The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 47



"Sial, kita kehilangannya!" Seru Theo sambil menatap sekeliling museum, dia dan Alex terakhir melihat Dylan adalah berada di dekat patung Merelin Monroe yang berusaha menutup roknya dari terpaan angin. Alex ikut mengumpat di samping Theo, matanya tetap fokus menatap sekeliling, tapi tak tampak ciri-ciri dari pria yang mereka kenal, sampai akhirnya Alex melihat pintu khusus karyawan lalu ia mengerutkan keningnya mencoba memikirkan kemungkinan yang ia pikirkan.


Alex menepuk lengan Theo memberi tanda untuk mengikutinya, mereka memasuki lorong sepi itu sampai akhirnya samar-samar mereka mendengr suara pintu lift terbuka. Mereka mempercepat jalannya ke arah suara tapi sayang lampu lift menunjukan kalau benda kotak itu bergerak ke bawah.


"Ayo!" Perintah Alex sambil berlari ke arah pintu tangga darurat yang berada tak jauh dari lift, mereka berlari menuruni tangga-tangga dan akhirmya sampai di lantai dasar. Dengan perlahan Alex yang berada di depan membuka pintu stanles itu dengan posisi siaga, tangan kanannya mengeluarkan pistol untuk melindungi dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang menyambut mereka di belakang pintu, tapi area parkir itu tampak sepi, Alex hanya melihat belakang sebuah mobil box berwarna terang berbelok keluar dari area parkir menuju keramayan kota New York, dan ketika ia memandang sekeliling ia melihat telepon Dylan yang tergelak tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Sial!!"


*****


Kurang dari satu jam mobil yang membawa Dylan berhenti di depan sebuah bangunan yang terpencil. Bangunan itu bercat merah muda terang dengan gambar anjing dan kucing yang terlihat aneh dengan giginya yang bersinar, Elizabeth's Pet Shop tulisan itu terpampang di kaca depan bangunan itu. Dylan di giring ke arah rumah yang terletak tepat di sebelah bangunan itu dengan dua orang pria tengah berjaga didepannya. Rumah yang cukup nyaman dengan tanaman-tanaman yang dirawat sempurna oleh seseorang penyayang flora dan fauna yang Dylan tebak bernama Elizabeth. Pintu depan terbuka menampakan ruangan keluarga yang luas dengan sedikit perabotan sebagai hiasan hanya menampakan satu set sofa dimana dua orang pria tengah duduk dengan nyaman, dan beberapa pria yang sepertinya anak buah mereka berdiri dengan siaga di sekelilingnya.


"Well.. well.. akhirnya kau datang juga, David. Sudah lebih dari dua puluh tahun aku tak melihatmu," ucap pria paruh baya dengan setelan jas mahalnya yang kini berdiri menatap Dylan dengan menyelidik, matanya berwarna abu-abu, hidungnya bengkok seperti burung gagak, rambut hitamnya yang mulai beruban tersisir rapi kebelakang yang mengingatkan Dylan kepada para mafia Itali di dalam film.


"Kau lupa padaku?" Tanyanya setelah melihat Dylan mengerutkan kening menatapnya.


"Dimana mereka?" Dylan tak menggubris pertanyaan pria itu yang kini menatapnya dengan alis terangkat. Setelah melihat ancaman dari mata Dylan, ia menatap pria satunya lagi yang masih duduk di atas sofa.


"Bawa dia menemui mereka, aku akan memberi mereka waktu sebelum aku berbicara serius dengannya," perintah pria itu sambil menatap Dylan dengan sorot mata serius. Tanpa banyak bertanya pria bermata hitam dan beralis tebal itu langsung berdiri dan berjalan mendekati Dylan yang terbelalak melihat pria itu dari dekat, ia mengingat mata dan alis itu. Dia adalah pria yang berada di depan rumah mereka pada malam sebelum kecelakaan dua puluh tahun lalu, pria itu berada di dalam mobil bersama Dylan dan Ibunya sebagai pengawal.


"Kau!" Seru Dylan membuat pria itu berhenti lalu menatap Dylan dengan dingin, tinggi badannya hampir sama dengan Dylan, matanya tajam, rahangnya kokoh, ada luka baru dipipinya, badannya tegap dengan warna kulit kecoklatan, menandakan ia sering bekerja di luar ruangan dan terkena sinar matahari.


"Kau mengingatku?" Suaranya dalam, sama seperti suara yang tadi Dylan dengar di telepon.


"Kau yang membunuh, Ibuku!" Teriak Dylan sambil berusaha memukul pria itu, tapi tubuhnya di tahan oleh beberapa pria berbadan kekar di belakangnya, semua orang langsung siaga dengan mengokang senjatanya ke arah Dylan yang masih meronta. Hanya dengan mengangkat tangan kiri, pria itu memerintahkan semuanya untuk kembali tenang.


"Aku hanya menjalankan perintah, dan seharusnya kau mati saat itu," ucapnya dengan mata menghujam mata Dylan yang penuh dengan amarah.


"Tapi tidak usah khawatir, aku akan menuntaskan tugasku dua puluh tahun lalu hari ini," lanjutnya sambil menepuk pipi Dylan kasar.


"Bawa dia ke belakang!"


Dylan diseret keluar dari rumah itu menuju halaman belakang dimana terdapat sebuah bangunan dari kayu yang berfungsi sebagai gudang. Pintu gudang itu terbuka dan Dylan dilemparkan ke dalam bangunan itu.


Dylan mendengar suara yang teredam dari ujung gudang, dengan cepat dia berlari ke ujung dimana Calista dan Alexa berada dengan mulut di sumpal, kaki serta tangan mereka diikat ke kursi lipat yang kereka duduki.


"Ya Tuhan! Kalian tak apa-apa?" Tanya Dylan dengan cemas, mereka berdua mengangguk dengan cepat sebagai jawaban, secepat kilat ia melepaskan semua ikatan dari keduanya, yang langsung saja berhamburan memeluk Dylan setelah terlepas dari ikatan yang membuat pergelangan tangan mereka memerah.


"Tidak usah khawatir, yang lainnya sedang mencari kita. Kau meninggalkan petunjuk yang tepat, Lexa," ucap Dylan sambil tersenyum menatap Alexa yang juga tersenyum walau matanya memperlihatkan ketakutan yang sama dengan adiknya, tapi sahabatnya itu sedikit lebih tegar dari adiknya yang kini mulai berurai air mata walaupun tanpa suara, dan itu membuat Dylan bangga karena mereka berdua tidak histeris memperlihatkan ketakutan mereka layaknya perempuan-perempuan pada umumnya.


"Orang-orang yang mengawalku, mereka adalah anak buah penjahat itu yang ditugaskan mengawasi kita dan menculikku," jelas Calista setelah merasa lebih tenang, berusaha memberi tahu kenapa dirinya bisa dengan mudah di culik dari pengawalan yang ketat.


"Sial! Itulah sebabnya mereka bisa dengan gampang menculikmu."


Calista mengangguk dengan cepat membenarkan kesimpulan Dylan yang kini tengah menatap Alexa yang terlihat berantakan dengan beberapa memar di wajahnya.


"Aku baru masuk ke dalam apartemen Emily ketika seseorang berusaha membekapku dari belakang. Aku meginjak kakinya menggunakan ini," ucap Alexa, bibirnya tersenyum sambil menunjuk sepatu boothnya yang berhak tinggi dan runcing terbuat dari besi, melihat itu Dylan ikut tersenyum .


"Aku menggunakan apa saja yang tanganku bisa gapai untuk melawan mereka semua, termasuk semprotan pewangi ruangan yang sukses membuat mereka kewalahan beberapa saat, lalu aku memukul mereka menggunakan payung," Dylan mengernyit ketika mendengar kata payung, "Hei, hanya itu yang bisa aku lihat saat itu," ucap Alexa berusaha membela diri, "Tapi payung itu berhasil melukai pipi pria dengan alis tebal," lanjut Alexa sambil tersenyum bangga.


"Kau yang membuatnya terluka?" Tanya Dylan dengan mata membelalak.


"Iya, tentu saja," jawab Alexa bangga yang membuat Dylan tersenyum, "Tapi itu membuatnya murka, ia memukul pipiku dengan sangat kencang hingga aku terjatuh menabrak lemari buku, tapi tak cukup sampai di sana dia mengangkatku lalu melemparku ke arah ke dinding," suara Alexa mulai bergetar mengingat kejadian yang membuatnya membayangkan kalau ia akan mati saat itu.


"Sial! Aku akan membunuhnya, Lexa! Kau lihat saja aku akan membunuhnya," seru Dylan dengan suara menggeram penuh amarah setelah mengetahui apa yang telah ******** itu lakukan kepada sahabatnya.


Dylan memeluk Alexa yang dalam diam mulai meneteskan air mata, bagaimanapun ia adalah seorang perempuan yang merasakan ketakutan setengah mati, tapi ia harus tetap kuat dan berpikiran tenang agar bisa mencari jalan keluar dari sana dengan selamat.


"Sangat mengharukan," suara berat seorang pria menginterupsi ketiganya dan membuat semua orang memandang ke arah pintu. Cahaya senja di luar membuat ketiganya tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang baru saja memasuki gudang itu. Sampai akhirnya ia dan beberapa pria yang mengekor di belakangnya berjalan semakin ke dalam, membuat wajah mereka terlihat jelas.


Dylan mengenali beberapa dari mereka adalah para pengawal yang seharusnya menjaga Calista tapi ternyata mereka adalah penghianat, satu orang pria dengan alis tebal yang Dylan kenali sebagai Hunter serta pria paruh baya dengan hidung seperti burung gagak yang dari gaya dan kekuasannya ia yakini adalah dalang dari semua kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya. Yang lebih mengagetkan Dylan, di antara mereka berdiri seorang wanita dengan payudara sebesar buah semangka, Dylan pernah beberapa kali bertemu dengannya di The Rock, cafe milik Max.


"Paman.. Thomas?" Suara Calista yang serupa bisikan membuat Dylan terkejut dan menatap adiknya yang kini memucat, mata birunya menatap lurus ke arah pria dengan hidung bengkok itu.


"Apa kabar, Calista, sayang?" Jawab pria itu sambil berjalan dengan tenang ke arah mereka.


"David, apa kau tidak mengenalku? Bukankah ingatanmu sudah kembali?" Ucap pria yang baru Dylan ketahui kalau dia adalah pamannya, adik sepupu Ayahnya. Dylan hanya terdiam menatap pria itu yang kini tersenyum dingin kearahnya.


"Aku adalah Thomas, Pamanmu dan apa kau mengenalnya?" Tanya pria itu sambil menunjuk gadis di sampingnya yang mengenakan pakaian ketat dan mantel bulu-bulu yang tidak di kancingkan, Alexa yakin kalau kancing mantel itu akan copot kalau dipaksakan menutup di bagian dadanya.


"Dia adalah, Suzane, Sepupumu."


"Hallo, Sepupu," sapa gadis itu dengan suara manja yang membuat ketiganya hanya bisa menganga tak percaya.


****


Alex dan Theo kini berkumpul di depan 42nd street, bersama dengan beberapa polisi lainnya, setelah menyisir ke dalam museum lilin dan tidak menemukan jejak Dylan selain telepon miliknya yang tergelerak di tempat parkir, mereka meyakini kalau Dylan tak berada lagi di tempat itu, dan kenyataan itu membuat keduanya terlihat frustasi.


Theo terlihat berantakan, dia menelepon semua pengawal yang di tugaskankan ayahnya untuk mencari Dylan dan yang lainnya, tapi sampai saat ini belum ada yang berhasil mengetahui keberadaan ketiganya, dan itu membuatnya berteriak sambil menendang ban mobil polisi yang terparkir di depannya.


Tak jauh berbeda dengan Theo, Alex memaki semua polisi yang ia tugaskan untuk mengawasi jalanan di sekitar 42nd street tapi tak satupun yang menemukan jejak Dylan, rambutnya terlihat berantakan, wajahnya mengeras, ia berjalan mundar mandir menunggu kabar terbaru dari siapapun yang bisa memberikan titik terang tentang keberadaan mereka bertiga.


Alex mengangkat teleponnya dengan tidak sabar ketika melihat nama Gerard muncul di latar teleponnya.


"Aku harap kau memberiku kabar baik," ucap Alex tanpa basa basi setelah mengangkat teleponnya.


"Iya, aku mengetahui dimana mereka!"


*****