
Kenyataannya Alex membiarkan Alexa tertidur selama beberapa jam, ia harus kembali ke kantor polisi sebelum sorenya ia kembali lagi ke Rumah Sakit bersama rekannya untuk meminta keterangan dari gadis itu mengenai kejadian yang menimpa dirinya, Dylan dan juga Calista.
"Jadi bagaimana kau meledakan mobil itu?" Tanya Alex dengan serius.
"Well, setelah wanita balon itu."
"Suzane," ralat Alex sambil menatap Alexa tajam, bagaimanapun saat ini ia berperan sebagai Detektif bukan sebagai teman dari gadis itu, dan semua orang merasa kasihan kepadanya karena harus menghadapi Alex dalam investigasi kali ini yang memang dikenal sebagai Detektif berdarah dingin ketika sedang mengintrogasi, untung saja Alexa di sini sebagai korban bukan pelaku kejahatan.
"Yeah, setelah... Suzane (dengan nada malas) berhasil kami.. aku dan Calista lumpuhkan, kami memerlukan pengalih perhatian dari orang-orang yang tengah menyekap Dylan di gudang, supaya kami bisa membebaskannya," Alexa menatap Alex dan rekannya, seorang polisi senior dengan rambut tipis beruban bernama Detektif Phillips yang tengah menulis di memo tentang apa yang dia ucapkan.
"Biar kutebak, meledakan dua buah mobil Mercedes adalah pengalihannya?" Alex kembali bertanya sambil mengangkat alis.
"Tidak! Iya maksudku… aku tak bermaksud meledakan dua buah mobil. Aku hanya meledakan satu saja, tapi ternyata apinya merembet tepat mengenai mobil di sebelahnya, jadi... yeah, mobil itupun meledak," jelas Alexa sambil menatap jari-jari tangannya yang ia mainkan, ia terlihat seperti anak kecil yang sedang dihukum karena menghabiskan lipstik mahal milik ibunya untuk menggambar, dan itu membuat Alex harus menahan senyumnya.
"Bisa kau ceritakan lebih rinci lagi Miss. Winchester?" Detektif Phillips bertanya dengan suara lembut yang membuat Alexa tersenyum menatapnya setelah sebelumnya mengerling tajam ke arah Alex yang membuat pria itu memutar bola matanya.
"Awalnya kami akan melarikan diri bersama dengan... Suzane (dengan nada malas) sebagai sandera tapi kami tak bisa meninggalkan Dylan begitu saja."
"Kau bisa menyerahkan masalah Dylan kepada kami, Lexi, dan kau bisa pergi dari sana hingga tak perlu kena tembak seperti sekarang."
"Well, Detektif, aku sudah banyak sekali nonton film action, jadi ada tiga kemungkinan kalau aku meninggalkan Dylan," Alexa menarik napas panjang sebelum melanjutkan kembali ucapannya, "Yang pertama, Dylan akan dijadikan sandera mereka untuk melarikan diri dan akhirnya dia dibunuh. Yang kedua, kalian akan baku tembak yang menyebabkan Dylan tertembak karena hanya dia yang tidak memiliki senjata dan terikat dan mungkin beberapa orang polisi akan tertembak juga dan yang terakhir, Dylan akan segera di bunuh karena penjahat itu marah setelah mengetahui kami melarikan diri dan polisi dalam perjalanan untuk menangkap mereka," Alexa mengangkat alisnya sambil menatap Alex yang berdiri menjulang di ujung tempat tidurnya sambil berpangku tangan menatapnya, "Jadi semua berakhir dengan Dylan terbunuh, dan... jangan memanggilku Lexi!"
Detektif Phillips berusaha menahan tawanya ketika menyadari untuk pertama kalinya ia melihat seorang perempuan yang berani melawan rekannya itu, "Pemikiran yang bagus Miss. Wincheste."
"Alexa, kau boleh memanggilku Alexa, Detektif," ujar gadis itu sambil tersenyum.
"Baiklah, Alexa, dan kau boleh memanggilku Phill," Phillips tersenyum menatap gadis pemberani dihadapannya itu, "Jadi kau bisa lanjutkan lagi ceritamu?"
Alexa berdehem, "Ketika aku mengetahui kalau Polisi sudah dalam perjalanan, maka kami memutuskan Calista akan membawa... Suzane (dalam nada malas) kepada kalian dan dia juga akan memancing beberapa orang dari mereka untuk mengejarnya, tapi kami perlu sesuatu yang... besar, untuk menarik perhatian orang-orang yang ada di dalam gudang supaya mereka keluar dan meninggalkan Dylan sendiri jadi aku bisa masuk untuk menyelamatkannya tanpa ada yang mengetahuinya."
Alexa kembali menatap Alex yang masih memperhatikanya dengan sorot mata tajam, "Di dapur ketika aku mencari seseuatu untuk menutup mulut..."
"Suzane," Detektif Phillips yang mengatakannya dengan nada malas yang sama seperti Alexa mengatakannya yang membuat gadis itu tersenyum.
"Iya, dia. Aku menemukan bensin dan pematik api, kami menyiram mobil itu dengan bensin dan di atas tanah di sekitarnya, jadi yang aku perlu lakukan setelah Calista bersiap di dalam mobil milik Suzane adalah menyalakan pematik api, melemparkanya ke arah tanah yang terkena bensin supaya aku ada waktu untuk berlari dan berlindung di balik Van berwarna pink itu, dan hanya memerlukan beberapa menit sebelum 'BUM', mobil itu meledak."
Untuk beberapa saat ketiga orang itu tidak ada yang membuka mulutnya, Detektif Philips menatap Alex yang tengah membuang napas berat sambil menatap Alexa dengan berang, sedangkan gadis itu sendiri sedang mengingat kembali kejadian yang membuatnya setengah mati ketakutan saat itu.
"Dan rencana kalian berhasil," ucap Detektif Phillips memecah keheningan.
"Iya, seletah mobil itu meledak beberapa orang yang berjaga di luar gudang berlari ke dapan untuk melihat apa yang terjadi, dan saat itulah Calista pergi dengan membawa Suzane supaya mereka bisa melihatnya lalu mengejar mereka. Tapi di luar rencana ketika angin meniupkan api yang membakar mobil itu hingga menjalar ke arah mobil satunya dan terjadi ledakan untuk kedua kalinya."
"Demi Tuhan, Lexi! Bisa saja angin bertiup ke arah mobil Van sialan itu dan membuatnya meledak ketika kau... kau..." Alex tak bisa melanjutkan ucapannya, dengan membayangkannya saja itu membuat dadanya terasa sesak.
"Aku tahu dan aku juga sangat takut saat itu, tapi itu tidak terjadi, kau lihat? Aku masih ada disini," ucap Alexa sambil tersenyum berusaha menenangkan Alex, dia tahu pria itu menyayangi dirinya seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya, seperti yang di lakukan Daniel, jadi walaupun mereka acap kali bertengkar tapi itu tidak menyurutkan kasih sayang pria bermata biru itu untuk dirinya.
Alexa terdiam berusaha mengingat kejadian itu, "Setelah mobil kedua meledak, aku melihat Dylan dan semua yang ada di dalam gudang keluar, dan pada saat itulah pria tua itu memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Calista, jadi aku menghubungi, Alex, untuk memberitahunya apa yang terjadi supaya mereka bersiap untuk menangkap orang yang mengejar Calista dan itu berhasilkan? Semua tertangkap," ujar Alexa sambil tersenyum.
"Kerja yang bagus, Alexa, karena informasi darimu kami bersiap melakukan blokade di jalan keluar jadi tak seorangpun bisa lolos," ucapan Phillips itu membuat Alexa tersenyum malu, "Walaupun, Alex, harus menembak Hunter yang berusaha menerobos blokade dengan motornya," lanjut Phillips yang mengejutkan Alexa.
"Kau berhasil menembaknya?" Tanya Alexa dengan mata terbelalak, Alex hanya mengangkat bahunya saja sebagai jawaban.
"Iya tentu saja, Alex salah satu penembak terbaik kami," ujar Phillips yang membuat Alexa menganga takjub, "Waktu itu, Hunter melompati blokade mobil polisi ketika Alex menembak bahunya hingga dia kehilangan kendali dan terjatuh, sialnya lagi motornya menimpa kakinya hingga patah jadi dia tidak bisa lari kemanapun," lanjut Phillips menceritakan kembali mengenai penangkapan Hunter.
"Kerja bagus, Detektif," puji Alexa sambil tersenyum menatap Alex dan mengacungkan dua jempol.
"Yeah, aku tahu aku memang keren," ucap Alex santai yang membuat Alexa memutar bola matanya, "Cukup tentang kekerenanku yang tak ada habisnya," lanjut Alex yang membuat Alexa menyesal memujinya, "Lanjutkan ceritamu tentang bagaimana kau bisa tertembak?"
"Baiklah," Alexa kembali mengingat sore itu, "Aku masih bersembunyi di balik mobil ketika aku meneleponmu untuk memastikan apa kau berhasil menangkap semua yang mengejar Calista. Pada saat itulah terdengar suara tembakkan, aku takut kalau tembakan itu mengenai Dylan, dan kita semua sudah terlambat menyelamatkannya," Alexa terdiam, Alex bisa melihat wajah Alexa yang memucat dan ia merasa prihatin kepada gadis itu karena harus melewati hari buruk, tapi ia juga bangga kepadanya karena dalam kondisi seperti itu ia masih memikirkan keselamatan sahabatnya daripada keselamatannya sendiri.
"Untung saja ketika aku mengintip dari belakang mobil saat itu aku melihat Dylan masih berdiri dan selamat, tapi Thomas sedang mengancam akan membunuh Dylan," Alexa kembali menarik napas panjang, "Jadi aku langsung keluar dari tempat persembunyian dan menodongkan senjata milik Suzane kepada pria tua itu."
Hening untuk beberapa saat, kedua Detektif itu memberikan kesempatan kepada Alexa untuk menghimpun keberanian mengingat kejadian yang nyaris merenggut nyawanya.
"Thomas mengarahkan pistolnya kepadaku dan aku yakin tembakannya akan langsung membunuhku seandainya Dylan tidak menghadangnya," lanjut Alexa dengan suara bergetar, ketakutan kembali menjalar di seluruh tubuhnya, dadanya berdetak kencang, rasa dingin seolah merasuki tubuhnya, ia baru menyadari betapa tipis kesempatannya untuk hidup, nyawanya bisa saja melayang saat itu.
Alexa berusaha menormalkan kembali detak jentung dan juga napasnya, setelah merasa lebih baik ia kembali menatap kedua detektif yang masih mengawasinya, lalu tersenyum walaupun terlihat dipaksakan.
"Kau tahu? Kau sangat beruntung, Alexa," ucap Detektif Phillips sambil menatap gadis itu dengan lembut, "Dan juga, kau gadis yang sangat berani," pujinya yang membuat Alexa tersenyum tulus.
"Baiklah, aku pikir keterangan darimu sudah lebih dari cukup, terima kasih atas waktumu, Alexa," ucap detektif Phillips lalu pamit keluar ruangan.
Alex berjalan mendekati Alexa yang setengah berbaring karena belum bisa duduk dengan tegak, kemudian ia memeluk tubuhnya dengan lembut.
"Kau hebat, Lexi," ucapnya lembut yang membuat mata Alexa berkaca-kaca, "Kau gadis pemberani," lanjutnya masih memeluk tubuh Alexa. Alex melepaskan pelukannya dan ia menatap mata amber milik gadis itu dengan mata biru tajam miliknya, "Tapi jangan kau ulangi lagi ok? Atau aku serius akan memborgolmu di tempat tidur, supaya kau tidak membahayakan hidupmu lagi, paham?"
Alexa tertawa mendengar itu, "Baiklah ini yang pertama dan terakhir aku berhubungan dengan tembakan dan ledakan, aku janji!" Alex mengangguk dengan puas, dan diapun berdiri untuk pamit kembali ke kantor polisi.
"Lexi," ujarnya setelah ia mencapai pintu kamar, tubuh tingginya kembali menghadap Alexa yang menatapnya bingung, "Aku janji tidak akan melaporkan ini, tapi... apa yang terjadi dengan rambut Suzane?"
Beberapa saat Alexa hanya terdiam sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak yang membuat Alex bertambah bingung, "Apa kau sudah bertanya pada Calista?"
"Iya, tapi dia hanya tertawa sama sepertimu."
"Kalau begitu, itu akan menjadi rahasia aku dan dia," ujar Alexa sambil menahan tawanya ketika mengingat bagaimana mereka berdua 'menata' rambut Suzane menjadi seperti pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri.
"Ya Tuhan, para perempuan dan rahasianya," ujar Alex sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi meninggalkan Alexa yang masih tertawa.
*****