
Alex berjalan memasuki rumah Theo, dia terus berjalan menaiki tangga lalu berbelok kearah kiri dimana ruang bilyar berada, ia bisa melihat Dylan dan Gerard duduk santai di kursi depan meja bar ruangan itu, Daniel tengah berdiri di depan meja bilyar dengan tongkat ditangannya, sedangkan Theo terlihat membungkuk siap membidik bola incarannya. Gerard melambaikan tangan kepada Alex dari balik dinding kaca ruangan yang dibalas Alex sambil membuka pintu kaca lalu berjalan ke arah bar dimana Dylan dan Gerard berada.
"Jadi siapa wanita malang itu kali ini?" Gerard bertanya sambil tersenyum menggoda.
"Wanita malang? Oh ayolah, dia wanita yang beruntung sebenarnya," Alex menjawab sambil menuangkan wiski ke dalam gelas yang tersedia di atas meja.
"Jangan katakan kalau dia wanita yang kau temui di kejaksaan minggu kemarin," Daniel berkata sambil membidik bola putih hingga mengenai bola no 6 yang akhirnya memantul mengenai bola no 4 yang langsung masuk ke lubang di pojok kiri, ia tersenyum gembira melihat bola incaranya masuk lalu mulai siap membidik lagi.
"Bukan, aku tak akan lagi berkencan dengan seorang pengacara." Alex bergidik mengingat wanita yang dia kencani itu ternyata sangat posesif tidak cocok dengan sifat Alex yang hanya menginginkan kencan satu malam.
"Jadi siapa dia?" Dylan ikut penasaran tentang identitas 'korban' Alex selanjutnya.
Alex hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum penuh misteri, "Ini tidak seperti yang kalian bayangkan," ujar Alex sambil menyesap wiskinya.
"Aaah, apa yang ini special?" Theo ikut menimpali tapi matanya tetap fokus mengawasi Daniel yang masih belum melakukan kesalahan di meja bilyar.
Alex mengangkat alisnya sambil tersenyum di balik gelas kristas yang berisi cairan keemasan itu.
"Ayolah, Bro, ceritakan siapa dia?" Gerard terdengar sangat penasaran karena melihat Alex yang terlihat tidak seperti biasanya, yang lain ikutan bergumam memaksa detektif tampan itu untuk bercerita.
"Baiklah, tapi hanya kalian berempat saja yang mengetahuinya ok? Emily, Calista apalagi Alexa tidak boleh mengetahuinya, paham?" Semua menyatakan persetujuannya untuk tutup mulut.
"Kemarin Lexa meneleponku untuk meminta bantuan, temannya sedang dalam masalah dan ia tak mau pers mengetahui hal itu jadi ia perlu seseorang yang bisa dipercaya."
"Pers? Apa dia model atau artis terkenal?" Mendengar prediksi Gerard membuat semua orang membelalakan mata tak percaya.
"Sial, Man! Apa itu benar?" nada suara Dylan terdengar tak percaya akan prediksi itu, tapi melihat Alex yang hanya tersenyum sambil menaikan alisnya membuat semua orang tertawa sambil mengumpat iri lalu fokus kepada Alex.
"Apa kalian pernah mendengar nama Cornelia Evans?" tanya Alex dengan mata berbinar, membuat semua orang menganga, mata mereka membulat tak percaya dan ruangan itu pun seketika menjadi gaduh dengan teriakan-teriakan tak percaya dari semuanya, sedangkan Alex kembali tersenyum sambil menikmati wiskinya.
"Cornelia Evans, model baru Victoria Secret yang sedang in itu? No way, Man!"
Daniel bertanya tak percaya yang diamini oleh yang lainnya, Alex memang sangat tampan, perawakannya yang tinggi dan bentuk badan sempurna bak seorang model papan atas, mata biru yang tajam dan senyum miringnya yang terlihat nakal selalu berhasil membuat para perempuan menggila, belum lagi senjata dan lencana NYPD membuat Alex terlihat 'berbahaya' yang sangat disukai kebanyakan perempuan yang suka tantangan. Alex bisa dengan mudah berkencan dengan perempuan mana saja, tapi untuk supermodel Victoria Secret yang terkenal karena keseksian dan kecantikannya? Mereka masih sedikit menyangsikan hal itu.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Gerard dengan penasaran.
"Seperti yang ku katakan tadi, Lexa meneleponku dan mengatakan kalau semalam temannya mengadakan pesta dan kemudian pesta itu berubah 'liar' karena seseorang membawa narkoba sampai ada yang overdosis kemudian dilarikan ke rumah sakit," Alex mengawali ceritanya dengan santai.
"Jadi Lexa memintaku untuk menyelidiki siapa yang membawa narkoba itu sebelum tercium oleh media, untuk mengetahui hal itu aku harus memulai penyelidikin di TKP dan mengintrogasi penyelenggara pesta atau lebih tepatnya di sini adalah pemilik tempat itu, maka aku dan Harry pergi kesana untuk memulai penyelidikan."
"Dan pemilik tempat itu adalah Cornelia Evans," lanjut Daniel menebak alur dari cerita sahabatnya itu, Alex membenarkan tebakan Daniel dengan mengangkat gelasnya sambil tersenyum sebelum melanjutkan ceritanya.
"Jadi setelah kami memeriksa TKP dan menanyainya, maka sebagai petugas yang baik, aku memberikan kartu namaku menyuruhnya untuk menghubungiku kapan saja kalau ia memerlukan bantuanku." Semua orang mendengus tertawa mendengar alasan klise dari Donjuan NYPD itu.
"Dan tadi ia menghubungiku mengatakan ia mengingat sesuatu yang bisa membantu proses penyelidikan tapi ia memintaku datang... se-orang-diri," Alex mengisi kembali gelasnya yang kosong.
"Dan informasi rahasia apa itu?" Dylan bertanya yang tidak perlu karena semua orang sudah mengerahui akhir dari cerita itu, tapi tetap saja membuat semua orang penasaran.
"Well, tidak ada yang penting, ia hanya ingin memperlihatkan koleksi terbaru Victoria Secret untuk musim depan." perkataan Alex yang santai itu sukses membuat semua orang kembali mengumpat sambil tertawa.
"Iya kau benar, Daniel. Apa aku tadi bilang kalau apartemen Cornelia ada di gedung yang sama dengan kalian bedua?"
Dylan dan Theo membelalakan mata tak percaya, "Tidak mungkin!" Mereka mengetahui kalau ada beberpa selebritis dunia yang tinggal satu gedung dengan mereka tapi mereka tidak mengetahui kalau supermodel pakaian dalam terkenal itu tinggal di sana.
"Iya, tepat satu lantai di bawah kalian," ujar Alex tenang.
"Andai aku tahu kalau ada model Victoria Secret tinggal di gedung yang sama denganku, aku akan menunggunya di lobi setiap hari," sahut Theo sambil menyesap minumannya.
"Siapa yang akan kau tunggu di lobi, Theo?" Semua orang menatap arah suara lembut itu dan disanalah gadis berambut pirang dengan mata birunya yang tengah menatap Theo dengan sorot mata mematikan, membuat semua orang mengalihkan tatapan ke arah Theo dengan tatapan prihatin.
"Bukan siapa-siapa, Sunshine," ujar Theo dengan suara senormal mungkin sambil berdiri menyambut tunangannya yang masih berdiri di depan pintu, lalu mengajaknya duduk di sofa kulit berwarna coklat yang ada di sudut ruangan.
"Aku kira kau sudah tidur," lanjut Theo sambil duduk di sebelah Calista.
"Aku akan kembali ke kamar setelah dari dapur untuk minum ketika melihat kalian semua berada di sini, jadi aku hanya ingin menyapa kalian sebelum kembali tidur," jawab Calista sambil tersenyum.
"Bagaimana keadamu, Calista?" Daniel bertanya sambil menatap gadis itu yang langsung saja membuat pipinya memerah, Theo hanya bisa memutar mata melihat reaksi yang disebabkan Daniel kepada tunangannya.
"Jauh lebih baik, terima kasih, Daniel," jawab Calista masih dengan pipi merahnya yang membuat Dylan tersenyum mengingat hanya dia dan Theo yang mengetahui kalau gadis itu adalah salah satu fansnya Daniel.
"Aku mendengar tentang kasus Dylan, apa sudah ada kemajuan?" Gerard berusaha mengalihkan pembicaraan dari percakapan khusus pria tadi ke masalah yang menjadi pusat perhatian semuanya saat ini yang langsung disambut dengan semangat oleh Theo.
"Well, seperti yang sudah diperkirakan mereka dibebaskan karena dianggap tidak adanya ancaman yang membahayakan," Alex menjawab sambil menaruh gelasnya di atas meja bar, semua orang kini terdiam menunggu Alex untuk melanjutkan menjelaskan tentang kasus yang tengah menimpa Dylan.
"Tidak lama setelah kalian pergi, pengacara mereka datang untuk membebaskan kliennya, dan yang harus kalian tahu kalau pengacara mereka itu dari kantor Marvel and Partner."
"Marvel and Partner?" Theo mengernyit mengingat kantor pengacara itu juga yang menjadi kantor penasihat hukum untuk group Regan.
Alex mengangguk menjawab pertanyaan Theo, "Iya, kantor pengacara yang biasa kalian gunakan dan yang menarik, mereka juga yang menjadi penasihat hukum dari group Royal," perkataan Alex itu sukses membuat semua orang terkejut.
"Hmm.. group Royal," Dylan menyesap wiski sambil berpikir kenapa group Royal mengirim orang untuk mengawasinya?
"Aku telah meminta tolong paman Thomas untuk menyelidiki hal ini, dia berjanji akan mencari tahu siapa yang memberi perintah untuk mengikuti Dylan," ujar Calista dengan suara gugup.
"Paman Thomas? Siapa dia? Apa kita bisa mempercayainya?" Theo bertanya karena ia tidak pernah mendengar tentang laki-laki yang Calista panggil dengan sebutan paman itu.
"Ia adalah adik sepupu ayahku, walaupun ayahku tidak begitu menyukainya tapi paman Thomas sangat baik padaku dan aku rasa kita bisa mempercayainya," ucapan Calista itu membuat semua orang terdiam beberapa saat mengingat gadis itu terlalu naif dan menilai semua orang adalah baik tapi mereka percaya pada Calista jadi mereka juga akan mempercayai penilaiannya untuk kali ini.
"Mudah-mudahan Pamanmu itu segera memberi kabar siapa dibalik semua ini," ujar Theo sambil menatap lembut Calista yang sedikit tegang.
Calista balik menatap Theo sambil tersenyum, tapi tiba-tiba senyum itu hilang tak berbekas di wajah cantiknya berganti dengan sorot mata tajam 'Medusa' ciri khasnya.
"Jadi katakan padaku siapa nama model Victoria Secret yang akan kau tunggui setiap hari di lobi itu?" Pertanyaan Calista sukses membuat semua orang langsung berdiri siap-siap pergi dari sana.
****