The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 49



"Apa kau juga yang memberitahu tentang boneka pemberian David untukku?" Calista bertanya sambil menatap Suzane yang telah kembali duduk di kursinya.


Suzane mengangguk sebagai jawaban, "Malam itu aku menceritakan tentang kita bertiga sewaktu masih kecil, dan aku masih ingat kalau kau mempunyai boneka pemberian dari David yang selalu kau bawa kemana-kemana. Dan Hunter ternyata memiliki ide sendiri dengan boneka itu," ucap Suzane manja sambil menatap Hunter yang hanya diam berdiri menatap Alexa dengan tatapan menyelidik.


Calista terdiam, hatinya kembali terluka, pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang disekelilingnya telah membuatnya seperti tercabik-cabik, ia bahkan baru mengetahui kalau orang yang selama ini ia hormati adalah otak di balik peristiwa yang telah membahayakan nyawa Ayah, Kakak dan dirinya sendiri, bahkan orang itu bertanggung jawab atas kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.


Tubuh Calista kembali bergetar ketika menyadari kalau yang telah membocorkan rahasia masa kecilnya dan membuatnya dalam bahaya beberapa waktu lalu adalah wanita yang mengaku sebagai sepupunya, dan sekarang orang itu ada dihadapannya tengah duduk dengan santainya bak seorang malaikat tak berdosa.


Alexa menyadari kemarahan yang kini dirasakan Calista, "Tenang saja, aku akan memberinya pelajaran yang akan dia ingat seumur hidup," bisik Alexa yang langsung mendapatkan reaksi dari Calista.


"Tidak, dia milikku. Aku yang akan memberi pelajaran baginya!" Calista berbisik dengan suara yang sarat akan kesungguhan yang membuat Alexa mengangguk setuju.


"Kau paham sekarang kalau aku telah mengetahui semuanya, jadi katakan kepadaku dimana cincin itu?" Thomas bertanya dengan nada setenang mungkin, tapi Dylan bisa melihat sorot matanya yang hampir kehilangan kendali. Ia berpikir hanya cincin itulah yang bisa mengulur waktu sampai bantuan datang.


"Cincin itu tidak ada bersamaku saat ini," akhirnya Dylan berkata setelah terdiam beberapa saat memikirkan jalan terbaik untuk menyelamatkan mereka semua.


Dylan bisa melihat kilat kemenangan dalam mata abu-abu pria itu, bibirnya tersenyum merasakan kemenangannya telah di depan mata.


"Dimana cincin itu?"


"Tapi kau harus berjanji padaku. Bebaskan mereka berdua," ucap Dylan dengan tegas yang membuat Thomas terdiam beberapa saat, lalu menganggukan kepalanya.


"Baiklah, aku akan membebaskan mereka, setelah kau memberikan cincin itu."


Dylan menarik napas panjang, "Aku menitipkan cincin itu kepada Ayah angkatku."


"Sial!" Umpat Thomas sambil berjalan kearah Dylan dengan langkah penuh emosi, tangannya mencengkram kerah baju Dylan hingga terangkat.


"Aku akan memintanya membawanya ke sini," ucapan Dylan itu sukses membuat pria yang akan menghajarnya kembali tenang, "Dia pasti akan mengikuti semua perintahmu, demi menyelamatkan kami semua. Aku akan menghubunginya," lanjut Dylan yang membuat Thomas berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk.


"Baiklah, hubungi dia. Ingat tanpa Polisi, dia harus datang sendiri atau aku akan membunuh kalian satu persatu, apa kau paham?"


Dylan mengangguk sebagai jawaban, Thomas mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya lalu menekan no yang disebutkan Dylan.


"Hallo," suara Mr. Regan terdengar dari sepiker telepon pada dering ke dua.


"Dad, ini aku."


"Dylan, apa kalian baik-baik saja?"


"Ya, untuk saat ini kami baik-baik saja. Dad, apa kau ingat cincin peninggalan ibuku yang aku titipkan kepadamu?" Hening beberapa saat, dan Dylan berharap ayah angkatnya itu dapat mengerti dengan rencana yang sedang dia jalankan.


"Cincin bermata zamrud?" Mr. Regan akhirnya menjawab yang membuat Dylan bisa bernapas lega dan ia bisa melihat Thomas tersenyum lebar.


"Iya, cincin itu, Dad. Aku meminta kau membawanya ke sini seorang diri, tanpa siapapun."


Ruangan itu kembali hening untuk beberapa saat menanti jawaban dari pemilik group Regan itu.


"Baiklah, tapi aku memerlukan waktu. Aku menyimpannya di tempat penyimpanan barang-barang berharga di hotel kita."


Dylan menatap Thomas yang sedang berpikir lalu akhirnya ia mengangguk menyetujui untuk memberinya waktu selama dua jam.


"Aku akan mengusahakannya, Nak."


"Baiklah, Dad, kami akan menunggumu."


"Dylan, tunggu sebentar. Tolong katakan kepada Emily, Alex dan teman-temannya telah menemukan dimana Lexi, dan sekarang mereka dalam perjalanan menjemputnya."


Dylan menatap Alexa dan Calista yang mengangguk mengerti arti pesan itu dan dalam hati mereka berharap Alex akan segera datang.


"Baiklah, Dad, aku akan memberitahu Emily," ucap Dylan sebelum telepon itu terputus, Dylan mentap Thomas yang kini tengah berdiri dengan santai dan senyum lebar menghias bibirnya "Aku telah memintanya untuk mengantarkan cincin itu, dan kau telah berjanji untuk membebaskan mereka berdua. Jadi bebaskan mereka!"


Thomas mengangguk sambil menaikan kedua alisnya, "Ya, tentu saja aku akan membebaskan mereka berdua," pria itu menatap Calista dan Alexa secara bergantian, "Setelah cincin itu ada di sini."


Tentu saja Dylan tidak memercayai hal itu, tapi yang bisa ia lakukan saat ini hanya mengikuti permainan Pamannya itu, sampai bantuan datang dan ia yakin kalau Alex dan yang lainnya sudah dekat.


Alexa berdehem dengan kencang hingga menarik perhatian semua orang yang ada diruangan itu.


"Bisakah kau mengijinkan kami ke toilet?" Tanya Alexa dengan tergugup sambil memandang Thomas yang menatapnya dengan malas, sesaat ia menatap Calista yang kini melihatnya dengan sorot mata takut.


"Calista sayang, jangan menatapku seperti itu. Aku tetap Paman Thomas kesayanganmu," ucap pria itu sambil menatap Calista dan tersenyum yang malah membuat gadis itu bertambah muak.


"Jadi.. kau bisa ijinkan kami ke toilet?" Tanya Calista dengan suara bergetar, "Kami janji tidak akan melarikan diri, kami tak akan mungkin lari dan meninggalkan Dylan begitu saja," lanjut Calista sambil terus memperlihatkan wajah takutnya.


Untuk sesaat Thomas hanya terdiam sambil menatap mereka berdua dengan serius.


"Dad, kau harus mengijinkannya, mereka perempuan dan aku tahu sekali masalah perempuan ketika sedang ketakutan seperti itu," ucap Suzane sambil memutar bola matanya secara berlebihan lalu menatap mereka berdua dengan prihatin.


Tapi Calista tidak bisa dibohongi oleh kebaikan pura-pura gadis itu, pengalamannya tinggal di sekolah asrama perempuan selama bertahun-tahun telah mengajarkannya untuk mengetahui niat di balik kebaikan yang tiba-tiba itu.


"Tidak usah khawatir, Dad, aku akan mengawasi mereka, lagian di luar sana ada pengawalkan?" Lanjut Suzane, yang membuat Calista bertambah yakin kalau sepupunya itu memiliki niat tersembunyi.


"Baiklah, jangan sampai kau kehilangan mereka apa kau paham?" Ucap Thomas dengan nada serius, Suzane langsung berdiri sambil tersenyum.


"Pasti, kau tenang saja. Dad, boleh aku meminjam salah satu pistolmu? Untuk berjaga-jaga," ucap Suzane sambil menatap ayahmya dengan sorot mata licik yang membuat pria itu tersenyum memahami rencana putrinya.


Calista dan Alexa berjalan di depan sedangkan Suzane yang berjalan di belakangnya dengan senjata api di tangan kanannya. Alexa bisa melihat empat orang pria bersenjata lengkap berjaga di depan gudang, dan mereka hanya menatap ketiga perempuan itu sekilas.


"Kalian berjaga di sini, jangan ada yang masuk ke dalam rumah walau mendengar suara apapun juga, mengerti!" Ucap Suzane sambil mengangkat senjatanya acuh yang langsung mendapat anggukan dari ke empat anak buah ayahnya itu.


Mereka terus berjalan ke arah depan dimana rumah dan toko hewan berada, di halaman depan terparkir tiga sedan hitam yang Alexa duga tadi ditumpangi oleh Thomas dan anak buahnya, sebuah mobil Ferary merah yang pasti milik Suzane dan sebuah mobil box berwarna pink terang.


"Dimana pemilik rumah ini?" Alexa bertanya sambil masuk ke dalam rumah yang cukup nyaman dan sederhana, dan yang pasti bukan milik Suzane. Matanya menyapu ruangan, ia melihat sesuatu di atas bufet yang memberinya harapan untuk melepaskan diri.


"Well, Hunter hanya memanfaatkan perawan tua itu untuk dia bersembunyi selama ini, dan beberapa hari lalu ia telah membereskannya karena ia masuk ke dalam kamar Hunter dan melihat sesuatu yang seharus tidak dia lihat," ucap Suzane santai sambil menutup pintu rumah. Calista dan Alexa saling bertatapan dengan sorot mata terkejut beberapa saat setelah mendengar nasib pemilik rumah, sampai akhirnya Alexa memberikan isyarat dengan matanya, dan untungnya adik Dylan itu mengerti setelah melihat benda yang tergeletak tak jauh dari mereka.


"Tidak usah bersedih seperti itu, sebentar lagi kalian akan menyusulnya," ucapnya dengan santai sambil duduk bertumpang kaki di sofa yang berada di ruangan itu.


Alexa berjalan ke arah bufet ukir setinggi pinggangnya dimana terpajang berbagai macam hiasan di atasnya, dengan tangan masih terikat ke belakang ia bersandar dan mulai meraba-raba mencoba menggapai pisau surat yang ia lihat tadi.


*****