The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 55



Emily menutup teleponnya lalu berjalan ke arah sofa dimana Dylan tengah duduk sambil nonton televisi.


"Apa yang kau tonton?" Emily bertanya sambil duduk disamping Dylan dan bersandar di dada kekasihnya itu.


"Seri FBI," jawab Dylan, tangannya merangkul Emily yang kemudian ikut fokus menatap televisi.


"Bukankah dia sangat cantik?" Emily bertanya ketika sosok perempuan berambut merah muncul di layar televisi.


Dylan mengangguk sebagai jawaban, "Aku tak percaya Daniel mengenalnya dan menyembunyikannya dari kita," ucap Dylan sambil berdecak.


Emily mengangguk membenarkan hal itu, mereka baru mengerahui kalau anak sulung keluarga Winchester itu mengenal Kerelyn Howard, artis cantik yang sedang naik daun karena aktingnya sebagai anggota FBI di seri televisi yang menduduki rating tertinggi setiap minggunya dalam kategori seri televisi Amerika.


"Calista berencana mengundangnya pada acara tunangan nanti, apa menurutmu dia akan datang?"


"Entahlah, apa dia tidak sibuk? Kita akan meminta Daniel untuk mengundangnya nanti," jawab Dylan sambil mengelus rambut hitam Emily, acara pertunangan Calista dan Theo lagi-lagi harus ditunda karena kejadian penculikan itu. Mereka bisa saja tetap melaksanakannya tapi mereka tidak mau mengadakan pesta disaat Alexa, orang yang paling berjasa dalam menyelamatkan nyawa kakak beradik McArtur itu masih terbaring di rumah sakit.


Emily mengubah posisi duduknya menjadi berbaring di atas pangkuan Dylan, "Siapa yang kau hubungi tadi, Cupcake?"


"Daniel, aku menanyakan kondisi, Lexa."


"Dia sudah jauh lebih baik sekarang,"


"Aku tahu, tapi dia tetap harus banyak istirahat. Ya Tuhan, aku tak percaya Alex selalu mengganggu dan melarangnya tidur!"


Dylan terdiam beberapa saat mengingat kejadian disaat mereka mengetahui gadis itu tertembak, dia ingat bagaimana terpuruknya Alex saat itu, "Kau salah, Cupcake," bisik Dylan yang membuat Emily mengalihkan pandanganya dari televisi ke wajah kekasihnya yang matanya tengah menerawang lurus ke depan.


"Apa yang salah?" Emily menatap Dylan bingung.


"Pikiranmu salah mengenai, Alex."


Emily mengerutkan alisnya bertambah bingung, ia lalu kembali duduk menghadap Dylan yang masih tersenyum.


"Apa maksudmu?"


"Kau berpikir dia hanya mengganggu Lexa dengan melarangnya tidur." Dylan merangkul Emily kembali kedalam pelukannya, "Itu tidak benar, dia hanya takut Lexa tidak bangun lagi," lanjut Dylan sambil mencium pucuk kepala Emily.


"Maksudmu, dia mengkhawatirkan Lexa?" Tanya Emily masih terlihat bingung.


"Semua orang mengkhawatirkannya, Cupcake, tapi Alex berbeda, disaat semua orang mengungkapakan kekhawatiranya dengan menyuruhnya beristirahat setiap saat, dia lebih memilih bertengkar dengannya karena dengan begitu dia tahu kalau Lexa baik-baik saja, dia lebih suka melihat Lexa menatapnya marah daripada melihat matanya itu terpejam dan tidak merespon ketika ia panggil, ia lebih suka mendengar suara Lexa yang memarahinya daripada mulutnya yang terkatup rapat." Dylan mengambil napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Karena kau tidak ada di sana ketika Lexa terkulai tak sadarkan diri dengan bersimbah darah, kami memanggil namanya bahkan memaki tapi ia hanya diam tak bergerak, dan itu sangat mengerikan, Cupcake." Dylan memeluk Emily dengan erat, "Hampir sama mengerikannya ketika melihatmu tertembak waktu itu."


"Dan hampir sama ketika aku melihatmu hanya terbaring tak sadarkan diri selama lima hari," bisik Emily sambil balik memeluk erat kekasihnya yang mengangguk membenarkan.


Mereka terdiam dengan tubuh saling memeluk, larut dalam keheningan yang terasa begitu bermakna untuk saat ini, mencoba menikmati kebersamaan mereka yang berharga dan bersyukur atas kehidupan yang mereka terima.


"Cupcake?"


"Hmm."


"Aku mungkin akan pergi selama beberapa hari."


Emily terperanjat, matanya menatap Dylan dengan kaget, "Kau akan pergi?"


"Iya," Dylan menatap Emily sorot matanya memancarkan keyakinan tinggi, "Aku, akan menemui Ayahku."


Tangannya kembali memeluk tubuh kekasihnya, tapi pikirannya menerawang melintasi lautan dimana pria yang berstatus ayah kandungnya berada. Apa yang akan ia ucapakan? Itu yang ada dalam pikirannya, hanya sedikit kenangan yang ia miliki dengan ayahnya itu. Dylan membuang napas berat berusaha mengurangi rasa gugup yang mulai menyerang dirinya.


*****


Dengan dada berdetak hebat Dylan berdiri di depan sebuah pintu kamar berwarna coklat dan di balik pintu itulah ayahnya berada. Ia berusaha mengatur napasnya supaya jantungnya kembali berdetak normal. Setelah beberapa kali manarik napas akhirnya ia memantapkan hati membuka pintu itu.


Perlahan pintu terbuka semakin lebar, dan dengan perlahan Dylan berjalan memasuki kamar besar bernuansa putih, cahaya masuk dari dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan asri pegunungan Skotlandia, sebuah sofa berwarna coklat muda berada di depan dinding kaca raksasa itu terlihat nyaman dan akan memanjakan siapapun yang duduk di sana untuk menikmati pemandangan alam yang terpampang luas dihadapanya, sebuah meja ukir berada di depannya lengkap dengan vas berisi bunga warna warni yang di tata dengan cantik.


Sebuah tempat tidur dari kayu lengkap dengan lemari ukir zaman Victoria menghiasi ujung satunya lagi, dimana seseorang berbaring di atasnya, terlihat seperti tengah tertidur dengan nyaman berselimutkan kain tebal bermotif abstrak warna coklat muda dan putih dengan hiasan sulaman benang emas.


Dylan melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, dadanya kembali berdetak hebat sekaligus merasa sesak seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya. Beberapa saat pria bermata hijau itu hanya terdiam mengamati sosok dihadapanya yang terlihat damai.


Pria berumur di penghujung usia lima puluh itu memiliki hidang mancung sedikit bengkok akibat patah, rahangnya kokoh, tulang pipinya sedikit tinggi, alisnya tebal dan rambutnya yang tertata rapi sedikit beruban hanya menambah kharismanya semakin kuat sebagai seorang aristokrat sejati dan Dylan yakin ketika pria itu masih sehat ia akan memiliki aura seorang pemimpin yang berkharisma.


"Hallo, Sir," sapa Dylan dengan suara pelan seolah takut membangunkan pria itu yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.


"Maafkan aku karena baru datang menemuimu sekarang," lanjutnya sambil duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Tapi sayang tidak ada balasan dari ayahnya, yang terdengar hanya suara konstan dari mesin EKG yang terhubung dengan pria itu melalui alat yang dijepitkan ke jari telunjuk tangan kirinya.


Dylan terdiam beberapa saat, ia menatap monitor mesin yang menandakan kalau jantung ayahnya itu masih berdetak, "Semua sudah berakhir, Sir," ucapnya memecah keheningan, "Para b*j*ng*n yang bertanggung jawab menghancurkan keluarga kita, semua sudah tertangkap dan aku berjanji akan membuat mereka membusuk di penjara seumur hidupnya," lanjut Dylan sambil menatap wajah ayahnya.


"Jadi kau bisa bangun sekarang," Dylan mengambil napas berat, "Apa badanmu tidak pegal tidur selama beberapa bulan ini?" Dylan tersenyum ketika mengingat Emily mengomelinya karena koma selama lima hari, "Kalau kau bertemu Emily, dia pasti akan memarahimu habis-habisan... Emily, dia kekasihku mungkin kau mengetahuinya sebagai sahabatku, tapi sekarang dia kekasihku. Dia gadis yang sangat baik walaupun sedikit ceroboh," Dylan kembali tersenyum mengingat kekasihnya itu, "Aku akan mengenalkannya kepadamu suatu hari nanti. Dan Calista, dia baik-baik saja walaupun kemarin dia sempat mengalami hari yang berat karena b*j*ng*n itu, tapi kini dia telah kembali seperti biasa."


Dylan mencondongkan badannya supaya lebih dekat menatap ayahnya yang masih tak bergerak, "Dia tidak bisa ikut bersamaku sekarang, dia sedang sibuk menyiapkan acara pertungannya yang sempat tertunda. Tidak usah mengkhawatirkannya, dia berada di tangan yang tepat, Theo tunangannya Calista adalah seorang pria baik yang bertanggung jawab, kami tumbuh bersama jadi tidak ada yang akan aku percayai untuk menjadi pendamping adikku selain Theo, dan aku yakin kaupun akan berpikiran sama, karena dia seorang Regan dan kita sangat memercayai keluarga Regan melebihi siapapun." Dylan tersenyum mengingat bagaimana gugupnya ia tadi dan lihat sekarang, dia berbicara tanpa henti seolah kegugupannya menguap begitu saja.


"Dad," nada suara Dylan bergetar ketika memanggil ayahnya ‘Dad” untuk pertama kalinya, "Kau harus cepat bangun, dan menjadi pendamping untuk putri kecilmu nanti ketika berjalan menuju altar."


Hening kembali menyelimuti ruangan itu, dengan sedikit ragu Dylan menggenggam tangan ayahnya, "Maafkan aku karena telah melupakanmu selama ini. Maafkan aku karena baru datang sekarang untuk menemuimu dan... terima kasih karena telah melindungiku dan Calista selama ini, terima kasih karena telah memberikanku keluarga pengganti yang hebat seperti keluarga Regan." Dylan mengambil napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Terima kasih banyak karena kau masih bertahan sampai sekarang... terima kasih karena tetap hidup,” ucap Dylan tulus dengan sorot mata lembut menatap Ayahnya yang tak bergerak. Beberapa saat keheningan menyelimuti ruangan itu, tidak ada kata yang terucap dari mulut keduanya, hanya suara konstan dari mesin perekam jantung yang mengisi ruangan itu.


Dengan gugup Dylan berdiri sambil kembali mengatur napasnya, "Aku harap kau segera bangun dan ikut denganku untuk menghadiri pertunangan Calista," ucapnya sebelum akhirnya berjalan menuju pintu. Beberapa saat ia terdiam mematung menatap tubuh ayahnya mengharapkan keajaiban yang tak kunjung datang dan akhirnya perlahan ia menutup pintu kamar dimana Richard McArtur terbaring koma.


Tapi tanpa Dylan ketahui setelah dirinya menutup pintu kamar sebuah keajaiban tengah teterjadi, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir jari Richard McArtur bergerak.


*****


Penjara Federal kota New York pagi hari dimulai dengan sarapan bersama di dalam sebuah ruangan luas yang hanya terdapat kursi-kursi dan meja-meja panjang yang berderet, dimana Thomas tengah duduk di antara tahanan lainnya lengkap dengan seragam tahanan berwarna biru dan dengan jijik berusaha memasukan sarapannya ke dalam mulut. Ia baru saja hendak mengunyah suapan pertamanya ketika dirasakan seseorang duduk di hadapanya, dan ketika ia mengangkat kepalanya disanalah pria dengan alis tebal dan luka di pipi tengah duduk santai menatapnya.


"Kau," ucapnya sambil mendengus mengejek ketika mengenali pria dihadapannya sebagai tentara bayaran yang ia sewa, "Ternyata kaupun berhasil mereka tangkap."


Hunter kini menatapnya dengan sorot mata tajam, "Apa kau sudah mengirimkan uangku?" Tanyanya santai sambil memasukan satu sendok nasi dan sayur yang terlihat mengerikan.


Thomas kini balik menatapnya tajam, rahangnya mengeras, "Kau," bisiknya dengan suara menggeram, "Aku sudah terlalu banyak membayarmu selama ini," Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Hunter yang menatapnya santai, "Dan tugasmu untuk melenyapkan mereka telah gagal, jadi jangan harap aku akan membayarmu walau pun hanya seperser. Apa kau paham?" Lanjutnya sambil berdiri dan membawa nampan makanannya pergi meninggalkan Hunter yang masih mengawasinya dengan tatapan bak seekor Elang.


Hari menjelang malam ketika Thomas berdiri di bawah pancuran kamar mandi terbuka penjara, tempat semua kekerasan berada, seperti saat ini seseorang tengah menghajar tahanan lainnya sampai ia harus diseret keluar oleh sipir penjara, tapi Thomas tak peduli di sini ia bukanlah siapa-siapa selain tahanan baru yang akan menjadi sasaran empuk para tahanan lama apabila ia mencari masalah.


Kamar mandi itu mulai sepi dan ia baru akan keluar dari pancuran ketika seseorang dengan terpincang-pincang mendekatinya dan dalam hitungan detik, orang itu telah memeluk Thomas yang matanya terbelalak, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, pria dengan luka di pipi itu kini semakin mempererat pelukannya, tangannya memegang pisau yang tadi ia curi dari dapur yang semakin dalam menghujam tepat di jantung Thomas yang sudah tak bergerak.


"Sampai jumpa di neraka," bisiknya lalu pergi meninggalkan Thomas yang ambruk dengan pisau masih tertancap di dada. Ia membiarkan air tetap mengalir hingga mengenai tubuh yang kini terbujur kaku menjadikan genangan air berwarna merah oleh darah.


*****