
Sudah sejak lama aku menanti saat ini, menemukan seseorang yang bisa mengisi kekosongan hati. Aku selalu mendambakanmu meski siang menjadi malam, malam terbitlah pagi. Aku selalu merindukanmu dalam usia
kesepian ini, perasaan ini tidak bisa terbendung lagi. Seperti air bah yang menghancurkan bendungan, aku hanya ingin mengucapkan pengakuan. Pengakuan cintaku yang tulus kepadamu.
“Enggar, nanti malam kamu ada acara?”
“Nanti malam?”
Apakah aku harus bilang kalau aku takut dengan gelap.
Melihat tatapannya yang tulus, aku tidak sanggup menolaknya.
“Baiklah, aku mau. Mau kemana kita?”
“Sungguh? Aku hanya ingin mengajakmu makan malam disebuah restoran.”
“Aku mau, aku sangat mau!”
Sore itu sepulang kerja aku mengajak Enggar pergi kesebuah restoran yang cukup mewah. Aku tahu dirinya belum pernah ke restoran ini sebelumnya. Enggar sangat menikmati sajian menu yang disuguhkan. Benar-benar membuatku senang dan bahagia. Musik yang mengaluni dan membuatku tergerak untuk mengajanya ke lantai dansa. Musik yang syahdu dan romantis.
“Ayolah Enggar berdansa denganku!”
Aku mengulurkan jemariku padanya.
Aku meraih tangannya dan mengalungkan tanganku dipinggangnya yang langsing dan menyatukan kami dalam alunan musik romantis ini. Aku hanya memandangnya dengan penuh kebahagiaan. Tidak menyangka akhirnya kami bisa sedekatnya. Enggar memperlakukanku dengan sangat tulus. Dirinya terlihat bahagia hingga membalas dengan senyumannya yang terbaik.
“Edgar, aku sangat senang malam ini.”
“Sungguh? Aku juga sangat senang melihatmu tersenyum!”
Ada rasa rindu dan gairah untuknya yang tidak bisa tertahankan. Aku merasakan gejolak yang membuncah, hingga debaran jantungku
seperti lompatan pada trampolin. Sentuhannya yang lembut membuatku melayang dan
menginginkan lebih. Rasa yang indah ini tidak mau melewatkan momen pentingnya, bercumbu dengannya.
Tiba-tiba saja, Enggar mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berucap.
“Aku tidak ingin pulang malam ini,” sahutnya berbisik ditelinga.
Aku terkejut sekaligus senang.
Apa yang kurasakan ternyata sama dengannya.
***
Di dalam apartemen itu hanya ada aku dan dia. Dengan lampu yang dibiarkan temaram, kami saling bersentuhan. Merasakan kenikmatan gelora yang menjalar keseluruh tubuh. Membangkitkan hasratku kedalam pelukan dan rayuannya.
"Benarkah ini yang kamu inginkan Enggar?" sahutku disela-sela napas yang memburu.
Aku ingin memastikannya tanpa keraguan.
"Iya, Edgar. Aku menginginkanmu ...," sahutnya yang membalas lembut.
Lalu, kami tenggelam dalam muara cinta yang tidak akan bisa terlupakan. Kenangan yang akan meninggalkan bekas untuk selamanya.
Kedalamannya membuat tergila-gila, terhempas dengan erangan tanpa helaan. Malam ini hubungan kami semakin dekat dan tidak akan bisa terpisahkan. Aku tidak akan terpisah lagi dengan wanita idamanku.
"Enggar Dikta, aku sangat mencintaimu ...."
***
Enggar mengirim pesan kepada orangtuanya dirumah, malam ini tidak pulang karena menginap dirumah teman kantor.
"Siapa yang kamu hubungi sayang?" sahut Edgar yang terbangun disampingku.
"Ibu mengkhawatirkanku dan bertanya apakah aku baik-baik saja?" jawabku.
"Lalu ... apa jawabanmu?" sahutnya sambil meraih tubuhku untuk dicumbunya lagi.
"Aku katakan ... kalau aku sangat baik-baik saja ... hihihi."
"Benarkah? ...," senyumnya mengembang.
"Ya ... belum pernah aku merasa sebahagia ini dan ini pertama kalinya untukku," sembari tersipu malu.
"Tidak perlu khawatir Enggar, aku juga pertama kalinya. Dan aku berjanji akan selalu menjagamu untuk selamanya."
"Aku suka itu ...," tersenyum padanya.
Lalu, malam itu terasa sangat panjang untuk kami menikmati kebersamaan.
***