The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 39



Waktu menunjukan pukul sepuluh pagi ketika Emily berlari menyusuri koridor rumah sakit, ia tak memedulikan tatapan orang-orang disekelilingnya ia terus berlari, pandangannya mulai kabur karena air matanya yang tak bisa lagi dibendung, dadanya berdegup hebat, tanpa berhenti dengan kasar ia mengusap airmata menggunakan punggung tangannya.


Langkahnya mulai memelan ketika ia melihat beberapa orang pria lengkap dengan stelan resmi berwarna hitam tengah berdiri di depan ruang VVIP tempat dimana Dylan di rawat selama ini. Emily terdiam beberapa saat mencoba menetralkan detak jantung dan menormalkan kembali napasnya, dengan tergesa-gesa ia mengusap airmata yang masih tersisa, setelah beberapa kali menarik napas panjang lalu membuangnya akhirnya Emily mulai berjalan menuju ruangan 502. Dia berusaha berjalan dengan tenang, berbeda dengan jantungnya yang kembali berdetak dengan cepat tapi kali ini ia tak memedulikannya, ia terus berjalan sampai akhirnya berhenti di depan pintu berwarna coklat itu, untuk terakhir kalinya ia membuang napas panjang sebelum tangannya dengan gemetar mulai membuka pintu secara perlahan, segala macam emosi bercampur ketika akhirnya pintu itu terbuka lebar.


Dan disanalah pria yang selama ini ia rindukan berada, tengah duduk bersandar di atas tempat tidur, mata hijaunya yang selama ini terpejam kini menatapnya dengan lembut, sebuah senyuman manis menghiasi bibirnya. Emily hanya berdiri di ambang pintu menatap kekasihnya dengan emosi yang bercampur aduk, matanya mulai kembali berkaca-kaca.


"Hai, Cupcake, apa kau tak merindukanku?" Walau terdengar lemah, tapi suara itu merupakan suara yang paling indah yang ia dengar selama ini.


Emily sudah tak bisa menaham diri lagi, ia berlari ke dalam pelukan kekasihnya sambil terisak tak memedulikan semua orang yang berada di ruangan itu, yang hanya bisa tersenyum memaklumi melihat perilaku gadis itu yang kini tengah menangis dengan tersedu-sedu dalam pelukan Dylan yang berusaha menenangkannya.


"Sudah jangan menangis lagi, aku baik-baik saja," ucap Dylan pelan berusaha menenangkan Emily yang masih terisak.


"Baik-baik saja! Kau bilang baik-baik saja!" Seru Emily sambil melepaskan dirinya dari pelukan Dylan, ia kini menatap lelaki dihadapannya dengan berapi-api, berbeda dengan Dylan yang kini menatap gadis itu dengan bingung.


"Bagaimana bisa kau bilang baik-baik saja? Kau harus menjalani operasi selama lima jam, dan itu lima jam yang membuat kami semua gila! Kepalamu, dokter membuat lubang di kepalamu untuk mengeluarkan darah dari otakmu, dan dadamu, dokter bahkan membelah dadamu itu dan setelah itu kau tertidur selama hampir seminggu."


"Lima hari, Em, dia koma selama lima hari," sela Theo sambil tersenyum yang membuat Emily memelototkan matanya menatap Theo yang malah mengedipkan matanya sebelah.


"Tidur, Theo, dia hanya pemalas yang tidak mau bangun bukan koma," ujar Emily menatap Theo galak, dia akan membantah semua orang yang mengatakan Dylan terbaring koma, dia lebih menyukai kalau Dylan hanya tertidur bukan koma.


"Kau benar, Em, dia memang pemalas," ucap Theo sambil meringis menatap Dylan yang hanya bisa tersenyum lemah melihat semuanya.


Emily kembali menatap Dylan dengan serius, "Jadi sekarang kau tahu, Dylan, kalau kau tidak baik-baik saja?" Dylan hanya bisa mengangguk sambil tersenyum menatap Emily.


"Dan aku mohon jangan tertidur selama itu lagi, Dylan, aku tak sanggup melihatmu hanya terbaring seperti itu dengan kabel di seluruh tubuhmu dan bunyi bip-bip dari mesin sialan itu hampir membuatku gila," ucap Emily sambil menunjuk mesin EKG yang kini telah mati.


"Maafkan aku telah membuatmu khawatir," Dylan berkata sambil meletakkan tangannya di pipi gadis itu, ia tersenyum menenangkan kekasihnya yang tengah merajuk, "Aku berjanji ini terakhir kalinya," lanjut Dylan sambil menarik Emily ke dalam pelukannya, ia sedikit meringis ketika merasakan tubuh gadis itu mengenai bekas operasi didadanya, tapi ia tak menghiraukan rasa sakit itu, bisa memeluk gadis itu kembali merupakan sebuah keajaiban baginya.


Ia ingat ketika kendaraannya menghantam tiang listrik ia masih bisa bersyukur karena tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya, tapi ketika lampu kendaraan dari arah samping menyorot membutakan matanya yang masih terjebak di dalam dan hanya dalam hitungan detik kendaraan itu menghantam kendaraan miliknya hingga terberputar-putar di atas aspal sebelum akhirnya menghantam tembok sebuah toko, ia bisa merasakan darah mengalir di kepala dan tusukan hebat di dada yang membuatnya kesulitan bernapas, dan dalam keadaan seperti itu yang berkelebat di pelupuk matanya adalah senyum dan tawa Emily sebelum akhirnya kegelapan menyelimuti dirinya.


Suara dehem Mr. Regan menyadarkan mereka berdua, Emily langsung melepaskan pelukannya sambil tertunduk malu ia tersenyum lalu berdiri menghadap orangtua angkat kekasihnya itu.


"Maafkan saya, Sir," ucap Emily pelan dengan pipi memerah.


"Tidak apa-apa, Emily, aku mengerti. Tapi Dylan baru saja sadar tiga jam lalu dan dokter langsung melakukan serangkaian tes, jadi aku pikir dia masih perlu banyak istirahat," ucap Mr. Regan dengan bijak setelah melihat kondisi putranya yang terlihat masih sangat lelah.


"Ya tentu saja. Dylan, lebih baik kau kembali tidur tapi jangan terlalu lama ok?" Emily menatap Dylan dengan sorot penuh ancaman yang ditanggapi pria itu dengan anggukan dan senyum manis khas miliknya.


Sebelum Dylan kembali merebahkan tubuhnya, ia menatap Calista yang berdiri di samping Theo, walaupun bibirnya tersenyum bahagia tapi Dylan bisa melihat matanya sembab karena menangis.


"Sekarang... dia baik-baik saja," jawab Calista setelah bisa berbicara.


"Jadi, apa kau tak mau memeluk Kakakmu?" Tanya Dylan sambil merentangkan tangannya yang membuat tangis Calista kembali pecah, dia berlari kedalam pelukan kakak yang selama ini ia rindukan, sedangkan Theo dan Emily hanya bisa menganga tak percaya.


"Kau mengingatnya? Kau telah mengingatnya?" tanya Calista di sela-sela tangisnya di dalam pelukan Dyan.


"Iya, aku mengingatnya," jawab Dylan lembut, "Maafkan aku, karena selama ini telah melupakanmu," lanjut Dylan yang langsung membuat Calista menggelengkan kepala.


"Tidak, itu bukan salahmu," ujar Calista sambil mengeratkan pelukannya yang membuat Dylan kembali meringis tapi ia bisa mengerti keadaan adiknya itu yang selama ini seperti haus akan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya, ia besar di asrama dalam setahun ia hanya bertemu ayahnya beberapa kali saja dan ia kehilangan ibu serta kakaknya ketika masih kecil.


"Tunggu dulu, bagaimana bisa kau menjadi, Kakaknya?" Tanya Theo sambil menarik Calista dari pelukan Dylan.


"Karena dia memang Kakakku, dia David McArthur, pewaris sah group Royal," ujar Calista yang kembali memeluk Dylan seperti anak kecil yang tak mau lepas dari pelukan ibunya. Emily dan Theo saling pandang tak percaya tapi ketika mata mereka menatap Mr. Regan yang mengangguk membenarkan hal itu, membuat mulut keduanya menganga semakin lebar.


"Jadi, Dylan adalah David? Kakakmu yang kau bilang tampan itu?" Lanjut Theo sambil kembali menarik Calista yang terlihat cemberut karena terlepas dari pelukan kakaknya.


"Iya, Dylan adalah David, David adalah Dylan, dan dia memang sangat tampan," ujar Calista sambil tersenyum memandang Dylan dan hampir saja kembali ke dalam pelukannya kalau saja Theo tidak menahan pundak gadis itu hingga susah bergerak.


“Kau memeluknya terlalu kencang, dia masih terluka,” ucap Theo mengingatkan Calista tentang bekas operasi di dada kakak.


“Ya Tuhan... maafkan aku!” Seru Calista dengan wajah menyesal menatap Dylan yang sedang tersenyum menatapnya.


“Tidak apa-apa, aku bahagia bisa memeluk adikku lagi setelah duapuluh tahun, walaupun kau belum berubah tetap saja menjadi gadis cengeng.”


“Hei!” Protes Calista sambil cemberut yang membuat Dylan dan yang lainnya terseyum.


"Aku sudah mendengarnya dari Dr. Reid kalau kau sudah mengingat semuanya," ucap Mr. Regan sambil menatap Dylan yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata menyelidik seolah-olah mencari sesuatu di balik mata pria yang telah menjadi ayahnya duapuluh tahun terakhir ini.


"Sepertinya kau mengharapkan penjelasan dariku, Nak," Dylan mengangguk menjawab pertanyaan Mr. Regan.


"Aku akan menjelaskannya nanti setalah kau cukup beristirahat."


"Aku telah menunggu ini selama duapuluh tahun dan aku telah tertidur selama lima hari, istirahatku sudah lebih dari cukup, Sir," ucap Dylan sambil menatap Mr. Regan dengan keyakinan penuh, dan hal itu membuat pria paruh baya itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala.


"Baiklah kalau itu maumu. Bisa tinggalkan kami berdua?" Pertanyaan yang lebih berupa perintah itu langsung disetujui semua, Calista memeluk Dylan untuk terakhir kalinya lalu memberikan kecupan di pipi sebelum bergabung dengan Emily dan Theo yang kini berjalan meninggalkan ruangan tanpa banyak bertanya, ketika pintu ruangan itu tertutup maka terbukalah rahasia yang selama duapuluh tahun ini terkunci dengan rapat.


****