The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 42



"B*J*NG*N! Bagaimana kau bisa gagal?!! Dia masih hidup, apa kau dengar itu… DIA MASIH HIDUP!" Teriak pria paruh baya itu sambil melempar semua barang tak bersalah yang ada di atas meja, membuat kegaduhan bergema di dalam ruangan. Napasnya memburu, matanya seperti mau keluar, urat-urat di pelipisnya menonjol, jari-jari tangannya memutih karena menggenggam telepon genggam terlalu keras, ia berharap andai yang ia pegang itu leher orang yang telah menggagalkan semua rencananya maka itu akan lebih baik, ia akan mematahkan leher orang itu tanpa ampun. Tapi sayang orang itu berada jauh di seberang lautan, hingga hanya telepon genggam dan barang yang ada dihadapanyalah yang menjadi pelampiasan amarahnya.


"Ini seharusnya hanya menjadi sebuah kecelakaan yang membunuhnya. Bagaimana bisa NYPD mengetahuinya sebagai upaya pembunuhan?" Tanyanya dengan suara menggeram, ia berusaha menenangkan emosinya dengan menarik napas panjang beberapa kali. Tapi bagaimana bisa ia bersikap tenang ketika semua usahanya untuk tidak menarik perhatian pihak kepolisian telah gagal, mereka kini telah meningkatkan pengawalan terhadap pewaris sah group Royal.


"Dengar, kau bereskan semua kekacauan ini secepatnya atau aku akan menghabisimu lebih dulu! apa kau paham?"


Tanpa harus repot-repot menekan tombol selasai, ia langsung melemparkan telepon genggam itu dengan tenaga penuh membuat benda itu menjadi terbelah dan tergeletak bersama barang-barang lain yang berserakan di lantai.


*****


Mata hitamnya tajam memandang foto-toto yang tertempel di dinding ruangan sempit itu, rahangnya mengeras, giginya menggeretuk mencoba menahan emosi, jari-jarinya tangannya memutih menggenggam telepon yang bertengger di telinga kiri, tanpa ada kata yang keluar ia menutup teleponnya.


Dengan sorot mata penuh emosi ia memerhatikan foto Dylan Alexander atau yang sekarang ia ketahui bernama David McArtur. Ia mengambil satu foto Dylan, untuk beberapa saat ia menatap gambar pria bermata hijau itu, seharusnya ia mengetahui ketika melihat mata itu. Mata hijau yang dua puluh tahun lalu telah dibuatnya tertutup, tapi sayang mata itu kembali terbuka, dan sekarang lagi-lagi anak itu selamat dari aksinya.


"SIAL!!" Ia meremas foto itu lalu melemparnya diikuti dengan semua foto-foto yang tertempel di dinding hingga membuatnya berhamburan. Seharusnya ia menghabisinya dua puluh tahun lalu, tapi ia terlalu percaya diri kalau anak itu tidak akan selamat dari kecelakaan yang menewaskan ibunya, dan sekarang lagi-lagi ia selamat walaupun kendaraan yang ditumpanginya sudah tidak berbentuk. Sekarang pengawalan di sekeliling pewaris Royal itu pasti lebih ketat, ia harus memiliki rencana kuat dan rapi, tapi setelah pria itu mencoreng profesionalismenya ia tidak akan membunuhnya dengan cara cepat. Tidak, pria itu harus merasakan kesakitan terlebih dahulu, lalu ia akan membunuhnya secara perlahan


*****


"Maksudmu dia berselingkuh darimu?" Emily membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang dia dengar. Saat ini ia sedang berada di kamar bersama Alexa, mendengarkan cerita kembarannya yang tiba-tiba saja pulang ke New York tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Semua orang dibuat terkejut ketika tiba-tiba Alexa masuk ke dalam ruang rawat inap Dylan dengan membawa koper sambil berkata, "Ya Tuhan, Dylan, kau terlihat seperti mumi!"


Walaupun saat itu Alexa mencoba tertawa dan bercanda seperti biasanya, Emily seperti biasa dia dapat mengetahui kalau sesuatu telah terjadi kepada saudara kembarnya itu. Dan disinilah mereka saat ini, di dalam kamar milik Alexa di rumah keluarga Winchester.


"Yeah, aku menganggap itu perselingkuhan ketika melihat mereka berciuman nyaris tanpa pakaian," ujar Alexa sambil memeluk boneka winnie the pooh kesayangannya. Saat ini mereka duduk bersila di atas kasur saling berhadapan seperti yang dulu sering mereka lakukan hampir setiap malam ketika masih tinggal bersama orangtuanya.


"Oh, Lexa, bagaimana itu bisa terjadi?"


"Karena aku bodoh... Ya Tuhan, bagaimana bisa aku begitu saja percaya semua ucapannya tentang 'cinta' yang dia rasakan untukku."


"Kau tidak bodoh, dia yang bodoh karena telah menyia-nyiakan gadis cantik, baik dan pintar sepertimu."


"Thanks, Em, tapi percayalah gadis itu jauh lebih cantik dari aku."


"Tapi dia pasti bukan perempuan baik karena telah berselingkuh dengan kekasih temannya sendiri."


"Hmm.. kau benar, dia gadis yang jahat," ucap Alexa sambil merebahkan badannya di atas bantal, matanya menerawang menatap langit-langit dengan pandangan kosong dan Emily dapat merasakan kesedihan yang tengah dirasakan kembarannya itu.


"Apa dia tampan?" Emily bertanya sambil ikut berbaring di sebelah Alexa, untuk beberapa saat gadis itu hanya diam membisu, dengan tatapannya menerawang.


"Pria seperti Alex?" Tanya Emily, ia kini menelungkup dan bertumpu pada kedua sikunya sambil memerhatikan Alexa yang tengah tersenyum kepadanya ketika mendengar ucapan Emily.


"Iya, pria seperti Alex," jawab Alexa sambil menaikan kedua alisnya dan kemudian keduanya tertawa hambar, lalu terdiam untuk beberapa saat.


"Jadi apa yang kau lakukan ketika melihat mereka berdua dalam posisi seperti itu?"


Alexa membuang napas berat, matanya fokus menatap langit-langit kamar tidur, "Saat itu aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya menatap mereka beberapa saat sebelum akhirnya aku berbalik dan pergi dari ruangan itu."


"Kau tidak melakukan apa-apa? Lexa, kekasihmu sedang berselingkuh dengan temanmu di depan mata, dan kau tak melakukan apa-apa?" Emily kembali terduduk dan menatap Alexa yang ikut terduduk dengan pandangan tak percaya.


"Kau belum mendengarkan cerita selanjutnya. Aku pergi dari sana dan kembali lagi dengan membawa satu ember air bekas pel yang aku temukan di lorong kantor lalu mengguyur mereka berdua," ucap Alexa dengan pandangan puas karena telah melakukan itu. Emily membelalakan matanya, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang di dengarnya, setelah tersadar dari keterkejutannya akhirnya mereka tertawa terbahak-bahak.


"Saat itu sangat kacau, Em, seandainya kau ada di sana," lanjut Alexa di antara tawanya, "Semua orang mendengar jeritan Anna yang akhirnya membuat ruangan kostum itu dipenuhi semua karyawan. Anna memakiku dengan makian yang baru aku dengar dan akhirnya membuatku memasukan ember ke dalam kepalanya untuk membuatnya diam."


"Ya Tuhan, Lexa!" Seru Emily sambil tertawa terbahak-bahak membayangkan kejadian yang dialami saudaranya, "Bagaimana dengan Ethan?"


"Well, dia belum sembuh dari keterkejutannya ketika aku berjalan ke arahnya, dia mulai mengoceh segala macam tentang itu hanya salah paham, seberapa besar ia mencintaku dan dia sangat menyesal karena telah menghianatiku. Ckk.. tapi aku tak percaya begitu saja, aku hanya diam dan dengan perlahan berjalan ke arahnya yang terus saja melangkah mundur sampai tidak ada lagi ruangan untuk dia mundur."


Alexa menarik napas panjang, matanya memicing ketika ia melanjutkan ceritanya, "Aku berdiri di hadapannya dengan sangat santai, dan tanpa banyak bicara aku langsung saja menendang tepat di pusat kehidupannya."


"AAWW!" Emily berteriak sambil meringis.


"Tepat seperti itu, Em, ekspresi semua orang yang melihat kejadian saat itu," Alexa terseyum sambil menaikkan alisnya, sedangkan Emily masih meringis membayangkan kalau pria itu akan memerlukan beberapa hari untuk bisa berjalan normal.


"Ya Tuhan, Lexa, kau bisa membunuhnya!"


"Ckk.. aku tidak menendangnya sekuat itu, 'junior' hanya pingsan beberapa hari saja," ucap Alexa dengan santai sambil memerlihatkan senyum yang membuat Artemis-pun merasa malu.


Emily hanya bisa tersenyum melihat kelakuan saudara kembarnya itu. Dia dan Alexa memang memiliki wajah yang sama tapi kepribadian mereka sangat berbeda, Emily yang terlihat kadang sangat polos berbanding terbalik dengan Alexa yang sangat mandiri, ia bisa menjaga dirinya dengan sangat baik, pria-pria yang bermaksud bermain-main dengan dirinya harus berpikir ulang ketika mengetahui tengah berhadapan dengan siapa. Di balik penampilannya yang elegan dan fashionable kalau sedang di luar rumah, Alexa adalah perempuan yang kuat itulah sebabnya orangtuanya memercayai Alexa tinggal seorang diri di Paris, karena percaya kalau putri mereka yang satu itu bisa menjaga dirinya dengan baik, berbeda dengan Emily yang karena kebaikan hatinya ia lebih sering dimanfaatkan orang lain yang membuat Dylan dan yang lainnya ekstra keras menjaganya.


"Tapi kenapa kau ada di sini? Kau tidak melarikan dirikan?" Tanya Emily dengan wajah serius, yang membuat Alexa mendecak.


*****