The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 17 Pelaku Penyekapan



Mendatangi kepolisian reserse untuk menanyai pelaku penyekapan di PT. BPP. Pelaku penyekapan yang bernama Wira Raden anak Pak Warih sudah dipindah ke tahanan polres sambil menunggu sidang terbukanya. Bima mencoba mencaritahu apakah ada kaitannya dengan kasus pembunuhan di Kampung Orang. Sebab begitu beruntunnya kejadian-kejadian diperumahan tersebut yang membuatnya curiga dan penasaran.


“Kapten, kali ini serahkan sama saya. Saya ingin menginterogasi pelaku.”


“Baiklah.”


Menemui pelaku yang sudah menunggu sejak tadi. Wajahnya yang bermuram durja seperti anak polos yang terjeblos dilubang penggalian kabel.


“Bima Perkasa, akan melakukan interogasi kepada Wira Raden, umur 18 tahun, mahasiswa,” sembari menaruh sebuah alat perekam didepan meja.


“Apa benar kau melakukan pemukulan dan penyekapan terhadap korban yang bernama Enggar Dikta ditempatnya bekerja, perusahaan yang bernama PT. BPP?”


“Iya!”


“Kenapa kau melakukannya?”


“Karena saya marah ketika Ayah dijebloskan ke penjara oleh perempuan itu.”


“Ayahmu dipenjara karena menikmati hasil korupsi bukan karena perempuan itu.”


“Tapi, Ayah sudah sangat baik terhadap perempuan aneh itu. Perempuan itu juga tidak akan bisa bekerja disana jika tanpa bantuan dari


Pak Hari.”


“Siapa Pak Hari?”


“Pak Hari Budiman adalah kepala cabang diperusahaan itu dan juga tetangga perempuan itu, nepotisme.”


“Lalu, apa yang diceritakan Ayahmu?”


“Di hari itu … Ayah memperlihatkan sebuah email darinya. Sebuah ejekan, dan mentertawakan, tidak ada penyesalan sama sekali karena sudah membocorkan nama-nama yang terlibat, termasuk nama Ayahku. Aku sangat geram membacanya.”


“Gara-gara perempuan itu Ayah ditangkap. Aku tidak bisa lagi meneruskan kuliah karena biaya dan semua orang menjauhiku,”


“Heem, anak muda kau hanya mencari alasan pembenaran atas tindakan kriminalmu. Berapa banyak diluar sana yang mengalami hal serupa dan lebih berat. Tapi mereka tidak sampai sejauh ini.”


Wira hanya semakin tertunduk malu dan tenggelam dalam penyesalan. Tindakannya tidak bisa dibenarkan namun semua sudah terlanjur, Wira akan menjalani konsekuensi dari perbuatannya itu.


“Apakah kau menyesal sudah melakukan itu?”


“Merasa apa?”


“Merasa sudah dijebak.”


“Dijebak? Maksudmu ….”


“Ketika aku berkelahi dengan seseorang disana, sebelum aku benar-benar tumbang dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut .…”


“Apa?”


Lalu, pemuda itu membisikkan sesuatu kepada Bima. Bima terhenyak mendengarnya.


Kecurigaan Bima akhirnya memberikan informasi yang sangat dibutuhkan demi perkembangan kasus pembunuhan di Kampung Orang. Kecurigaannya memunculkan sebuah nama yaitu Enggar Dikta dan Edgar Areza. Siapakah mereka dan ada hubungan apa diantaranya, semua akan terbukti dalam interogasi lanjutannya.


Seorang perempuan yang namanya muncul dua kali. "Ini bukan suatu kebetulan,"


"Apa yang ada dipikiranmu Bim?" sembari melihat file kasus ditangannya.


"Begini Kapten, setelah saya melihat denah perumahan. perempuan dalam kasus penggelapan yang bernama Enggar itu satu blok dengan saksi Dian,"


"Lanjutkan? ...." Sambil meletakkan berkas itu di atas mejanya.


"Ya ... dalam satu blok itu terdapat lima hingga enam anak yang terenkripsi foto cabul pelaku Abi, sedangkan Enggar tidak ada."


"Maksudmu, kenapa pelaku Abi mengecualikannya? Begitu?" perlahan duduk diatas meja.


"Kemungkinannya sangat kecil jika Enggar bukanlah korban ... maksudku begitu."


"Kalau begitu, besok kita akan menemui teman kecil Dian di kantornya."


"Baik Kapten, aku akan siapkan alamatnya."


Aku yakin pasti ada kaitannya dengan kasus yang sedang kita selidiki. Tidak ada istilah kebetulan dalam sebuah kejahatan.


***


Pencet Iike, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya😊