The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 21



"Jadi Ibumu sudah meninggal ketika kau masih bayi, Ayahmu saat ini dalam keadaan koma karena kecelakaan dan kau mempunyai seorang kakak laki-laki bernama David yang sangat tampan dan sangat baik."


Theo merasa penasaran dengan tunangannya, selama ini dia tidak mengetahui apa-apa mengenai gadis bermata biru itu, bahkan dia baru mengetahui kalau dia adalah putri dari pemilik group Royal hari ini di rumah sakit tempat Emily dirawat, maka sepulang dari menjenguk Emily Theo memberanikan diri untuk bertanya mengenai keluarga gadis itu.


Tanpa rasa ragu sedikitpun Calista menceritakan tentang keluarganya, yang membuat Theo sedikit kaget adalah kondisi ayahnya yang saat ini mengalami koma karena kecelakaan, tapi tidak ada satupun berita yang mengangkat tentang kecelakaan itu.


"Hei, Kakakku memang sangat tampan dan sangat baik."


Calista memasukan potongan strawbery chocolate founde langsung ke dalam mulutnya yang tersenyum melihat Theo cemberut setiap dia mengatakan kalau kakaknya sangat tampan.


"Yeah tapi tidak lebih tampan dari pada aku." Perkataan Theo itu sukses membuat Calista tersedak, dia terbatuk-batuk sampai mukanya merah dan matanya berair, melihat itu Theo langsung pindah duduknya ke sebelah gadis itu lalu menepuk-nepuk punggungnya lembut.


"Kau tak apa-apa?" Theo memberikan air mineral yang langsung diteguk gadis itu sampai habis.


Setelah bisa mengendalikan diri Calista menatap Theo yang kini duduk persis disampingnya, "Apa kau selalu sepercaya diri ini?"


Theo diam beberapa saat sebelum akhirnya dia tersenyum jail, "Jadi menurutmu aku tak tampan?"


Mata biru yang tajam itu menatap Calista dengan sorot mata menggoda ciri khas dari Theo Regan yang telah sukses membuat wanita-wanita bertekuk lutut, dan ternyata sorot mata itu juga berpengaruh terhadap tunangannya yang kini tengah menenangkan jantungnya yang berdebar menggila dan pipinya yang terasa memanas.


Dengan mata biru yang tajam, hidung dan rahang yang terpahat sempurna serta bibir seksi yang selalu menyunggingkan senyum jahil, belum lagi tinggi dan bentuk badannya yang tak kalah dari para model top dunia, siapa yang berani menyangkal ketampanan tunangannya ini, seperti saat ini beberapa wanita dengan terangan-terangan menatap Theo dengan menggoda dan dia tidak suka dengan kenyataan itu, bagaimanapun pria itu adalah tunangannya.


"Iya, kau memang tampan," suara Calista serupa bisikkan tapi masih terdengar oleh Theo, untuk menutupi kegugupannya dia meminum strawbery float yang tadi dipesannya.


Theo tersenyum mendengar jawaban dari tunangannya, gadis itu sangat polos dan dia sangat suka menggodanya hingga pipinya memerah, seperti saat ini Theo melihat sidikit es krim di sudut bibirnya dan dengan sengaja Theo menghapus noda es krim itu menggunakan jari jempol tangannya dengan gerakan sangat perlahan dan sukses membuat mata bulat itu membelalak dan pipinya kembali memerah, demi Tuhan, Theo sangat menyukai reaksi gadis itu terhadap setiap sentuhannya.


Theo kembali duduk dengan santai sambil terus memperhatikan tunangannya yang masih memerah, "Selama ini kau tinggal di asrama, katakan padaku apa kau pernah pergi berkencan sebelumnya?" Calista kembali tersedak mendengar pertanyaan Theo, tapi sialnya pria itu hanya tersenyum sambil kembali mengelus-elus punggung tunangannya.


"Well, aku anggap itu sebagai jawaban tidak pernah." Theo tersenyum jahil ketika melihat Calista menatapnya dengan pandangan membunuh.


"Aku pernah berkencan sebelumnya." Calista mengangguk berusaha meyakinkan Theo, tapi tidak mudah untuk menyakinkan pria itu yang hanya mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum miring.


"Baiklah aku percaya padamu, perempuan secantik dirimu aku yakin pasti banyak pria yang akan mengajakmu berkencan." Theo berkata dengan santai sambil meminum capuchinonya, tanpa dia sadari tunangannya kini tengah memerah karena pujiannya itu.


Theo mendekatkan bibirnya ke telinga Calista sehingga dia bisa berbisik dengan suara serak dan sensual hingga membuat gadis itu merinding, "Tapi aku yakin kau belum pernah berciuman sebelumnya."


Calista yakin kalau wajahnya kini sudah lebih merah lagi dari pada yang tadi, dia dapat merasakan hembusan napas pria itu dikupingnya yang membuatnya sulit bernapas.


"Jangan takut aku, akan mengajarimu," lanjut Theo sambil menggigit kuping gadis itu ringan.


Demi Tuhan, Calista hampir saja terkena serangan jantung menghadapi perlakuan Theo tadi, dan wajahnya? Jangan ditanya wajahnya sudah seperti kepiting rebus penuh dengan saus cabai. Theo berdehem sebelum berdiri dan menarik tangan gadis itu sambil berkata, "Sebaiknya kita pulang sekarang, aku ingin cepat-cepat mengajarimu pelajaran pertama."


Ya Tuhan, gadis itu benar-benar perlu cadangan jantung baru kalau jantungnya berdetak seperti itu dalam beberapa menit terakhir ini, dan Calista yakin sekarang bukan hanya mukanya saja yang memerah tapi seluruh tubuhnya sudah memerah dia sudah seperti kepiting rebus saus cabai yang berjalan.


****


Theo baru saja selesai mandi dan berganti pakaian ketika dia melihat nama Dylan dilayar telepon genggam miliknya.


"Hi, Brother." Theo menjawab panggilan itu sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah menggunakm handuk kecil.


"Hi, apa mulai malam ini kau akan tinggal di rumah?"


"Iya, kau dengar sendiri apa yang dikatakan orangtuaku tadikan?"


Theo bisa mendengar Dylan terkekeh ketika mengingat ucapan orangtuanya tadi sebelum pulang ke Inggris, mereka menyuruh Theo untuk tidak meninggalkan Calista sendirian walau hanya sedetik, dan Theo berjanji tidak akan meninggalkan gadis itu sendirian bahkan ketika gadis itu tidur sekalipun dan perkataan Theo itu sukses membuatnya menerima pelototan dari kedua orangtuanya.


"Jadi apa kau benar-benar tidak akan meninggalkannya saat dia tidur?"


"Diam kau!" Theo mendengar Dylan tertawa sebelum meneruskan kembali ucapannya.


"Jadi, apa kau sudah mengetahui ada apa sebenarnya?"


Theo diam beberapa saat memikirkan pertanyaan Dylan sebenarnya itu adalah pertanyaan yang sering ia pikirkan, bahaya apa yang sebenarnya mengintai tunagannya itu, sampai dia harus meninggalkan ayahnya yang dalam keadaan koma? Kenapa ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Theo? Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Theo menghembuskan napas berat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Dylan.


"Jadi, apa kau sudah bertanya kepada Ayahmu?"


Theo meminum birnya sebelum menjawab pertanyaan Dylan, "Iya, dan aku selalu mendapat jawaban yang sama kalau sekarang belum saatnya aku mengetahui masalah ini." Theo merasa sedikit putus asa karena dia tidak mengetahu apa sebenarnya yang tengah dia hadapi, "Sial, Dylan! aku bahkan baru mengetahui hari ini kalau aku bertunangan dengan putri dari group Royal." Suara Theo yang terdengar putus asa membuat Dylan bersimpati untuknya.


"Kenapa kau tidak bertanya kepadanya? Siapa tahu dia mengetahuinya."


Theo menceritakan mengenai apa yang dia ketahui dari gadis itu, sejauh yang dia tangkap tunangannya itu hanya mengetahui sedikit yang dia tahu, yaitu kalau ayahnya sebenarnya bukan mengalami kecelakaan tapi seseorang berusaha membunuhnya, serta seseorang tengah berusaha membunuh dirinya dan kakaknya yang tampan dan baik itu, tapi dia sendiri tidak mengetahui siapa di balik semua ini.


Dylan diam beberapa saat mencoba mencerna informasi yang dia terima dari Theo, "Iya kau benar, seharusnya kecelakaan pemilik perusahaan raksasa seperti Royal akan menarik pemberitaan, tapi bisa jadi ini disengaja oleh pihak keluarga."


Theo samar-samar mendengar suara tawa Emily dan Alexa menandakan kalau Dylan sedang berada di Rumah Sakit dan dapat dipastikan saat ini Dylan tengah mencari tempat yang sedikit sepi sebelum melanjutkan ucapannya.


"Bisa kau bayangkan bagaimana reaksi para pemegang saham ketika mengetahui kalau pemilik Royal dalam keadaan koma?"


Yang pasti akan terjadi kekacauan, harga saham perusahaan akan anjlok, dan semua orang akan saling bunuh untuk menggantikan posisi itu. Theo membelalakan matanya menyadari apa yang baru saja dia pikirkan bisa jadi adalah akar permasalahannya.


"Dylan, apa kau mengerti apa yang baru saja kau ucapkan?"


Theo berdiri dari duduknya dan mulai berjalan mundar mandir di ruangan itu setelah mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengganggunya.


"Ya Tuhan! Theo, kalau apa yang kita pikirkan benar maka tunanganmu dan kakaknya benar-benar dalam bahaya."


Mereka mengetahuinya bagaimana perebutan kekuasaan dalam kerajaan bisnis bisa sangat menakutkan, apa lagi perusahaan raksasa seperi group Royal semua orang berani untuk saling membunuh demi posisi teratas, mereka dapat membayangkan bagaimana para pemilik saham akan berpesta pora ketika mengetahui kalau pemilik perusahaan itu dalam keadaan koma dengan persentase keselamatan sangat tipis. Penghalang mereka untuk mencapai posisi teratas hanyalah para pewaris sah dan satu-satunya cara untuk menghilangkan para penghalang menuju tujuan mereka adalah dengan cara menyingkirkannya.


"Seseorang yang menginginkan posisi itu akan berusaha untuk menyingkirkan sang pewaris dengan cara apapun."


"Iya kau benar, itulah alasan Ayahmu tidak mempercayai siapapun untuk menjaganya selain kita berdua."


Karena akan selalu ada penghianat dimanapun, apa saja bisa terjadi ketika uang berbicara. "Tapi kenapa dia harus sampai bertunangan denganku?" Theo kembali mengajukan pertanyaan itu.


"Karena tidak akan ada yang berani untuk menyentuh menantu dari group Regan, siapapun yang berani mengusiknya maka dia akan berhadapan dengan seluruh group Regan."


Theo mengangguk mendengar penjelasan Dylan yang masuk akal, hening beberapa saat sebelum Dylan melanjutkan ucapannya.


"Katakan padaku apa yang sedang kau lakukan sekarang?"


Theo dapat mendengar nada jahil dari suara saudara angkatnya itu.


"Tidak ada, aku baru selesai mandi." Dylan tertawa mendengar jawaban Theo.


"Mulai malam ini kau akan lebih sering memerlukan mandi air dingin, Man."


"Diam kau!" Theo mendengus sambil tersenyum mendengar ucapan Dylan.


"Percayalah padaku, aku telah mengalaminya selama seminggu terakhir ini ketika Emily tinggal bersamaku."


Theo kini benar-benar tertawa mendengarnya, "Jadi itu alasanmu setiap malam pergi ke gym dan berenang di tengah malam?"


"Hei, Man, kau akan merasakannya, dengan tunangan yang sangat cantik dan seksi tinggal bersamamu? Percayalah, Theo, kau akan memerlukan itu semua."


Theo meminum birnya sebelum berkata, "Yeah, minimal aku tak perlu susah payah meyakinkannya untuk bertunangan denganku."


"Sial, kau!" Theo bisa mendengar Dylan tertawa sebelum pria itu menutup teleponnya.


Theo merebahkan badannya di atas sofa kulit warna krem yang ada di ruang keluarga, matanya terpejam, pikirannya berkelana memikirkan hal yang baru saja dia sadari mengenai masalah yang dihadapi tunangannya.


Satu pertanyaan telah terjawab tapi menimbulkan pertanyaan lain, siapa? Siapa orang di balik semua ini? Siapapun orangnya yang jelas pastilah orang itu mengetahui kondisi dari Richard McArtur, sang pemilik dari group Royal. Theo benci menyadari kalau kemungkinan orang itu adalah orang terdekat dari keluarga tunangannya, lebih sulit untuk kita menyadari bahaya yang sedang mengintai kita dari iblis yang berkedokkan malaikat daripada bahaya yang disebabkan oleh raja iblis yang berdiri dihadapan kita tanpa menggunakan topeng.


Pikirannya terus berkelana memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, Theo baru saja mulai terlelap ketika dia mendengar langkah-langkah kecil menuju arahnya.