta pertolongan. Hingga aku dipanggil atasan untuk menghadap, menyiapkan diri jika akhirnya dilakukan pemecatan.


Memasuki ruangannya, Komandan sudah menungguku sambil melihat kearah jendela. Melihat pemandangan anak-anak baru yang sedang berlatih fisik. Aku menunggu perintahnya, seluruh tubuhku terasa sakit karena hukuman yang sering kuterima akibat salahku sendiri. Namun bukan itu yang membuatku semakin hancur, karena tubuh ini masih saja merasa sakit sedangkan itu pertanda jika aku masih hidup.


Komandan tidak mengatakan apapun hingga lima belas menit aku berdiri. Keringat mengucur hingga melewati mata ini. Seraya menangis, tapi aku bukan menangis. Ini benar-benar keringat yang menetes.


“Letnan Dean, apa maumu?”


“Kau ingin mati?”


“Bagaimana jika kukirim kau ke medan perang?”


“Jika benar-benar ingin mati, setidaknya matilah dengan tujuan. Bukan mati konyol bunuh diri ala pengecut.”


Komandan berbalik dan melihat kedalaman mataku. Aku seakan menciut dan benar-benar pengecut. Aku tidak sanggup menatapnya dan


menangis seperti anak kecil. Aku benar-benar menangis kali ini. Tubuh dan hatiku begitu lelahnya hingga tidak sanggup menahan kepedihan. Komandan memelukku dan menepuk-nepuk bahuku seperti sosok Ayah yang tidak pernah kudapatkan.


“Kali ini kubiarkan kau menangis. Meskipun airmata itu mahal harganya. Kau harus membayar setiap airmata yang menetes dengan


keberanian dan perjuangan.”


Kemudian aku diberikan cuti satu tahun untuk penyuluhan kejiwaan, dalam waktu enam bulan aku dinyatakan sudah bisa bekerja kembali.


Setelah itu aku dikirim untuk melanjutkan pendidikan selama empat tahun dan mulai membantu divisi penyalahgunaan narkoba, pencurian dan perampokan hingga akhirnya terjun kedalam divisi pembunuhan.


***


Aku melihatnya dibawa oleh paramedis dan segera dilarikan kerumah sakit. Aku berharap Enggar bisa diselamatkan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Meskipun demikian aku adalah orang yang sangat prihatin dengannya, karena aku bisa merasakan sakit dihati dan pikirannya.


 


Mengingatkanku kepada Kakak Dhanu yang sudah tiada. Kita semua bisa menjadi penyembuh bagi diri sendiri atau juga bisa lebih buruk dari itu.


Menyakiti diri sendiri bukan pilihan yang tepat, hanya akan menambah kesedihan dan perjalanan hidup yang tidak tuntas.


 


Sampai saat ini aku masih membayangkan bagaimana jika Kakak masih ada, mungkin saat ini aku bisa sering menemuinya diruang otopsi.


Mungkin Kakak sudah memiliki istri dan anak-anak yang secerdasnya. Mungkin aku


akan semakin bahagia jika Kakak juga bahagia.


Pengandaianku akan terus berlanjut sampai akhir hayatku. Sebab hanya itu yang membuatku sedikit mengurangi rasa sakit dan juga rindu yang tidak terobati.


 


Mengapa dan mengapa, Kakak memilih jalan itu hingga saat ini tidak ada jawaban yang memuaskan. Aku berharap keputusan itu membuatnya bahagia meskipun itu menjadi kontradiktif, sebab jika Kakak bahagia maka tidak


mungkin mengakhirinya. Aku tidak akan bertanya lagi tentang “mengapa?”, karena jawabannya hanya ada “karena”.


Aku takut sampai nanti tidak bisa bertemu denganmu lagi Kak. Di dunia juga dialam abadi. Bagaimana jika aku tidak bisa menemukanmu lagi.


Apa yang harus kuperbuat. “Kakak mengapa aku menyesali semua ini, hingga aku ingin memutar kembali waktu. Aku hanya belum sempat mengatakan jika aku sangat bangga padamu, aku sanggat bangga menjadi adikmu.”


 


Mungkin kata-kata sepele itu bisa menahanmu untuk tetap disini, bersamaku mengarungi dunia dan menjabarkannya semampu kita.


Semampu kaki ini melangkah, berlari dan bertahan. Semampu jemari ini menggenggam, memeluk dan memberi kehangatan. Seindah ucapan, percakapan yang menciptakan kenangan dan seindah kenangan, pikiran dan membuat kebahagiaan.


***


Bima mengangkat telepon dan menerima kabar buruk.


“Kapten, Ayahanda telah meninggal dunia dirumah sakit,” sahut Bima mengabarkan.


Aku terasa sesak memenuhi dada, kesulitan bernapas. Seperti dinamit yang tidak akan meledak hingga akhirnya. Aku hanya berharap diriku masih bisa menatap mata Ayah dan ingin mendengarnya mengucapkan “maaf” atau “menyesal” atas kematian Kak Dhanu. Tetapi itu hanya akan terkubur dalam kenangan yang sunyi.


Meskipun sangat berat untuk datang tetapi aku adalah anak yang baik. Aku memaksakan diri untuk mengurus jenazah Ayah untuk terakhir


kalinya.


Memandikannya dan memberinya salam perpisahan untuk terakhir kalinya. Pasti berat menjadi orangtua karena tidak mudah membesarkan anak-anak sepertiku dan Kak Dhanu. Aku bukan menuntut Ayah yang sempurna, namun Ayah yang mencintaiku apa adanya.


 


Setelah pemakamannya berakhir, aku mengunjungi pemakaman Kakak Dhanu yang masih satu area dengan kuburan Ayah. Mendekati dan melihat namanya yang terukir disana. Meraba namanya. Membersihkan debu yang melekat.


Sembari membayangkan wajahnya yang selalu ceria sebelum semuanya direnggut paksa.


“Kak Dhanu, akhirnya ada alasan untukku datang. Maaf jika baru kali ini aku mendatangi tempat peristirahatanmu yang terakhir. Mungkin


karena aku tidak sanggup dan tidak menerima keputusanmu hingga kau selalu datang ke mimpiku. Kak Dhanu, tenanglah kau disana, aku akan baik-baik saja.


Aku akan menjalani hidup ini seperti keinginanmu, seperti apa adanya.”