
Emily melihat Dylan yang mulai berlari meninggalkan mereka untuk mengambil telepon genggamnya yang tertinggal.
"Bagaimana kabar keluargamu?" Sam memerhatikan Emily yang kini tengah melakukan peregangan.
"Mereka baik-baik saja." Emily tersenyum dan terus melakukan peregangan supaya badannya tidak kaku ketika dia mulai berlari nanti. "Sam, apa temanmu tidak apa-apa menunggumu sedikit lama karena aku?" Emily merasa tidak enak karena harus mengganggu acara Sam.
"Tidak usah khawatir, mereka tidak akan marah." Emily sedikit lega mendengar ucapan pria itu, lalu meneruskan peregangannya.
"Ceritakan padaku tentangmu, Sam, apa kau punya saudara?"
Emily mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung di antara mereka, well karena ini adalah kali pertama dia hanya berdua saja dengan pria itu dan jujur saja Emily tidak begitu mengenalnya, Sam baru beberapa bulan terakhir ini bergabung di perusahaan tempat Emily bekerja.
"Tidak, aku tidak punya saudara," Jawab Sam singkat, dia memandang Emily yang masih melakukan pemanasan.
"Apakah orangtuamu masih di Indonesia?" Sam melipat tangannya dan bersandar di salah satu pohon western redcedar yang banyak ditanam di hutan itu.
"Belum, mereka masih..." Emily mengerutkan keningnya menatap Sam yang masih menatapnya santai, Emily menghentikan gerakannya dan menatap Sam dengan serius.
"Bagaimana kau tahu orangtuaku ada di Indonesia?" Emily bertanya dengan penuh selidik, Sam hanya mengangkat bahunya tak perduli.
"Emily, aku tahu lebih banyak mengenaimu dari apa yang kau pikirkan." Sam berjalan perlahan mendekati Emily yang mulai mundur perlahan, "kau memiliki saudari kandung yang sekarang tinggal di Paris, benarkan?"
Sam terus mendekati Emily yang kembali mudur perlahan sampai badan gadis itu menaberak pohon besar yang ada dibelakangnya, mata gadis itu terbelalak ketika mengetahui kebenarannya mengenai pria yang ada dihadapannya kini.
Mata Sam telah berubah dengan sorot mata penuh kebencian ketika menatapnya kini, tidak seperti sebelumnya yang selalu terlihat gugup dan malu-malu.
"Kau memiliki kakak laki-laki yang ternyata seorang pengecut, dia lari keluar negri di saat adiknya mengalami kesusahan." Sam mencibir menghina Daniel dengan senyum yang meremehkan. "Dia bukan pengecut!" Emily menggeram marah tidak terima Sam menghina kakak laki-lakinya, mendengar itu Sam hanya mengherdikan bahu tak perduli.
"Kau tahu, seharusnya tidak harus jadi serumit ini andai kau mau pergi berkencan denganku." Sam berdiri didepan Emily yang menatapnya penuh waspada, "Seandainya kau mau berkencan denganku, maka aku akan menghancurkanmu dengan mudah." Sam kembali melangkah mendekati Emily yang sudah terjebak di antara dirinya dan pohon.
"Kenapa? Kanapa kau lakukan ini padaku?" Suara Emily sedikit gemetar karena rasa takut... tapi tidak! Saat ini dia harus tetap tenang, dia tidak boleh memerlihatkan ketakutannya, itu hanya akan membuat ******** itu senang.
"Coba tebak? Kau adalah gadis pintar, kau pasti bisa menebaknya." Sam memandang Emily dengan sorot penuh kebencian, melihat itu Emily mulai terlihat sedikit gugup.
"Aku tidak tahu." Emily menggelengkan kepalanya setelah berusaha berpikir beberapa saat kenapa pria dihadapannya itu melakukan hal ini padanya.
"Kau telah membunuh Ibuku, kau tahu... kau adalah pembunuh!"
Sam menggeram marah, dia menjambak rambut Emily hingga kepala gadis itu menengadah, Emily sedikit meringis, matanya membelalak tak percaya apa yang dia dengar.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tak mungkin membunuh Ibumu, Sam!" Tangan kiri gadis itu memegang tangan Sam yang menjambaknya agar pria itu melepaskannya.
"Kau! Kau membunuhnya! Kau telah menghancurkan keluargaku!" Sam berteriak marah di depan muka Emily yang meringis kesakitan karena cengkraman tangan pria itu semakin kencang.
Dengan tangan gemetar Emily merogoh saku jaketnya dan terlihat lega ketika tangannya menyentuh sesuatu, secepat kilat dia mengambil benda itu dan menyemprotkannya tepat kearah mata pria itu yang langsung meraung kesakitan dan melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Emily yang langsung saja menendang Sam dan berlari memasuki hutan.
Sam berteriak mengeluarkan sumpah serapah, langkahnya terhuyung, pandangannya kabur akibat semprotan merica dari Emily. Pria itu berusaha mengejar Emily dia mengeluarkan senjata yang disembunyikan di balik jaketnya dan mulai menembak.
Emily terjatuh ketika dia merasakan sakit dan panas yang menyengat di kaki kanannya, dia menggigit bibirnya yang gemetar menahan sakit supaya tidak menangis. Ini bukan waktunya untuk bersikap cengeng! Dia menyemangati diri sendiri, dia yakin Dylan mendengar suara tembakan itu dan telah meminta bantuan, yang harus dia lakukan adalah bersembunyi sampai bantuan datang, dia kembali berdiri lalu berlari dengan terpincang-pincang.
Emily tidak berani melihat ke belakang, yang dilakukannya adalah berlari sejauh mungkin, dia berlari semakin memasuki hutan, napasnya memburu, sakit dikakinya semakin menyengat, beberapa kali dia tersandung akar pohon dan hampir saja jatuh, dia tidak menghiraukan dadanya yang mulai sesak dan sakit yang menyerang kakinya, dia dapat merasakan cairan kental yang kini telah membuat celana larinya basah dan lengket tapi akal sehatnya tidak memperbolehkan dia berhenti.
Sampai akhirnya Emily melihat pohon besar dihadapannya, dia berlari dengan terhuyung-huyung menuju pohon itu, kakinya sudah mulai lelah ketika sampai di balik pohon raksasa itu. Emily bersandar dengan napas terengah, dia mencoba mengatur napasnya supaya paru-parunya kembali terisi oksigen, jantungmya berdetak hebat, secepat kilat dia membuka jaket lalu memelintirnya kemudian dia ikatkan di kaki kananannya yang terluka, dia menggigit bibirnya sekuat tenaga ketika dia mengencangkan ikatan di atas kakinya untuk menghentikan pendarahan, matanya mulai berair karena rasa sakit dan takut yang dia rasakan.
Tubuhnya basah oleh keringat, ikatan rambutnya berantakan, air mata mulai membasahi pipinya, dengan kasar dia menghapus air mata dan keringat di dahinya, dia mencoba mengintip dari balik pohon tanpa suara, napasnya kembali memburu, jantungnya kembali berdetak kencang ketika mendengar suara langkah kaki semakin mendekat kearahnya, Emily mengatur napas sebelum dia kembali berlari menghindari peluru yang ditembakan oleh penjahat itu.
*****
Dylan berhenti berlari, jantung berpacu dengan hebat, amarah menyeruak kepermukaan, rasa takut mendera dirinya ketika dia kembali mendengar suara tembakan didepannya.
Dia kembali berlari secepat kilat menuju arah suara tembakan, berdoa semoga dia belum terlambat. Dari kejauhan Dylan dapat mendengar suara sirine mobil polisi yang saling bersautan, menandakan Alex telah datang membawa bantuan. Dylan terus berlari sampai akhirnya dia melihat sosok pria tengah berdiri membelakanginya, Dylan mendekat tanpa suara, dia masih bisa mendengar pria itu berteriak.
"Kau, yang menyebabkan ayahku di penjara dan ibuku meninggal, kau tahu itu!"
"Dengar, aku menyesal soal ibumu, tapi ayahmu melakukan kejahatan, aku hanya melakukan tugasku," suara Emily terdengar gemetar, dan itu membuat amarah Dylan semakin tersulut tapi dia tidak ingin sembarangan bertindak, saat ini pria itu tengah menodongkan senjatanya tepat kearah kepala gadis itu.
"Ayahku terpaksa melakukan itu untuk membiayai keluarga kami!" Sam kembali berteriak, matanya nyalang menatap Emily yang semakin tersudut di antara todongan senjata dan batu raksasa dibelakangnya.
"Sam, kita bisa membicarakan ini baik-baik, aku mohon turunkan senjatamu!" Emily berusaha bersikap tenang walau sorot matanya menggambarkan sebaliknya.
"Hah! Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja, setelah apa yang kau lakukan kepada keluargaku!"
Sam berteriak penuh amarah, matanya memerah, Emily memejamkan matanya karena takut, dalam hati dia berdoa memanggil nama Dylan untuk segera datang menyelamatkannya, terdengar suara tembakan diikuti bedebum yang keras dihadapannya membuatnya perlahan membuka mata.
Dihadapannya kini terlihat Dylan dan Sam tengah berguling di atas tanah, tangan Dylan mencengkram pergelangan Sam yang memegang senjata, dia membentur-benturkan tangan penjahat itu ke atas batang pohon dibelakangnya sampai senjata itu terlepas dari tangan pria itu dan kini tergeletak di atas tanah.
Dylan kini duduk di atas perut pria itu kemudian memukuli kedua sisi kepala pria itu berulang-ulang, darah telah keluar dari hidung dan mulutnya tapi ternyata Sam masih memiliki tenaga lebih dia menarik kerah baju Dylan dan membenturkan kepala mereka sehingga Dylan terhuyung ke samping, Sam berguling di atas Dylan lalu bangkit duduk dan mulai menghajarnya.
"Dylan!"
Suara teriakan Emily mengalihkan perhatian Sam dari Dylan yang sudah mengeluarkan darah di sudut bibirnya ke arah gadis itu, dan kembali tersadar kalau tujuannya adalah membunuh gadis yang kini tengah berdiri menatapnya.
Sam melihat pistolnya yang tergeletak tak jauh dari mereka, Emily mengikuti arah mata pria itu dan terbelalak ketika melihat objek pandang penjahat itu, Sam mulai berdiri untuk mengambil pistol tersebut, mengetahui niat jahat Sam, Emily dengan tenaga terakhirnya dia berlari terpincang-pincang ke arah pistol lalu menendangnya menjauh.
Pria itu kembali memaki Emily dan akan mengejarnya ketika Dylan menarik pria itu dan memukulnya sampai terjatuh.
"Jangan pernah berani memaki tunanganku!" Dylan menendang Sam yang langsung berteriak memegang perutnya yang terkena tendangan Dylan.
"Ini karena kau telah mengancam keluarganya!" Dylan kembali menendang pria yang masih tergeletak itu.
"Dan ini karena kau telah menembaknya!" Dylan menendangnya dengan sekuat tenaga, sehingga membuat pria itu memuntahkan darah dan tak bergerak lagi.
"Dylan, hentikan kau akan membunuhnya!" Teriakan Emily membuat Dylan tersadar, dia membalikan badannya dan langsung menghampiri gadis itu yang tengah bersandar di salah satu pohon.
"Ya Tuhan, Em, apa kau baik-baik saja?"
Dylan mengamati Emily dari ujung kepala sampai ujung kaki, emosinya kembali tersulut kelika dia melihat pakaian pink yang gadis itu kenakan telah memerah karena darah, Dylan ingin kembali menghajar ******** itu tapi cengkraman tangan Emily semakin kuat, wajahnya sepucat mayat menandakan kalau dia tengah menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dylan langsung memeluk Emily yang kini terkulai lemas dipelukannya dan mulai terisak mengeluarkan emosi yang dari tadi dipendamnya.
"Semua sudah berakhir, Cupcake, semua sudah berakhir." Dylan mencium kepala Emily yang masih manangis dalam pelukannya, "Kita akan pergi dari sini, aku akan membawamu ke rumah sakit," lanjut Dylan sambil mengangkat Emily dalam pelukannya yang langsung kembali meringis kesakitan.
"Aku yakin Alex dan para polisi sedang mencari kita, ******** itu tidak akan bisa melarikan diri." Dylan menatap Sam yang masih terbaring di atas tanah.
"Tiarap!"
Baru beberapa langkah Dylan berjalan meninggalkan Sam ketika dia mendengar teriakan Alex diikuti oleh suara tembakan di belakang mereka, Dylan langsung berjongkok melindungi tubuh Emily yang berada dalam pelukannya dengan tubuhnya sendiri, mereka terdiam untuk beberapa saat sampai suasana benar-benar dianggap aman.
"Kalian sudah aman sekarang."
Dylan mendengar suara Alex yang tengah menghampiri mereka, ia kemudian bangkit dan melihat ke belakang dimana Sam terbaring, darah mengalir dari pundak kanannya dimana jarinya menggenggam pistol.
"Bagaimana keadaan Emily?" Suara Alex terdengar khawatir, dia berjongkok di samping Dylan yang telah kembali mengalihkan perhatiannya kepada Emily yang masih terbaring tak bergerak.
"Em, jawab aku, Em!" Dylan mengguncang tubuh Emily yang tak merespon seruannya.
"Sial! Panggil ambulan!" Alex berteriak ketika melihat Emily yang tergeletak tak bergerak karena kehilangan banyak darah.
*****