The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 9



"Jadi, Ayahmu telah menjodohkanmu?"


Emily sama terkejutnya dengan Dylan dan Theo ketika mendengar kabar itu, mata ambernya yang besar menatap Theo dengan penuh antusias, pria malang itu hanya bisa membuang napas berat sambil mengangguk lemah.


"Apa kau pernah bertemu dengan tunanganmu? Apa dia cantik? Apa kau menyukainya?"


Emily bahkan lupa menyentuh makan malamnya dan terus menanyai Theo, sampai Dylan memasukan potongan sushi kedalam mulut gadis itu.


"Em, aku bahkan baru mengetahui namanya tadi siang."


Dengan malas Theo makan beef teriyaki yang tersedia dihadapannya. Saat ini mereka tengah berada di apartemen Emily sambil menyantap makanan Jepang yang tadi di beli Dylan untuk makan malam mereka bertiga.


"Jadi kapan kau akan bertemu dengannya?"


Emily mengambil sumpit di atas meja lalu mengambil potongan sayur yang ada di dalam sukiyaki yang tampak menggoda.


"Besok, Dad akan mengenalkannya kepadaku. Dylan, kau harus ikut bersamaku ok?"


Dylan menganggukan kepala sambil kembali menikmati sushinya.


"Bagus, dan aku harap dia akan tertarik padamu sehingga membatalkan pertunanganya denganku."


"Hei!"


Emily reflek mengacungkan sumpit kearah Theo sambil berteriak ketika mendengar niat pria itu mengajak Dylan, kedua pria itu tampak terkejut melihat reaksi berlebihan dari gadis yang kini tengah memelototi Theo dengan mata bulatnya. Dylan tersenyum lalu mengacak-acak rambut Emily yang mukanya sudah seperti kepiting rebus.


"Maksudku, kau tidak boleh melakukan itu, Ayahmu pasti kecewa," jelas Emily sambil menganggukan kepala untuk lebih meyakinkan Theo yang tengah menatapnya dengan jahil.


"Kalau ini hanya bisnis, Dad tidak akan kecewa karena Dylan juga sudah seperti anaknya sendiri."


Theo dengan tenang menatap Emily sambil memasukan potongan daging sapi itu ke dalam mulutnya. Mendengar itu Emily menatap Dylan dengan cemas, dan sialnya pria itu hanya menghendikan bahunya sambil tersenyum menggoda.


"Aku tahu itu... tapi, tetap saja itu berbeda."


Suara Emily terdengar putus asa, dia sendiri tidak dapat memahami kenapa membayangkan Dylan bertunangan dengan perempuan lain sangat mengganggunya.


Dylan kembali menyuapi Emily sushi, "Tenang saja, Em, aku sudah berjanji akan menikahimu agar kau tidak jadi perawan tua." Dylan berkata dengan santai sambil tersenyum, yang ditanggapi Emily dengan picingan matanya yang membunuh, pria itu malah menganggapnya lucu dan mulai tertawa.


"Ckk.. jadi apa kalian sekarang berpacaran?"


"Ya."


"Tidak." Emily dan Dylan saling pandang karena jawaban mereka berbeda.


"Tentu saja kita sekarang berpacaran, Em, bukankah aku bilang akan menikahimu."


"Bagaimana mungkin kita berpacaran? Kau adalah Dylan… sahabatku!"


"Dan aku menyukaimu."


"Tentu saja aku juga menyukaimu, Dylan, kita telah berteman hampir sepuluh tahun, bagaimana mungkin aku tidak menyukaimu,"


"Tapi aku mencintaimu, Em."


Dylan menatap langsung mata Emily ketika mengucapkan kalimat sakral itu, Emily terbelalak, jantungnya kembali berdetak cepat, matanya mengerjap-ngerjap tak percaya.


"Sial, Dylan, kau berhasil mengejutkanku!" Emily memukul Dylan sambil tertawa kaku ketika dia menyadari kalau Dylan hanya bercanda. Iyakan?


"Aku serius, Em." Mata hijaunya terlihat tulus ketika menatap Emily, ada keyakinan dari sorot mata itu.


"Yeah, dan 3 Juli adalah hari Natal." Theo tersenyum prihatin kepada Dylan ketika mendengar perumpamaan Emily yang tak mungkin itu. Dylan yang malang.


"Aku tak mau mendengar omong kosong itu lagi, ok?" Emily mengangguk kepada Dylan sebagai penegasan pertanyaannya.


"Itu bukan omong kosong, Em, kita bahkan sudah berciuman."


"Dylan!" Perkataan Dylan itu sukses membuat Emily berteriak dan memberikan tatapan membunuh kepada pria itu.


"Aku sudah mengetahuinya, Em." Theo tersenyum menggoda ketika melihat Emily menatapnya dengan mata membelalak tak percaya.


"Oh Tuhan, aku tak percaya ini! Kau memberitahunya?"


Dylan hanya menghendikan bahu sebagai jawaban.


"Dengar, Em..."


"Dengar, Dylan! Aku tak mau mendengar omong kosong itu lagi." Emily menatap Dylan dengan mata yang nyaris keluar.


"Tapi.."


"Stop, ok?! Aarrggh kalian membuat nafsu makanku hilang!" Emily bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi dengan muka ditekuk.


"I love you, Em!" Teriak Dylan yang sukses membuat gadis itu membalikan badannya hanya untuk menatap Dylan dengan matanya yang dipicingkan dan bibirnya yang cemberut tampak lucu, kemudian melanjutkan kembali langkahnya dengan mengherdik-herdikan kaki sambil terus mendumel sampai pintu kamar mandi itu dibantingnya lalu terdengar teriakan putus asa gadis itu didalamnya, kelakuan Emily itu sukses membuat Theo tertawa terbahak-bahak, sedangkan Dylan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum miris.


"Oh, Man, kau akan memerlukan semua kesabaran dan waktumu untuk meyakinkan dia."


Dylan mengangguk setuju sebelum berkata, "Demi Tuhan, mereka berdua sangat pintar dalam segala hal, tapi kenapa sangat bodoh kalau soal laki-laki."


"Ngomong-ngomong, apa dia bisa berciuman?"


"Diam, Theo!" Dylan melemparkan tissue ke arah Theo yang kembali tertawa.


Oh iya dia sangat bisa berciuman, bisik Dylan dalam hati tapi itu hanya akan menjadi rahasia dia saja untuk yang satu ini.


*****


Dylan duduk di kursi santai yang ada di balkon apartemennya, matanya menikmati pemandangan kota New York yang gemerlap, sesekali dia meneguk bir dingin yang digenggamnya, seandainya saja Emily tidak mengusirnya, malam ini dia pasti sedang berada di apartemen gadis itu dan menikmati ocehan-ocehannya tentang perasaan Dylan yang tak masuk akal.


Dalam hati Dylan yakin kalau Emily memiliki perasaan yang sama dengannya, dia hanya perlu untuk menyadarkan gadis itu tentang perasaannya sendiri, yang pasti dia tidak akan menyerah untuk mendapatkannya. Entah sejak kapan, mata bulat berwarna amber milik gadis itu telah menyihir hatinya, sifatnya yang ceroboh berbanding terbalik dengan Alexa yang serba teratur dan rapih, tapi itu yang membuat Dylan lebih memerhatikan Emily karena ingin melindunginya dari kecerobohannya sendiri.


Emily memang kembar identik dengan Alexa yang membedakan hanya warna rambutnya, Emily memiliki warna hitam yang diwarisi dari ibunya yang keturunan Indonesia, sedangkan Alexa mewarisi rambut coklat ayahnya.


Suara telpon genggang menyadarkan Dylan dari lamunannya tentang Emily.


"Apa kau ada di rumah?" Suara Alex terdengar diantara keriuhan kantor NYPD.


"Iya, apa kau telah mendapatkan sesuatu?"


"Kita harus bertemu ada yang harus aku tanyakan kepadamu."


"Baiklah, 20 menit lagi kita bertemu di tempat biasa."


Lima belas menit kemudian Dylan sampai di The Rock tempat mereka biasa bertemu.


"Apa kau ada janji dengan yang lainnya?" Max, bartender di tempat itu yang sudah mengenal mereka semua dengan baik menghampiri Dylan ketika melihat pria itu duduk di meja bar.


"Aku ada janji dengan Alex."


Kepala pelontos milik Max terlihat mengangguk. Max adalah mantan tentara yang berhenti karena dia harus kehilangan sebelah kakinya saat bertugas di Afganistan dan saat ini harus rela memakai kaki palsu untuk melakukan aktifitas, setelah berhenti dari tentara kemudian dia membuka The Rock yang dia beli dari hasil uang pensiunannya.


"Aku akan membuatkanmu minuman seperti biasanya."


"Berikan aku soda saja untuk malam ini, Max." Max mengangguk tanda mengerti.


"Satu soda untukku juga, Max." Alex baru sampai dan langsung duduk disebelah Dylan.


"Kau sudah menunggu lama?" Dylan menggeleng sebagai jawaban.


Alex memperhatikan seluruh penjuru ruangan itu, kebiasaan yang selalu dia lakukan sebagai tingkat kewaspadaannya. Setelah merasa aman, dia duduk dengan santai sambil bersandar ke meja bar.


"Apa kau masih ada tugas?"


Dylan memerhatikan penampilan Alex malam ini, seperti biasa pria yang satu ini selalu tampil memukau, beberapa wanita dengan terang-terangan melirik Alex dengan minat khusus, walau hanya mengenakan celana jeans pudar dipadukan dengan kemeja biru dan jaket kulit hitam, Alex sukses membuat para wanita di dalam bar itu melirik genit kepadanya mencari perhatian.


"Ada yang masih harus aku kerjakan." Alex meminum soda yang baru saja diantarkan Max padanya.


"Dylan, apa kau mengetahui sesuatu tentang The Royals Group?" Alex menatap Dylan dengan mata birunya yang tajam.


"Iya, mereka adalah salah satu rekan bisnis kami, apa ada masalah?"


Dylan penasaran tentang arah pertanyaan Alex mengenai The Royals Group, salah satu perusahaan raksasa di Eropa, kalau perusahaan Regan masuk dalam jajaran The Big Ten, maka Royal lebih gila lagi mereka adalah The Big Five.


Kening Alex sedikit berkerut, sebelum melanjutkan pertanyaannya, "Apa kalian sedang ada masalah dengan mereka?"


Perkataan Alex tadi sukses membuat Dylan memfokuskan perhatiannya ke arah Alex yang matanya kini tengah menyisir sekeliling The Rock yang lumayan penuh malam ini, mengingat sekarang adalah malam sabtu.


"Tidak, setahuku selama ini mereka hanya rekan bisnis, bisa kau jelaskan ada apa sebenarnya?"


Alex balik memfokuskan pandangannya ke arah Dylan yang tengah memandangnya dengan sorot mana penasaran.


"Aku telah mengecek CCTV di sekitar 42nd, tempat kejadian kau dan Emily mengalami kecelakaan dua hari yang lalu, aku berhasil mendapatkan plat no kendaraan yang kau yakini telah mengikutimu sejak keluar dari Starbuck." Alex meminum sodanya sebelum melanjutkan hasil investigasinya, "Dan, iya kau benar, Dylan, mereka telah mengikuti kalian bahkan ketika keluar dari apartemen Emily."


Penjelasan Alex itu sontak membuat Dylan terkejut, jadi selama ini dia telah diikuti?


"Setelah aku mengecek no polisinya, aku mengetahui kalau kendaraan itu terdaftar atas nama salah satu kendaraan operasional The Royal."


Dylan mencoba mencerna informasi yang diberikan Alex, semua tampak tidak masuk akal, kenapa perusahaan itu mengikutinya, apa karena bisnis? Bukankah tidak ada yang mengetahui statusnya dan Theo?


"Kita bisa saja menanyai mereka soal ini, tapi kita memerlukan surat perintah dan aku tidak bisa mendapatkannya karena kita tidak melaporkan soal kecelakaan itu. Jadi satu-satunya cara adalah kita menunggu Gerard pulang dari Korea supaya dia bisa masuk ke dalam data base komputer perusahaan itu, dan mencari tahu apa yang kita mau."


Alex memerhatikan Dylan yang kelihatan bingung dengan semua informasi yang baru saja dia dengar.


"Jadi maksudmu Royal mengikutiku dan Theo?"


Alex hanya mengangguk sebagai jawaban sambil meminum sodanya, alis Dylan berkerut menandakan kalau dia sedang berpikir, mencari jawaban di balik semua ini.


"Satu lagi yang tak kalah penting," Alex melanjutkan ucapannya sambil menatap Dylan dengan serius, "Mobil merah yang menabrak Emily, dia juga telah mengikuti kalian dari awal." Alex berkata dengan sorot mata serius dan sukses membuat Dylan meradang.


Sial! Itu bukan kecelakaan tapi disengaja! Emily, gadis yang dia cintai bahkan terluka karena ini. Dia akan mencari jawaban atas motive semua ini, dan dia bersumpah tidak akan mengampuni siapapun yang telah membuat Emilynya terluka.


*****