
"Kau mau pergi sekarang?" Dylan bertanya setelah ia melihat Calista turun dari tangga rumah mereka dengan mengenakan pakaian one piece berwarna merah selutut, pakaian itu terlihat pas di badan bagian atasnya dan mengembang di bagian bawahnya, ia mengenakan high heel dengan warna senada dan coat putih tersampir di bahunya.
"Iya, Theo sudah menungguku di butik," jawab Calista sambil berjalan ke arah kakaknya yang tengah duduk sambil menonton acara olah raga di televisi LED raksasa yang berada di ruang keluarga.
"Ayah Theo sudah memerintahkan beberapa orang untuk ikut denganmu, dan jangan lupa bawa telepon genggammu!" Perintah Dylan yang membuat Calista tersenyum.
"Aku sudah membawanya," jawab Calista sambil mencium pipi Dylan lalu pamit pergi.
Calista menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Dylan dengan wajah serius, "Apa kau tidak apa-apa ditinggal sendirian?" Tanya Calista mengingat semua orang tengah pergi.
"Well, Calis, secara harfiah aku tidak sendiri. Kau lihat para pengawal yang mengelilingi rumah ini?" Jawab Dylan sambil meringis yang membuat Calista tersenyum.
"Baiklah... jangan melakukan hal-hal aneh ok!"
Dylan memutar bola matanya dan ia sudah membuka mulutnya untuk menjawab adiknya itu, ketika ia mendengar suara lembut yang sangat ia rindukan.
"Tidak usah khawatir, aku akan memastikan kalau Kakakmu tidak melakukan hal aneh itu," ucap Emily sambil berjalan memasuki ruang keluarga yang bernuansa putih, dengan sofa besar warna coklat lembut dimana Dylan tengah duduk berselonjor diatasnya.
"Oh, syukurlah kau datang, Em," ucap Calista sambil berjalan menyambut Emily lalu memeluknya.
"Pergilah, aku akan menemaninya sampai kalian pulang."
"Baiklah, aku pergi sekarang."
"Hati-hati, ok?"
"Pasti," jawab Calista sambil berlalu dari hadapan mereka.
Dylan tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang langsung di sambut Emily dengan senang hati.
"Untunglah kau datang cepat, kalau tidak aku akan mati karena bosan."
Emily duduk dipangkuan Dylan, tangannya merangkul leher kekasihnya itu lalu mengecup bibirnya singkat, yang langsung saja diprotes pria itu.
"Ayolah, Cupcake, itu bukan ciuman!"
"Tentu saja itu ciuman."
"Itu hanya kecupan!"
"Kau baru saja di operasi, Dylan."
Dylan memutar matanya, "Itu hampir satu bulan yang lalu, aku sudah pulih total."
Emily hanya menatap Dylan dengan lembut, "Kau tetap masih harus beristirahat," ujarnya sambil berusaha berdiri tapi Dylan memeluknya dengan sangat erat.
"Cupcake, walaupun aku masih terluka, yang terluka itu kepala dan dadaku saja, bagian tubuhku yang lain masih sangat-sangat sehat," ucap Dylam sambil menyurukan kepalanya di leher Emily yang membuat gadis itu tertawa.
Dylan mulai menciumi leher, rahang, pipi dan akhirnya ia menemukan bibir Emily yang sangat ia rindukan. Beberapa saat mereka berciuman dengan lembut dan semakin lama ciuman Dylan semakin menuntut yang membuat Emily sedikit kewalahan, sampai akhirnya telepon genggam gadis itu berbunyi.
"Dylan, aku harus mengangkat telepon," ucap Emily diantara ciuman-ciuman Dylan yang menggoda.
"Abaikan saja!" Perintah Dylan sambil kembali mencium Emily. Sampai akhirnya gadis itu mendorong pundak Dylan agar menjauh.
"Aku harus mengangkatnya atau mereka akan sangat khawatir," ujar Emily sambil turun dari pangkuan Dylan, tapi kekasihnya itu tidak membiarkannya menjauh begitu saja, ia merangkul pinggang Emily hingga mendekat.
"Hallo, Em, apa yang sedang kau lakukan, kenapa kau lama sekali?" Suara Alexa langsung terdengar ketika Emily meengangkat teleponnya.
"Tidak ada," jawab Emily sambil berusaha menjauhkan Dylan dari dirinya.
"Em, kenapa suaramu seperti itu?"
"Tidak.. tidak ada apa-apa."
"Jangan katakan kau sedang bersama Dylan."
"Hmm.. aku sedang bersama Dylan," jawab Emily sambil menatap Dylan yang kini tengah tersenyum menggoda.
"Lexa, apa kau masih di sana?"
"Eh-hmm, ya aku di sini, ok, aku tak akan mengganggu kalian lebih lama. Em, apa kau masih menyimpan buku sketsaku yang tertinggal di apartemenmu waktu itu?"
"Iya, aku menyimpannya di apartemenku."
"Oh syukurlah, bolehkan aku ke apartemenmu untuk mengambilnya?"
"Tentu saja, Lexa, itu juga masih apartemenmu. Oh iya, aku menyimpannya di rak buku."
"Ok, aku akan mengambilnya sekarang.. dan Em, selamat bersenang-senang, tenang saja aku tak akan mengatakannya pada Mom."
"Lexa, kami tidak sedang melakukan apa-apa!"
"Ya.. ya.. tentu saja. Bay the way, Em, Dylan baru saja sembuh, jangan terlalu 'hot', ok?"
"LEXA!" Teriak Emily yang membuat Dylan terlonjak menjauh karena kaget, sedangkan Alexa selamat dari teriakan Emily karena lebih dulu menutup teleponnya.
"Apa yang dikatakan adikmu, hingga membuat wajahmu merah seperti apel?"
"Bukan apa-apa," jawab Emily sambil berdiri, "Aku rasa aku perlu minuman yang sangat dingin," lanjut Emily sambil berjalan menuju dapur.
Emily kembali dengan membawa satu gelas jus apel yang ia temukan di dalam lemari es keluarga Regan, ia kembali duduk di samping Dylan yang tengah menonton televisi.
"Bagaiman harimu, Em? Apa kau melihat seseorang mencurigakan mengikutimu?" Dylan bertanya sambil duduk miring menghadap Emily.
"Hmm.. tidak ada, kalupun ada para pengawal yang kalian tugaskan mengawalku pasti sudah menangkapnya."
Dylan mengangguk mendengar jawaban Emily, ia yakin sesuai prediksi Alex dan Max kalau penjahat itu tidak akan berani melukai mereka tanpa rencana yang tersusun rapi tapi mereka juga tidak boleh lengah dan menurunkan pengawalan karena orang itu bisa datang kapan saja. Satu bulan dari kecelakan yang menimpa Dylan waktu itu, tidak ada lagi kejadian-kejadian yang mencurigkan dan orang itu telah menghilang bak di telan bumi, pihak kepolisian sudah menetapkan James Montana alias Hunter sebagai tersangka dari kasus upaya pembunuhan terhadap Dylan, tapi sampai hari ini belum ada petunjuk yang mengarah kepada keberadaannnya.
"Hallo," Dylan menjawab teleponnya yang berbunyi.
"Dylan, apa Calista sudah pergi? Aku sudah berada di butik tapi dia tidak ada," suara Theo terdengar cemas di seberang sana.
"Dia sudah pergi dari tadi, apa kau sudah meneleponnya?"
"Teleponnya tidak aktif."
"Apa maksudmu dengan tidak aktif?" Tanya Dylan dengan nada khawatir, jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang memikirkan adiknya, Emily yang tengah menonton televisi langsung mengalihkan pandangannya ke arah Dylan setelah mendengar nada cemas dari pria yang kini telah duduk tegang.
"Aku akan mencoba menelepon Peter, supir Calista."
"Hubungi aku kalau kau sudah ada kabar ok!" Pinta Dylan dengan tegas yang langsung disetujui Theo.
Dylan mulai berjalan mundar mandir dengan tegang menunggu kabar dari Theo mengenai Calista. Teleponnya kembali berdering yang langsung diangkatnya.
"Sial, Dylan, teleponnya tidak diangkat!" ujar Theo dengan putus asa, jantung Dylan kembali berdetak kencang, dia dapat merasakan ada yang salah telah terjadi dengan adiknya itu.
"Aku akan menghubungi Gerard untuk melihat dimana posisinya saat ini," ucap Dylan lalu memutuskan sambungan teleponnya dengan Theo.
Dylan sedang berusaha mencari no telepon Gerard ketika teleponnya kembali berbunyi, tapi kali ini dari no yang tidak ia kenal, untuk beberapa saat ia hanya menatap layar teleponnya dengan alis berkerut, dadanya berdetak kencang, setelah berusah menenangkan detak jantungnya dengan perlahan ia mengangkat telepon itu.
"Hallo," ujar Dylan dengan suara pelan, keheningan selama beberapa saat membuat aura ketegangan menyelimuti ruangan itu, Emily yang menyadari ada sesuatu yang salah sedang terjadi berdiri mendekati Dylan yang kini telah memucat seperti mayat, matanya melotot seperti mau keluar ketika ia menatap Emily, rahangnya mengeras, dan ia bisa melihat tangan pria itu bergetar hebat menahan emosi.
Setelah beberapa saat akhirnya Dylan menutup teleponnya, Emily bisa melihat sorot cemas dan ketakutan hebat di mata hijau milik kekasihnya itu.
"Dylan, ada apa?" Tanya Emily pelan, tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dylan, ia hanya menatap Emily sesaat masih dengan sorot mata yang sama. Tangannya yang gemetar kembali mencari-cari nama seseorang diteleponnya, dan mengumpat ketika siapapun yang ia hubungi belum mengangkat teleponnya.
"Sial, Alex, kenapa kau sangat lama!" Teriaknya ketika akhirnya Alex, orang yang ia hubungi mengangkat teleponnya.
"******** itu berhasil mendapatkan mereka!" seru Dylan dengan penuh amarah, "Dia berhasil mendapatkan Calista dan... Alexa," ucap Dylan sambil menatap Emily yang kini telah memucat dan langsung terduduk setelah mendengar ucapan Dylan kepada Alex.
"Dia mengira Alexa adalah Emily," lanjut Dylan lirih sambil merangkul tubuh Emily yang kini mulai bergetar hebat.
*****