
"Ayolah... kau tahu aku sudah mulai merasa bosan tinggal di dalam sini tanpa melakukan apapun selama seminggu ini."
"Lima hari, Em, kau baru tinggal di sini selama lima hari." Dylan tak menghiraukan rengekan Emily yang memintanya mengajak gadis itu keluar dari apartemennya dan terus berjalan menuju dapur.
"Itu sama saja, aku sudah mulai bosan, ayolah sekali ini saja, ok?" Emily mengekor di belakang Dylan, sampai akhirnya tubuh pria itu berbalik menghadap Emily yang menatapnya dengan muka memelas.
Dylan merasa tidak tega melihat wajah Emily yang memelas, mata gadis itu menatapnya dengan penuh harap, Dylan membuang napas panjang, "Tidak!" katanya tegas sambil berjalan melewati gadis itu yang masih berdiri menganga tak percaya muka memelasnya tidak berhasil merayu Dylan.
Setelah merasa kalau keinginannya tidak akan dikabulkan oleh Dylan, Emily akhirnya berbalik lalu berjalan sambil menahan kekesalannya, dia berjalan mendahului Dylan sampai bahu gadis itu menyenggol tubuhnya, tanpa berkata apapun Emily hanya menatap Dylan dengan picingan matanya yang mematikan, lalu mengibaskan rambutnya dan kembali berjalan menuju sofa dimana Theo tengah asik nonton pertandingan football di layar tv LED 42'nya.
"Hei!"
Theo hendak protes ketika tiba-tiba Emily memindahkan saluran televisinya, tapi niatnya diurungkan karena mendapatkan tatapan membunuh dari gadis itu, Theo melihat kearah Dylan yang hanya bisa mengangkat kedua tangan dan memutar bola matanya.
Kemarahan Emily berlangsung seharian itu, gadis itu benar-benar mendiamkan keduanya, ketika mereka berdua mencoba berbicara dengannya, gadis itu hanya menjawab dengan pandangan malas dan kembali meninggalkan keduanya yang melongo. Begitu juga saat Alex datang ke apartemen mereka, awalnya Emily sangat antusias melihat kedatanganya tapi setelah Alex memberikan perkembangan kasusnya yang belum menemukan titik terang, karena setiap petunjuk yang di dapat selalu berakhir dengan jalan buntu. Emily langsung saja mengoceh tentang serial CSI yang sering dia tonton di televisi dan dia berharap andai polisi-polisi NYPD sepintar yang ada di serial itu yang tentu saja membuat Alex sedikit tersinggung, tapi dia dapat memahami kondisi gadis itu yang tertekan, dengan adanya ancaman yang dia terima sehingga harus terkurung di dalam apartemen selama beberapa hari ini.
"Kalian tahu? Aku pikir aku akan mati duluan di sini karena bosan, sebelum ******** itu membunuhku!" Emily berjalan kearah kamarnya dengan tergesa-gesa lalu membanting pintu kamarnya, hingga membuat ketiga pria itu terlihat frustasi.
"Ya Tuhan, tidakkah dia mengerti kita melakukan ini semua demi dia?" Theo menggeram frustasi setelah mendengar apa yang diucapkan gadis itu.
"Kau tahu? seharian ini dia mendiamkan kami berdua, dan itu lebih parah dari pada berteriak, tapi aku tak berharap mendengarnya mengatakan itu dalam teriakan pertamanya." Dylan berjalan ke arah dapur untuk mengambil tiga kaleng bir di dalam lemari pendingin, lalu memberikannya kepada yang lain.
"Kalian harus memahami sikapnya itu, kita keterlaluan dalam hal ini disadari atau tidak kita telah mengurungnya dan itu sama saja seperti dalam penjara." Alex membuka birnya lalu meneguknya sebelum melanjutkan ucapannya, "Kita harus memberikan sedikit kebebasan kepadanya, selama kita masih bisa mengawasinya." Theo dan Dylan terdiam mencoba mencerna ucapan Alex.
"Jadi apa menurutmu kita aman kalau mengajaknya keluar dari sini?" Dylan menatap Alex untuk meyakinkannya.
"Iya tapi tetap dalam pengawasan." Mereka semua terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Dylan berjalan menuju kamar Emily.
Mereka berdua mempercayai insting Alex sebagai seorang detektif yang lebih berpengalaman dibandingkan mereka semua, maka disinilah mereka sekarang berada di dalam The Rock, tempat favorit mereka semua dan tempat yang diyakini mereka sebagai tempat teraman karena selain pemiliknya yang merupakan pensiunan tentara, pengunjungnyapun kebanyakan adalah para polisi karena letaknya yang tak jauh dari kantor kepolisian New York.
"Emily, sayang aku mendengar apa yang terjadi padamu, aku harap ******** itu cepat tertangkap." Max menggenggam tangan Emily dengan sangat lembut sebagai rasa simpatinya.
"Terima kasih, Max."
"Minuman gratis untukmu hari ini, tanpa alkohol seperti biasa." Emily tersenyum melihat pria plontos itu yang masih terlihat sangat bugar diusianya yang tak lagi muda.
"Emily, apa itu kau?" Theo dan Dylan langsung terlihat siaga ketika seorang wanita usia tiga puluhan dengan gaun yang lumayan seksi berwarna merah terang dengan manik-manik gemerlap menghiasi potongan lehernya yang rendah.
"Jane? Ya Tuhan, aku hampir saja tak mengenalimu, apa yang kau lakukan disini?"
Emily memperhatikan penampilan rekan sejawatnya yang tidak seperti biasanya. Jean adalah perempuan yang manis, dengan rambut merah sebahu dan kulit yang pucat serta badannya yang mungil sedikit berisi, tapi dia memiliki kecenderungan penggugup dan sedikit kaku, mungkin itulah sebabnya di usianya yang ke tiga puluh enam dia belum menikah, Emily sangat menyukai perempuan ini karena Jane sebenarnya adalah perempuan yang sangat baik dibalik sikapnya yang kaku.
"Iya, apakah aku terlihat aneh?" Jane menatap Emily dengan gugup.
"Oh, Jane, kau sangat luar biasa malam ini." Emily memberikan senyum terbaiknya untuk memberikan semangat kepada temannya itu.
"Terima kasih, Em, ngomong-ngomong apa yang kau lakukan selama ini? Mengapa kau cuti sangat mendadak? Apa kau baik-baik saja?"
"Iya aku baik-baik saja, hanya ada keperluan mendadak." Emily tersenyum senormal mungkin berusaha meyakinkan Jane yang tengah menatapnya penuh selidik.
"Cupcake, apa kau mau mengenalkan temanmu ini kepada kami?" Dylan merangkul Emily setelah melihat gadis itu sedikit gugup.
"Oh maafkan aku, hampir saja lupa, Dylan ini Jane teman sekantorku, Jane ini Dylan, dia adalah..."
"Tunangan Emily," Dylan menjabat tangan Jane yang tampak terkejut ketika melihatnya.
"Emily, kau tidak pernah bercerita kalau kau sudah bertunangan." Jane menatap Emily dengan sangat antusias.
"Well, aku juga baru tahu kalau aku sudah bertunangan."
Emily tersenyum dengan terpaksa sambil melotot kearah Dyan, dan untung saja Jane tidak mendengar apa yang diucapkan Emily karena saat ini Jane tengah terpesona melihat Dylan dan Theo. Jane belum melihat Alex dan Emily yakin kalau sampai temannya itu melihat Alex maka dia akan terkena serangan jantung.
"Demi Tuhan, Emily, kau sangat beruntung berada di antara para pria ini." Jane berbisik ketika melihat Theo dan Dylan yang kini sedang berbicara dengan Max.
"Yeah, sangat beruntung." Andai saja temannya itu mengetahui seberapa posesif para pria-pria tampan itu, maka dia akan berpikir dua kali untuk menyebutnya beruntung.
"Ya Tuhan, aku hampir saja lupa." Jane hampir saja melompat dari kursi yang didudukinya ketika dia menyadari sesuatu.
"Aku ke sini dengan seseorang," Emily dapat melihat pipi perempuan itu sedikit merona.
"Aaah, kau sedang berkencan?" tebakan Emily itu sukses membuat pipi Jane bertambah merah, senyuman merekah di bibir mungilnya.
"Iya, aku baru mengenalnya beberapa bulan ini, dia pria yang sangat baik."
Jane melambaikan tangan kepada seorang pria yang tengah menunggunya di dekat pintu keluar. Emily memperhatikan pria itu, usianya sekitar awal empat puluhan, badannya tinggi tegap walaupun tidak setinggi Dylan, tapi cukup berotot sepertinya dia adalah seorang pekerja keras dan kulitnya yang berwarna coklat menandakan kalau pria itu banyak terkena sinar matahari.
"Aku harus segara pergi, aku berjanji akan mengenalkanmu padanya lain waktu."
"Aku ikut berbahagia untukmu Jane, dan tentu saja kau harus mengenalkan kami." Emily memeluk Jane sebelum temannya itu pergi dari hadapannya dengan tergesa-gesa menuju kekasihnya yang tengah menunggunya dari tadi.
"Jadi sekarang kalian bertunangan?" Theo menatap Emily dengan sorot jahilnya.
"Man, mengapa kau bilang kalau kau tunanganku." Emily memukul lengan Dylan yang sedang tersenyum santai kepadanya.
"Kita akan segera bertunangan, Cupcake." Dylan dengan santai menatap Emily sambil menaikan kedua alis matanya yang di balas pelototan gadis itu.
"Berhenti memanggilku, Cupcake!" Emily kembali memukul lengan Dylan sebelum beranjak dari kursinya.
"Em, kau mau kemana?" Dylan menghentikan langkah gadis itu.
"Toilet, kau mau ikut?" Emily menatap Dylan dengan malas sambil melipat tangannya di dada.
"Aku ikut denganmu." Theo berdiri dari kursinya dan berjalan mendahului Emily yang terlihat kesal.
"Tunangan? Dia bilang tunangan? Bagaimana mungkin dia bilang tunangan setelah sebelumnya memaksaku berkencan dengannya."
"Dylan mencintaimu, kau tahu itu, Em." Theo tak menghiraukan ocehan Emily sepanjang perjalanan menuju toilet.
"Bagaimana kau tahu dia benar-benar mencintaiku?" Emily menatap Theo yang kini sedang bersandar di dinding depan toilet wanita.
"Ayolah, Em, hanya orang bodoh dan buta yang tidak mengetahuinya."
"Hei! Jadi maksudmu aku bodoh?" Emily menatap Theo dengan galak, yang hanya ditanggapi pria itu dengan anggukan dan seringai santainya.
"Ayolah, Em, aku tahu kau pasti menyadarinya."
Emily terdiam beberapa saat memikirkan ucapan Theo, ya dia menyadari sikap Dylan kepadanya, "Tapi bagaimana kalau dia salah mengartikan perasaannya sendiri? Bagaimana kalau nanti dia menyadari kalau yang dia rasakan bukan cinta, tapi hanya rasa sayang seperti yang dia rasakan juga kepada Alexa?" Theo merasa kasihan melihat Emily yang terlihat sangat putus asa.
"Beritahu aku, Em, apa kau juga mencintainya?"
Theo memegang kedua bahu Emily sambil menatap langsung kedua mata amber milik gadis itu, ada kilatan frustasi dimatanya.
"Oh, Em, aku sudah mengetahuinya, yang harus kau lakukan adalah kau mengakui itu. Tidak berdosa kalau kau mengakui mencintainya, setidaknya itu akan membebaskanmu dari perasaan yang mencengkram hatimu." Theo memeluk Emily dengan penuh kasih sayang, seperti seorang kakak yang melindungi adik kecilnya.
"Tapi, bagaimana kalau gagal, aku bukan hanya akan kehilangan seorang kekasih tapi aku juga akan kehilangan seorang sahabat baikku selama sepuluh tahun ini," suara Emily terdengar sangat rapuh, ini pertama kalinya Theo melihat salah satu sikembar Wincester terlihat begitu putus asa.
Theo mengeratkan pelukannya, "Itu tidak akan terjadi, kalau sampai Dylan meninggalkanmu dan membuatmu menangis, aku orang pertama yang akan membuatnya menyesal." Emily tersenyum dalam pelukan Theo ketika mendengar ucapan pria itu, "Jadi apa kau berani menerima tantangan untuk berkencan dengan pria aneh itu?"
"Hei, Dylan tidak aneh, dia sangat tampan." Theo tersenyum mendengar pengakuan gadis polos itu.
"Yeah, dia memang tampan tapi tidak lebih tampan dariku." Theo tertawa melihat Emily yang langsung cemberut mendengarnya, "Ayo, sebaiknya kita kembali ke dalam sebelum pria tampanmu itu membunuhku."
Emily tersenyum mendengar perkataan Theo, pria tampannya? Ya Dylan memang pria tampannya. Tapi senyum Emily langsung hilang setelah melihat pemandangan didalam bar.
"Sial! Dia datang lagi." Emily langsung berjalan dengan cepat kearah dimana Dylan tengah bercengkrama dengan seorang perempuan berdada sebesar semangka, sedangkan Theo tampak terkejut melihat perempuan dengan gaun putih yang terlihat kekecilan dibadannya tengah merayu Dylan.
******