
"Apa kau masih kesal?" Tanya Dylan sambil menatap Emily yang tengah makan choco cake dengan semangat, dan dia hanya menatap Dylan dengan mata besarnya.
Dylan tersenyum menatap Emily yang tengah merajuk dan tampak lucu dengan lelehan coklat di mulut kiri atas, Emily terus mengoceh tentang mereka yang terlalu posesif terhadapnya juga Alexa.
Dylan tidak bisa mengalihkan tatapannya dari mulut Emily yang masih mengoceh tiada henti mengeluarkan unek-uneknya, dia kembali teringat kejadian di The Rock ketika dia menciumnya, Dylan masih bisa merasakan lembutnya bibir itu di mulutnya dan dia ingin merasakannya lagi.
"Sial, Em bersihkan mulutmu."
Emily menjulurkan lidahnya untuk membersihkan mulutnya dari coklat, Dylan yang melihat apa yang dilakukan gadis itu menggeram dengan kesal mengambil tisue yang tersedia di atas meja dan melap mulut Emily dengan kasar.
"Jangan pernah lakukan itu lagi ok? Atau aku yang akan melakukannya untukmu!" Suara Dylan yang berat dan sorot matanya yang menggelap sukses membuat Emily menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Ku rasa kau sudah mengerti sekarang," lanjutnya puas setelah melihat Emily menganggukan kepalanya tanda mengerti, wanita itu memang pintar dalam hal angka itu terbukti dari pekerjaannya sebagai seorang auditor di salah satu perusahaan finance terbesar di Amerika.
Tapi sayang kemampuannya dalam mengolah angka berbanding terbalik dengan kemampuannya soal pria, dia tidak mengetahui bagaimana pengaruhnya dalam membuat jantung Dylan jungkir balik hanya dengan hal-hal sepele seperti tadi.
"Em, pesananmu sudah siap!"
Teriakan Tom salah satu pelayan yang kebetulan adalah tetangga Emily membuat Dylan dengan cepat berdiri dan berjalan menuju konter, sedangkan Emily masih duduk sambil memegang dadanya berusaha menenangkan debaran jantungnya karena membayangkan Dylan menjilat lelehan coklat di bibirnya. Oh sial, tapi itu yang diharapkan Emily saat ini.
"Em, ayo!" Suara Dylan membuyarkan lamunan Emily membuat gadis itu bergegas mengikuti Dylan menuju mobil Land Rover miliknya.
Suasana dalam perjalan pulang menuju apartemen Emily terlihat canggung, tampak sesekali Dylan melihat kaca spion dan mengerutkan alisnya.
"Kenapa kau lewat jalan sini?" Emily memecahkan keheningan setelah menyadari Dylan mengambil jalan memutar menuju apartemen. Dylan kembali melihat kaca spion dan kembali mengerutkan alisnya.
"Kau tahu, di depan sana ada toko kue coklat yang sangat enak, aku akan membelikannya untukmu."
Mata Emily terlihat berbibar mendengar kata kue coklat kesukaannya itu. Dylan menghentikan mobilnya di seberang toko kue yang menjajakan berbagai macam kue yang menggugah selera di etalasi kacanya.
"Sebentar!" Dylan menghentikan Emily yang hendak keluar dari pintu mobil, gadis itu tampak bingung dengan reaksi Dylan yang tengah melihat ke arah belakang mereka dengan sorot cemas, Emily mengikuti arah pandangan mata Dylan dan tidak menemukan apa-apa selain mobil sedan hitam yang berhenti tidak jauh dari mereka.
"Apa yang kau cari?" Emily tampak mencari-cari kebelakang mobil mereka.
"Tidak ada, ayo!"
Dylan membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil, diikuti oleh Emily. Mereka tengah berdiri dipinggir jalan hendak menyeberang ketika tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh ke arah mereka, suara deru mesin membuat Emily mematung beberapa saat seolah terhipnotis, matanya terbelalak ketika melihat kendaraan itu semakin mendekat dan hampir saja menabraknya seandainya Dylan tidak dengan sigap menarik dirinya.
Suara Dylan terdengar cemas ketika mendengar Emily berteriak kesakitan, dia sekarang tengah berbaring di pinggir jalan dengan Emily dalam pelukannya. Dengan penuh amarah Dylan melihat mobil Civic warna merah yang hampir saja menabrak mereka melaju melarikan diri, dan seketika mobil sedan hitam yang tadi berhenti tidak jauh dari mereka melaju dengan kencang mengejar mobil merah itu.
"Sial!" Teriak Dylan ketika mobil hitam itu melaju di depan mereka dan dia mengenali salah seorang yang berada didalam mobil itu, sebagai salah seorang yang menyelamatkannya bersama Theo di klub dan dia melihatnya kembali di The Rock beberapa hari yang lalu.
****
"Apa yang terjadi dengannya?" Daniel tampak cemas ketika melihat Emily dalam gendongan Dylan dengan kaki di bebat perban memasuki apartemen mereka.
"Dia tidak apa-apa hanya keseleo," jawab Dylan dengan muka serius sambil terus berjalan menuju kamar Emily, dengan lembut Dylan membaringkan Emily di tempat tidur dan menyelimuti badan gadis itu.
"Istirahatlah, aku akan menjelaskan kepada mereka semua ok?"
Emily mengangguk mendengar perkataan Dylan, tubuhnya terasa sakit di beberapa bagian mungkin karena akibat berguling dijalanan tadi, yang dia inginkan saat ini adalah tidur yang nyaman, tapi sepertinya hal itu akan sedikit tertunda, karena telepon genggamnya berdering dan dia tahu siapa yang menghubunginya itu.
"Em, apa kau baik-baik saja?"
Emily tersenyum mendengar suara kembarannya di seberang sana, sebagai saudara kembar mereka memang memiliki ikatan batin khusus, mereka dapat merasakan apa yang saudaranya rasakan walau terpisah ribuan mil jauhnya.
Dylan membetulkan posisi bantal Emily, kemudian mencium kepala gadis itu sebelum keluar dari kamarnya. Perlakukan Dylan itu sukses membuat Emily mematung dan jantungnya kembali berdetak kencang, dia bahkan tidak mendegarkan Alexa yang memanggil-manggil namanya.
"Em, kau mendengarkanku? Apa kau baik-baik saja?" Alexa terdengar cemas karena Emily tidak menjawab panggilannya dari tadi.
"Maafkan aku Lexa, dan ya aku baik-baik saja," Emily berusaha membuat suaranya terdengar senormal mungkin bertentangan dengan jantungnya yang masih berdetak kencang.
"Em, kau sedang berbicara denganku? Kau ingat? Alexa? Saudara kembarmu? Ayolah, Em, ceritakan padaku apa yang terjadi?"
Sial! Untuk saat ini dia benci tentang ikatan batin antar saudara kembar itu. Setelah mengambil napas panjang beberapa kali berupaya menenangkan jantungnya yang berpacu dengan cepat Emily mulai menceritakan semuanya dimulai dari kejadian saat Dylan menjemputnya pulang kerja sore itu.
Dan ya, seperti yang telah dia prediksi kalau Daniel telah menceritakan kejadian di The Rock pada Alexa. Untuk alasan yang satu ini, Emily berharap kalau dia adalah anak tunggal.
*****