
Pria itu dengan santai duduk di kursi yang tersedia di teras mini market 24 jam, sesekali dia meniup kopi di dalam gelas kertas yang baru dia beli, matanya fokus memerhatikan beberapa mobil polisi yang memasuki gedung apartemen diseberangnya yang merupakan target pengawasannya selama beberapa hari ini.
Malam ini cuaca cukup dingin untuk malam di musim gugur, dengan hanya mengenakan kemeja flanel kotak-kotak kesayangannya yang sepertinya hari ini tidak bisa melindunginya dari dinginnya malam peralihan dari musim semi ke musim dingin itu, tubuhnya mulai terasa membeku, ingin rasanya dia meminum wiski untuk menghangatkan tubuhnya, tapi dia tidak boleh melakukannya di saat menjalankan sebuah misi.
Tidak tanpa alasan dia dijuluki Hunter, kesabarannya dalam mengincar target hingga akhirnya menghilangkannya tanpa jejak adalah keahliannya, dan sampai saat ini tak terhitung sudah berapa orang yang telah menjadi buruannya, tidak ada yang tahu identitas dia yang sebenarnya, transaksi hanya dilaksanakan lewat email dan pembayaran lewat reknya di bank Swiss yang pastinya susah dilacak.
Mobil polisi mulai meninggalkan apartemen itu begitu juga dirinya, perlahan dia bangkit lalu membetulkan letak topi baseball yang dia kenakan hingga menutupi separuh mukanya. Dia mulai berjalan menuju tempat dimana mobil pick upnya diparkirkan, tempat itu adalah tempat pengintaian yang sempurna bagi si pemburu, terletak di antara gedung-gedung tua yang jarang di lewati, hanya beberapa tunawisma yang terkadang tidur di sana saat malam, lorong itu sangat gelap karena lampu jalanannya rusak, dan yang pasti dia masih bisa mengawasi targetnya dengan leluasa dari sana tanpa ada yang curiga.
Sang pemburu memasuki pick up tuanya dengan tergesa, lalu mulai menyalakan mesin dan pemanas mobil, memang mobil ini tidak senyaman mobil civic merah yang dia sewa dulu yang harus dia buang ke dalam jurang untuk menghilangkan jejak akibat usaha pertamanya yang gagal, tapi yang pasti mobil ini tidak akan menarik perhatian. Sepertinya pengintaiannya malam ini di anggap cukup, dia yakin kalau targetnya malam ini tidak akan meninggalkan apartemen itu dan tentunya dengan beberapa penjagaan setelah kejadian tadi, maka malam ini dia memutuskan akan pulang ke rumah perempuan bodoh yang dengan gampangnya dia manfaatkan, minimal malam ini dia tidak akan kedinginan.
Mobil pick up tua itu mulai melaju dan berbaur dengan kendaraan lain dikeramayan kota New York.
*****
"********! Aku akan memberi dia pelajaran, karena sudah membuat adikku menderita." Daniel masih terlihat murka setelah mengetahui ancaman yang dialami adiknya.
Setelah mengetahui isi paket itu Dylan langsung menghubungi NYPD untuk melaporkan ancaman yang dialami Emilly, beberapa orang polisi langsung datang untuk mengamankan barang bukti dan mengolah TKP. Setelah memberikan beberapa pertanyaan yang dianggap penting dan setelah data yang mereka perlukan dianggap cukup maka para polisi tersebut meninggalkan apartemen itu, dan kini hanya ada Dylan, Daniel, Alex serta Theo yang masih bertahan di sisi Emily yang masih terlihat syok.
"Jadi dia mendapatkan foto keluargamu dari facebook yang kau unggah tahun lalu?"
Theo yang memang terlambat datang masih penasaran bagaimana orang itu bisa mendapatkan foto keluarga Winchester, Emilly hanya bisa mengangguk menjawab hal itu. Pikirannya kini bercabang memikirkan nasib orangtua dan kembarannya, untungnya kakaknya ada bersama dia, jadi mereka bisa saling mengawasi.
"Semua akan baik-baik saja, Em, aku sendiri yang akan menangkap penjahat itu, dan tentu saja sebelumnya aku akan menghajar ******** itu sampai babak belur sebelum aku membawanya ke kantor."
Alex mengucapkannya dengan seringai nakal khasnya yang membuat Emily sedikit tersenyum mendengarnya, Alex berjalan mendekati meja lalu mengambil cupcake yang ada di sana.
"Apa kau sudah memberi tahu Alexa?" Alex bertanya dengan mulut penuh dengan cupcake, "Guys, kalian harus mencobanya, ini sangat enak!" Lanjutnya sambil melirik Daniel dan Theo yang langsung saja menyerbu cupcake itu.
"Ya, tadi aku sudah menghubunginya dan meminta dia untuk berhati-hati."
Emily masih duduk di sofa dengan Dylan disampingnya, selama investigasi dari pihak polisi Dylan tidak pernah sekalipun melepaskan rangkulannya yang memberikan kekuatan kepada Emilly, Dylan hanya melepaskannya ketika Daniel datang dan Emily lari ke dalam pelukan kakaknya itu.
"Kau tidak usah mengkhawatirkan Alexa, Em, aku akan meminta Ayahku memerintahkan beberapa pengawalnya di sana untuk menjaga Alexa." Theo menatap Emilly dengan sorot mata menenangkan.
"Alexa akan membenci itu, dia tidak suka dikawal, tapi untuk saat ini dia harus menerimanya, kalau tidak aku akan menyuruhnya pulang dan mengunci kalian berdua di sini." Daniel akan melakukan apa saja untuk membuat keluarganya dalam keadaan aman.
"Alexa sebaiknya tetap di Paris, begitu juga dengan orangtua kalian, melihat ******** itu mengirimkan ancamannya kesini, menandakan kalau dia ada di sini, semakin jauh keluarga kalian maka semakin jauh pula mereka dalam bahaya." Alex berkata sambil mengambil soda dari lemari pendingin dan meminumnya.
"Theo, apa kalian ada cabang di Indonesia?" Theo mengangguk menjawab pertanyaan Alex.
"Bisakah kau meminta seseorang untuk mengawasi orang tua Emily tapi dari jarak jauh? Kita tidak mau membuat mereka khawatir."
Setelah mengatakan itu Alex kembali mengambil sisa cupcake yang ada di meja lalu duduk di sebelah Daniel, semua orang setuju dengan pemikiran Alex kalau orang tua Emily tidak perlu mengetahui mengenai ancaman itu.
"Apakah mungkin ini orang yang sama dengan pelaku tabrak lari waktu itu?" Dylan mencoba menghubungkan kejadian yang dialami mereka waktu itu dengan ancaman hari ini yang di terima Emily.
Alex memikirkan ucapan Dylan itu dengan serius, "Itu bisa saja, kita jangan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang akan memberikan kita petunjuk mengenai ******** itu."
"Em, apa mungkin kau pernah berpacaran dengan suami orang?" Theo berhasil mendapatkan pelototan dari semua orang dan lemparan bantal kursi dari Dylan.
"Hei, Alex mengatakan kita tidak boleh mengabaikan kemungkinan-kemungkinankan? Siapa tahu ******** ini adalah seorang wanita yang sakit hati karena suaminya berselingkuh?" Theo menjelaskan teorinya yang tak masuk akal itu.
Semua orang kini menatap Emily menunggu jawaban gadis itu, "Demi Tuhan, kalian berpikir aku akan melakukan itu?" Emily tampak putus asa, sebelum akhirnya dia mengambil napas dalam-dalam lalu melanjutkan perkataannya, "Tidak! Aku tidak pernah ada affair dengan suami orang. Ayolah, guys, kalian pasti mengetahuinya kalau kalau aku melakukan itu." Emily menatap semua orang yang sedang mengangguk-anggukan kepala tanda setuju dengan gadis itu.
"Baiklah, sepertinya kita harus mencoret hal itu dari motive di balik teror ini. Em, kalau kau mengingat apapun juga yang bisa menjadi petunjuk, tolong hubungi aku ok?" Emily mengangguk memastikan dia akan menghubungi Alex jika mengingat sesuatu.
"Sial! Di saat genting seperti ini kita membutuhkan Gerard untuk mengecek siapa saja yang masuk ke akun facebook Emily, dan melacak ******** itu." Ucapan Daniel itu disetujui yang lainnya, Gerard adalah ahli komputer yang bisa meretas masuk ke data apa saja bahkan dengan pengamanan yang tersulit sekalipun.
"Aku telah menghubunginya, dia akan segera pulang dalam beberapa hari ini."
Alex mengerutkan keningnya memikirkan semua motive yang bisa saja jadi pemicu teror ini, tapi mengingat korbannya adalah Emily, gadis yang telah dia sangat kenal baik seperti adiknya sendiri, dia sedikit kesulitan memikirkana ada seseorang yang berniat menyakiti gadis itu. Emily adalah gadis yang sangat baik, yang bahkan rela memberikan makanannya ketika melihat ****** jalanan yang kelaparan.
"********, sialan! Aku akan menangkapnya dan memberi dia pelajaran yang tidak akan dia lupakan seumur hidup," ucapan Dylan yang berapi-api itu malah membuat Theo tertawa yang tentu saja membuat semua orang kebingungan.
"She?" Daniel menatap Theo tak mengerti.
"Maksudmu, gadis itu?" Dylan menatap Theo dengan alis yang di angkat.
"Yeah, gadis itu."
"Jadi siapa 'gadis itu'?" Alex bertanya sambil mengangkat jarinya membentuk tanda kutip diudara.
"Namanya Calista, dia adalah tunangan Theo." Dylan mencoba memberi penjelasan tentang gadis yang menjadi objek pembicaraan mereka saat ini.
"Aaaahhh." Daniel dan Alex mengucapkannya berbarengan disertai dengan kilatan jahil di mata mereka, Theo hanya mendengus melihat itu semua.
"Jadi tadi kau pergi kencan dengannya?" Dylan merangkul bahu Emily setelah dia melihat gadis itu menguap beberapa kali.
"Mom, memintaku untuk mengajaknya berkeliling kota New York, jadi aku mengajaknya ke Central Park."
"Kau mengajak tunanganmu berkencan di Central Park?" Alex membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang Theo katakan.
"Hei, Man, tidak ada yang salah dengan Central Park itu tempat yang menyenangkan apa lagi musim gugur seperti sekarang ini, lagi pula hotdog di sana sangat enak."
"Dan kau membelikannya hotdog? Pada kencan pertamamu?" Theo hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan Daniel.
"Aku tahu sekarang kenapa Dona lebih memilih pria dengan Ferari itu. Jangan bilang kau mengajaknya kencan di Central Park dan membelikannya hotdog juga pada kencan pertama kalian?" Theo lagi-lagi mengangkat bahunya sebagai jawaban dan sukses membuat semua orang tertawa.
"Hei, sudah kubilang kalau hotdog di sana sangat enak!" Theo menatap Dylan meminta bantuan, tapi sialnya saudaranya itu malah ikut menertawakannya.
"Yeah, kau telah mengatakannya. Jadi apa kau juga mengajaknya naik kuda atau becak yang ada di sana?"
Alex sebenarnya hanya bercanda ketika mengajukan pertanyaan ini, tapi melihat sikap Theo yang hanya diam saja, sontak semua orang menyadari kebenarannya dan mereka kembali tertawa.
"Dia memaksakku untuk naik becak itu!" Teriak Theo putus asa sebelum akhirnya melanjutkan cerita kencannya hari ini "Dia dengan sangat antusias mendengarkan ketika pria paruh baya itu menerangkan soal sejarah Central Park, bahkan mereka sudah saling mengenal sekarang, dia hampir saja menangis ketika pria itu bercerita tentang istrinya yang sakit, dia bahkan membayar tour seharga $15 itu menjadi $50, dan pria itu berjanji akan memberikan tour gratis kalau dia datang lagi."
"Sepertinya dia gadis yang baik." Dylan mengelus-elus rambut Emily, mata gadis itu setengah terpejam mendapat perlakuan lembut dari Dylan.
"Dan kalian tahu, ketika kami berjalan di dekat danau dia melihat anak-anak muda sedang bertengkar, mereka mengeluarkan semua pembendaharaan sumpah serapah yang mereka miliki, dia hampir terkena serang jantung mendengar semuanya." Theo meminum soda yang telah dia bawa, "Aku bahkan harus menariknya ketika dia berniat untuk menasihati mereka semua kalau itu tidak pantas dan Tuhan akan menghukum mereka karena ucapan itu." Semua orang kembali tertawa membayangkan Theo harus menarik tunangannya keluar dari Central Park.
Pengalihan pembicaraan yang dilakukan oleh Theo itu minimal membuat suasana hati Emily sedikit tenang, dia tidak lagi merasa setakut tadi, perlahan tubuhnya mulai merasakan lelah dan ngantuk dan dia merasa nyaman dalam pelukan Dylan yang membawa kedamaian pada dirinya. Dengan Dylan, kakak dan para sahabatnya disisinya Emily merasa terlindungi, dia dapat merasa tenang karena dia tidak sendirian, mereka semua akan menjaganya. Perlahan Emily mulai tertidur dengan damai dalam pelukan pria yang mencintainya, yang akan selalu berada disampingnya untuk menjaganya.
"Emily yang malang." Daniel berbisik sambil memperhatikan adiknya yang telah tertidur dalam pelukan Dylan.
"Demi Tuhan, siapa yang berani menyakitinya?" Theo menggeram membayangkan ada seseorang yang berani menyakiti gadis sebaik Emily.
"Siapapun itu, aku tak akan diam saja sampai menangkap pelakunya." Alex terdengar geram dalam bisikannya.
"Ada yang harus aku beritahukan kepada kalian." semua orang kini menatap Daniel dengan penasaran, "Dengar, besok aku harus pergi ke Meksiko selama sepuluh hari untuk meliput International Balon Fiesta di Albuqueque, aku tahu seharusnya aku tidak pergi di saat keadaan seperti ini, tapi tugas ini sudah diserahkan kepadaku dari lama."
Daniel tampak bimbang dengan kondisinya saat ini, di satu sisi dia ingin berada di sisi adiknya untuk menjaganya, tapi di sisi lain dia tidak bisa meninggalkan tanggung jawab pekerjaannya sebagai cameraman acara traveler di salah satu stasiun televisi terbesar di Amerika.
"Aku benci harus meninggalkan adikku sendirian di saat seperti ini." Daniel mengacak ngacak rambutnya dengan putus asa.
"Jangan mengkhawatirkan Emily, aku akan menjaganya." Dylan menatap Daniel dengan penuh pengertian, dia mengerti sepenuhnya apa yang dirasakan Daniel.
"Iya, kau tidak perlu khawatir kami semua akan menjaganya," Alex menepuk bahu sahabat dekatnya itu memberi dukungan.
"Tolong jaga dia untukku, aku mempercayakannya pada kalian."
Daniel menatap semua sahabatnya dan terakhir dia menatap Dylan cukup lama, Dylan mengangguk tanda dia mengerti apa yang tak terucap dari mulut pria itu tapi terbaca jelas dari matanya, Daniel telah mempercayainya untuk menjaga Emily, salah satu adik perempuannya yang selama ini telah pria itu jaga dengan sepenuh hati, dan Dylan berjanji dia tidak akan mengecewakan kepercayaannya itu, dia akan menjaga gadis itu dengan nyawanya sendiri.
****