The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 11



Amily tengah serius bergelut dengan pekerjaannya, matanya fokus menatap laptop dihadapanya, sesekali dia mengalihkan pandangan ke atas kertas yang berserakan di atas meja apatemennya. Dylan dengan setia menemaninya, dia berbaring dengan santai di sofa kuning yang ada di ruangan itu, sedangkan Emily duduk bersila di bawah. Rambutnya yang di kuncir kuda memerlihatkan pemandangan leher jenjangnya yang membuat Dylan berimajinasi kreatif khas laki-laki.


Dylan mendengus kasar lalu memejamkan matanya mencoba menghilangkan imajinasinya tentang leher Emily. Dari mulai menciuminya, menjilatnya sampai menggigitnya, dia mengerti sekarang kenapa vampire sangat menyukai menggigit leher, jadi jangan pernah menyalahkan vampire ok!


"Dylan, hentikan!"


Setelah beberapa jam menunggu dan tidak ada tanda-tanda kalau gadis itu akan menghentikan pekerjaannya, Dylan mulai mengganggunya dengan cara meniup pelan leher dan kuping gadis itu yang sukses membuat Emily merinding menikmati sensasi geli yang dia rasakan.


"Ayolah, Em, aku sudah menunggumu dari tadi, tidak bisakan kau menunda pekerjaanmu sampai hari senin? Demi Tuhan, Em, besok hari minggu, bagaimana bisa kau bekerja pada malam minggu seperti ini!" Dylan berdiri dari sofa dan berjalan menuju lemari pendingin, mengambil sekaleng soda dan kembali duduk di sofa, Emily masih duduk bersila di bawah dengan mata masih fokus ke arah laptop.


"Aku harus menyelesaikan ini secepatnya."


Mendengar itu Dylan kembali mendengus lalu memposisikan kakinya di samping kiri kanan tubuh Emily, dan kedua tangannya di kedua pipi gadis itu lalu menariknya sehingga Emily menengadah ke atas, matanya membulat lebar ketika menyadari jarak muka dirinya dengan Dylan sangat dekat.


"Dengar, Em, aku akan memberikanmu waktu lima menit untuk mematikan laptop sialan itu, kalau tidak aku akan menciummu, apa kau mengerti?" Suara Dylan terdengar pelan dan serak, matanya berubah gelap ketika menatap mata amber Emily yang mengerjap-ngerjap, "Em, apa kau mengerti?" Dylan mengulang pertanyaannya yang langsung di jawab anggukan oleh gadis itu, "Bagus." Dylan mencium bibir Emily dengan sangat lembut, sebelum akhirnya melepaskan gadis itu yang terlihat bingung.


"Hei, kau bilang lima menit!" Protes Emily setelah sadar dari keterkejutannya menerima ciuman dari Dylan yang hanya tersenyum mendengar protes Emily sambil meminum sodanya sampai habis.


Emily tidak bisa kembali fokus kepada pekerjaannya, jantungnya berdebar sangat kencang, dia merasakan pipinya memanas dan ada perasaan aneh yang merambat dihatinya. Sialan! Bagaimana mungkin dia bisa kembali bekerja setelah ciuman tadi? Dengan putus asa akhirnya Emily menyerah, dia mematikan laptop dan membereskan berkas-berkasnya yang berserakan di meja.


Emily berjalan menuju dapur lalu membuka lemari pendingin dan langsung menghabiskan satu botol air mineral dingin dalam sekali teguk, berharap air itu dapat menurunkan panas dipipinya dan meredakan debaran jantungnya.


"Ok, aku sudah selesai, jadi apa yang akan kita lakukan?" Emily duduk disamping Dylan yang tersenyum penuh kemenangan, "Hentikan seringai bodohmu itu, sebelum aku menendangmu." Dylan tertawa mendengar ancaman Emily, tapi kemudian berhenti setelah melihat gadis itu cemberut.


"Baiklah kau yang akan menentukan. Pertama, kau akan berganti pakaian dan kita akan pergi berkencan di luar."


"Hei, kita tidak sedang berkencan!" Protes Emily dengan sia-sia karena tidak digubris Dylan.


"Mulai saat ini kita berkencan, Em." Dylan mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan Emily yang hendak protes, "Atau kau pilih yang kedua, kita akan tetap di sini tapi aku tidak bisa berjanji kalau aku tidak akan menciummu lagi, bahkan mungkin bisa lebih dari sekedar ciuman." Dylan berkata dengan suara pelan dan seraknya, ujung jarinya menyentuh leher gadis itu dengan ringan dan sukses mengirimkan aliran listrik ke seluruh tubuh Emily.


Dylan dapat melihat Emily menelan ludahnya dengan kasar, sebelum akhirnya gadis itu berdiri, "Aku akan berganti pakaian!" dan secepat kilat berlari menuju kamarnya.


Melihat hal itu Dylan kembali tersenyum, lalu berjalan menuju lemari pendingin dan mengahabiskan satu botol air dingin. Ternyata bukan hanya Emily yang merasakan panas di sekujur tubuh akibat ucapannya itu.


*****


Magnolia Bakery, toko yang bergaya tahun 50an itu selalu dipenuhi oleh para turis dari dalam maupun luar negri hanya untuk merasakan cup cakenya yang terkenal, seperti yang dilakukan Emily saat ini, matanya berbinar ketika menatap deretan aneka cup cake beraneka warna di dalam etalase.


"Aku yakin kalau rasanya akan sama saja seperti cup cake yang dijual di toko dekat apartemenmu." Dylan berdiri di samping Emily yang sedang menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan.


"Tidak, Dylan, tidak akan sama. Apa kau tahu kalau toko ini masuk dalam serial Sex and The City? Dan oh, setiap Sarah Jesica Parker makan cup cake di serial itu, aku akan meneteskan air liur membayangkannya." Emily menjelaskannya dengan semangat, seperti anak kecil yang akan mendapatkan mainan gratis, Dylan tersenyum melihat Emily begitu gembira hanya karena cup cake.


"Jadi katakan padaku, setelah ini kita akan kemana?" Dylan mengalihkan pembicaraan dari seputar cup cake dan berharap gadis itu akan memikirkan kencan mereka.


"Entahlah, apa kau ada ide?" Mata Emily masih fokus ke deretan cake mungil itu dan menyebutkan beberapa jenis cup cake yang akan dia bawa pulang kepada salah satu pelayan toko yang tersenyum ramah menyambutnya.


Dylan tersenyum ketika membayangkan kencan yang dia bayangkan akan terlaksana, ketika di depan kasir Dylan menyerahkan kartu berwarna hitamnya untuk membayar semua pesanan Emily.


"Jadi apa kau sudah tahu kita akan kemana?" Emily bertanya ketika mereka berjalan menuju tempat Land Rover Dylan diparkirkan.


"Oh iya aku tahu akan kemana, kau pasti akan menyukainya." Dylan tersenyum sambil terus berjalan di samping Emily, tangan kirinya merangkul bahu gadis itu, sedangkan tangan kanannya menenteng 2 plastik yang berisi 2 lusin cupcake.


"Apa kau sakit, Em?" Dylan mendengar Emily bersin beberapa kali.


"Tidak, aku hanya kedinginan, aku tidak menyangka malam ini akan sedingin ini dan aku lupa membawa jaket." Emily menggosok-gosokan kedua telapak tangannya yang terasa membeku, Dylan merapatkan rangkulannya memberikan sedikit rasa hangat dari tubuhnya.


"Sebentar lagi kita akan sampai ke dalam mobil, aku akan menyalakan penghangatnya untuk mu." Secepat kilat Dylan membukakan pintu penumpang untuk Emily lalu setengah berlari menuju pintu satunya lagi dan langsung masuk kebalik kemudi untuk menyalakan mesin dan penghangat mobil itu.


"Kau sepertinya akan terkena flu, Em," Dylan melihat hidung gadis itu yang memerah lalu mengalihkan pandangannya kembali kejalanan, "Apa kita pulang saja?" Emily mendengar nada cemas dari suara Dylan.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kedinginan." Sebenarnya dia sangat ingin pulang ke apartemennya yang hangat, tapi dia tidak mau mengecewakan Dylan.


"Kau tahu, Em, kita akan melanjutkan kencan kita di dalam apartemen ok? Aku tak mau kau sakit." Emily diam beberapa saat sambil memperhatikan pria yang duduk disebelahnya.


Dylan, pria yang sudah sepuluh tahun jadi sahabatnya, pria yang selalu bisa dia andalkan, pria yang selalu ada di saat dia membutuhkannya, pria yang akan menjaganya dan pria yang kini mencintainya. Ada perasaan takut yang dia rasakan setelah mengetahui perasaan Dylan, apakah hubungan mereka akan berhasil? Apakah akan sama, seandainya gagal? Dia takut kehilangan Dylan, takut kehilangan sahabat baiknya, takut kehilangan salah seorang yang sangat berarti dalam hidupnya, dan yang pasti dia takut kehilangan pria yang dia sayangi.


*****