The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 28



Pria itu tampak serius mengamati barang-barang yang ia keluarkan dari tas kulit coklat yang kini tergelak di lantai, alisnya berkerut setiap tangannya mengangkat satu persatu benda itu.


"Sial!"


Ia berteriak marah, melemparkan semua barang dari atas meja sehingga berceceran ke seluruh ruangan. Di antara barang-barang di dalam tas itu tidak ada satupun petunjuk dimana cincin itu berada, ia berjalan mundar mandir sambil berpikir untuk langkah selanjutnya, bunyi telepon genggam membuatnya menghentikan kegiatannya mengelilingi ruangan sempit itu.


"Halo."


"Apa yang kau lakukan!"


Teriakan marah langsung terdengar ketika ia mengangkat telepon itu.


"Sudah kukatakan jangan lukai gadis itu, dasar bodoh!"


Ia hanya bisa menggemeretakan gigi, dadanya terlihat naik turun menahan emosi mendengar penghinaan itu, sebenarnya orang bodoh itu adalah orang sewaan dia yang sekarang sudah terkubur atau lebih tepatnya tenggelam bersama dengan mobil pick up tua di kedalam dinginnya sungai Manhattan.


"Kau tahu akibatannya karena gadis itu terluka? Kasus ini sekarang ditangani polisi yang seharusnya itu tidak terjadi!"


Hunter bisa mendengar napas pria itu yang tersenggal-senggal karena marah.


"Dan apa maksudmu dengan boneka sialan itu?"


Hunter sekarang bisa sedikit tersenyum mendengar soal boneka, ia sengaja menaruh benda itu di sana untuk membuat buruannya sedikit waspada, sebagai pemburu profesional tidak menyenangkan kalau perburuannya terasa mudah, ia menginginkan sedikit tantangan sehingga kepuasaan saat menghabisi mangsanya akan terasa lebih nikmat.


"Aku tak mau tahu, kau bereskan semua kekacauan ini dan temukan cincin itu secepatnya!"


Ia mematikan telepon sambil berjalan menuju dinding sisi kiri dimana di sana terpampang foto-foto hasil pengamatannya selama ini, dengan teliti ia memerhatian satu persatu foto yang ditempel hampir memenuhi dinding, siapa tahu ia melewati petunjuk tentang keberadaan benda itu.


Dari sekian banyak foto dan petujuk yang ia miliki tidak ada satupun yang mengarah kepada keberadaan benda yang ia cari, dan itu membuatnya sedikit frustasi, ia memiliki kesabaran dan keakuratan sebagai seorang pemburu tapi ia bukan anjing pemburu yang bisa mengetahui keberadaan suatu benda bahkan yang telah terkubur tanah sekalipun.


*****


"Jadi itu bukan bonekamu?"


Dylan bertanya setelah sebelumnya ia diberi tahu Theo kalau beberapa orang detektif baru saja mendatangi Calista untuk melakukan investigasi lanjutan mengenai boneka yang ditemukan di TKP.


"Iya, boneka itu masih terlihat baru." Calista yang sudah terlihat sehat duduk bersandar di atas kasur.


"Apa boneka itu sama persis?" Emily yang duduk di samping tempat tidur bertanya sambil mengupas apel.


"Setelah aku memerhatikannya, gaunnya berbeda, walaupun sama-sama berwarna merah dan ada namaku tapi modelnya berbeda."


"Bagaimana ******** itu mengetahui soal boneka itu?" Theo masih geram mengingat seseorang telah melukai tunanganya.


"Apa mungkin mereka mengetahuinya dari sosial media, seperti waktu kasusku kemarin?"


Semua orang kini menatap Calista dengan serius, mengerti dengan maksud pertanyaan dari Emily, Calista mengeleng sebagai jawaban.


"Tidak, aku tidak pernah meng-upload nya di sosial media manapun."


Calista memakan apel yang telah dipotong Emily dan mengucapkan terima kasih sebelum melanjutkan perkataanya,


"Dad, dia sangat berhati-hati dengan keluarga kami agar tidak terekspos oleh media, dia tidak mau kami dikenal publik sampai waktunya tiba."


Mereka bisa memahami itu, ayahnya tidak mau keseharian keluarganya menjadi konsumsi publik yang membuat mereka tidak memiliki privisi lagi dengan paparazi mengintip dan mengikuti mereka selama 24 jam.


"Jadi itu sebabnya kau dan kakakmu tinggal terpisah dari Ayahmu?"


Emily memberikan potongan buah-buahan kepada Theo dan Dylan yang duduk di sofa ruangan itu. Calista menghembuskan nafas berat lalu mengangguk.


"Itu salah satu alasannya, Dad, menginginkan kami hidup dengan bebas sebagai remaja tanpa harus takut kalau apa yang kami lakukan besoknya akan menjadi berita utama di koran-koran seluruh dunia."


Theo dan Dylan mengangguk memahami itu semua, itu juga yang menjadi alasan mereka pindah ke New York tanpa ada yang mengetahui latar belakang keluarganya.


"Kau bilang itu salah satu alasannya, dan apa alasan yang lainnya?"


Calista menatap Dylan dengan sorot mata lembut selama beberapa saat sebelum dia menjawab pertanyaan pria itu.


"Kalian sudah mengetahuinyakan kalau ibuku meninggal dalam kecelakaan mobil ketika aku masih kecil?" Semua mengangguk sambil menatap gadis itu dengan serius.


"Kecelakaan itu seharusnya merenggut nyawa kami sekeluarga."


Mereka terkesiap mendengar itu, Emily langsung menggenggam tangan Calista yang ada dipangkuanya, matanya menatap gadis itu dengan kilatan rasa simpati yang tulus.


"Ya Tuhan, bagaimana itu bisa terjadi?" Theo bertanya dengan suara tercekat karena kaget.


"Malam itu seharusnya kami semua pergi ke acara makan malam di rumah Kakek, tapi aku tiba-tiba demam jadi tidak diizinkan ikut, sedangkan ayahku ada pertemuan dengan klien jadi sedikit terlambat, dia meminta Mom untuk pergi terlebih dahulu."


Calista mengambil napas panjang, matanya menerawang mengingat kembali cerita dari ayahnya tentang kejadian malam itu.


"Mom pergi bersama David yang waktu itu masih berumur 7 tahun, aku menangis ingin ikut tapi tidak diijinkan karena takut kalau aku tambah parah sampai akhirnya David memberikan boneka Barbie itu supaya aku berhenti menangis, boneka itu seharusnya jadi kado ulang tahunku yang ke 2 minggu depan, tapi dia tidak tega melihatku menangis makanya dia memberikan hadiah lebih awal." Calista tersenyum mengingat David, kakaknya.


"Kakakmu sangat baik," Emily ikut tersenyum melihat Calista tersenyum ketika menceritakan kakaknya.


"Iya, dia memang baik."


"Dan juga tampan," ucap Theo yang langsung membuat Calista tertawa.


"Dia memang tampan, Theo." Theo hanya mengangkat alis dan bahunya mendengar Calista yang selalu memuji kakaknya itu.


"Aku percaya padamu dia pasti tampan, kau seharusnya mengenalkannya padaku," Emily berkata sambil menganggukkan kepalanya serius.


"Cupcake!" Dylan langsung protes mendengar perkataan kekasihnya itu.


"Apa?"


"Kau harus mengenalkan kami!"


"Aku mendengarnya, Em." Dylan kembali protes.


"Baiklah, kau lihat itu Calis? Dia takut kehilangan aku."


Mendengar itu Calista tertawa apalagi setelah melihat Dylan yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Emily.


"Sunshine, bisa kau lanjutkan ceritamu?" Calista menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


"Iya, akhirnya Ibuku dan David pergi, dalam perjalanan malam itulah mobil mereka mengalami kecelakaan masuk kedalam jurang."


Ruangan itu tiba-tiba hening, semua orang terbelalak kaget mendengar itu, mereka semua tidak menyangka kalau David merupakan salah satu korban kecelakaan itu. Tidak ada yang berani bersuara sampai Calista kembali bercerita memecah keheningan.


"Ibuku meninggal di tempat sedangkan David, dia ditemukan dalam keadaan luka parah."


"Ya Tuhan, aku sangat menyesal." Emily kembali menggenggam tangan Calista yang terlihat sedih.


"Maafkan aku, Sunshine, aku sangat menyesal." Theo berkata dengan tulus.


Dia menyesal karena Calista harus kehilangan ibunya di usia yang masih kecil, tapi dia juga bersyukur karena tunangannya tidak ikut pergi malam itu, demam telah menyelamatkan hidupnya.


"Tidak apa-apa kejadian itu sudah dua puluh tahun yang lalu dan aku terlalu kecil untuk mengingatnya."


Calista tersenyum melihat keluarga barunya, ada ketulusan di dalam mata mereka yang kini menatapnya dengan cinta dan juga kasih sayang, "Ayahku menceritakan itu semua ketika aku sudah beranjak dewasa, dan dia juga berpikir kalau kecelakaan itu bukan hanya kecelakaan biasa."


"Maksudmu seseorang sudah merencanakannya?" Pertanyaan Dylan itu dijawab anggukan lemah oleh Calista.


"Ya Tuhan, Calista, bagaimana mungkin kau baru memberitahuku soal ini sekarang!"


Theo terlihat marah dan kecewa karena selama ini tunangannya telah menyembunyikan fakta itu darinya.


"Apakah kau tahu artinya ini?" Theo kembali berkata sambil menatap tunangannya yang kini terdiam, "seseorang yang dekat denganmu bisa saja menjadi pelakunya." Calista dan Emily terbelalak kaget mendengar perkataan Theo.


"Boneka itu, hanya orang dekatmulah yang mengetahui mengenai boneka itu."


Dylan berkata sambil menumpukan kepalannya di atas kedua telapak tangannya, alis matanya berkerut terlihat berpikir dengan keras sampai akhirnya ia menggelengkan kepala menghalau semua pikiran yang muncul dikepalanya. Theo mengangguk setuju dengan ucapan Dylan.


"Iya, kau benar hanya orang dekat yang mengetahuinya."


Setelah beberapa saat yang hening akhirnya Calista berusaha berbicara walaupun dengan suara yang lemah, "Maafkan aku, aku pikir dan berharap kalau kecurigaan Ayahku itu tidak benar, itulah mengapa aku tak pernah menceritakan ini pada siapapun."


"Sunshine, maafkan aku tapi Ayahmu tidak mungkin berpikir seperti itu tanpa alasan yang jelas." Calista mengangguk memahi apa yang Theo pikirkan, "Apakah kau mengetahui seseorang yang sangat membenci Ayahmu?"


Calista menggeleng menjawab pertanyaan Theo, "Aku tidak tahu, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di asrama."


Theo mengangguk mengerti, "Orang ini pastilah orang yang sangat mengenalmu, sunshine."


Calista kembali kembali mengangguk setuju dengan pemikiran Theo, hanya orang-orang yang kenal baik dengannyalah yang mengetahui tentang boneka itu.


"Aku telah memberitahu Ayahku tentang masalah ini, dia akan ke rumahmu untuk menyelidikinya, semoga kita bisa menerima kabar secepatnya."


Theo melihat kilat harapan dalam mata Calista agar masalah ini cepat selesai.


Semua kembali terdiam larut dalam pikiran masing-masing, Emily merasa kasihan melihat Calista, wajah gadis itu kini sedikit memucat memikirkan ada seseorang di sekeliling kita yang berusaha menyakiti kita.


"Apa kakakmu baik-baik saja?" Pertanyaan Emily membuat Calista sedikit tersenyum sambil mengangguk, "Syukurlah kalau dia baik-baik saja."


Emily menatap Calista dengan sorot mata lembut ada kilat pengertian di sana, dia bisa memahami kenapa Calista berharap kalau apa yang merenggut nyawa ibunya adalah kecelakan, itu bisa lebih mudah diterima dari pada dia mengetahui kalau seseorang telah membunuh ibunya.


"Apa kau tahu Calista, kakakku Daniel, dia juga sangat baik." Emily berusaha mengalihkan pembicaraan yang membuat teman barunya itu sedikit tertekan.


"Dia juga sangat tampan," Calista berkata dengan semburan merah di pipinya.


"Jangan katakan kau menyukainya, Sunshine."


Perkataan Theo itu hanya dijawab oleh gadis itu dengan mengangkat bahu dan alisnya saja, yang membuat Emily tersenyum.


"Tentu saja dia tampan, dia bahkan punya banyak fans, apa kau tahu kalau dia seorang cameraman?"


"Iya aku mengetahuinya, aku salah satu fansnya juga," bisik Calista malu-malu yang membuat Dylan tertawa.


"Bro, dia tidak terkena sindrom Alex, tapi dia terkena sindrom Daniel."


Perkataan Dylan itu sukses membuat Theo mengumpat, Calista yang kini sudah terbiasa mendengar umpatan-umpatan para pria itu hanya bisa menggelengkan kepala.


"Daniel, sebelum bekerja dia juga suka memberi kami hadiah walaupun barang-barang sale atau yang buy one get one, dia selalu mengomel kenapa ulang tahun kami harus pada tanggal yang sama, yeah mungkin dia lupa kalau adiknya itu kembar." Cerita Emily itu sukses membuat Calista terbelalak sambil tertawa.


Emily kembali bercerita tentang kenakalan-kenakan Daniel dan para sahabatnya, Theo ikut menceritakan kenakalan-kenakalan mereka berempat yang membuat Calista kembali tertawa.


Disaat mereka semua tertawa dan bercerita, Dylan terlihat diam larut dalam pikirannya, kilasan-kilasan gambar yang samar hadir ketika Calista bercerita tentang kecelakaan ibunya. Kepingan-kepingan itu membuat kepalanya sedikit berdenyut, gambar-gambar itu seperti kepingan pazel yang belum tersusun dan semakin dia berusaha menyusunnya menjadi satu kesatuan yang utuh, kepalanya semakin berdenyut hebat, wajahnya memucat, keringat dingin membasahi badannya, ada perasaan takut yang membuat jantungnya berpacu dengan hebat, dia bisa mendengar suara benturan keras dan teriakan yang membuatnya semakin merasa ketakutan.


"Dylan! Dylan!"


Suara panggilan Theo sambil menggoyang-goyang badannya membuat Dylan memalingkan matanya menatap Theo dengan pandangan kosong, napasnya terengah-engah , perlahan dia mengedip-ngedipkan matanya berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya. Dia melihat sekeliling, Emily dan Calista menatapnya dengan pandangan khawatir.


"Kau tidak apa-apa?" Emily bertanya dengan khawatir melihat Dylan yang pucat pasi.


Dylan mengangguk sambil berusaha menormalkan kembali detak jantungnya, "Iya aku baik-baik saja."


Dia berusah tersenyum walaupun terlihat dipaksakan, Dylan masih belum bisa mengendalikan detak jantungnya dan perasaan aneh yang menggelinjar di dalam tubuhnya, potongan-potongan gambar buram itu seperti membawanya kedalam pusaran badai yang membuat dia terumbang-ambing tanpa ada pegangan yang membuatnya bertahan.


*****