The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 38



Detak jarum jam mengisi kesunyian lorong rumah sakit tepatnya di depan ruang operasi, sudah lebih dari empat jam Dylan berada di dalam dan lampu merah di atas pintu itu masih menyala menandakan bahwa proses operasi belum berakhir. Kurang lebih dua jam lalu dokter telah berhasil mengatasi pendarahan di otak, saat kejadian Dylan memakai sabuk pengaman tetapi sayang hal itu tidak dapat menghindari benturan ke samping sehingga kepalanya mengenai kaca jendela dan menyebabkan pendarahan di dalam.


Keadaannya tidak akan terlalu parah andai saja kendaraannya tidak di hatam truk hingga tak berbentuk, posisi Dylan terjepit kemudi hingga menekan dada yang menyebabkan salah satu tulang rusuknya patah dan melukai paru-paru, para dokter specialis bedah Thorax saat ini sedang melakukan operasi untuk mengatasi masalah yang membuat nyawa Dylan hampir saja melayang.


Semua orang menunggu dengan perasaan cemas di depan ruangan itu, Emily terlihat sembab air matanya seolah terkuras habis, wajahnya pucat pasi seolah tak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya, dia tengah bersiap tidur ketika Daniel menerobos kamarnya dengan wajah pucat, bagai tersambar petir Emily langsung ambruk ketika mendengar kabar itu, orangtua mereka hendak ikut ke rumah sakit tapi Daniel melarang dan berjanji akan memberi kabar mengenai keadaan Dylan.


Keluarga Theo telah berada di sana ketika Emily dan Daniel datang, Calista dan ibu Theo paling terlihat menderita, mereka tak berhenti menangis dan ketika melihat Emily, tangis itu kembali pecah. Berbeda dengan istrinya Mr. Regan terlihat lebih tegar, dia seperti tengah memberi perintah kepada beberapa pengawal kepercayaannya, wajahnya terlihat serius, walaupun gestur tubuhnya terlihat tenang tapi berbeda dengan sorot mata dan penekanan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya yang penuh amarah.


Theo terlihat berjalan mundar-mandir di ruang tunggu yang terlihat mencekam, ketika matanya menangkap sosok Emily yang setengah berlari menuju mereka, ia langsung menyambutnya dengan pelukan hangat yang membuat gadis itu tak kuasa lagi menahan derasnya airmata, suara tangisan Emily terdengar menyayat siapa saja yang mendengar, Theo menengadahkan kepala untuk menahan airmatanya sendiri, tangannya mengelus kepala Emily dengan penuh kasih sayang.


Berjam-jam duduk di depan ruang operasi tanpa kabar tentang kemajuan kondisi terbaru dari orang yang kita sayangi membuat semua orang hampir gila, sampai akhirnya lampu merah itu mati dan pintu ruang operasi di buka, semua orang langsung berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan dengan masih mengenakan pakaian operasi lengkap berwarna biru.


"Bagaimana keadaan putra saya?" Mr. Regan langsung bertanya tanpa basa basi, semua orang dengan cemas menunggu jawaban dari dokter pria berumur empat puluhan itu yang kini tengah membuka masker dan penutup kepala operasinya.


"Operasinya berjalan lancar," ucap dokter kepala specialis bedah Thorax yang membuat semua orang menghembuskan napas lega penuh dengan rasa syukur.


"Putra anda seorang pria yang kuat, tadi kami hampir saja kehilangannya tapi syukurlah semua bisa teratasi," lanjut sang dokter memberikan sedikit penjelasan mengenai proses operasi yang menghabiskan waktu hampir lima jam itu.


"Pasien akan segera kami pindahkan keruang ICU untuk proses selanjutnya, salah satu dari keluarga bisa menjenguknya tapi jangan terlalu lama," setelah memberikan penjelasan dokterpun pamit meninggalkan sekerumunan orang yang kini mulai terlihat tak sepucat tadi.


*****


"Hei, pemalas, ini sudah hari ke lima kenapa kau belum bangun juga?" Emily duduk di samping tempat tidur Dylan sambil menggenggam sebelah tangannya yang terbebas dari selang inpus, alat bantu pernapasan masih menempel menutup hidung mancungnya, kepalanya di lilit perban serta alat perekam jantung masih menempel di dada yang terhubung langsung dengan mesin EKG yang mengeluarkan bunyi bip dengan nada konstan sebagai tanda kalau jantung pria itu masih berdetak normal.


"Apa kau sangat lelah sampai malas untuk bangun?" Emily kembali berkata sambil menatap Dylan yang penuh dengan selang dan kabel yang menempel ditubuhnya, kata dokter yang menangani kondisi Dylan sudah stabil hanya tinggal menunggu pria itu siuman. Jadi dua hari lalu Dylan dipindahkan ke ruang rawat inap walaupun masih dengan peralatan lengkap, setiap malam bergiliran Theo, Daniel, Alex dan Gerard menjaganya di rumah sakit, sedangkan di luar beberapa orang pengawal pribadi selalu berjaga di depan pintu tak mengijinkan sembarang orang bisa masuk keruangan VVIP itu.


Mr. Regan telah membatalkan pesta pertunangan Theo dan Calista yang rencanakan akan diadakan akhir pekan ini, Emily seperti halnya Calista dan Mrs. Regan selalu menyempatkan diri datang setiap hari untuk melihat kondisi Dylan, biasanya mereka akan berada di sana sampai salah satu dari para pria itu menyuruhnya pulang untuk beristirahat.


"Apa kau tahu kalau kau sangat egois?" Emily bertanya sambil berdecak, "Bagaimana bisa kau masih belum sadar sedangkan aku di sini sangat merindukanmu?" Ia terdiam beberapa saat berusaha menetralkan luapan emosi yang kembali hadir, tidak ia telah berjanji tidak akan menangis lagi, Dylan sudah melewati masa kritisnya sekarang kekasihnya itu hanya sedang tertidur, jadi kenapa ia harus sedih? Yang harus dia lakukan hanya memberi semangat supaya Dylan cepat terbangun dari tidurnya.


"Kau tahu, Ibumu dan Calista selalu menangis setiap melihatmu tapi aku tidak! Aku hebatkan? Aku tahu kau tidak suka melihatku menangis, makanya aku tak akan menangis," Emily tersenyum getir lalu mencium tangan Dylan yang ia genggam dengan kedua tangannya.


"Apa sebenarnya yang tengah kau mimpikan sampai kau belum bangun juga? Apa mimpimu indah?" Emily kembali bertanya, matanya menatap Dylan yang terlelap dengan sorot mata nanar.


"Seindah apapun itu cuma mimpi, Dylan, kehidupan nyata jauh lebih indah. Memang kadang kita menangis, tertawa, terluka, merasa sakit, sedih dan bahagia tapi itulah hidup." Emily membuang napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya kembali.


"Aku mohon bangunlah, Dylan, aku sangat merindukanmu. Tidak, bukan cuma aku tapi semua, Theo, orangtuamu, Calista, Alexa, Daniel, Gerard bahkan Alex, kami merindukanmu, Dylan... jadi bangunlah," ucap Emily sambil kembali mencium tangan Dylan, untuk sesaat ia hanya terdiam, kepalanya menunduk bertumpu kepada kedua tangannya yang menggenggam tangan Dylan, dalam hati ia berdoa meminta pria itu agar cepat sadar dan kembali bisa bercengkarama, tertawa bersama dengan dirinya.


*****


"Bagaimana, sudah ada perkembangan?" Theo langsung bertanya ketika melihat Alex memasuki ruangan rawat inap Dylan, malam ini ia akan menemani saudaranya itu tidur di rumah sakit, sedangkan Calista sudah ia antar pulang bersama dengan Emily dan ibunya. Alex menjatuhkan tubuhnya di atas sofa krem yang ada di ruangan itu.


"Belum... sial! Dia seperti hilang tertelan bumi," ujar Alex sambil membuang napas berat, tangannya memijit pelipis kepalanya, ia cukup lelah secara mental maupun fisik untuk menangkap penjahat yang telah membuat temannya berbaring tak sadarkan diri selama beberapa hari ini.


Theo ikut terdiam memikirkan semuanya, Hunter, orang yang bertanggung jawab membuat Dylan seperti sekarang ini telah merencanakan semuanya dengan matang, ia mengetahui letak blind spot di Times Squer yang ramai sehingga aksinya terhindar dari CCTV pengawasan NYPD, untung saja ada CCTV toko yang merekam aksinya ketika menabrak kendaran Dylan sampai tak berbentuk, sehingga bisa dijadikan barang bukti.


"Apa sebenarnya motive dari semua ini? Apa Dylan memiliki musuh?" Pertanya Alex itu membuat Theo menatapnya sejenak.


"Ayolah, Alex, kau mengenal Dylan dengan baik seperti apa dia sebenarnya. Dia orang baik tak mungkin memiliki musuh," ucapan Theo itu disetujui Alex yang menganggukan kepalanya.


"Kau benar, tapi kita tidak mengetahui pikiran semua orang, siapa tahu ada seseorang yang memendam dendam kepadanya selama ini," Theo terdiam mendengar ucapan Alex, mencoba mengingat siapa tahu ada yang terlewat olehnya selama ini, "Tapi yang jelas orang itu pastilah orang kaya karena bisa membayar pembunuh bayaran seprofesional ******** itu," lanjut Alex yang membuat Theo menatapnya seolah-olah telah menemukan sesuatu yang besar.


"Group Royal!" Seru Theo dengan semangat, "Bukankah selama ini mereka selalu mengikutinya?" Alex memandang Theo beberapa saat kemudian duduk tegak sebelum mulai berbicara.


"Kami telah menyelidikinya, tapi sampai saat ini belum ada bukti kuat yang bisa menjadikan mereka tersangka."


"Sial!" Umpat Theo sambil meninju pinggiran sofa.


"Satu-satu jalan adalah menangkap ******** itu, baru kita bisa mengetahui siapa dalang di balik semua ini."


Mereka kembali terdiam seolah-olah menemukan jalan buntu, bagaimana mereka bisa menangkap Hunter sedangkan keberadaannya saja tidak diketahui di mana.


"Apa tidak ada cara memancingnya keluar dari tempat persembunyian?" Theo bertanya dengan putus asa, mereka belum bisa merasa tenang sebelum penjahat itu meringkuk di penjara, Alex terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan temannya itu.


"Kalau dia mengetahui targetnya masih selamat, dia akan berusaha untuk menuntaskan pekerjaannya," ucap Alex membuat mereka berdua menatap kearah tempat tidur dimana Dylan tengah terbaring tak bergerak.


"Bagaimana keadaannya? Apa sudah ada perkembangan?" Alex bertanya sambil berjalan mendekati tempat tidur rumah sakit.


"Belum, dokter mengatakan kondisinya sudah stabil hanya menunggu ia tersadar saja," jawab Theo sambil ikut berjalan di belakan Alex.


Mereka berdua berdiri di samping tempat tidur menatap Dylan yang tak bergerak, beberapa saat mereka hanya terdiam tak ada sepatah katapun yang keluar, membuat suara mesin perekam jantung bergema di seluruh ruangan berwarna putih itu.


*****