
Ruangan keluarga Regan tampak hiruk pikuk, dipenuhi oleh para polisi NYPD dengan berbagai macam alat salah satunya alat untuk melacak lokasi telepon dan juga alat perekam percakapan. Emily duduk dengan cemas di samping Ibunya dan juga Ibu Theo yang tak berhenti-berhentinya menangis, Theo dan Dylan terlihat putus asa dengan penantian mengenai keadaan Calista dan juga Alexa. Gerard mencoba melacak keberadaan keduanya dari GPS yang dia pasang di telepon mereka, tapi telepon Alexa menunjukan kalau benda itu berada di apartemen Emily yang terlihat berantakan mendakan adanya perlawanan terlebih dahulu sebelum akhirnya kembara Emily itu berhasil di tangkap para penculiknya.
Sedangkan keberadaan Calista terakhir terdeteksi di daerah Forrest Hill, polisi setempat telah mendatangi lokasi tapi hanya menemukan mobil dan sopirnya yang dalam keadaan kritis karena luka tembak. Untuk saat ini mereka menemukan jalan buntu, harapan mereka adalah sang pelaku akan menghubungi Dylan kembali dan mereka dapat melacak keberadaannya dari saluran telepon, tapi sudah satu jam lebih telah berlalu dari terakhir penjahat itu menghubungi Dylan untuk mengabarkan kalau keselamatan Calista dan Alexa yang ia duga sebagai Emily berada di tangannya.
Ruangan itu terlihat mencekam dengan ketegangan yang dirasakan semua pihak, seolah mereka tengah duduk di antara tumpukan bom dan satu gerakan saja bisa memicu bom itu meledak dan menewaskan semuanya. Setelah mengetahui Calista dan Alexa tertangkap, semua pengawal harus menerima kemurkaan Mr. Regan dan untuk pertama kalinya mereka melihat bagaimana pria paruh baya itu bisa membuat semua orang menciut di hadapannya. Ia menyesal karena Alexa tidak mendapatkan pengawalan seperti halnya Emily, itulah kesalahan semua orang karena semua terlalu fokus terhadap Calista dan Emily hingga melupakan kalau Alexa memiliki rupa yang sama dengan kekasih Dylan itu.
Entah untuk keberapa kali dalam satu jam terakhir ini orangtua Theo meminta maaf kepada orangtua Alexa atas kecerobohannya, dan Mr. Winchester selalu mengatakan kalau itu bukan kesalahan mereka, untuk saat ini mereka hanya harus fokus untuk menyelamatkan keduanya. Suasana tiba-tiba hening ketika telepon milik Dylan berdering, ia menatap polisi dan melihat aba-aba dari mereka untuk mengangkat benda kecil itu.
"Hallo," ucap Dylan dengan suara tegang, semua orang terdiam untuk mendengarkan percakapan itu, para polisi yang bertugas untuk melacak keberadaan telepon mulai bekerja dengan komputernya.
"Well.. well.. well... Dylan Alexander atau aku harus menyebutmu David McArtur?" Suara berat khas laki-laki terdengar dari sepiker telepon milik Dylan.
"Dimana mereka?" Tanya Dylan dengan suara menggeram.
"Tenang saja kau akan segera bertemu dengan kekasih dan adiknu yang cantik."
Perkataan pria itu sukses membuat Theo menggeram dan harus di tahan oleh Alex yang duduk disampingnya. Dylan melihat kode dari polisi untuk mengulur pembicaraan karena mereka belum berhasil melacak lokasinya.
"Aku ingin berbicara dengan mereka untuk memastikan kalau mereka baik-baik saja."
"Untuk saat ini mereka baik-baik saja, kita lihat apa kau bisa membuat mereka dalam keadaan baik atau sebaliknya."
"B*j*ng*n! Jangan kau berani menyentuh selembarpun rambut mereka, atau aku kan mengejarmu sampai neraka!" Ancam Dylan dengan suara berapi-api, tapi ancaman itu hanya membuat penjahat itu tertawa.
"Ckk.. ckk..ckk.. baiklah kita lihat apa kau memiliki tendangan dan pukulan sekuat kekasihmu? dia bahkan berhasil melukai anak buahku, aku sangat menyukai perempuan ini."
"Dasar b*j*ng*n! Aku bilang jangan menyentuhnya!" Teriak Dylan.
"Dengar! Yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan mereka berdua adalah mengikuti semua perintahku, bukan sebaliknya, apa kau paham?!" Seru pria itu dengan suara menggeram dan nada dingin membuat semua orang yang mendengarnya dapat merasakan ketegangan yang terasa menyelimuti mereka semua.
Dylan harus meredam amarahnya untuk saat ini atau ia akan melakukan kesalahan yang membahayakan keduanya, "Baiklah, aku akan mengikuti semua perintahmu, tapi aku harus berbicara dengan mereka berdua."
Tidak ada jawaban dari seberang sana, dan selama beberapa detik itu ketegangan yang dirasakan semakin menebal, semua merasakan kecemasan dan berharap kalau mereka bisa mendengar suara dari kedua orang yang keberadaannya saat ini belum diketahui.
"Baiklah... aku akan membiarkanmu berbicara dengan mereka."
"Dylan, ini aku Emily," Semua bisa mendengar suara Alexa yang terdengar cemas, air mata langsung membasahi pipi Mrs. Winchester, ketika suara Alexa mengisi keheningan ruangan itu, begitu juga dengan Emily yang langsung membekap mulutnya, ada perasaan sedikit tenang karena saudaranya itu masih selamat, tapi di sisi lain ia merasa sangat bersalah karena Alexa harus menggantikan posisinya saat ini yang menyebabkan nyawanya dalam bahaya. Dylan mengerutkan keningnya mendengar Alexa menyebut dirinya Emily dan itu memastikan kalau siapapun yang menangkapnya belum mengetahui kalau mereka menangkap orang yang salah.
"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Dylan dengan nada khawatir, semua orang kini semakin mendekatkan tubuh mereka ke arah telepon yang diletakkan di atas meja.
"Ya, Calista ada di sini bersamaku, dia baik-baik saja. B*j*ng*n itu memukul kepalaku hingga terluka kau harus membalasnya, ingat itu!"
"Sialan! Aku pasti akan membalasnya, tidak usah khawatir."
"Bagus! Dylan, dengarkan aku, tolong kau suruh seseorang untuk mencari my queen Lexi, dia telah menghilang selama 1 jam dari rumahku. Apa kau paham? Dia pasti ketakutan di luar sana seperti anak anjing yang terlantar."
Ucapan Alexa itu membuat semua orang mengerutkan kening, mencoba memahami semua perkataan gadis itu.
"Dylan apa kau paham?"
"Iya, aku akan meminta Alex dan teman-temannya mencari Lexi, kau tenang saja," ujar Dylan dengan suara setenang mungkin tanpa menimbulkan kecurigaan dari orang-orang yang berada di sekeliling gadis itu saat ini.
"Sekarang kau yakin kalau mereka baik-baik saja?"
"Kau melukainya! Kau membuat kepalnya terluka," ujar Dylan dengan suara menggeram.
"Aku harus melakukannya kalau ingin membawanya," ujar pria itu tenang dan itu membuat amarah Dylan kembali terbakar, "Baiklah, aku rasa sudah cukup basa basinya. Sekarang yang harus kau lakukan adalah mengikuti semua perintahku." Untuk beberapa saat kembali terjadi keheningan, tidak ada suara dari kedua belah pihak.
"Aku akan memberimu waktu lima belas menit untuk sampai ke west 42nd street. Sendiri. Apa kau mengerti? Artinya kalau kau membawa para polisi bodoh yang sekarang ada di sekelilingmu bersamamu. Aku akan mengirimkan mayat salah satu dari perempuan itu ke rumahmu. Apa kau paham?"
"Baiklah, tapi kalau kau sampai melukai mereka berdua... aku akan mencincangmu!"
"Waktumu tinggal 14 menit, David, sebaiknya kau bergegas."
Sambungan telepon-pun terputus, Dylan menatap petugas polisi yang duduk di depan komputer yang bertugas melacak sinyal telepon, tapi petugas itu menggelengkan kepala, "Dia memakai alat untuk mengacaukan pelacakan. Kita tidak bisa melacaknya."
Ucapan polisi muda itu langsung membuat beberapa orang mengumpat putus asa.
"Sebaiknya aku pergi sekarang."
"Aku telah memerintahkan beberapa orang untuk berjaga di 42nd, aku akan mengikutimu dari belakang, jangan khawatir aku akan menjaga jarak aman," ujar Alex yang langsung mendapat anggukan dari Dylan.
"Alex, aku ikut denganmu. Jangan kau coba-coba menyuruhku hanya duduk di sini! Tunangan dan sahabatku ada di luar sana dan dalam bahaya, aku tak akan hanya diam saja!" seru Theo ketika dia melihat Alex hendak memprotes keinginannya, dan akhirnya Alexpun mengangguk sebagai jawaban.
"Gerard, kau diam di sini coba pecahkan petunjuk dari Lexa. Sial, dia paling benci dipanggil Lexi!" Seru Alex dengan suara menggeram.
"Aku paham, sebaiknya kalian pergi sekarang, aku akan menghubungi Daniel tentang perkembangannya, dia pasti sangat khawatir," ucap Gerard sambil mengambil teleponnya dan menghubungi Daniel yang sedang tugas di Kanada.
"Kalian semua hati-hati," ucap Emily dengan suara gemetar, Dylan memeluk dan mengecupnya sebelum dia memeluk ibunya yang memucat.
"Jangan khawatir, aku akan pulang bersama mereka semua," ujar Dylan sambil tersenyum, lalu bergegas keluar dari rumah di susul oleh Alex dan Theo.
Dengan mengendarai Porche hitam miliknya, ia mulai membelah jalanan yang padat seperti biasanya, di belakang kendaraan Renagade putih milik Alex yang ditumpanginya bersama Theo mengikutinya dari jarak cukup jauh untuk menghindari kecurigaan.
Dengan mengendari super car dengan kecepatan di atas rata-rata Dylan sudah sampai di 42nd street hanya dalam waktu sepuluh menit. Ia memarkirkan mobilnya di depan salah satu butik yang memajang pakaian pengantin, tak jauh dari sana ia melihat mobil Alex parkir, dan dia kembali merasa sedikit tenang.
Tak berapa lama teleponnya kembali berbunyi.
"Halo?"
"Bagus, sekarang kau berjalan ke arah gedung Madam Tussauds, lalu masuk."
Dylan mengikuti semua interuksi itu dengan tergesa, ia melihat ke belakang dan melihat Alex dan Theo ikut bergerak bersamanya, di seberang ia bisa melihat beberapa mobil yang diisi oleh beberapa polisi teman Alex yang ikut mengawasinya.
Dylan telah masuk ke dalam museum patung lilin terbesar itu, ia di sambut oleh kilatan blitz-blitz kamera yang didisain oleh museum seolah-olah dirinya adalah super star yang berjalan di karpet merah.
"Aku sudah di dalam," ucap Dylan sambil terus berjalan di antara kumpulan para turis yang berkerumun, beberapa dari mereka tampak antusian berfoto bersama patung-patung tokoh dunia itu.
"Cari lift karyawan dan masuk ke dalamnya."
Dylan melihat sekeliling dan berjalan terus ke arah belakang, dan akhirnya ia menemukan pintu khusus karyawan dan ia yakin mereka akan memiliki lift khusus karyawan di belakang sana.
Dylan berjalan di dalam lorong yang tampak sepi berbeda dengan keadaan di balik pintu coklat itu yang penuh sesak oleh orang-orang yang sengaja datang ke sana, ia berbelok ke arah kanan dan menemukan lift itu di sana.
"Aku sudah di depan lift," ujar Dylan sambil melihat kiri dan kanan berharap menemukan sosok Alex atau Theo, tapi tak seorang pun ada di sana, sepertinya mereka kehilangan jejak dirinya ketika berada di antara kerumunan orang-orang di dalam museum.
"Bagus, sekarang pergilah ke parkiran, seseorang telah menunggumu di sana."
Dylan masuk ke dalam lift lalu menekan tombol B1. Tak berapa lama pintu lift terbuka dan memperlihatkan ruang parkir yang sepi, ia berdiri di sana melihat sekeliling sampai akhirnya sebuah mobil box bertuliskan 'Elizabeth's Pet Shop' berwarna merah muda terang dengan gambar anjing dan kucing yang sedang tersenyum lebar seolah-olah mereka adalah bintang iklan pasta gigi khusus binatang peliharan di kiri dan kanan tulisan berwarna biru neon itu.
Dylan membelalakan mata ketika melihat tulisan itu, dan seketika ia mengingat perkataan Alexa mengenai anjing yang terbuang. Seseorang berbadan tegap keluar dari dalam mobil, wajahnya terlihat dingin tanpa ekspresi, kepala plontosnya mengenakan topi berwarna abu-abu senada dengan seragam yang ia kenakan, gambaran pria itu mengingatkan Dylan kepada tokoh penangkap anjing di film kartun Tom and Jerry yang dulu sering ia tonton bersama Theo. Tanpa banyak bicara pria itu menggeledah tubuh Dylan, setelah ia merasa kalau Dylan tidak membawa senjata api ataupun alat pelacak, ia membuka pintu belakang dan menyuruh Dylan masuk dimana dua orang pria dengan wajah seram lainya telah menunggu di dalam mobil, ia mengambil telepon Dylan lalu membuangnya. Dylan menggeram marah tapi tubuhnya ditahan oleh pria-pria bertubuh kekar lainnya yang duduk di kiri kanannya.
Satu-satu alat yang bisa menghubungkan dirinya dengan para polisi untuk mengetahui keberadaannya bersama Calista dan Alexa, kini tergeletak di lantai beton parkiran Madam Tussauds, harapannya kini bergantung kepada kepintaran Gerard dan yang lainnya untuk memecahkan petunjuk dari Alexa.
*****