
Menyusuri tempat kejadian, Kapten Bima melihat permulaan kejadian. Lokasi yang telah diberikan jejak dengan nomor-nomor yang menandai telah terjadi pertengkaran sebelumnya. Kemungkinan kedua pasangan suami istri itu sebelum kejadian kebakaran sedang bertengkar hebat hingga suami tersulut emosi dan melakukan penyiksaan terhadap istri.
Terlihat beberapa jejak goresan darah pada lantai yang tertinggal. Terutama bubuk detergen yang berada pada tubuh istri. Namun tanpa keterangan saksi kita tidak bisa menguatkan cerita dari bukti-bukti ini. Ada pemantik dengan sidik jari yang belum bisa dipastikan, siapa yang menyulutnya.
Kapten Bima bicara dengan seorang ahli kebakaran dari pemadam kebakaran yang menyatakan bahwa. Api bermula dari sebuah pemantik yang disulut kepada tubuh suami istri dan menyambar pada jemuran-jemuran yang penuh dengan sprei, lalu pada keranjang-keranjang baju-baju kotor yang penuh, kemudian menyambar pada gas dan meledak. Api menjadi besar dan menghanguskan seluruh rumah.
Bima bertanya pada ahli tersebut, apakah bisa dipastikan siapa yang tersulut pertama kali dari pemantik itu. Ahli mengatakan tidak bisa karena kemungkinan waktunya bersamaan, terlebih seluruh tubuhnya hangus dan semua jejak itu hilang. Tubuh korban istri dan suami yang berdekatan, kemungkinan mereka ingin mati bersama.
“Benarkah begitu?”
“Ya, mungkin suaminya memantik dan ingin mati bersamanya!”
“Kenapa dengan detergen jika ingin mati bersama? Kenapa tidak dengan bensin atau sesuatu yang bisa menyulut api dengan cepat!”
“Maap Kapten saya tidak bisa menjawab.”
“Aku tahu, kemungkinan suaminya tidak ingin mati bersamanya, ini bukan bunuh diri romantisme. Ini lebih masuk kepada suami yang awalnya hanya ingin melukai istrinya agar mengalami luka bakar atau kecacatan, tidak sampai membunuhnya.”
“Seorang suami yang marah karena istrinya ingin meninggalkannya,” sambungnya lagi.
***
Lalu Kapten Bima meninggalkan tempat kejadian itu dan melihat seorang tetangga yang sedang mengintip rumah ini dari balik halamannya. Mendatanginya karena penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya. Seorang tetangga yang berada diseberang rumah kejadian seringkali lebih mengetahui apa yang terjadi ketimbang penyidik.
Tetangga itu berusaha untuk masuk kerumah dan ingin menghindar dari pertanyaan.
“Tunggu, saya Kapten Bima ingin bertanya sebentar,” serunya pada tetangga itu.
“Ah, saya ti-tidak melihat apa-apa,” seorang tetangga depan rumah yang tidak ingin terlibat masalah. Namun, Bima sudah terlanjur penasaran dengan gelagatnya.
“Apakah mereka sering bertengkar sebelumnya?”
“Y-ya, mereka sering bertengkar … dan Amelia sering mendapatkan luka memar pada wajah dan tangannya hingga tidak bisa bekerja menyelesaikan pesanan laundry-an.”
“Penyebab pertengkarannya apa?”
“Dari yang aku dengar, semua tetangga juga tahu, jika Pak Leo sering berselingkuh dengan wanita dari pabrik dekat sini!”
“Siapa wanita selingkuhannya?”
“Aku tidak tahu, mungkin Indah, Susi atau siapa … karena mereka bisa dibayar, rumornya.”
"Apa, Amelia pernah bercerita ingin berpisah?" sembari mencatat keterangan saksi tetangga depan rumah.
"Amelia tidak pernah mengucapkan kata "cerai" meskipun, pikirannya mungkin sudah berjuta kali memikirkannya," ungkap tetangga itu.
“Lalu pekerjaan Pak Leo?”
“Pak Leo kesehariannya hanya mengambil seragam kotor dari pabrik dan mengantar yang sudah bersih ke pelanggan, selebihnya Amelia dan anak perempuannya, Qian yang mengerjakan pekerjaan berat.”
“Baiklah terima kasih keterangannya, nanti saya akan hubungi lagi jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan!”
“Baiklah, saya selalu ada dirumah.”
Seorang petugas dari kepolisian berhasil memastikan berupa identitas korban kebakaran yang sudah tidak utuh lagi. Mereka dipastikan adalah Amelia Areza dan Leo Gabriel. Mereka tidak memiliki anak kandung, Qian adalah anak angkat.
“Areza? Sepertinya nama itu tidak asing lagi?”
Kapten Bima segera meninggalkan tempat menuju ruang otopsi.
***
Berada pada ruang otopsi dan bertemu dengan Dr. Alan. Dirinya sudah semakin tua dan sudah ada seorang murid yang sebentar lagi akan menggantikan posisinya. Dirinya akan segera pensiun dan menikmati masa tuanya dirumah dengan istrinya tercinta.
“Dokter, bagaimana hasil otopsi korban kebakaran?”
“Unik sangat unik ….”
“Perkenalkan ini yang akan menggantikanku bulan depan, sebelum pensiun.”
Dokter itu menjabat tangan Bima dan memperkenalkan diri, namanya Dr. Puput, seorang wanita yang cantik dan juga cerdas.
“Jangan dilihat terus, dia ini murid kesayanganku setelah Dr. Dhanu, lebih cantik dan lembut, kau jangan coba-coba mendekatinya, aku serius.” seru Dr Alan pada Bima.
“Baik, Dokter,” seruku menjawabnya.
Bima dan Puput hanya saling berpandangan dan tertawa, karena mentornya itu sangat galak dan humoris.
Dokter Alan menjelaskan deteregen ini memang menyebabkan luka bakar tapi bukan yang membunuhnya. Korban laki-laki terserang stroke atau kelumpuhan terlebih dahulu karena terjatuh, mungkin terpleset karena licin dari detergen. Sembari memperlihatkan luka memar pada tulang ekor dan bagian kepala belakang yang terkena benturan lantai semen.
Sedangkan, korban wanita, sebelumnya sering mendapatkan penyiksaan sepertinya. Sebab tulang rusuk ada beberapa yang pernah patah, tulang jemari dan bahu yang miring. Bahkan luka pada kepala yang baru didapatkan. Kemungkinan mereka bertengkar hebat saat itu.
“Lalu korban laki-laki apa kecelakaan?”
“Yah, mungkin ketika sedang menyeret wanita ini akhirnya terjatuh karena licin dan mengenai tulang ekor dan kepala sehingga lumpuh, tapi saat itu belum mati.”
“Terbakar hidup-hidup?”
“Yah, karena ada zat sulfur dioksida yang berasal dari gas di dalam paru-parunya, berarti korban masih hidup ketika menghirupnya!”
“Bagaimana dengan korban wanita?”
“Sepertinya dia sudah tidak sadar ketika kebakaran itu berlangsung!”
Ada yang ganjil dengan laporan kebakaran dan hasil otopsi, kenapa tidak sinkron.
***
Tok! Tok! Tok!
“Masuk.”
“Komandan, lapor Pak,” ucapnya sembari hormat. Pak Dean saat ini sudah menjadi komisaris jenderal. Tidak bekerja lagi di lapangan, posisinya digantikan oleh rekannya Bima.
“Duduk Bima,” ucapnya pada Bima.
Bima segera duduk didepannya.
“Bim, kenapa kamu bekerja sendiri, bukannya rekanmu itu butuh bimbingan,” ujarnya kesal.
“Pak Dean kan tahu, saya pernah bekerja selama 8 tahun dengan seseorang yang hebat. Saya tidak cocok jika harus membimbing seseorang.” ucapnya beralasan.
“Itu pujian untukku? Atau menjilat?”
“Mana berani aku berbuat begitu, kita kan teman lama hehe ….”
“Lalu, jika kamu tidak membimbing salah satu diantaranya, yang akan menggantikanmu siapa kelak?”
“Mereka bisa mendapatkannya dari yang lain!”
“Bimaaa … bisa tidak kamu tidak keras kepala, atau promosi jabatannya akan kucopot.” gertaknya marah pada Bima yang keras kepala.
“Ah … baiklah, baiklah … aku akan mengambil seorang, puas!” seru Bima yang tidak bisa membantah lagi ketika posisinya menjadi taruhan.
“Laporan mana?” tanya Pak Dean sembari duduk di singgasananya yang lebih empuk dan nyaman ketimbang sebelumnya.
“Oiya Pak, masih ingat dengan Areza ….?”
“Maksudmu?”
Mendengar nama itu tiba-tiba hanya satu yang terlintas dipikiran, Edgar Areza. Hanya itu yang sampai saat ini menjadi pekerjaan rumah karena belum bisa menangkapnya. Sudah 10 tahun berlalu, kepolisian belum berhasil melacak keberadaannya saat ini.
“Kejadian kebakaran kali ini sepertinya ada kaitannya dengan nama itu!”
“Benarkah?”
“Belum bisa memastikan, sedang dalam penyelidikan, nanti akan saya kabari secepatnya,” terang Bima bersemangat.
Bima segera menuju pintu keluar, sebelum Komandan Dean memanggilnya kembali.
“Bim … jika kamu menemui Enggar di RS Jiwa. Sampaikan salamku untuknya!”
“Baik Pak.”
Ketika keluar ruangan sudah ada seorang yang berdiri disana menunggu Bima. Dengan menyandar di dinding sembari meniupkan permen karet menjadi gelembung. Bima tidak suka dengan tingkah anak baru yang terlalu santai dan bebas.
“Siapa kau?” Bima memperlihatkan ketidaksukaannya.
“Lapor Pak, nama Eddie letnan satu yang akan menjadi rekan Pak Bima. Mohon bimbingannya,” serunya sembari hormat.
“Bimbingan mbah-mu ... buang permen karet itu, memangnya kamu lupus,” ujar Bima padanya, sembari memberikan tatapan mengancam.
Dari bagian penyelidikan menghentikan langkah Bima dan memberikan penemuan jika Amelia Areza memang benar kakak kandung Edgar Areza. Jika tidak ada kejadian kebakaran ini, kita tidak akan sedekat ini dengan Edgar, “penguntit” yang menghilang selama 10 tahun. Sialan.
“Oiya, saya minta laporan yang menjadi wali dari Qian anak angkatnya, kita harus segera mencari keberadaannya!”
“Baik Pak, siap!”
“Dan kamu anak baru, ikuti saya saja dan jangan banyak bertanya!”
“Baik Pak. Siap!”
Kemudian, Bima dan rekan barunya meluncur ke sekolah Qian untuk menemuinya.
Di sekolah menemui walikelas dan kepala sekolah untuk bertanya tentang Qian dan keberadaannya sekarang. Terlambat sudah, Qian tidak pernah masuk sekolah lima hari ini tanpa keterangan sakit atau keluar kota. Namun, baru hari ini ada surat yang ditinggalkan didepan meja bahwa wali muridnya menyatakan Qian akan dipindahkan
sekolahnya. Pihak sekolah hanya diminta untuk mengirimkan surat keterangan pindah sekolah. Padahal Qian berada di kelas tiga, tidak mungkin pindah sekolah.
Qian anak pendiam dan penyendiri, tidak banyak yang bicara dengannya. Mungkin juga tidak ada. Wali kelasnya juga heran padanya, setelah kejadian kebakaran itu Qian tetap bersekolah dimasa duka cita. Biasanya, mereka tidak akan masuk selama dua-tiga hari.
“Tapi menurut guru-guru yang lain, mungkin karena Qian tidak memiliki saudara sehingga berada dirumah hanya akan mengingat kepergian orangtuanya!”
“Bisa saya lihat surat itu?”
Walikelasnya mengambilnya dan memberikannya pada Bima.
“Saya akan selidiki alamat yang tertera.”
Lalu Kapten Bima dan Rekannya segera pergi dari sana.
Terlihat seseorang sedang mengintip dibalik tembok salah satu gedung dan bersembunyi ketika Bima menatapnya.
“Siapa yang sedang mengintip disana,” tanya Bima pada walikelas.
“Oh, itu murid pindahan dari Bandung. Mungkin dia lebih tahu tentang Qian, karena beberapa kali terlihat mengantar Qian pulang sekolah,” sambungnya lagi.
Baiklah, untuk sekarang akan kubiarkan, lain kali tidak akan kulepaskan.
***
Berikan cinta dengan cara pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kamu dan komen yg banyak ya )