
"Dylan sudah melakukan hal yang benar dengan dia mengakui kalau dia mencintaimu." Emily menundukan wajahnya yang memerah, Daniel bisa melihat gadis itu mencoba menahan senyumnya, seperti gadis remaja yang sedang merasakan cinta monyet, "Dan aku yakin kau pun mencintainya."
Emily sudah membuka nulutnya ketika dia melihat Daniel kembali melotot dengan sebelah tangan diangkat meminta dia untuk tidak melanjutkan bantahannya.
"Aku pernah melihatmu tertidur dengan nyaman dalam pelukannya." Wajah Emily kembali memerah. "Katakan padaku, apa kau akan senyaman itu tidur dalam pelukan Theo, Alex atau mungkin Gerard?" Emily meringis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan hal itu. "Apa kau menyadarinya, Em, di antara mereka semua kau telah memilih Dylan untuk tempat kau bersandar."
Emily terdiam memikirkan hal itu, yang dikatakan Daniel memang benar secara tidak langsung dia telah memilih Dylan.
"Apa kau takut kalau semua gagal maka kau akan kehilangan sahabat baikmu?" Emily mengangguk lemah "Dengar, Em, tidak akan ada yang mengetahui apa yang terjadi di masa depan," Daniel menatap Emily dengan lembut sebelum melanjutkan perkataannya, "Nikmatilah apa yang terjadi saat ini, jangan jadikan masa depan sebagai beban dan jangan sia-siakan kesempatan yang ada di depan mata atau kau akan menyesal." Emily terdiam merenungkan perkataan kakaknya itu.
"Pernahkah kau bayangkan, Dylan bersama dengan perempuan lain?" Emily mengerutkan keningnya tidak menyukai pikiran itu, "Apa kau akan membiarkan hal itu?"
Emily kini paham arah pertanyaan kakaknya, dia menggelengkan kepala, dengan membayangkannya saja hatinya sudah terasa sakit dan dia tidak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi.
"Em, jangan tanyakan mengenai perasanmu kepada kepala dan logika karena hanya akan menghasilkan penyangkalan, tapi tanyakanlah pada hati karena perasaan lahir dari hati bukan dari kepala," Daniel tersenyum sambil memandang Emily dengan penuh kasih sayang, "Apa kau paham sekarang?" Emily mengangguk menjawab pertanyaan Daniel.
"Kau boleh berbicara sekarang, Em." Daniel kembali tersenyum melihat adik kecilnya kini telah tumbuh dewasa, ya Tuhan, dia belum siap kehilangan adik kecilnya itu.
"Aku tak tahu kau bisa berkata seperti itu," Emily tersenyum sambil meringis menatap kakaknya yang kini tertawa mendengar ucapan adiknya.
"Jadi apa kau sekarang akan menyangkal perasaanmu?"
Emily terdiam beberapa saat, mencoba bertanya pada hatinya seperti yang disarankan kakaknya, dan jawabannya membuat jantungnya berdebar kencang. Selama ini dia telah berusaha menyangkalnya dengan segala logika yang dia pikirkan untuk mendukung penyangkalannya yang sia-sia itu, tapi sekarang? Tidak, dia tidak bisa membayangkan dia harus melewati hari-harinya tanpa Dylan disisinya, ya dia mencintai pria itu bahkan sebelum hatinya sendiri meyadarinya.
"Tidak, aku tak akan menyangkalnya." Emily tersenyum sebelum melanjutkan perkataannya, "Aku mencintainya, Daniel." pipinya memerah tapi dia merasa lega seperti beban yang menghimpit dadanya selama ini seolah terangkat.
"Bagus, karena aku tak akan mempercayai pria lain untuk menjagamu selain dia," Daniel tersenyum menatap Emily yang juga tersenyum cerah mendengar kata-kata kakaknya.
"Jangan katakan padanya, tapi aku menyukainya dan aku senang kau memilihnya," Daniel berbisik ketika mengatakan hal itu.
"Sudah terlambat Kakak ipar, aku mendengarnya."
Daniel dan Emily berbalik kebelakang ke arah suara berat milik pria yang kini tengah berjalan dengan santai dengan senyum miring menggoda khas miliknya.
"Sejak kapan berdiri di sana?" Daniel bertanya sambil berdiri dari kursi santai.
"Cukup lama untuk mendengarkan pembicaraan kalian,"
Dylan kini telah berdiri di dekat Emily yang mukanya memerah, tanpa merasa canggung dia mencium Emily yang terlihat kaget, "Hei, Cupcake, bagaimana keadaanmu?" Emily baru tersadar dari kagetnya yang langsung memukul tangan Dylan sambil menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Jangan menciumku di depan Daniel!"
"Kau baru mengatakan kalau kau mencintaiku di depannya, Em."
Wajah Emily kini memerah menyadari Dylan mendengar pengakuannya tadi.
"Jadi kau tak usah malu lagi." Dylan tersenyum melihat wajah gadis itu yang kini semakin memerah.
"Ya Tuhan, aku benci mengetahui adikku sudah bisa berciuman." Daniel mengomel sambil berjalan meninggalkan pasangan itu yang kini tertawa mendengar omelan Daniel.
"Aku juga menyukaimu, Kakak ipar!" Dylan berteriak yang membuat Daniel berhenti dari langkahnya lalu berbalik menatap Dylan dengan sorot mata membunuh.
"Jangan memanggilku Kakak ipar!" Setelah mengatakan itu dia kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
Dylan masih tertawa ketika dia duduk di samping Emily kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya secara perlahan karena takut mengenai bekas luka tembaknya, "Sekarang kau tidak bisa menyangkalnya lagi, Cupcake," Dylan tersenyum sambil menatap Emily dengan sorot mata penuh cinta.
"Yeah, aku tak akan menyangkalnya sekarang, tapi dengar, Dylan," Emily menatap Dylan dengan serius sebelum melanjutkan perkataannya, "Jangan berani-berani meninggalkanku atau berkhianat dari ku, kalau sampai itu terjadi, aku bersumpah akan meminjam pistol Alex dan menembakmu, kau dengar?"
Dylan tertawa mendengar ancaman Emily, "Itu tak akan terjadi, kalau itu terjadi aku yakin Daniel dan yang lainnya akan menembakku terlebih dulu."
"Mereka harus antri dibelakangku," Emily tersenyum memandang pria yang sudah menjadi kekasihnya itu mesra.
"Jadi, katakan padaku sekarang."
"Apa?"
"Kau sudah mendengarnya tadi."
"Aku ingin kau mengatakannya lagi."
"Itu terlalu panjang, aku lupa apa saja yang aku ucapkan tadi.”
"Oh ayolah, Cupcake."
"Baiklah."
“.......”
"Em, aku menunggumu."
"Apa?"
"Ya Tuhan, Em, kau membuatku gila!"
"Berhenti menggigit leherku."
"Katakan atau aku tak akan berhenti."
"Baiklah.. Dylan, berhenti atau aku tak akan mengatakannya."
"Cepat katakan!"
" Aku mencintaimu, Dylan Alexander."
"Aku juga mencintaimu Emily Winchester."
"Berhenti tersenyum bodoh seperti itu."
"Aku tersenyum karena mukamu seperti tomat."
"Maksudmu mukaku bulat seperti tomat?!"
"Maksudku mukamu memerah seperti tomat dan aku ingin memakannya."
"Tapi tomat bulat, apa aku sekarang gemuk?"
"Tidak, kau tidak gemuk, Cupcake,"
"Tapi tadi kau bilang mukaku seperti tomat!"
"Kalian berdua, berhenti bertengkar dan cepat masuk, mereka menunggu kalian untuk makan malam."
"Theo, apa aku bulat seperti tomat?"
"Demi Tuhan, bukan itu maksudku, Cupcake."
"Kau tidak seperti tomat, Em, kau seperti apel."
"Ya Tuhan, apel lebih besar daripada tomat! Apa aku sebulat itu?"
Dylan terlihat putus asa menghadapi kekasihnya yang keras kepala dan akhirnya ia mencium Emily dengan rakus sampai gadis itu terdiam dan mulai membalas ciuamannya.
Dengan napas masih terengah Dylan menghentikan ciumannya lalu dengan suara serak dia berkata,"Dengar, Cupcake, berhenti membahas tomat dan apel atau aku akan menciummu sambil menggendongmu ke dalam rumah dan mendudukanmu di meja makan, apa kau paham?" Emily mengangguk dengan lemah karena masih linglung akibat ciuman dahsyat dari Dylan tadi.
"Bagus, sekarang ayo kita masuk ke dalam sebelum yang lainnya mencari kita." Dylan memapah Emily yang masih berjalan menggunakan tongkat karena luka tembaknya belum sembuh total.
****