
Berita kesembuhan Richard McArtur merupakan berita bahagia yang selama ini di tunggu semua orang, Calista di temani Theo dan Mr. Regan langsung terbang ke Skotlandia untuk menemui ayahnya. Dan setelah melalui serangkaian tes akhirnya pemilik group Royal itu dinyatakan sembuh total walaupun masih harus duduk di kursi roda dan menjalani terapi karena sistem motorik tubuhnya yang sedikit terganggu akibat koma selama beberapa bulan. Richard mengatakan kalau ia mulai mencurigai Thomas, karena itulah ia memerintahkan beberapa orang pengawal untuk melindungi Dylan secara diam-diam, tapi tindakannya itu malah memicu kecurigaan Thomas kalau David masih hidup dan akhirnya kecurigaannya terbukti ketika Suzane bertemu langsung dengan Dylan.
Kabar lain yang harus di terima keluarga McArtur adalah mengenai kematian Thomas yang mengenaskan, semua orang terkejut mendengar kematian itu, Calista sangat sedih dan terluka, ia menangis ketika pihak kepolisian memberi kabar duka itu. Bagaimanapun Thomas adalah sosok yang dulu ia anggap sebagai paman yang baik hati terlepas dari itu hanya pura-pura atau tidak, atau bahkan mengingat pria itu adalah sosok yang bertanggung jawab atas kematian ibu dan kehancuran keluarganya, saat ini ia tidak memersalahkan hal itu, yang ia ingat adalah hubungan darah yang mengalir di antara mereka.
Sebagai satu-satunya keluarga dari Thomas, Dylan menjadi orang yang bertanggung jawab menerima jasad pria itu mengingat Richard, ayah Dylan masih tinggal di Skotlandia untuk pemulihan dan atas perintah ayahnya, ia memakamkannya dengan layak sebagaimana mestinya, dan ia memerintahkan media masa tidak mengetahui masalah yang sebenarnya tentang kematian Thomas, bagaimanapun ia masih berhubungan dengan nama McArtur dimana nama besar group Royal dipertaruhkan.
Suzane yang saat ini tengah berada di penjara dengan tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan atas Calista dan Alexa, sangat murka ketika mendengar kematian ayahnya, ia menyalahkan keluarga McArtur atas tragedi itu, dia bahkan memaki Dylan yang hari itu datang untuk memberi tahu kabar duka itu.
Calista merasa kasian kepada sepupunya itu, ia bisa memahani kemarahan Suzane karena sekarang hidup sebatang kara, ibunya meninggal akibat kanker payudara yang membuatnya nekad untuk membuang kedua payudaranya dan melakukan implan karena takut akan terkena penyakit yang sama seperti ibunya. Tapi operasi plastik dan silikon berlebihan juga berakibat fatal terhadap kesehatannya, ia kini merasakan kesakitan yang luar biasa akibat infeksi dari operasi yang di lakukan terus menerus dan akhirnya ia harus menjalani operasi pengangkatan silikon.
Dengan rutin Calista menjenguk sepupunya walaupun selalu mengalami penolakan dari perempuan yang dulu telah menyakitinya itu. Melihat tindakan Calista, Theo dan Dylan hanya bisa menyarankan ia untuk berhati-hati, tapi Calista tahu Suzane pasti merasa kesepian karena ia-pun pernah merasakan hal yang sama ketika harus tinggal di asrama selama bertahun-tahun jauh dari keluarga, dan bagaimanapun, diakui atau tidak Suzane masih keluarga McArtur.
Hari pertunangan Theo dan Calista memasuki hari H-nya, semua persiapan telah dilakukan. Ballroom hotel Royal yang megah dan luas bertambah megah akibat sentuhan tangan ajaib para dekorator, ruangan itu hampir di penuhi dengan hiasan bunga lisianthus atau yang terkenal dengan sebutan mawar Jepang dengan warna putih bergradasi warna ungu di ujung kelopaknya terlihat sangat cantik dan melambangkan kesetian dan cinta bagi keduanya.
Buffet yang berada hampir di sekeliling ruangan dipenuhi berbagai macam hidangan, gelas sampanye disusun seperti piramida dan ketika pelayan mengisi gelas teratas dengan minuman berwarna emas itu maka akan menghasilkan pemandangan air terjun berwarna emas yang akan mengisi gelas-gelas di bawahnya.
Para tamu undangan mengenakan pakaian terbaik, mereka tersebar di seluruh ruangan berbincang dengan para kolega masing-masing, para pelayan berseragam putih hitam hilir mudik membawa nampan perak berisi berbagai macam makanan dan minuman yang memanjakan para tamu. Orangtua Emily ikut berbaur dengan tamu lainnya, orangtua Theo berlaku sebagai tuan rumah yang ramah, ia berkeliling untuk menyapa yang hadir di pesta mereka.
Mr. Regan naik ke podium dan mulai membuka acara itu, ayah Theo itu terlihat berkharisma dengan toxedo hitam yang membalut tubuhnya. Di awal pidatonya ia mengungkapkan tentang kebahagiannya atas kesembuhan dari Richard McArtur yang hari itu datang walaupun masih menggunakan kursi roda. Sampai akhirnya ia memanggil Theo untuk naik ke atas podium, semua orang terlihat bingung ketika melihat pria yang hari itu terlihat luar biasa tampan dengan toxedo putihnya naik ke atas podium.
"Saya yakin sebagian yang bekerja di group Regan mengenalnya sebagai Theo Andrew."
Terdengar bisik-bisik yang mulai mengisi keheningan di dalam ruangan itu, "Malam ini ijinkan saya memperkenalkan kepada rekan-rekan semua, dia adalah Theodore Andrew Regan."
Semua orang kini terkesiap ketika mendengar nama Theo yang sebenarnya, "Dia adalah putra tunggalku dan pewaris dari group Regan," lanjut ayah Theo yang membuat semua orang dalam ruangan itu bergumam karena terkejut, para wartawan yang sengaja di undang mulai membidikkan kameranya ke arah mereka berdua, sedangkan atasan Theo dan Dylan yang selama ini telah menyepelekannya terlihat sangat pucat ketika mendengar pengumuman itu.
Mr. Regan berdehem untuk menarik perhatian dari tamu yang memenuhi ruangan itu, dan seketika ruangan itu kembali hening menanti kejutan apalagi yang akan di sampaikan oleh pemilik group Regan itu.
"Dan aku juga ingin mengenalkan kalian semua kepada putra angkatku, Dylan Alexander," Mr. Regan menatap Dylan yang berdiri di samping ayah kandungnya, keduanya tersenyum kepada pria yang yang telah membesarkan dan mendidiknya itu.
Kehebohan kembali mengisi ruangan itu, para wartawan kini mengalihkan kameranya kearah Dylan dan ayahnya.
"Iya, orang yang kalian selama ini kenal sebagai Dylan Alexander adalah David McArtur, pewaris sah group Royal," lanjut Mr. Regan yang membuat semua orang tak percaya, dan kini atasan Theo dan Dylan bukan hanya pucat pasi tapi sudah seperti mayat hidup yang sebentar lagi akan ambruk.
"Aku rasa sudah cukup, kejutan yang aku sampaikan malam ini," ucap Mr. Regan untuk kembali menarik perhatian para tamu undangan yang masih bergumam membicarakannya.
"Dan kita akan ke inti acara malam ini," seru Mr. Regan yang kini berhasil membuat ruangan kembali tenang.
"Hari ini adalah hari yang bahagia untuk putraku, karena hari ini dia akan bertunangan dengan seorang gadis yang sangat cantik dan memiliki hati yang luar biasa cantik. Seperti istriku," ucap Mr. Regan sambil mengedipkan matanya ke arah istrinya yang terlihat cantik dengan gaun merah marunnya, dan aksi pria itu membuat pipi ibu Theo itu merah padam yang mengundang gelak tawa seisi ruangan.
Mr. Regan akhirnya memanggil Calista yang terlihat sangat luar biasa bak seorang putri raja dari negeri dongeng, gaun panjangnya yang berwarna violet terlihat sangat pas membalut tubuhnya, potongan lehernya yang rendah memperlihatkan leher jenjang gadis itu, rambutnya di tata ke atas dengan sederhana, beberapa helai rambut sengaja dibiarkan terlepas jatuh mengenai lehernya yang dihiasi kalung emas putih bertahtakan berlian di sekelilingnya. Dengan anggun ia berjalan ke arah podium dimana Theo kini menatapnya dengan mata berbinar dengan penuh cinta yang membuat Calista tersenyum, semua orang menatap ke arahnya seolah terhipnolis oleh kecantikannya.
Theo mengulurkan tangan untuk menyambut kekasihnya, mata mereka saling pandang dengan penuh cinta, senyum tak pernah lepas dari keduanya, mereka tak memedulikan ratusan pasang mata yang kini menatap mereka dengan penuh rasa iri.
"Selama ini aku belum pernah melamarmu, maka ijinkan aku melakukannya hari ini di hadapan semuanya," ucap Theo sambil menggenggam kedua tangan gadis itu yang tersenyum malu.
"Calista, aku belum mengenalmu untuk waktu yang cukup lama, tapi aku akan menghabiskan seluruh sisa hidupku di sampingmu untuk mengenalmu. Aku tak bisa menjanjikan banyak hal kepadamu, selain berjanji akan mempertaruhkan nyawa untuk menjaga dan mencintaimu di sisa umurku. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi kita akan melawati semuanya bersama. Dan ku harap kaulah yang akan berbagi hidup denganku karena aku tak tahu apa jadinya diriku tanpamu disisiku, 'couse you are my love, my world, my sunshine... my everything."
Theo mengambil napas panjang sebelum akhirnya berlutut di hadapan Calista, tangan kirinya menggenggam kedua tangan gadis itu yang kini matanya telah berkaca-kaca menatap kekasihnya. Tangan kanan Theo mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna biru dongker dari saku toxedonya dimana terdapat cincin bertahtakan berlian.
"Calista Elisabeth McArtur, would you merry me?" Tanya Theo dengan mantap, matanya menatap Calista dengan penuh cinta.
Calista sudah tidak bisa berkata apa-apa, air mata bahagia kini bergulir di pipinya, "Yes, I would," jawabnya yang membuat ruangan itu gemuruh oleh suara tepuk tangan dan sorak kebahgian yang di teriakan oleh sahabat-sahabat mereka berdua.
Theo langsung berdiri, tangannya memasangkan cincin yang tadi dia bawa di jari manis kekasihnya sebelum akhirnya ia menciumnya dengan penuh kasih di saksikan ratusan pasang mata dan kilatan blitz kamera para pencari berita yang mengabadikan moment berharga itu. Ruangan itu kini dipenuhi oleh gemuruh suara para tamu undangan yang bertepuk tangan melihat aksi mereka berdua.
*****