The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 59 Ghost Town



Hari ke 3


Setelah pasukan Baphomet dilepaskan hampir di seluruh dunia oleh para pemujanya. Jutaan zombie terlepas ke jalan membuat kerusuhan, kehancuran dan kematian. Korban-korban berjatuhan selagi para pengikutnya hanya menonton di balik gedung-gedung pencakar langit. Menantikan kota-kota menjadi mati.


Semua orang berlarian mencari tempat persembunyian yang aman, tidak peduli lagi siapa yang ada di sampingnya, tidak saling kenal sebelumnya, hanya memiliki tujuan yang sama yaitu bersembunyi. Berlindung dari para zombie yang memukuli siapapun yang dilihatnya, mengigit apapun yang bisa dilumatnya, sampai mereka mati baru akan berhenti.


Sementara itu Bima dan pasukannya berusaha untuk menyerang dengan serum yang lebih canggih. Memasukkan serum itu ke dalam peluru sintetis agar dapat menembakkannya dengan cepat dan lebih banyak amunisi yang bisa dimuntahkan. Ketika seluruh dunia masih saja bingung untuk melakukan perlawanan, Bima dan pasukannya telah berhasil melumpuhkan para zombie.


Meskipun para peneliti dan Dokter Puput belum mampu untuk mengembalikan zombie-zombie itu menjadi manusia kembali. Para ilmuwan masih melakukan penelitian mencari formula yang tepat untuk mengembalikan keadaan mereka. Para zombie memenuhi penjara-penjara, hingga para penjahat merasa terancam dengan kehadiran mereka. Bahkan, setelah pengaruh serum itu habis. Kebringasan mereka menakuti seluruh penghuni penjara, meskipun berada di balik jeruji.


Tayangan berita dari seluruh dunia terlihat semakin parah, racun Flakka 20 telah dimasukkan ke dalam minuman soda dan minuman berkarbonasi lainnya. Semakin banyak yang terjangkit dalam hitungan menit menjadi zombie. Konspirasi yang dilakukan para pengikut Baphomet benar-benar sudah direncanakan dengan matang. Pemerintah dan inteligen tidak menyangka jika mereka bisa melakukan sejauh itu.


Dari Istana Merdeka, Presiden Megaloman memberikan pidatonya secara langsung. Memerintahkan penerapan darurat sipil, seluruh rakyat Indonesia agar tidak berada di luar dan sebaiknya bersembunyi di dalam rumah-rumah dan gedung-gedung untuk sementara waktu sampai pemerintah dapat mengendalikan keadaan. Hindari untuk meminum soda merk apapun karena menurut inteligen, soda itu sudah bercampur dengan virus Flakka 20.


Tayangan singkat pidato itu membuat semua orang yang masih berada di dalam gedung perkantoran dan mengerjakan aktifitas lainnya mulai memenuhi supermarket dan minimarket untuk mengambil bahan-bahan makanan. Terjadi kerusuhan hingga situasi tidak terkendali. Masyarakat menjadi bar-bar tanpa membayar mengambil makanan apapun untuk kebutuhan mereka selama karantina. Situasi sangat genting saat ini, semua orang hanya memikirkan bagaimana caranya bisa bertahan hidup.


Bersembunyilah di balik kegelapan, Baphomet akan datang dari tempat yang terang. Bergabunglah bersama Baphomet jika kalian ingin selamat. Larilah sekencangnya, bersembunyilah selamanya tapi jangan berpikir kalian bisa menghindar dari kekuatan dan kekuasaan Baphomet.


Sosok Baphomet muncul dari atas menara Gama, gedung tertinggi yang ada di Jakarta. Terdengar suara menggelegar di atas sana, hingga semua orang yang sedang berlarian mencari tempat persembunyian menoleh ke atas. Tiba-tiba sosok mengerikan itu mengubah siang menjadi malam dengan kekuatannya. Seluruh kota dilanda kegelapan, hingga para zombie semakin beringas dengan sinar bulan purnama penuh. Memangsa semua manusia yang dilihatnya.


Jeritan, teriakan dan tangisan terdengar memenuhi jalanan ibukota. Tidak ada jalanan yang tanpa mayat menjadi landasannya. Mayat-mayat bergelimpangan hingga membusuk. Bau anyir dari darah dan daging-daging busuk menyeruak memenuhi rongga-rongga hidung. Udara menjadi tercemar dengan bau yang menyengat, bau yang membuat perut-perut memompa isinya hingga keluar.


Bima dan pasukannya terlambat menyelamatkan kota. Hari itu tidak ada kota yang selamat dari para zombie. Bima dan pasukannya bersembunyi di dalam markas-markas besar kepolisian bergabung bersama tentara-tentara.


Sementara keadaan sangat chaos Bima mencoba untuk menghubungi Nin di rumah sakit. Untuk mengetahui keadaan di sana.


“Nin, bagaimana di sana?”


“Di sini juga sama, banyak masyarakat yang bersembunyi meskipun tidak sakit. Tidak ada lagi tempat yang aman. Mungkin, ke depannya ponsel ini tidak bisa dihubungi, karena rumah sakit bertahan dengan generator.”


“Tenang Nin, aku akan menjemput kalian setelah situasi terkendali!”


“Dean bagaimana?”


“Dean mengalami infeksi yang cukup parah, tapi aku yakin Dean akan bertahan.”


“Baiklah, aku akan mencari cara agar bisa menghubu ….”


Tiba-tiba hubungan itu terputus karena batere ponsel Nin habis, sudah 2 hari ponsel itu bertahan dengan daya yang tersisa.


***


“Pak Bim, para zombie di tahanan mulai terlihat lemas seperti dehidrasi. Petugas bingung untuk memberi mereka makanan dan minuman apa. Jika seperti ini terus mereka akan mati karena kekurangan cairan.”


Bima terlihat bingung karena Dokter Puput masih belum menyelesaikan risetnya. Para ilmuwan masih mencari cara bagaimana mengembalikan mereka pada keadaan semula. Bima mencoba untuk menghubungi Dokter Puput di ruangannya. Tidak ada jawaban, ponselnya terkesan diabaikan.


“Terus kabarin soal perkembangan mereka!”


“Baik Pak!”


Tiba-tiba, Dokter Puput bersama dengan rombongannya mendatangi Bima dengan hasil penemuannya.


“Dimana para zombie itu?”


“Ada … mereka di penjara?”


“Antar aku ke sana.”


Memasuki pintu yang tadinya memisahkan antara kejahatan dan kebaikan, penjahat dan orang baik, Dokter Puput memasuki lorong-lorong itu untuk pertama kalinya. Banguna penjara yang seperti gedung berlantai dua yang luas dengan ruang-ruang bersekat. Memisahkan para penjahat dengan penjahat lainnya. Sesuai dengan masa hukuman yang berbeda-beda.


Sontak para tahanan bertepuk tangan dan bersorak sorai bahagia melihat dokter-dokter wanita memasuki ruangan. Hasrat mereka menggeliat, setelah sekian lama tidak melihat bidadari dalam kehidupan penjara. Terpukau dan mulai bertingkah manis menggoda, merayu para dokter itu.


“Hai … manis apa kamu mau bermalam di sini,” seru seorang tahanan. Membuat semua orang tertawa. Meneruskan candaan murahan mereka sebagai obat kesepian.


Dokter Puput melihat 5 sel tahanan yang penuh berisi dengan zombie-zombie yang mulai terlihat lemah. Tidak berdaya seperti hari pertama virus itu menjangkiti tubuh mereka. Mata mereka mulai kehilangan cahayanya, seperti sedang sekarat menunggu waktu kematian. Kulit yang terlhat lebih pucat dan pembuluh-pembuluh nadi yang semakin tipis.


“Sudah berapa lama mereka seperti ini?”


“Mungkin beberapa waktu yang lalu, entahlah kami sibuk di lapangan!”


“Mereka sekarat, aku enggak tahu apakah obat ini akan berhasil. Sebaiknya aku enggak meneruskannya.” Dokter Puput beranjak pergi hingga Bima menghentikannya. Menggenggam tangannya dengan kuat.


“Dokter, kita enggak punya banyak waktu di sini, jika kamu enggak mencoba obat itu. Mereka juga akan mati, lihatlah ….”


“Baiklah, aku akan mencobanya.”


Dokter Puput meminta seorang dokter lainnya untuk memberikan obat penawar itu pada senjata Bima. Meminta Bima untuk membidik seorang zombie dan melihat reaksi tubuhnya. Bima mulai memasukkan peluru itu ke dalam magazine, tempat peluru. Menarik pelatuknya dan mencoba membidik kearah zombie.


“Sebentar, apa aku harus mencari kriteria khusus pada zombie ini?”


“Maksudmu?”


“Bagian jantung, kepala atau bagian lainnya?”


“Sebaiknya jantung agar lebih cepat bereaksi.”


Bima mulai membidik salah satunya dengan serius dan melesatkan satu peluru pada jantung salah satu zombie.


Dessiiing!


Suara letusan itu membuat zombie lainnya bereaksi beringas, namun tubuh mereka yang sudah sangat lemah membuatnya tidak berdaya. Zombie yang terkena tembakan mulai terlihat merespon obat penawar itu. Bima dan Dokter Puput mulai mendekat pada jeruji besi itu, begitu juga dengan lainnya ingin tahu perubahan padanya.


Perlahan kulit zombie itu mulai menghilangkan pembuluh-pembuluh nadi yang keluar ke permukaan. Jantungnya mulai terlihat berdetak normal, petugas mencoba menghitung debaran yang terlihat dari dada zombie. Wajahnya mulai terlihat aneh, senyuman yang merekah terpasang pada rautnya. Lalu mendesah.


“Apa yang kamu berikan kali ini?”


“Aku membuat mereka org*sme.”


“Apa?” Bima menepuk jidatnya. Merasa tidak percaya dengan yang diucapkannya.


“Sebelumnya kamu membuat mereka ma*dul … sekarang orga*me?”


“Sebelumnya aku salah karena fokus pada pelemahan syarafnya, sekarang aku mengirimkan signal untuk membuat mereka bahagia,”


“Sebaiknya, kamu menjelaskannya lebih detail padaku … nanti.”


“Baiklah, aku akan menjelaskannya … nanti.”


Bima dan Dokter Puput melihat perubahan yang signifikan. Bahkan zombie itu mulai berangsur sadar hingga bisa dipisahkan dengan zombie lainnya.


“Baiklah, kalian bisa menembak zombie-zombie itu sekarang!”


“Siap, Kapten!”


***


Sementara para zombie itu mendapatkan obat penawar, Bima dan Dokter Puput meninggalkan mereka di sana. Dokter Puput menjelaskan penemuannya itu. Sebelumnya dirinya terlalu fokus pada pelemahan syarafnya agar bisa dikendali, tetapi nyatanya virus itu terlalu kuat dan obat itu tidak bertahan lama. Hanya dalam beberapa jam saja mereka kembali agresif.


Lalu, Dokter Puput bertanya dengan seorang dokter ahli otak mengenai cara kerja otak manusia. Secara singkat dirinya mendapatkan ide untuk melawan keganasannya dengan serangan galau.


“Serangan galau?”


“Ya … sebelumnya ide itu dari sana munculnya, bagaimana emosi yang marah itu dilawan dengan kegalauan.”


Lalu, Dokter Puput berpikir keras dan pemikirannya berkembang dengan cara mengirim signal galau pada reseptor endogen opioid. Sebagai penerima rangsangan aktifitas syaraf-syaraf mengirimnya ke sistem limbik pada 4 bagian otak yang mengontrol segala emosi, marah, sedih, bahagia.


“Singkatnya aku memberikan rangsangan agar merasa bahagia, semacam afrodisiak yaitu perasaan mencapai orga*me.”


“Apa saja senyawa kimia yang terkandung di dalamnya?”


“Hanya asam amino L-arginin, omega 3, quercetin (pigmen tumbuhan) dan satu lagi zat ampuh yang kami temukan … rahasia, aku enggak akan memberitahukanya,” ujar Dokter Puput berbisik. Sembari meninggalkan Bima dengan rasa penasarannya.


“Kenapa merahasiakannya dariku?” teriak Bima.


“Supaya pemerintah kita bisa memperbanyaknnya dan mengirimnya ke seluruh dunia,” jawabnya sembari memberikan lambaian tangan.


Aku benar-benar heran, Dokter Puput dokter jenius atau gila. Beda tipis.


Bima menggeleng heran sekaligus terpukau dengan pemikirannya.


***


Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )