
Dylan berjalan mundar mandir di depan meja Alex sambil mengeluarkan sumpah serapahnya, Alex hanya mengangkat alis mata mendengar umpatan-umpatan itu, setelah merasa tenang akhirnya Dylan menghempaskan tubuhnya di kursi depan meja Alex tempat ia duduk dari tadi.
"Kau tahu? Ini kali ke tiga kau mengumpat di depan mejaku." Alex berkata santai sambil menatap Dylan yang mulai terlihat tenang, mendengar itu ia hanya tersenyum sambil mendengus, yang membuat Alex ikut tersenyum lalu duduk di kursi kerjanya.
"Well, Man, penggemarmu itu adalah seorang pengemudi dan petarung handal tapi bukan seorang penguntit yang handal."
Alex mulai menjelaskan kejadian penangkapan tadi kepada Dylan, para polisi itu memerlukan bukti terlebih dahulu kalau mereka memang mengikuti Dylan dan menggiringnya ketempat sepi untuk melakukan penangkapan.
"Dylan, dengar, ada sesuatu yang ingin aku katakan dan tak bermaksud membuatmu patah semangat, aku hanya ingin memberi tahumu kemungkinan terburuk dari kasus ini... aku ingin kau pahami itu sebelum aku melanjutkan maksudku, apa kau paham?" Dylan menatap Alex dengan serius sebelum akhirnya ia menganggukan kepala mengerti.
"Baiklah, dengarkan aku... ada kemungkinan mereka akan kembali dibebaskan hari ini."
"Oh, sial!" Dylan kembali mengumpat sambil menggebrak meja Alex.
"Hei! Tenang!" Alex berusaha kembali menenangkan Dylan yang kini terlihat frustasi.
"Kalau mereka memang profesional, dan sepertinya iya, mereka akan diam seribu bahasa di ruang introgasi itu, mereka akan menunggu pengacaranya datang." Alex berhenti sesaat untuk melihat reaksi Dylan yang hanya diam menatapnya dengan sorot mata marah, dan Alex memahami itu.
"Kasus-kasus penguntitan seperti ini sudah sering terjadi, dan biasanya karena tidak ada ancaman dan dianggap tidak membahayakan korban, maka pelakunya akan dibebaskan." Dylan memejamkan mata berusaha meredam emosinya.
"Sekarang aku tahu bagaimana rasanya jadi perempuan yang menjadi korban penguntitan," ujar Dylan dengan suara sarat akan emosi, Alex mengangguk setuju dengan ucapan Dylan.
"Dylan!" Dylan membalikan badan untuk melihat siapa yang memanggilannya dan disanalah gadis berambut hitam serta bermata amber itu tengah berjalan dengan tergesa-gesa kearahnya, mengenakan gaun selutut berwarna marun dan coat putih dengan panjang yang sama, dia terlihat sangat menawan.
"Emily, apa yang kau lakukan disini?" Dylan bertanya sambil merengkuh kekasihnya itu kedalam pelukan yang berfungsi untuk meredam emosinya yang bergejolak.
"Apa kau pikir aku hanya akan diam saja di rumah, setelah mengetahui kau ada di sini?" Ucap Emily sambil menatap Dylan dengan galak yang membuat pria itu tertawa lalu mencium keningnya.
"Kau terlihat cantik, Em, apa kau akan berkencan?" Ujar Alex dengan sorot mata menggoda yang membuat pipi gadis itu memerah.
"Well, seharusnya hari ini aku ada kencan, tapi beberapa orang telah mengacaukannya," ucap Emily sambil menggeleng-gelengkan kepala kesal.
"Dan.. apa kau akan membiarkan para pengacau itu?" Tanya Alex sambil tersenyum menggoda perempuan yang sudah ia anggap adiknya sendiri.
"Apa kau akan membiarkan seseorang mengacaukan kencanmu?" Emily balik bertanya sambil menaikkan alis matanya.
"Tidak, aku akan menghajarnya," jawab Alex dengan serius tapi Emily bisa melihat kilat geli di dalam sorot mata biru yang membuat para perempuan bertekuk lutut itu.
"Aku juga akan menghajarnya," lanjut Emily sambil mengangguk-anggukan kepala serius, membuat Alex dan Dylan tersenyum, "Jadi dimana para pengacau itu?" lanjut Emily serius.
"Well, Em, kau harus menunggu giliran dengan para petugas kalau ingin menghajarnya, karena sekarang aku yakin mereka sedang diintrogasi," jelas Alex sambil menatap keduanya serius, "Dengarkan aku, lebih baik kalian pergi makan malam, nonton ke bioskop atau kemana saja, nikmati kencan kalian... aku akan menguhubungi kalau sudah ada perkembangan." Alex memberikan solusi karena keberadaan mereka disanapun tidak akan berpengaruh apa-apa, sebelumnya Dylan telah membuat laporan mengenai itu jadi polisi bisa menindak lanjuti kasus itu tanpa perlu keberadaan Dylan di sana.
Setelah diam beberapa saat memikirkan perkataan Alex, akhirnya mereka setuju untuk pergi dari sana.
*****
"Maafkan aku, seharusnya ini menjadi kencan pertama kita yang sempurna, kau tahu, awalnya aku bahkan berencana untuk mengenakan pakaian terbaikku dan mengganti mobilku dengan salah satu mobil yang ada di garasi rumah." Dylan menatap Emily dengan pandangan menyesal.
"Ini juga sangat sempurna, kau bahkan menyiapkan bunga ini untukku." Emily mencium buket bunga mawar putih besar di dalam dekapannya, "Dan walaupun aku tak mengira kau akan mengajakku ke sini, tapi pemandangan di sini sangat sempurna." Emily tersenyum ketika menyadari dimana mereka berada saat ini, memandang pemandangan kota New York di atas ketinggian 93m, di muara sungai Hudson yang lebih terkenal dengan sebutan Liberty Island. Iya mereka saat ini berada di atas patung liberty, Dylan mengajak Emily ke sana dengan menggunakan kapal pribadi milik keluarga Regan jadi tak perlu antri membeli tiket ataupun menunggu jadwal perjalanan kapal ferry yang menuju sana.
"Ayolah, Em, akui saja sebagai penduduk New York sudah berapa kali kau datang kesini?" Emily tertawa mendengar pertanyaan Dylan.
"Hei, aku pernah ke sini sebelumnya," jawab Emily sambil tertawa.
"Dan kapan itu?" Lanjut Dylan sambil tersenyum menggoda.
"Oke, kau menang, Dylan, aku ke sini ketika masih di sekolah dasar bersama guru dan teman-teman sekolahku."
"Aku benarkan, penduduk New York malah jarang datang ke sini atau bahkan ada yang belum pernah ke sini karena menganggap kalau ini adalah wisata untuk para turis saja."
Emily mengangguk sambil tersenyum, mata hitamnya menatap Dylan penuh selidik.
"Apa?" Tanya Dylan karena melihat kekasihnya itu menatapnya dengan sorot mata geli.
"Ayolah, Dylan, jujur saja aku tahu semuanya."
"Aku sudah tahu kalau sebenarnya... kaulah yang ingin datang ke sini."
Dylan mengangkat satu alis matanya sambil tersenyum jahil, "Jadi kau telah mengetahuinya?"
"Yap, aku mengetahuinya," Emily berkata sambil menganggukkan kepala mantap.
"Bagaimana kau mengetahuinya? Ini rahasia aku dan Theo."
"Aku mendengarnya, ketika kalian membicarakan ini dulu." Dylan terbelalak mendengar perkataan Emily.
"Jangan berlebihan seperti itu, tidak ada yang salah kalau kalian ingin datang ke sini, pemandangan di sini sangat bagus dan aku baru menyadari kalau di sini juga sangat romantis," Emily tersenyum sambil menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit kota New york dari kejauhan dengan langit warna jingga, pemandangan yang sangat indah yang biasanya tersuguh dalam lukisan kanvas dan hasil jepretan para ahli.
"Indah bukan?" Dylan memeluk Emily dari belakang, untuk sesaat mereka hanya terdiam larut dalam keheningan menikmati pemandangan yang terseguhkan dihadapan mereka.
"Em?"
"Hmm."
"Apa kau menceritakan rahasiaku dan Theo kepada yang lain?" Emily tertawa sambil membalikan badannya menghadap Dylan.
"Dan membiarkan mereka menertawakanmu?" Dylan tertawa membayangkan hal itu pasti akan terjadi, ia mencium bibir Emily singkat.
"Jadi tidak ada yang tahu?"
"Tidak ada yang tahu." Ujar Emily meyakinkan, "Dylan, aku penasaran apa Theo pernah ke sini?" Dylan tersenyum sambil merangkul bahu Emily memberikan kehangatan.
"Belum, tapi aku yakin dia akan mengajak Calista kesini."
"Dan dia akan beralasan yang sama denganmu, apalagi Calista dari luar." Emily tertawa membayangkan hal itu.
"Iya pasti dia akan memberi alasan agar Calista mengetahui tentang Liberty yang terkenal itu." Dylan melepaskan rangkulannya untuk kemudian menggenggam tangan mungil gadis itu.
"Sudah hampir malam, kita pergi sekarang." Dylan mengajak Emily turun dari patung yang menjadi ikon kota New York itu.
"Kita kemana sekarang?" Tanya Emily, Dylan memasukan tangan gadis itu yang berada genggamannya ke dalam saku coat hitamnya untuk menghangatkan tangan mereka yang mulai terasa dingin.
"Kita pergi makan malam."
"Jangan katakan kau akan mengajakku ke Central Park untuk makan malam?" Ucap Emily sambil tersenyum menatap Dylan yang mulai tertawa.
"Hei, aku bukan Theo yang akan membelikan hotdog di Central Park untuk kencan pertamanya."
Emily tertawa mengingat sahabat yang satu itu, "Jadi kita akan makan malam dimana?" Saat ini mereka tengah berjalan di pelataran Liberty menuju kapal pribadi yang ada di dermaga pulau itu.
"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi," ujar Dylan dengan senyum penuh misteri.
Dan disinilah mereka saat ini, di atas dek kapal bercahayakan cahaya lilin-lilin mungil yang tersimpan dalam gelas dan tersebar disekililingnya, mereka duduk berhadapan di kursi yang telah tersedia, cahaya lilin, rangkaian bunga warna warni dalam vas kristal melengkapi hiasan meja dihadapan mereka.
"Ya Tuhan, ini indah sekali, Dylan," ujar Emily dengan perasaan bahagia yang memuncah, "Kapan kau menyiapkan ini semua?"
"Well, tadi pagi aku meminta koki di hotel untuk membuatkan beberapa makanan yang bisa dipanaskan memakai microwave, aku pikir rencana ini akan gagal karena kejadian tadi, tapi untung saja tidak memerlukan waktu yang lama di kantor polisi," Dylan tersenyum sambil mengisi gelas mereka dengan white wine sebelum melanjutkan ceritanya.
"Jadi ketika kita di atas tadi aku telah meminta beberapa orang yang sudah berada di pulau Liberty untuk menyiapkan ini semua," ujar Dylan dengan bangga karena Emily menyukai kejutan kecilnya ini.
"Jadi dimana sekarang orang-orang yang telah membantumu itu?" tanya Emily sambil menyesap wine lalu meringis karena rasanya.
"Entahlah, mungkin mereka sedang berenang ketepian," jawab Dylan dengan santai yang membuat Emily tertawa.
Suara tawa gadis itu melengkapi makan malam romatis mereka di atas sungai Hudson dengan bercahayakan lilin-lilin kecil di sekeliling mereka, berlatar pendar-pendar cahaya dari ribuan lampu gedung kota New York terlihat seperti bintang-bintang menghiasi langit malam yang gelap.
****