The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 22



Calista dengan perlahan berjalan mendekati sosok yang tengah tertidur di sofa ruang keluarga, televisi layar datar raksasa yang ada di ruangan itu dibiarkan menyala menampilkan James Bond yang yang sedang menghajar beberapa musuhnya, Calista terdiam memerhatikan sosok tunangannya yang terlihat sangat tenang ketika tertidur. Kakinya yang panjang terbalut celana jeans dengan sempurna, dan badannya yang kokoh tertutup kaos hitam yang membentuk dadanya yang bidang.


Perlahan Calista memberanikan diri untuk lebih mendekat, dia berdiri di samping Theo memerhatikan pria itu yang masih terlihat damai dalam tidurnya, perlahan dia tersenyum melihat tunangannya itu. Sudah sejak dulu sebenarnya dia mengenal pria ini, dari masih kecil ayahnya dan ayah Theo selalu memberinya foto-foto Theo dan Dylan, menceritakan segala kenakalan dari keduanya bahkan ayahnya Theo juga menceritakan tentang si kembar Wincester yang menjadi sahabat keduanya.


Calista mengenal Theo dan Dylan sama baiknya dengan Emily dan Alexa mengenal mereka, sebenarnya bertemu dengan mereka semua adalah impian yang menjadi kenyataan, ayahnya selalu berkata kalau selain dirinya dan ayah Theo, dia hanya harus mempercayai Theo dan Dylan karena mereka berdualah yang akan melindunginya suatu saat nanti.


Calista terlihat sedih ketika dia mengingat ayahnya yang masih terbaring koma, tapi ayah Theo berjanji kalau dia akan melindungi ayahnya dan keberadaannya di samping ayahnya hanya akan lebih membahayakan nyawa ayah dan dirinya sendiri. Perlahan Calista berjongkok, merapikan anak rambut pria itu lalu berbisik lembut, "Selamat malam," sambil mencium kening tunangannya.


Dia membelalakan mata tak percaya atas apa yang baru saja dia lakukan, pipinya memerah, secepat kilat dia ingin melarikan diri dari sana ketika tiba-tiba tangannya ditarik hingga terjatuh di atas pelukan Theo yang kini tengah menatapnya dengan mata biru tajamnya yang terlihat geli.


"Sunshine, bukan seperti itu untuk mengucapkan selamat malam kepada tunanganmu."


Suara Theo terdengar serak dan dalam, matanya perlahan turun menatap bibir penuh dan seksi milik gadis itu, dia dapat merasakan jantung Calista yang berdetak kencang dalam pelukannya. Theo merubah posisi tidurnya menjadi miring dengan Calista masih dalam pelukannya, matanya masih menatap bibir gadis itu, Theo dapat merasakan napasnya memburu dan jantungnya berdetak kencang, perlahan dia mulai mendekatkan bibir mereka, tidak ada penolakan dari gadis itu ketika Theo mulai menciumnya.


Ciuman itu sangat lembut dan manis, Theo dapat merasakan bibir Calista yang kaku tapi perlahan dia dapat mengikuti ritme ciuman Theo. Ya Tuhan, dia baru pertama kali merasakan ciuman semanis dan selembut ini, dia baru menyadari kalau hanya dengan ciuman bisa membakar semua gairah yang dia miliki, perlahan sebelah tangannya menarik lembut dagu gadis itu hingga terbuka supaya dia dapat memasuki dan merasakan kelembutan lidah gadis itu dengan lidahnya.


Calista tersentak ketika merasakan lidah Theo dalam mulutnya, membelai lembut dan mengoda lidah miliknya, tanpa sadar dia mengerang dan mencengkram dada bidang Theo, pria itu memperdalam ciumannya, tangan pria itu kini memegang belakang kepalanya supaya lebih mendekat, mereka berciuman penuh gairah untuk beberapa saat sampai Theo melepaskan ciumannya.


Napas mereka saling memburu begitu juga dengan jantung mereka yang berdetak cepat, ada keinginan dari keduanya untuk melanjutkan ciuman memabukan mereka ketingkat selanjutnya, tapi mereka sadar mereka harus segera menghentikannya untuk saat ini dan menyimpan hal indah itu untuk waktu yang terindah juga untuk mereka berdua.


Theo bukan seorang malaikat tentu saja, dia pernah beberapa kali tidur dengan perempuan sebelumnya, tapi dia tidak akan melakukannya dengan gadis yang sekarang ada dalam pelukannya, tidak sampai gadis itu benar-benar jadi miliknya yang dipersatukan oleh Tuhan.


"Begitu seharusnya kau mengucapkan selamat malam kepada tunanganmu," suara Theo masih terdengar serak, dia mengeratkan pelukannya sambil mencium pucuk kepala gadis itu.


"Jantungku akan bermasalah kalau setiap malam mengucapkan dengan cara seperti tadi." Theo tertawa mendengar ucapan gadis itu yang teredam didadanya.


"Apa ini ciuman pertamamu?"


Theo dapat merasakan gadis itu sedikit menegang sebelum mengangguk dengan malu-malu dan semakin menyurukan kepalanya kedalam dada Theo, dia dapat memastikan pipi gadis itu sudah memerah.


"Oke, itu adalah pelajaran pertamamu malam ini," Theo tersenyum mengingat kejadian tadi sore di salah satu cafe daerah Broadway, "Dan kau adalah murid yang pintar... kau cepat belajar." Theo dapat merasakan kepala gadis itu yang semakin dia serukkan ke dalam dadanya karena malu. Theo tersenyum sambil meletakan pipinya di atas kepala gadis itu, "Aku suka wangimu," dia kembali mencium rambut Calista.


"Aku juga suka wangimu... wangimu enak."


Calista mencium dalam-dalam bau feronom Theo yang membuatnya tenang, nyaman dan ketagihan, mungkin itu salah satu sebabnya tak lama kemudian dia sudah terlelap dalam dekapan tunangannya yang masih memeluknya erat.


*****


Emily terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara ketikan-ketikan halus di atas keyboard, matanya mencari sumber suara di sekeliling ruang inapnya di rumah sakit lalu dia tersenyum ketika melihat Dylan tengan duduk di atas sofa dengan kaki dijulurkan dan laptop di atas pahanya.


"Hei, apa kau sedang bekerja?" Suara Emily terdengar serak dan Dylan langsung menoleh lalu tersenyum melihat mata amber gadis itu yang terlihat lelah tengah memperhatikannya.


Dylan mengangguk sambil menaruh laptopnya di atas meja lalu berjalan menuju tempat tidur dimana Emily kini telah duduk dengan rambut berantakan, "Apa aku membangunkanmu?" Dylan duduk di pinggir tempat tidur sambil merapikan rambut gadis itu.


"Tidak, aku merasa kehausan tadi."


Emily tersenyum sambil menggeser posisinya lalu menepuk kasur disampingnya meminta Dylan untuk duduk di sana. Dylan tersenyum menerima undangan gadis itu, tanpa menunggu lagi dia duduk disampingnya lalu merangkul Emily dalam pelukannya.


"Seharusnya tadi kau pulang dan beristirahat."


Emily memeluk pinggang Dylan yang ramping sambil menyurukkan kepalanya di leher pria itu, yang langsung saja kepalanya mendapat ciuman dari Dylan.


"Dan meninggalkanmu sendirian?" Dylan mendengus sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku tak akan sendirian kalau kau tidak mengusir semua orang, bahkan kau mengusir orangtuaku."


"Aku hanya menyuruh mereka untuk istirahat, Cupcake, dan Alexa dia harus berkemas untuk kembali ke Paris besok," Alex mencium kepala Emily sebelum melanjutkan ucapannya, "Sedangkan Daniel dan yang lainnya, well, aku rasa kau tidak akan beristirahat dengan tenang kalau setiap lima menit sekali para perawat dan dokter perempuan di sini datang mengecek kondisimu."


Emily tertawa mendengar perkataan Dylan, yang dia katakan benar adanya setiap para pria itu menemaninnya maka akan terjadi keributan di Rumah Sakit, para perawat dan dokter perempuan akan mengantri di depan kamarnya dengan alasan mengecek kondisinya padahal mereka hanya ingin main mata dengan para pria tampan itu, biasanya Emily dan Alexa hanya bisa memutar bota matanya melihat hal itu. Hanya Dylan dan Theo yang aman dari godaan para perawat itu, karena Dylan hanya akan mengacuhkan mereka dan fokus merawat Emily, bahkan beberapa perawat pernah melihatnya tidur sambil memeluk gadis itu dan Emily yakin hal itu langsung menyebar ke seluruh Rumah Sakit dan membuat beberapa orang perawat bahkan dokter patah hati.


Sedangkan Theo, well, Emily rasa tidak akan ada perawat bahkan dokter perempuan di sana yang mau bersaing dengan kecantikan Calista, tunangannya Theo, bahkan walaupun ada yang masih nekat untuk main mata dengan Theo maka gadis itu tidak akan diam, dia akan berubah dari Aprodite sang dewi kecantikan menjadi Medusa tentu saja tanpa rambut ularnya, tapi pandangan matanya sama-sama bisa membunuh siapa saja yang menjadi targetnya, dan biasanya Theo hanya akan tersenyum bangga ketika melihat tunangannya berubah menjadi dewi kematian.


Dylan memberikan Emily segelas air putih untuk dia minum sebelum Dylan kembali memeluk Emily sambil berbaring dalam ranjang rumah sakit yang sempit.


"Ayo, sebaiknya kita kembali tidur, besok aku harus bangun pagi untuk pergi kerja dan kau, Cupcake, kau harus banyak istirahat supaya cepat sembuh dan besok bisa kembali pulang."


Emily menurut tanpa banyak bicara, dia kembali memejamkan matanya setelah mencari posisi yang nyaman di dalam pelukan Dylan, dan tak lama kemudian keduanya sudah kembali terlelap.


****