The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 48



"Paman Thomas, mengapa kau melakukan semua ini?" Calista bertanya dengan suara bergetar, ia belum sembuh dari keterkejutannya mengetahui seseorang yang ia percayai adalah dalang dari kehancuran keluarganya.


"Kau bertanya mengapa?" Thomas menatap Calista dengan tajam, suaranya terdengar sangat dingin. Saat ini mereka bertiga duduk berjejer di lantai dan badan mereka kembali diikat dengan tangan ke belakang, Calista berada di tengah dan Dylan bersama Alexa berada di samping kanan kirinya.


Alexa bisa merasakan tubuh Calista yang bergetar, ia menebak kalau itu lebih disebabkan oleh rasa kecewa karena dikhianati seseorang yang dipercayainya, dari pada rasa takut akibat todongan senjata. Ia juga merasakan ketakutan layaknya semua orang yang ditodongkan senjata di kepalanya, tapi Alexa bersyukur kalau bukan Emily yang berada dalam posisinya saat ini, kakaknya itu pasti akan kembali merasakan ketakutan untuk kedua kalinya setelah sebelumnya ia melewati bahaya karena ancaman dari seseorang yang mau membunuhnya, hingga ia terkena tembakan.


"Ini semua karena Ayahmu!" Teriak Thomas yang membuat Alexa dan Calista terlonjak kaget, "Ayahmu, telah mengambil semua milikku," lanjut pria itu sambil berkaca pinggang berdiri di hadapan mereka bertiga, sedangkan putrinya Suzane, duduk dengan santai di atas kursi dimana tadi Calista dan Emily terikat, ia terlihat malas dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia hanya duduk santai sambil bertumpang kaki dan memainkan kuku-kuku tangannya yang berwarna warni.


"Richard, merebut Samantha dariku. Dia calon istriku dan cinta pertamaku tapi Ayah kalian merebutnya dariku," Thomas berjalan kembali ketempat duduknya di samping putrinya yang tengah duduk dengan santai bak seorang putri.


Thomas mendengus dengan mata masih menatap tajam ketiganya, "Tapi aku sedikit bahagia ketika mengetahui, Richard pergi dari rumah dan meninggalkan semuanya demi wanita itu," ia tersenyum beberapa saat, "Si tua McArtur, Sang Lord, sangat murka mengetahui hal itu dan menghapus nama Richard dari ahli waris Royal, dan aku yakin saat itu hanya aku satu-satunya yang berhak mewarisi semuanya."


"Aku bekerja keras untuk menyenangkan hati pria tua itu dan membuat semuanya menjadi kenyataan, dan... hampir saja menjadi kenyataan, ketika suatu hari tua bangka itu mendengar kalau Richard memiliki seorang putra." Ia kini menatap Dylan dengan tajam dan penuh amarah, "Kau, David. Kau yang menghancurkan semua rencanaku!" Pria itu kembali berteriak sambil membanting kursi yang ia duduki ke arah Dylan dan nyaris saja mengenainya. Dan kali Alexa sedikit bersyukur karena bukan hanya dirinya dan Calista yang ketakutan tapi juga Suzane yang hampir saja jatuh dari kursi.


"Kau, yang menyebabkan ******** tua itu melunak dan memberikan semua warisannya atas namamu dan Richard!" seru Thomas dengan suara menggema, cuping hidungnya kembang kempis, rahangnya mengeras, matanya menatap Dylan dengan tajam, "Aku... Aku yang selalu berada di sisinya ketika anak kesayangannya meninggalkannya... AKU!" Thomas kembali berteriak sambil menepuk dadanya kencang, "Tapi yang ku dapatkan hanya beberapa ponsterling saja," lanjut Thomas dengan suara menggeram, ia kini berjongkok di hadapan Dylan lalu menarik kemejanya hingga kepala keponakannya itu tertarik ke arahnya, "Dan semua karenamu," bisiknya dengan suara dingin penuh amarah.


Thomas kembali berdiri, ia berjalan menjauh dari tawanannya, "Aku berpikir… aah, yang harus aku lakukan untuk mendapatkan semua harta Kakek tua itu kembali adalah dengan melenyapkan kalian semua dari dunia ini," ujar pria itu sambil menatap ketiganya.


"Tapi lagi-lagi rencanaku tak berjalan lancar... Hunter," Thomas berjalan kearah pria beralis tebal yang sedang berdiri dengan kedua tangannya dimasukan kedalam saku celana, "Orang yang aku sewa dengan harga mahal untuk menghabisi kalian semua telah gagal melaksanakan tugasnya," Ia menepuk pundak Hunter yang kini tubuhnya mengeras menahan emosi karena merasa terhina.


"Tapi Ia berhasil membunuh Samantha," lanjutnya dengan enteng yang membuat Dylan berteriak dan meronta.


"Kau! Kau yang telah menyuruhnya membunuh Ibuku!" Teriak Dylan, tapi teriakan amarah Dylan itu hanya membuat Thomas mencibirnya.


"Ya.. aku yang telah menyuruhnya, dan seharusnya kalian berempat mati malam itu," Thomas merasa puas untuk beberapa saat setelah melihat rasa sakit dan marah yang disebabkan oleh ucapannya kepada ketiga orang itu, "Ayahmu seperti orang gila setelah mengetahui istri tercintanya meninggal dan anak laki-lakinya menghilang seperti di telan bumi," Thomas tersenyum seperti iblis yang baru saja terbebas dari neraka.


"Aku merasa tenang untuk beberapa saat, dia memercayaiku untuk mengurus beberapa hal, lalu ia mulai mengirim putri satu-satunya ke asrama, dan ia menarik diri dari dunia. Aku kembali mengurus Royal, ya tentu saja dengan Richard di belakang layar bagaimanapun ia adalah pewaris sah."


Thomas berjalan ke arah Suzane yang tangah menatap mereka dengan pandangan merendahkan, "Sampai suatu hari aku meminta pengacara untuk merubah kepemilikan salah satu hotel group Royal menjadi namaku," Ia mengelus rambut putrinya yang pirang karena dicat itu dengan penuh kasih sayang.


"Tapi pengacara itu mengatakan kalau semua dokumen apapun yang menyangkut aset kekayaan dan kepemilikan group Royal memerlukan tanda tangan dari pewaris sah dan... setempel keluarga McArtur, Thomas kembali membalikan badannya ke arah Dylan yang masih menyimak kisah yang membuatnya harus kehilangan sosok seorang Ibu dan menjauh dari keluarganya sendiri.


"Selama beberapa tahun terakhir ini aku mencari stempel keluarga itu, sampai aku mengetahui dari pengacara keluargamu kalau stempel itu berupa cincin yang biasa dikenakan Sang Lord," Thomas berdiri menjulang di depan mereka bertiga dengan tangan dimasukkan ke dalam saku setelannya yang mahal, ia menatap Dylan dengan tajam, "Dan aku tahu kalau kau memiliki cincin itu, David," lanjut Thomas dengan tenang yang membuat Dylan mengerutkan keningnya mencoba berpikir.


Dylan mengingat cincin pemberian ibunya yang ia kenakan sebagai liontin dan tak pernah melepaskannya walau hanya sesaat. Cincin dengan ukiran-ukiran unik dan bertahtakan zambrud berbentuk prisma segi enam, tapi sekarang ia tidak mengenakannya karena ia telah memberikannya kepada Emily dan meminta gadis itu untuk menjaga satu-satunya peninggalan almarhumah ibunya.


"Jadi cincin itu yang selama ini kalian cari?" Dylan bertanya dengan suara dingin yang membuat Thomas mengangkat alisnya lalu mengangguk.


Dylan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak yang membuat semua orang terlihat bingung, "Kau sia-sia melakukan ini semua, karena aku tidak memiliki cincin itu.. Paman," ucap Dylan sambil tersenyum mengejek yang membuat Thomas membelalakan matanya karena murka.


Ia menjambak rambut Dylan hingga kepalanya mendongak kebelakang, "Dengarkan aku ********, aku tahu kau memilikinya!" Geram Thomas, wajahnya memerah karena emosi, kemudian ia menghentakkan kepala Dylan dengan kasar.


"Aku mendengarnya sendiri ketika Richard berbicara kepada seseorang di telepon, dia mengatakan kalau cincin itu berada di tempat yang aman bersama putranya," Thomas berdiri, lalu memandang Dylan dengan sorot mata merendahkan, "Dari sana aku mengetahui kalau Richard telah membohongiku selama ini. Dia telah menyembunyikanmu dan cincin itu dariku!" Thomas kembali berteriak.


"Aku menyewa beberapa orang untuk melacak keberadaanmu selama ini, tapi selalu berakhir dengan jalan buntu. Sampai akhirnya... Suzane, putri kesayanganku mengatakan kalau dia melihatmu di sini."


Suzane tersenyum licik sambil menatap Dylan dengan mata abu-abu seperti milik ayahnya.


"Aku mengenalimu dengan sekali pandang, David," ucap Suzane sambil mengedipkan sebelah matanya, "Mata hijau dan bekas luka di alis," lanjut wanita itu sambil menunjuk mata Dylan sambil kembali menyunggingkan senyum meremehkannya.


"Suzane sangat yakin kalau pria yang ia temui di cafe adalah sepupunya yang telah menghilang. Dan aku mulai menyelidikimu," ucap Thomas dengan santai.


"Mata hijau, bekas luka di alis, dan anak angkat keluarga Regan... Ckk, itu terlalu banyak kebetulannya, David."


"Aku kan sudah bilang, Dad, aku tak mungkin salah mengenali David, cinta pertamaku," ujar Suzane sambil tersenyum menatap Dylan yang masih terdiam dengan rahang mengeras, dan perkataan wanita itu sukses membuat Alexa mendengus menahan tawa, yang tentu saja langsung membuat Suzane menatapnya dengan geram.


"Tapi seleramu sangat jelek," ujar wanita itu sambil berjalan mendekati Alexa, "Yeah, walaupun dia sekarang lumayan sedikit cantik dengan rambut coklatnya. Tapi badannya terlalu rata, apa perlu aku mengenalkan dokterku padanya?" ujar Suzane dengan semangat sambil membusungkan dadanya yang membuat Calista dan Alexa mengernyit ngeri.


"Jadi itu.. balon?" Tanya Alexa sambil mengernyit yang membuat hampir semua orang di ruangan menahan tawa, kecuali Thomas yang hanya memejamkan matanya sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Terserah kau bilang apa, tapi yang jelas tubuhku tidak seperti papan skateboard," ujar Suzane sambil menatap Alexa dengan mengangkat alisnya, dan tersenyum mengejek.


"Aku lebih baik seperti papan skateboard, daripada setiap membuka bajuku aku melihat di dada kiriku ada tulisan happy birthday dan dada kananku bertulisan happy helloween," ujar Alexa dengan tenang yang membuat semua orang kembali menahan tawanya.


"Kau!" Teriak Suzan dengan wajah merah padam menahan amarah.


"CUKUP!" Suara Thomas menggelegar di seluruh ruangan dan membuat semua orang kembali terdiam.


"Suzane, kau kembali ke tempatmu!" Perintah pria itu dengan suara menggeram yang langsung saja dituruti Suzane tanpa protes, sebelum ia pergi ia membungkukan badannya hingga mendekati wajah Alexa.


Dengan sorot mata penuh amarah ia menatap mata amber milik Alexa, kemudian ia berbisik dengan suaranya yang penuh dengan kebencian, "Ini silikon, bukan balon! Dasar bodoh," Dan ia-pun berlalu dari hadapan Alexa dengan wajah kesal, sedangkan kembaran Emily itu hanya bisa menganga tak percaya kalau ada wanita seperti sepupu Dylan di dunia ini.


*****