The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 12 Pembunuhan Berantai



Rumah yang tidak jauh dari lokasi kejadian perkara pertama, meskipun rumah ini terbilang lebih pelosok karena posisinya yang jauh dari tetangga. Depan rumahnya tambak lele usaha sehari-hari Mas Dewa, suami dari Mbak Suci. Kilatan cahaya dari tim LabFor yang sedang mengambil foto-foto korban.


Kali ini penyidik mendapati jejak-jejak langkah yang diduga pembunuhnya. Alat pembunuhan itu kali ini ditinggalkan dilokasi kejadian. Pembunuh seperti tidak takut dan ragu-ragu lagi untuk melancarkan aksinya.


Apakah pembunuhnya sama?


Kenapa mengubah polanya


Kali ini alatnya tidak sama dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahkan tidak ada rasa takut lagi, apakah mereka ada dua orang?


“Pasti ada kaitannya antara korban-korban ini satu sama lain,” tukas Dean. Berpikir keras melihat lokasi kejadian.


“Kapten, kapten!” teriak Bima. Sembari memberikan laporan.


“Ada saksi?” bangun dari lamunannya.


“Hanya seorang anak kecil usia empat tahun, anak korban.”


“Kasihan anak itu jadi yatim piatu!” Dean merasa menyesal.


“Ok, hari ini kita lembur, kumpulkan semua personel.”


“Siap Kapten!”


Kapten Dean mengumpulkan semua personel dan membagi-bagi mereka dalam kelompok. Ada yang bertugas menanyai warga, membawa anjing pelacak untuk membaui pembunuhnya. Hingga malam tiba belum ada hasil yang mengesankan. Semuanya menemui kebuntuan.


"Kenapa pelaku selalu menggunakan alat pembunuh yang berada dirumah target atau korban. Apa yang ada dipikirannya?. Apakah pelaku benar-benar spontan dalam menjalankan aksinya. Kali ini aksinya lebih percaya diri dan sangat brutal. Apa yang membuatnya begitu marah terhadap korban." Aku yakin mereka semua saling mengenal dan berkaitan erat.


"Kapten, nihil."


"Baiklah, kita sudah saja pemcarian malam ini."


***


Pulang kerumah dengan keadaan yang sangat letih. Pikiran ini terasa beku dan tidak bisa mencair. Rasanya sakit seperti dihantam terus


menerus oleh benda tajam. Semua berkas kuhantar kemeja depan televisi.


Berbaring sejenak sambil meluruskan kaki diatas sofa yang sudah lima tahun menemaniku. Hingga bau khasnya bekas keringatku yang menempel menjadi jejak sejarah keberadaanku. Sedangkan kamar yang selalu bersih dan dingin yang jarang kutiduri, semakin membuatnya lembab dan berdebu.


 


Sejak menjadi saksi mata peristiwa gantung diri Kak Dhanu, aku tidak pernah tidur didalam kamar. Aku selalu membayangkannya berada disana. Terkadang aku masih saja merasakan dinginnya jemari kakinya yang kusentuh ketika melepasnya dari jeratan. Aku masih saja memimpikan jenazahnya yang kupeluk terakhir kali.


Menengadahkan wajahku ke langit-langit sambil ditopang oleh kedua telapak tangan.


Mengosongkan pikiran dan terbayang hal yang


membuatku semakin gusar. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang cepat dan menyergapnya. Kucing orange milik Dean yang menerjang tepat diatas perutnya. Pikiran kalutku sontak mencair ketika melihat, “Kucing kesayangan menyapa”.


“Hai oren, si unyu-unyu. Kamu lapar ya, belum makan?” sembari menggendong dan mengelusnya terus menerus.


Kucing kesayangan Kak Dhanu. Aku membawanya kerumah ini selepas meninggalkan rumah orangtua. Kakak pasti turut senang ada yang merawatnya. Tidak disangka kehadiran si Oren bisa menggantikan kerinduanku padanya. Sepeninggalanmu hidup ini tidak menyenangkan lagi, tidak ada yang bisa kuajak bicara. Terkadang aku ingin menyusulmu segera, tetapi Ibu yang memberatkanku.


Aku tidak ingin mengecewakan Ibu dan pengabdian pada negara. Bagaimana bisa seorang Ibu sanggup menahan sakitnya kehilangan kedua puteranya.


Aku tidak tahu akan bertahan sampai kapan, aku hanya akan terus berusaha.


***