
Wajah-wajah itu selalu mendelik menatap dari balik tembok tersembunyi, seperti nyanyian redemption dari ruang bawah tanah. Aku mendengarnya lirih ketika kalian bisa melihat semuanya seperti pengecut sedangkan diri ini terikat dengan alat-alat aneh untuk mengetahui jalan pikiran tubuh ini. Padahal semua berada dikendaliku, semua bergerak berdasarkan perintah otakku. Itu hal yang mudah untuk mengelabui kalian apalagi alat pendeteksi yang kegunaannya sudah diketahui.
Aku tidak mau lagi menjadi sosok yang selalu ditindas, itu tidak menyenangkan. Seseorang yang lemah hanya akan menjadi pelampiasan rasa frustrasi dari manusia-manusia keji. Kini semua berubah membuatku menjadi seperti pahlawan. Memangnya kalian pikir semua ini tidak kurencanakan? Kalian sungguh bodoh.
Komjen Dean akhirnya lengser sesuai keinginanku. Seseorang yang menaruh simpatik pada seorang pembunuh seperti Enggar Dikta. Pembunuh orangtuaku, bagaimana Dean memperlakukan Enggar seolah-olah tidak bersalah.
Aku muak, dasar bedebah!
Kupasang lagi wajah innocent ini agar masyarakat terus menganggapku sebagai korban.
Malam itu ketika mengambil kotak P3K di kamar Bibi, aku melihat obat-obat preskripsi dokter untuk pasien bernama Enggar Dikta. Aku mulai mengingat-ingat peristiwa kelam itu. Aku memastikannya dengan mencarinya di internet. Bibi adalah pembunuh orangtuaku. Tiba-tiba semuanya muncul dala ingatan.
Setelah kematian orangtuaku, aku diasuh oleh nenek dan kakek. Suatu hari seseorang menculikku dengan obat bius spray yang membuatku tertidur. Paman Hari alias Edgar Areza adalah penculikku. Ketika bangun, seseorang datang dan menanyakan siapa aku? Wanita itu adalah Ibu angkatku, kakak kandung Edgar.
Mereka bertengkar dan Ibu berhasil membawaku kerumahnya. Merawatku hingga dewasa, namun aku tetap saja tidak beruntung karena memiliki Ayah angkat seperti Leo Gabriel. Penyiksaan demi penyiksaan yang dilakukannya terhadap Ibu, membuatku muak. Aku benci Ibu yang lemah sepertiku.
Hingga, akhirnya hari itu ketika Ibu sudah tidak tahan lagi terhadap Ayah dan meminta cerai. Ayah murka dan ingin membuatnya tidak bisa meninggalkannya. Pertengkaran itu dimulai, aku sudah mengajak Ibu pergi dari sana tetapi Ibu tetap tidak mau hingga Ayah mengunci seluruh rumah.
Kebengisan Ayah tidak terbendung lagi, namun itu tidak lama hingga karma yang dibuatnya sendiri menyebabkan senjata makan tuan. Ayah terpeleset hingga lumpuh, tidak bisa bangun. Saat itu kupikir Ibu akan bersedia pergi denganku meninggalkan semuanya. Tetapi setelah seluruh tubuhnya terluka dan kesakitan, Ibu justru merasa kasihan pada Ayah dan hendak membawanya ke rumah sakit.
Sontak hatiku marah, muak dan jijik padanya.
Dasar manusia lemah!
Aku mengambil vas bunga itu dan memukul kepalanya hingga pingsan. Lalu, pemantik milik Ayah aku nyalakan. Aku melihat Ayah yang masih sadar namun tidak bisa bergerak. Mulutnya bergumam, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun sulit.
Aku tertawa, karma yang sangat menyedihkan!
Kulempar pemantik itu hingga membakar keduanya. Terdengar suara Ayah yang bergumam kesakitan. Hingga kusulut sprei-sprei yang sedang dijemur hingga api bersulut dengan cepat.
Aku hanya menontonnya hingga puas. Sampai, suara ledakan dari gas membuatku terlempar. Aku segera mencari kunci itu yang disembunyikannya di saku. Berusaha membuka pintu meskipun sulit, hingga akhirnya terbuka.
Aku selamat.
Lalu semua orang meratapiku dengan iba, mengkasihaniku dan menganggapku anak baik yang malang. Hati ini tertawa geli.
Tidak disangka, di kantor polisi Edgar yang telah menculikku dari tangan nenek, menjemputku dan mengaku sebagai Paman Hari. Aku ingat Paman siapa dirimu yang sebenarnya. Kuikuti saja permainan kalian. Meskipun, aku tidak tahu apa itu.
Pertemuan pertama kali dengan Bibi, aku belum mengenalinya hingga aku membaca namanya dalam botol obat itu.
Tetapi bukan aku yang membunuh mereka, aku hanya korban dari rencana bunuh diri massal
itu. Sebenarnya ada keinginanku untuk mengakhiri, tetapi nyatanya aku masih hidup dan belum mati.
***
Baikklah aku hanya akan menikmati perhatian yang luar biasa ini. Semua orang sudah menungguku untuk memberikan sambutan, hal yang dinanti-nanti sejak lama. Cahaya blitz, suara cekrek dari kamera yang memotretku setiap detik, entah sudah berapa roll film yang dihabiskannya. Aku pura-pura gugup untuk mendramatisir keadaan. Merunduk malu agar dicap seorang anak pemalu yang tidak pandai berhadapan dengan orang banyak.
Seorang polisi memberikanku jalan untuk naik ke podium. Hatiku semakin geli membayangkan podium ini adalah tempat terakhir Dean sebelum akhirnya benar-benar pergi.
“A-aku tidak bisa berkata apa-apa selain berterima kasih kepada semua …,” lirihku menahan tangis. Semua yang hadir sudah mulai menangis karena aktingku yang brilian.
“Kepada semua yang sudah … mendukungku,” napasku tersendat seakan tidak tahan menahan gejolak ini. Hingga ada yang berteriak, “Qian kami menyayangimu, Qian semangatlah!”
“Aku akan hidup lebih baik, agar tidak mengecewakan kalian.”
Setelah itu, aku di mana ke sebuah panti asuhan yang dianjurkan oleh komisi perempuan. Menunggu sebuah keluarga untuk mengadopsiku. Padahal aku tidak butuh keluarga, aku hanya butuh diriku sendiri. Keluarga hanya merepotkanku saja, keluarga hanya membuat masalah semakin besar. Keluarga tidak bisa diandalkan.
Berapa lama lagi aku harus berpura-pura, aku ingin segera pergi dari sini dan hidup mandiri. Bekerja dan tinggal dirumah sendiri, aku juga muak dengan sekolah, tidak berguna. Hanya tempat pamer kecantikan, kepandaian dan kekayaan. Tempat untuk menindas yang lemah dan mengejek yang tidak rupawan. Sekolah hanya tempat untuk melempar tanggung jawab orangtua yang sangat merasa kewalahan mendidik anak-anaknya. Dengan kata lain, sekolah hanya usaha untuk menjauhkan anak-anak dari kehidupan pribadi.
***
“Sudahlah Nin, ikhlaskanlah,” ucap Bima ketika melihat Qian melewati pintu keluar. Perawakannya tidak terlihat lagi meninggalkan gedung.
“Semua menyambutnya bagaikan pahlawan,” keluh Nin.
“Jika memang ia tidak bersalah, maka malang betul nasib. Namun, jika ternyata ia berbohong. Sungguh seorang yang sangat berbahaya, bisa mengelabui lie detector,” sambungnya.
“Apa kamu mau ikut denganku?”
“Kemana?”
“Menemui Pak Dean.”
***
Kabar buruknya dari semua yang sering kulakukan hanyalah bekerja, ketika tidak lagi rasanya hari-hariku begitu kosong. Banyak waktu terbuang dan sia-sia. Kabar baiknya, mungkin sudah saatnya di usiaku yang tidak lagi muda ini untuk merasakan jatuh cinta. Fokus pada seseorang mungkin akan membuatku sibuk.
Jadi teringat ucapan Edgar padaku dulu, aku terlalu sibuk menangkap orang-orang seperti dirinya hingga ia mengasihaniku karena tidak pernah memiliki kekasih. Sialan kau Edgar! Semoga kamu senang bersama Enggar di sana. Sembari menarik kail yang terasa berat, umpannya dimakan oleh sesuatu di air tambak yang butek ini.
“Pak Dean, kami datang!” Bima dari kejauhan. Bagaimana mereka bisa menemukanku di sini.
“Untuk apa kalian datang?” ucapku sedikit terganggu.
“Kami kangen, Pak,” tutur Nin.
“Sebaiknya kalian datang tidak dengan tangan kosong,” keluh Dean.
“Hahaha … Nin bawa donat dan minuman kaleng!” sembari mengangkat tas plastik itu.
Ah … lumayanlah.
Aku menyambut donat itu, membukanya di atas dipan bambu dan memakannya bersama Bima. Suasananya sangat pas sembari menikmati pemandangan tambak yang bau amis, becek dan wajah-wajah serius dari para pemancing. Tanpa suara mereka sangat fokus atas buruannya, meskipun kail itu tidak terlihat.
Air keruh yang menyembunyikan ikan, buruan yang selangkah lebih maju ketimbang pemburu. Buruan yang bisa melihat di dalam air keruh, sedangkan sang pemburu hanya bisa mengandalkan umpannya.
“Hati-hati Nin,” ucapku yang sejak tadi memperhatikannya sedang mencoba kail pancing.
Tiba-tiba kakinya yang berpijak pada bamboo yang tertancap di tepi tambak, longsor hingga membuatnya masuk ke dalam tambak.
“Nin!” teriakku bersama Bima. Sudah terlambat, Nin masuk kedalam kolam keruh itu berenang bersama buruanku. Aku berusaha menolongnya dengan mengulurkan tangan. Nin mulai megap-megap berenang ketepian. Hingga tubuhnya berhasil kuangkat kepermukaan.
Bima terlihat senang melihat pemandangan itu, mungkin membuat pikirannya fresh.
Tiba-tiba, Bima menerima panggilan tugas hingga meninggalkan Nin yang penuh lumpur dan berbau amis. Bagaimana ini?
***
Mohon dukungannya, pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )