
"Kita sudah sampai, Em." Suara Dylan membuyarkan lamunan Emily mengenai sosok yang kini tengah menatapnya tajam.
Mereka berjalan berdampingan menuju apartemen Emily dengan tangan Dylan yang kembali merangkul bahu gadis itu.
"Aku akan menghubungi Theo dan yang lainnya, kita mempunyai cup cake cukup banyak, lalu kita akan nonton Fast and Furious." Emily berkata sambil membuka kunci pintu apartememnya.
"Tidak ada Theo, Daniel dan yang lainnya, bahkan Alexa, ini kencan kita, Baby, jadi hanya kita berdua apa kau mengerti?" Dylan memasuki apartemen Emily, menyimpan bawaannya di atas meja lalu menghadap Emily dengan tangan dilipat di dada dan menatapnya dengan tajam.
"Sudah ku katakan kalau kita tidak berkencan." Emily menatap Dylan sambil berpangku tangan, Dylan ingin sekali berteriak menghadapi kekeras kepalaan Emily.
"Dan sudah ku katakan dari tadi kalau kita sekarang berkencan." Dylan menaikan alisnya tidak mau dibantah, untuk kali ini dia tidak akan mengalah dari gadis itu sampai dia menyadari perasaannya sendiri.
Emily mengangkat kedua tangannya ke atas tanda dia menyerah, lalu berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil dua kaleng soda yang kemudian dia letakkan d iatas meja.
"Dan satu lagi, Em, tidak ada Fast Furious untuk hari ini." Dylan berkata santai sambil duduk di sofa, Emily yang mendengar itu sontak menatapnya dengan mata membulat.
"Ayolah, Em, hari ini aku tak mau melihatmu menangis setiap melihat Paul Walker." Emily memang sangat mengidolakan pemeran F&F yang telah meninggal itu, dan setiap melihat wajahnya di televisi, sontak dia akan menangis sedih.
"Baiklah, kalau begitu kita akan menonton Twilight," Emily menyimpan kembali kaset Fast and Furiousnya lalu mengambil kaset Twilight, salah satu film favoritnya.
"Tidak! Tidak ada lagi vampire. Setiap nonton film itu kau akan mengatakan kalau kau akan dengan sukarela membiarkan lehermu digigitnya. Aku tak mau membayangkan seseorang menggigit lehermu." Dylan menggelengkan kepalanya membayangkan seseorang menggigit leher gadis itu selain dirinya, sedangkan Emily hanya menatap Dylan dengan pandangan bingung.
"Ayolah, kau tahu hanya boleh memilih di antara dua itu."
Dylan diam beberapa saat sebelum berkata, "Baiklah kita nonton Fast and Furious, tapi tidak ada lagi tangisan untuk Paul Walker, ok?" Emily mengangguk dengan semangat dan mulai menyalakan dvd playernya.
Seperti sudah diperkirakan Dylan, ketika Sam Smith mulai menyanyikan stay with me, maka Emily mulai terisak, Dylan pun harus merelakan kemejanya basah oleh air mata dan ingus gadis itu.
"Em, berhentilah menangis." Dylan mencoba menenangkan Emily yang sekarang masih terisak dalam pelukannya.
"Berhenti menciumi kepalaku." Emily berkata di antara tangisnya.
"Aku akan terus menciumimu sampai kau berhenti menangis."
"Rambutku bau, hari ini aku belum keramas." Dylan tersenyum mendengar kejujuran gadis itu.
"Tidak, rambutmu wangi aku menyukai wanginya." Dylan kembali mencium kepala Emily.
"Itu karena shamponya, Alexa membelikannya untukku."
Emily sudah berhenti menangis, dengan perlahan gadis itu melepaskan diri dari pelukan Dylan sambil melap sisa air mata dipipinya menggunakan punggung tangannya, "Kemejamu jadi basah karena aku." Emily merasa bersalah setelah melihat kemeja Dylan yang terlihat basah.
"Ayolah, Em, ini bukan pertama kalinya kau merusak kemejaku gara-gara Paul Walker." Perkataan Dylan itu membuat Emily tersenyum.
Dylan tengah memerhatikan Emily yang terlihat kacau tapi sialnya terlihat sangat menggoda, hidungnya terlihat merah dan matanya sedikit bengkak akibat dari aksinya menangisi Paul Walker tadi dan bibirnya merah menggoda.
Dylan tak bisa lagi menahan diri, dia mengangkat dagu Emily dengan jarinya dan perlahan mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir gadis itu, awalnya Dylan dapat melihat kilatan kaget di mata gadis itu sebelum akhirmya dia menutup matanya, melihat itu tanpa ragu lagi Dylan melanjutkan aksinya.
Awalnya ciuman itu terasa lembut, semakin lama semakin menuntut, dengan gampang Dylan mengangkat Emily ke atas pangkuannya lalu menarik gadis itu semakin mendekat, Emily membalas ciuman Dylan dengan tidak kalah menuntutnya, tangannya menjelajah rambut pria itu, yang semakin membuat pria itu memperdalam ciuman mereka.
Suara dering telepon genggam Emily sukses membuat gadis itu tersadar dari kegiatannya, Emily berusaha melepaskan diri dari pelukan Dylan, tapi pria itu tidak membiarkannya, malah mempererat pelukakannya.
"Itu Ibuku, aku harus mengangkatnya," suara Emily terdengar serak di antara ciuman-ciuaman Dylan dilehernya.
Emily berusaha menenangkan debaran jantungnya yang masih berpacu dengan cepat sebelum akhirnya menjawab telepon ibunya.
"Hi, Mom, bagaimana Indonesia? Apa kalian bersenang-senang?" Emily berusaha membuat suaranya senormal mungkin supaya ibunya tidak curiga.
Tapi sepertinya hal itu akan sulit karena Dylan kembali menarik Emily dalam pangkuannya lalu memeluknya dari belakang, dan mulai menciumi kembali leher dan telinga gadis itu. Emily berusaha menjauhkan kepala Dylan dari lehernya tapi terlihat sia-sia.
"Iya, Mom, aku mendengarkanmu."
Sial! bahkan Emily tidak mendengar apa yang dibicarakan ibunya, dengan sekuat tenaga Emily mencubit tangan Dylan supaya melepaskannya dan ternyata itu berhasil.
"Sial!" Dylan berteriak ketika Emily mencubitnya dengan tenaga penuh.
"Bukan, Mom, itu suara televisi." Emily memberikan alasan ketika ibunya bertanya soal umpatan Dylan tadi.
Emily bangkit dari pangkuan Dylan lalu mengambil cup cake yang dia serahkan kepada pria itu dengan pelotan matanya meminta Dylan untuk diam dan tidak mengganggunya, Dylan mengambil cake itu dengan malas sebelum kemudian mulai menjilati cream vanila diatasnya.
Dylan akan menghabiskan cup cake ke empatnya ketika Emily mengakhiri pembicaraan dengan orang tuanya, "Sisakan untuk Theo dan yang lain," Emily berjalan untuk mengambilkan Dylan air mineral.
"Kau benar, Em, ini sangat enak." Dylan menghabiskan cup cake ke empatnya dalam sekali suap.
"Sudah ku bilang kalau ini enak. Ngomong-ngomong soal Theo, bagaimana pertemuan dengan tunangannya?" Emily menyerahkan air meniral kepadanya sambil duduk di samping Dylan yang mulutnya masih penuh dengan cup cake.
Alis Dylan berkerut ketika teringat kembali pertemuan dengan tunangan Theo tadi siang, ada sesuatu tentang gadis itu. Dylan masih ingat bagaimana gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bahkan sepanjang makan siang mereka Dylan menangkap beberapa kali gadis itu tengah memperhatikannya.
Dylan meminum air yang di bawa Emily sebelum menjawab pertanyaan gadis itu, "Pertemuannya lancar, dia gadis yang sangat manis dan juga sopan."
"Bagaimana dengan Theo apa dia menyukainya?"
Dylan hendak menjawab ketika terdengar ketukan di pintu apartemen Emily.
"Apa kau mengundang yang lainnya?" Dylan bertanya sambil menatap Emily yang juga terlihat bingung.
"Tidak... Mungkin ada sesuatu yang penting," Emily berdiri untuk membuka pintu, tapi tak ada seorangpun di sana, kemudian matanya menangkap sebuah kotak berwarna biru berukuran sedang di depan pintu apartemennya.
Emily mengambil kotak itu sambil melihat ke kiri dan ke kanan, setelah dia memastikan tidak ada siapun gadis itu menutup kembali pintu apartemennya.
Emily masih berdiri ketika dengan penasaran membuka kotak itu, seketika matanya terbelalak, mukanya memucat dan tubuhnya gemetar.
"Ya Tuhan, Dylan!" Teriakan Emily terdengar begitu ketakukan.
"Em, ada apa? Apa semua baik-baik saja?" Dylan terlihat khawatir ketika mendengar teriakan dan melihat perubahan sikap Emily yang drastis, dia menghampiri gadis yang masih berdiri mematung dengan tangan gemetar memegang sebuah kotak.
"Hei, ada apa?” Tanya Dylan sambil berjalan mendekati Emily yang masih mematung, tapi langsung mengumpat setelah melihat apa isi kotak itu, “Oh, sial!" Dylan mengambil kotak itu dari tangan Emily yang gemetar lalu menariknya dalam pelukan, Dylan dapat merasakan tubuh gadis itu gemetar ketakutan di dalam pelukannya.
Dylan memerhatikan isi kotak itu, terlihat foto Emily dan Alexa yang sedang tersenyum bahagia saling berangkulan, disebelahnya berdiri Daniel yang merangkul bahu Alexa dengan senyumnya yang menggoda, dan orangtua mereka duduk di depan mereka. Foto keluarga itu akan terlihat seperti keluarga bahagia andai saja tidak ada tulisan dengan darah diatasnya.
'Mata dibalas mata, kau telah menghancurkan keluargaku, maka aku akan menghancurkan keluargamu.'
******