The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 25



Mereka sedang santai di ruang keluarga Winchester ketika Theo memperhatikan Calista yang sudah terlihat mengantuk, perlahan dia merangkulkan tangannya di bahu gadis itu yang langsung tersentak kaget.


"Kau terlihat sudah mengantuk, kita pulang sekarang?"


Theo berbisik dan mendapat anggukan dari gadis itu. Mereka berdiri untuk berpamitan kepada tuan rumah yang masih berada di dapur, Mrs. Winchester tengah memasukan makanan tadi ke dalam dua tempat yang telah ia siapkan untuk Alex dan Gerard karena mereka tidak ikut makan malam jadi Daniel bertugas mengantarkan makan malam kepada mereka berdua.


"Kau mau pulang sekarang, Nak?" Mrs. Winchester melihat kedua anak muda itu dengan sorot mata teduh dan penuh kasih sayang.


"Iya, Calista sudah mulai mengantuk karena terlalu kenyang makan masakanmu yang luar biasa enak seperti biasanya." Ibu Emily terkekeh mendengar pujian dari pria yang sudah dia anggap sebagai putranya.


"Mrs. W, apa kau tidak keberatan kalau besok aku mengantar Calista ke sini lagi? Besok aku masih harus bekerja dan aku tak mungkin meninggalkannya sendirian di rumah hanya ditemani pelayan dan pengawal saja."


"Tentu saja tidak, kau boleh datang ke sini kapanpun kau mau, aku sangat menyukai tunanganmu, dia sangat cantik dan baik." Calista yang mendengar pujian wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum malu-malu.


"Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu dan akan datang lagi besok. Terima kasih makan malamnya enak sekali," Theo memeluk dan mencium pipi wanita itu sebelum akhirnya berpamitan dengan yang lain dan keluar dari rumah keluarga Winchester.


Sepuluh menit kemudian Theo sudah memarkirkan Lamborgini hitamnya di dalam garasi bersama dengan sederet koleksi mobil mewah miliknya dan Dylan yang berjejer rapi di dalam ruangan itu, setelah bertunangan dengan Calista, orangtuanya tidak memperbolehkan dia mengendarai chevrolet tuanya lagi dan dengan berat hati akhirnya Theo menurut, tapi orangtuanya masih harus bersabar dengan Dylan yang masih tidak mau melepaskan Land Rover merah kesayangannya itu.


"Keluarga Winchester sangat baik, aku sangat menyukai mereka." Calista berjalan memasuki rumah megah itu, diikuti Theo dari belakang yang berjalan dengan santai.


"Iya, Ayah mereka adalah seorang Senator berpengaruh tapi mereka mendidik anak-anaknya untuk hidup sederhana dan tidak mengandalkan nama besar Ayahnya," Theo menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan mulai mencopot kancing-kancing kemejanya.


"Dulu setiap akhir pekan kami akan makan malam di sana, apabila salah satu dari kami ada yang tidak datang maka Mrs. W akan menyuruh Daniel untuk mengirimkan makan malam itu seperti yang tadi dia lakukan untuk Alex dan Gerard."


Theo terus bercerita tidak memperdulikan tunangannya yang kini telah memerah karena melihat dada bidangnya yang telah terbuka, mengingatkan Calista akan pemandangan tadi pagi ketika dia baru membuka mata.


"Sebaiknya aku mandi sekarang kau juga, Sunshine, sebaiknya siap-siap tidur kau terlihat sangat lelah."


Theo berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, sedangkan Calista dengan malas berjalan menuju kamarnya yang terletak tepat sebelah kamar Theo, jujur saja dalam hati gadis itu mengharapkan lanjutan pelajarannya, dan hei, dia belum mengucapkan selamat malam, itu wajibkan?


Satu jam kemudian Calista sudah selesai mandi dan siap tidur dengan kaus yang terlihat kebesaran dibadannya yang hanya menutupi setengah pahanya, dengan malas dia merebahkan tubuhmya di atas kasur empuk itu tapi sayang kasur itu tidak bisa memeluknya dan tidak memiliki feromon yang bisa membuatnya tenang dan tidur nyenyak. Dia hampir putus asa karena belum juga bisa tertidur walaupun dia sudah merubah posisi tidurnya berkali-kali ketika tiba-tiba pintu penghubung kamarnya dan kamar Theo terbuka.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Theo berkata dengan santai sambil berjalan mendekati Calista yang tengah terbelalak menatapnya yang bertelanjang dada.


"Aku mau tidur."


Calista menjawab dengan gugup, matanya tak mau lepas dari Theo yang terlihat seperti model yang keluar dari sampul majalah wanita dengan hanya menggunakan celana jeans pudar, rambutnya yang masih terlihat basah menambah keseksiannya dan jangan lupakan perut sixpack sempurnanya serta dada bidang yang membuat Calista menelan ludah dengan kasar.


Mereka berjalan memasuki kamar Theo yang terlihat maskulin, secepat kilat dia membuka selimut dan masuk ke dalamnya, dia menepuk kasur disampingnya supaya Calista ikut bergabung dengannya bukannya berdiri mematung di sana memperlihatkan kaki jenjangnya yang membuat Theo harus mengatur napasnya berkali-kali. Perlahan akhirnya gadis itu ikut bergabung dengannya dan Theo langsung menutupi kaki jenjang itu dengan selimut menyembunyikannya dari matanya sendiri.


"Selamat malam," suara gadis itu terdengar gugup.


"Sunshine, kau tak lupa pelajaran kemarinkan?" Wajah Calista langsung memerah dengan malu-malu dia menggeleng.


"Bagus, karena sekarang aku akan mengajarimu pelajaran kedua."


Tanpa aba-aba Theo langsung mencium Calista, awalmya ciuman itu lembut lama kelamaan ciuman itu semakin menuntut keduanya, lidah mereka saling beradu menginginkan lebih, Theo mulai menciumi telinganya yang membuat Calista menggigit bibir bawah untuk meredam erangannya. Theo kini menjelajahi leher gadis itu, secara naluriah Calista menengadahkan lehernya supaya Theo bisa leluasa menciumi lehernya, sesekali pria itu akan menggigit lehernya dengan lembut dan Calista tidak bisa lagi menahan dirinya, erangan nikmat keluar dari bibirnya yang memerah karena ciuman Theo, tangannya merangkul leher tunangannya yang semakin tak kuasa untuk mengendalikan diri.


Theo kembali mencium bibir gadis itu dengan rakus, sebelum akhirnya mengakhiri pelajaran mereka, kening mereka masih menempel sesekali mereka melakukan ciuman-ciuman singkat di antara napas mereka yang saling memburu dan jantung mereka yang berdetak kencang.


"Kau menyukai pelajaran kedua ini?" Theo bertanya dengan suara seraknya yang dijawab anggukan oleh gadis itu.


"Bagus, aku juga menyukainya," Theo tersenyum sambil menarik Calista kedalam pelukannya, "Sekarang kita tidur atau aku tak yakin bisa menahan diri untuk memberikanmu pelajaran lanjutan," mendengar itu Calista langsung menyurukan kepalanya ke dalam dada Theo dan menghirup bau khas tunangannya yang membuatnya nyaman.


"Theo?"


"Hmm."


"Apa kita tidur bersama karena janjimu kepada orangtuamu?"


"Tentu saja, bukankah laki-laki harus menepati janjinya."


Calista menegang mendengar jawaban Theo ada rasa sakit dihatinya karena bukan itu jawaban yang dia harapkan.


"Tapi aku bersyukur telah berjanji seperti itu, karena aku menyukai memelukmu dan aku rasa aku tak bisa tidur tanpa memelukmu."


Perkataan Theo itu sukses membuat hatinya kembali sedikit tenang dan senyumpun terbit di bibir gadis itu.


"Aku juga menyukainya," bisik Calista sambil mengeratkan pelukannya dan tak lama kemudian dia sudah terlelap dalam pelukan Theo yang masih terlihat gelisah.


Perlahan dia melepaskan pelukan gadis itu dan keluar dari kamarnya menuju kolam renang, "Sial, Dylan benar aku akan memerlukan berenang air dingin setiap malam," ocehnya sambil membuka celananya dan mulai berenang di tengah cuaca malam bulan November.


*****