The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 20



Tiga hari telah berlalu setelah operasi pengangkatan peluru yang bersarang dalam kaki Emily, tapi gadis itu masih sering tertidur karena obat yang diberikan dokter serta rasa lelah yang dirasakan fisik maupun mental gadis itu. Daniel langsung pulang kembali ke New York setelah mendengar kabar soal adiknya, begitu juga dengan Alexa, dia langsung terbang dari Paris setelah Alex mengabarinya soal kejadian di hutan kota. Orangtua Emily marah mendengar kejadian itu dan mereka kecewa karena tidak diberi tahu soal teror yang dihadapi putri mereka, tapi semuanya kembali tenang setelah dokter berhasil mengangkat peluru yang berhasil melukai kaki kanan gadis itu, dan kondisi Emily-pun perlahan mulai membaik.


Seperti hari ini, gadis itu tengah tertidur lelap ketika dia merasakan kasurnya sedikit bergerak karena seseorang kini telah duduk disampingya. Dylan, Emily mengenali wangi tubuh pria itu, kini dia dapat merasakan tangan pria itu mengelus kepalanya, lalu merapikan rambutnya kebekakang telinga.


"Dia akan membunuhmu, kalau kau membangunkannya seperti itu." Emily mengenali pemilik suara itu. Dia adalah Theo.


"Em, bisakah kau bangun sebentar," Dylan berbisik di telinga Emily lalu mencium pipi gadis itu yang kini mulai bergerak miring kearahnya.


"Kau benar-benar akan dibunuhnya." Emily mendengar suara tawa Theo ketika mengucapkam kata itu.


"Aku akan membunuh kalian semua kalau kalian tetap berisik!"


Mata Emily masih terpejam, dia memeluk pinggang Dylan lalu menyurukan kepalanya di dada pria itu yang kini sudah setengah terbaring karena pelukan Emily dipinggangnya. Emily dapat mendengar Theo tertawa, ingin rasanya dia melempar bantalnya ke arah pria itu tapi sayang matanya benar-benar terasa berat mungkin karena obat yang baru dia minum beberapa jam lalu.


"Cupcake, aku akan dengan senang hati memelukmu seharian dan menemanimu tidur di sini, tapi tidak hari ini."


Emily bergumam dan mengeratkan pelukannya, dia mencari posisi yang nyaman dalam pelukan Dylan. Theo sekarang benar-benar tertawa melihat Emily yang akan kembali terlelap di dalam pelukan Dylan.


"Em... orangtua Theo ada di sini."


Perkataan Dylan itu sukses membuat mata gadis itu terbuka sempurna, dia menatap mata hijau milik Dylan dihadapannya berharap kalau itu hanya candaan pria itu saja supaya dia terbangun, tapi Dylan hanya tersenyum sambil mengangguk lalu memberikan isyarat dengan kepala dan alis matanya supaya gadis itu melihat ke arah depan.


Emily memejamkan matanya kuat-kuat sebelum dengan perlahan dia memutar kepalanya melihat ke arah kaki tempat tidurnya dimana telah berdiri seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan dengan pakaian formalnya, disampingnya berdiri dengan anggun wanita mungil dengan rambut yang ditata dengan rapi, wanita itu tersenyum lembut ciri khas seorang ibu ketika dia menatap Emily, disamping ibu Theo berdiri seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut pirang dan mata sebiru langit, Emily baru melihatnya untuk pertama kali hari ini, dia tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya yang menambah kecantikan gadis itu, disebelahnya berdiri Theo yang terlihat susah payah menahan tawanya sendiri.


Dengan kekuatan penuh Emily langsung duduk tegak, dia mendorong Dylan hingga terjatuh dari tempat tidur ketika pria itu masih saja berbaring santai disampingnya. Sedangkan Emily seperti cacing kepanasan, mukanya memerah mengingat apa yang telah dia lakukan di depan orangtua Theo yang sudah seperti orangtua Dylan juga. Theo kini benar-benar tidak bisa menahan tawanya, dia tertawa terbahak-bahak melihat Dylan yang berusaha berdiri sambil meringis kesakitan.


"Sudah ku katakan, dia akan membunuhmu, Bro."


Theo berkata di antara tawanya, tapi langsung terdiam ketika melihat Emily yang menatapnya dengan pandangan membunuh, Emily menatap Dylan dan Theo bergantian dengan picingan matanya dan kedua pria itu dapat mengartikan tatapannya bahwa gadis itu akan membunuh mereka berdua. Orang tua Theo hanya sebentar berada di sana, mereka hanya ingin memastikan kalau gadis itu telah kembali pulih sebelum kembali ke Inggris sore harinya, sedangkan gadis pirang yang ternyata tunangan Theo yang bernama Calista tetap berada di Amerika di bawah pengawasan Theo dan Dylan.


Sepeninggalannya orang tua Theo, mereka kini tengah duduk di sofa yang tersedia di ruang VVIP, fasilitas yang diberikan oleh orang tua Theo dengan alasan untuk lebih memudahkan kesembuhan gadis itu karena bisa lebih tenang beristirahat. Emily masih duduk di tempat tidurnya, Dylan menyusun beberapa bantal dibelakangnya sehingga gadis itu merasa nyaman, Theo tengah menceritakan kejadian hari itu kepada Calista ketika tiba-tiba pintu kamar Emily terbuka dimana Daniel dan Alexa telah datang dengan beberapa kantong plastik makanan yang sengaja mereka beli.


Theo memperkenalkan mereka berdua kepada tunangannya, wajah Calista memerah ketika dia bersalaman dengan Daniel, bahkan dia tertunduk malu tak berani menatap mata hitam pria itu, Daniel hanya tersenyum melihat reaksi gadis dihadapannya itu.


"Apa sudah ada kabar dari Alex?"


Dylan berjalan ke arah meja ketika dia melihat Alexa mengeluarkan beberapa kaleng jus di atas meja, dia mengambil satu lalu membukanya.


"Iya, ******** itu telah sadar kemarin dan hari ini Alex mengintrogasinya." Daniel berkata sambil membuka jus miliknya lalu duduk santai di salah satu sofa itu.


"Sial, aku pikir tembakan Alex berhasil membunuhnya waktu itu, tapi ternyata meleset."


Daniel mengangguk menanggapi ucapan Dylan itu dan mereka kembali melanjutkan membicarakan penjahat itu, sedangkan Theo hanya mengulum senyum, ketika Dylan dan Daniel mulai mengumpat tunangannya tanpa sadar memegang paha Theo, dan setiap umpatan yang dikeluarkan mereka maka semakin kuat cengkraman tangan itu dikakinya.


Theo melihat kuku gadis itu kini telah memutih karena cengkramannya yang semakin kuat, dan dia yakin kini kakinya telah memerah. Theo mengangkat tangan Calista dari kakinya lalu menggenggamnya, wajah gadis itu memerah ketika menyadari dimana letak tangannya selama ini, Theo hanya tersenyum melihatnya dan mengedipkan sebelah matanya lalu kembali terlihat serius ketika terlibat pembicaraan dengan Dylan dan Daniel, sedangkan Calista tertunduk malu dengan muka semerah tomat dan tangannya masih dalam genggaman pria yang kini telah menjadi tunangannya.


Mereka berdua tidak menyadari kalau ada dua pasang mata amber yang terus mengawasi mereka dari tadi, "Theo, jatuh cinta padanya," Alexa berbisik sambil tersenyum bahagia melihat sahabatnya itu.


"Iya, mereka berdua telah jatuh cinta, bukankah dia sangat cantik?" Emily ikut berbisik sambil terus memperhatikan Theo dan Calista yang masih berpegangan tangan.


"Yang pasti dia akan memiliki mata biru dan rambut pirang seperti orang tua mereka." Emily ikut menerawang membayangkannya.


"Mereka pasti sangat cantik dan tampan."


"Dan mereka akan memanggil kita 'aunty'."


"Aaaah bukankah mereka sangat lucu?" Emily dan Alexa begitu bahagia membayangkan calon keponakannya itu.


"Bayi siapa yang kalian bicarakan?" Suara bisikan berat milik Alex membuat keduanya terhentak kaget.


"Demi Tuhan, Alex, kau mengagetkan kami." Alexa menatap Alex dengan mata bulatnya, yang ditanggapi pria itu dengan senyum jahilnya.


"Hei, kau sudah datang."


Daniel menyapa sahabatnya yang kini telelah berjalan menuju sofa, dia berhenti sebentar ketika melihat Calista, dengan malas Theo mengenalkan mereka berdua, karena dia tahu seperti apa reaksi para wanita ketika berhadapan dengan detektif yang satu ini, tapi untungnya pesona sang detektif tidak berpengaruh banyak pada tunangannya itu, dan Theo merasa bahagia karena hal itu.


"Jadi bagaimana hasil interogasinya?" Pertanyaan Dylan itu membuat semua orang serius menatap Alex yang baru saja duduk di sofa dan mengambil minumannya.


"Dia mengakui alasan masuk ke perusahaan itu adalah untuk mencari tahu siapa auditor yang mengungkap kasus korupsi ayahnya, dan seteleh beberapa lama dia mengetahui kalau itu ada Emily." Alex berhenti sebentar untuk meminum jusnya. "Dia mulai mengawasi Emily dan menyusun rencana, dia merasa kalau Emily-lah yang harus bertanggung jawab atas kematian ibunya karena tidak bisa menerima kenyataan kalau suaminya harus di penjara selama 20 tahun, jadi karena dia telah kehilangan keluarganya, maka dia juga akan membuat Emily kehilangan keluarganya." Semua orang mulai menggumamkan makiannya karena amarah.


"Ya Tuhan!" Alexa menggenggam tangan kembarannya itu untuk memberi dukungan.


"Kau tidak salah, Em, kau hanya menjalankan tugasmu." Alex memandang Emily dengan lembut, dia sangat memahami posisi gadis itu karena dia sudah sering mengalaminya. Emily mengangguk mendengar perkataan Alex karena itu benar, dia hanya menjalankan kewajibannya mengungkapkan kejahatan yang telah merugikan banyak orang itu.


"Jadi, apa dia berhubungan dengan tabrak lari waktu itu?" Alex terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Dylan.


"Tidak, untuk yang satu itu, dia bersumpah tidak melakukannya." Semua orang kini terdiam setelah mendengarkan perkataan Alex itu.


"Katakan Dylan, apa masih ada orang yang suka mengikutimu?"


Semua orang kini mengalihkan pandangannya kepada Dylan, dia baru menyadari setelah kejadian tabrak lari itu tidak ada lagi mobil hitam yang mengikutinya, Dylan menggeleng yakin ketika menjawab pertanyaan Alex.


"Dan kita masih belum mengetahui alasan kenapa Group Royal mengikutimu." perkataan Alex itu membuat Calista menegang dan Theo menyadari hal itu.


"Calista, ada apa? Apa ada yang salah?" Theo melihat gadis itu kini sedikit memucat.


"Alex bilang Group Royal mengikuti, Dylan?" Suara Calista bergetar, matanya terlihat ketakutan ketika menatap mata biru milik Theo untuk meminta jawaban.


"Bukan cuma Dylan, mereka juga mengikutiku," jawaban Theo itu sukses membuat Calista semakin memucat, tangannya bergetar.


"Calista apa kau mengetahui sesuatu?" Semua orang kini menatap gadis itu dengan penasaran, Calista berbalik dan menatap mata Dylan dengan sorot mata cemas.


"Tidak, aku tidak mengetahui kenapa Group Royal mengikuti kalian berdua," suara Calista sedikit bergetar, dia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya, "Tapi aku akan mencari tahu alasannya... karena Group Royal adalah milik ayahku."


Perkataan Calista itu sukses membuat semua orang menganga tak percaya, kalau gadis dihadapan mereka adalah pewaris dari salah satu perusahaan raksasa Eropa yang masuk dalam jajaran The Big Five versi majalah Time.


****