The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 41



"Jadi, kekasihku adalah pewaris grup Royal?"


"Em, kau sudah mengatakan itu seharian," ucap Theo sambil bersandar di sofa sebelah Gerard yang tengah asik dengan kripik kentangnya.


"Aku tahu.. tapi.. tapi.."


"Apa kau tidak menyukai kenyataan itu, Cupcake?" Tanya Dylan sambil memandang Emily dengan pandangan cemas, semua orang kini menatap gadis bermata amber itu yang terlihat seperti berpikir.


"Tentu saja aku menyukainya, maksudku aku menyukaimu sebelum kau bukan siapa-siapa, tapi sekarang aku jauh lebih menyukaimu," jawab Emily sambil mengedipkan sebelah matanya, yang akhirnya membuat Dylan tersenyum.


"Jadi Dylan adalah kakakmu yang selalu kau bilang tampan itu?" Alex bertanya sambil mengambil kripik kentang dari pangkuan Gerard.


"Iya, dia kakakku yang sangat sampan," jawab Calista sambil tersenyum bahagia.


"Lebih tampan mana dibandingkan aku?"


"Tentu saja lebih tampan Dylan, Theo," jawab Emily sambil berebut kripik kentang milik Gerard dengan Alex yang tentu saja dimenangkan oleh gadis itu.


"Bagaimana bisa dia lebih tampan dariku, Em?" Tanya Theo tak bisa menerima kenyataan dari jawaban Emily itu.


"Karena dia pewaris grup Royal, maksudku Dylan memang tampan, tapi sekarang dia jauh lebih tampan," jawab Emily santai sambil menikmati kripiknya tapi tak bisa bertahan lama karena sang pemilik langsung merebutnya kembali, yang langsung dapat protes dari gadis itu, Gerard menaruh bungkusan kripik yang tinggal sedikit itu di atas meja yang langsung jadi rebutan Alex dan Emily.


"Kau lupa, Em, aku adalah pewaris grup Regan," ucap Theo yang mulai merasa penasaran melihat kripik kentang yang jadi rebutan ketiga temannya itu lalu mengambil bungkusnya yang kini tergeletak di atas meja.


"Royal masuk jajaran The Big Five itu yang membuat dia lebih tampan darimu," ujar Gerard yang disetujui Emily dan Alex dengan mengangguk-anggukan kepala karena mulut mereka penuh dengan kripik kentang.


"Ckk.. aku nembencimu karena itu, Dylan," ucap Theo sambil melemparkan bungkus kripik kentang yang ternyata sudah kosong.


"Aku calon kakak iparmu, ingat itu."


"Karena itu aku lebih membencimu."


"Jangan dengarkan mereka semua, menurutku kau lebih tampan," ucap Calista sambil duduk dipangkuan Theo dengan manja.


"Karena aku pewaris grup Regan?" Tanya Theo sambil memeluk pinggang kekasihnya.


"Hmmm.. iya karena itu juga, tapi yang jelas karena kau adalah calon suamiku jadi kau jauh lebih tampan," ucapan Calista itu sukses membuat Theo akhirnya tersenyum lalu mencium kekasihnya dengan mesra yang membuat empat orang lainnya memutar bola mata melihat aksi romantis kedua insan itu.


"Bisakan kalian tidak berciuman dihadapanku? Sekarang aku tahu bagaimana perasaan Daniel melihat aku mencium adiknya."


"Siapa yang mencium adikku?" Suara berat milik Daniel membuat semua orang menatap kearah pintu.


"Ya Tuhan, Daniel, kenapa dengan tanganmu?" Seru Calista sambil melompat berdiri dari pangkuan Theo yang hanya bisa menganga melihat tunangannya berjalan dengan cepat menyambut Daniel yang tangan kanannya terlihat memakai penyanggah.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit kecelakaan," jawab Daniel sambil tersenyum yang membuat pipi Calista langsung memerah, melihat itu Theo hanya bisa memutar bola mata sambil menggeleng tak percaya.


"Bagaimana, apa kata dokter?" Tanya Emily ketika Daniel duduk di sofa lalu mengambil kaleng soda yang telah dibukakan terlebih dahulu oleh Gerard.


"Hanya sedikit retak," jawab Daniel sambil meminum sodanya.


"Bagaimana keadaanmu, Dylan?"


"Jauh lebih baik terima kasih, Daniel," Dylan baru terbangun dari koma kemarin, tapi dia merasa jauh lebih baik dan bahagia karena menyadari kalau ia tidak sebatang kara di dunia ini, ada seorang adik dan ayah yang telah banyak berkorban untuk menyelamatkan nyawanya, keluarga Regan yang menyayanginya seperti keluarga sendiri, kekasih yang mencintainya serta teman-teman yang selalu ada di sisinya dan mensuport dirinya dalam keadaan apapun.


"Jadi selama ini kau telah mengetahui kalau Dylan adalah Kakakmu?" Daniel bertanya sambil bersandar menatap Calista yang duduk di depannya, gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum menatap Dylan yang ikut tersenyum.


"Kapan kau mengetahui kalau Dylan adalah Kakakmu?" Alex bertanya sambil meminum sodanya.


"Aku tidak sengaja menemukan foto Theo dan Dylan, ketika aku bertanya Dad bilang itu adalah putra paman Regan. Awalnya aku percaya tapi setelah melihat mata hijau dan bekas jahitan di alis kiri Dylan, aku langsung mengenalinya. Aku selalu membawa foto Mom dan Dylan, karena hanya foto yang bisa mengingatkan aku pada mereka berdua... jadi aku bisa langsung mengenalinya, awalnya Dad menyangkal katanya itu hanya kebetulan, tapi sebanyak apa pria dengan mata hijau dan rambut coklat dengan luka di alis kiri yang kenal dengan Dad dan keluarga Regan?"


"Jadi akhirnya mereka memberitahumu?"


"Iya, setelah aku mendesak akhirnya Dad menjelaskan semuanya kalau menyembunyikan identitas David yang sebenarnya adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya."


"Apa kau menceritakan masalah ini kepada orang lain?"


"Tidak, sudah cukup aku kehilangan kakakku ketika aku masih kecil, aku tak mau kehilangan kakakku lagi ketika aku sudah dewasa," ucap Calista sambil menatap Dylan penuh dengan kasih sayang, yang dibalas Dylan dengan senyum lembut.


"Apa ayahmu memberitahumu mengenai musuh-musuhnya?" Alex bertanya sambil menatap Calista berharap gadis itu memberikan sedikit titik terang untuk menemukan dalang dari semua kejadian yang menimpa para pewaris grup Royal. Calista terdiam beberapa saat mencoba mengingat-ingat semuanya tapi akhirnya ia menyerah dengan menggelengkan kepala.


"Tidak, tapi sepertinya Dad telah mencurigai seseorang, sebelum kecelakaan Dad selalu bilang untuk tidak mempercayai siapapun kecuali Paman Regan."


"Thomas? Apa kau mengenalnya?" Dylan bertanya ketika mengingat Mr. Regan pernah menyebutnya kemarin.


"Maksudmu Paman Thomas? Tentu saja, dia pria yang baik, kau akan menyukainya, Dylan, dia sepupu Daddy," Calista menjawab sambil tersenyum.


Suara ketukan di pintu membuat semua orang terdiam dan menatap ke arah pintu yang perlahan terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik berambut merah panjang bergelombang, mata coklatnya terlihat sangat jernih, badannya tinggi semampai berbalut celana jeans biru ketat dengan sepatu booth selutut, dan jaket pendek warna hitam menutupi blus putih didalamnya.


"Permisi," suaranya yang jernih sukses membuat semua orang diruangan itu menganga tak percaya dengan apa yang dilihat mata mereka, salah seorang artis terkenal tengah berdiri dihadapan mereka sambil tersenyum terlihat gugup.


"Kerelyn, masuklah," ucap Daniel sambil berdiri menyambut gadis itu yang kini terlihat sedikit lega karena melihat sosok Daniel. Nuansa cangguh menguar kuat di udara, semua orang kini menatap Daniel dan gadis cantik yang bernama Karelyn itu bergantian.


"Maafkan aku, aku lupa mengenalkan kalian. Guys, kenalkan ini temanku Karelyn," ucap Daniel mengenalkan temannya tapi sayang sahabat-sahabatnya itu malah menatap Karelyn tanpa berkedip.


"Guys.. guys.. GUYS! Ini.. Ker-re-lyn Howard temanku."


"Ooh.. Hi, Kerelyn," ujar Alex, Gerard dan Theo hampir berbarengan.


"Maafkan teman-temanku yang terlihat bodoh hari ini, Kerelyn. Ini Alex, seorang detektif kebanggaan NYPD."


"Alex MacKena, siap melayani. Kalau kau perlu bantuan apapun, ingat A-PA-PUN, aku siap melayani," ucap Alex sambil menjabat tangan Kerelyn itu membuat semua orang memutar bola mata ketika mendengar kata 'apapun'.


"Ini, Gerard, dia ahli IT paling hebat yang dimiliki oleh bangsa ini."


"Hi, Gerard Christopher, kalau komputermu rusak, atau A-PA-PUN yang rusak, kau bisa hubungi aku," ucapan Gerard itu membuat semua orang meringis kali ini ketika mendengar kata 'apapun'.


"Dan ini Theo, hmmm... temanku."


"Hi, Theo Andrew Regan, pe..." Theo sudah membuka mulutnya untuk mempromosikan diri ketika melihat Calista menatap matanya dengan pandangan membunuh.


"Teman Daniel.. hmm apapun," akhirnya hanya itu yang terucap dari mulut Theo sambil menjabat tangan Kerelyn.


"Yang sedang sakit itu Dylan, ini Calista, adik Dylan sekaligus tunangan Theo dan yang terakhir Emily, adikku."


"Hi, senang berkenalan dengan kalian semua, Daniel, sering membicarakan kalian terutama si kembar, aku harap bisa bertemu dengan Alexa," ucap Kerelyn setelah berjabat tangan dengan yang lainnya.


"Kau akan segera bertemu dengannya, dia baru saja menghubungiku dan mengatakan akan pulang akhir minggu ini," ucap Emily sambil mengajak Kerelyn untuk duduk di sofa yang langsung saja diikuti yang lainnya.


"Maafkan aku, tapi bukankah kau Kerelyn Howard, pemeran di FBI series?" Emily bertanya karena penasaran, bagaimana bisa artis yang sedang naik daun kini sedang duduk dan berbincang-bincang dengannya.


"Iya, itu aku," jawab Kerelyn sambil tersenyum ramah.


"Jadi... apa yang sedang kau lakukan di sini, apa kau sakit?"


"Dia ke sini bersamaku. Tanganku sedang cedera aku tak bisa menyetir, jadi dia mengantarku ke sini," ucap Daniel santai sambil berusaha membuka kotak cupcake dengan tangan kirinya, tanpa dikomando Kerelyn langsung membukakan kotak itu dan mengambil satu rasa vanila kesukaan Daniel untuk diberikan kepada pria itu, dan perlakuan gadis itu sukses membuat semua orang menganga sedangkan Daniel terlihat santai dengan cupcakenya.


"Iya, hari ini aku tidak ada jadwal jadi bisa mengantarnya," ujar Kerelyn dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


"Maafkan aku, tapi apa kalian... pacaran?" Calista bertanya yang membuat Daniel tersedak, melihat itu Kerelyn langsung mengambilkan minuman untuknya, sedangkan dia sendiri masih terlihat santai mungkin karena terbiasa menghadapi wartawan dengan segala pertanyaannya.


"Tidak, kami hanya berteman. Sudah cukup lama kami saling kenal, hmm... kurang lebih tiga tahun."


"Man, bagaimana bisa kau menyembunyikan dia dari kami selama ini," Gerard bertanya sambil membetulkan letak kacamata minusnya, Daniel terdiam sebentar lalu mengangkat bahunya sebagai jawaban.


"Jadi, kalian adalah adik kakak?" Kerelyn bertanya kepada Calista dan Dylan untuk mengalihkan pembicaraan dari seputar dirinya dan Daniel.


"Iya, dia kakakku, bukankah dia sangat tampan," ucap Calista sambil tersenyum bangga, yang membuat Theo memutar bola matanya.


"Kerelyn, kau baru mengenal kamikan? Kau belum tahu siapa kami sebenarnyakan?" Theo bertanya dengan semangat menggebu-gebu yang membuat Kerelyn terlihat bingung sebelum akhirnya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Kalau aku bertanya padamu, apa kau akan menjawabnya dengan jujur? Tenang saja ini bukan soal dirimu," lanjut Theo masih dengan semangat yang sama.


"Iya, tentu saja aku akan berkata jujur."


"Bagus! Kau adalah yang kami perlukan saat ini, karena kau yang paling netral di sini. Jawab pertanyaanku dengan jujur... lebih tampan mana aku atau Dylan?"


Pertanyaan Theo itu sukses membuat semua orang memutar bola matanya tak percaya.


*****