The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 52



"Lexa, kau masih di sini?" Tanya Dylan tak percaya.


"Aku tak akan mungkin meninggalkanmu, Sobat," jawab Alexa sambil tersenyum bangga walaupun matanya masih meyiratkan ketakutan.


"Buang senjatamu, atau aku akan membunuh kekasihmu!" Perintah Thomas, sambil kembali menodongkan senjata ke arah Dylan yang berdiri beberapa meter darinya.


"Yang pertama dia bukan kekasihku, jadi kau salah," ucap Alexa sambil terus berjalan mendekati mereka dengan senjata masih teracung di hadapannya, "Yang kedua, kau belum mengetahui secepat apa aku bisa menembak," lanjutnya.


"Kau tidak mau mengetahuinya, Thomas, kami telah berhasil mengajarinya dengan sangat baik untuk menjaga diri," ucap Dylan sambil menatap Thomas yang mulai terlihat ragu.


"Jadi... buang senjatamu, atau kau akan mengetahui secepat apa aku bisa menembak!" Ancam Alexa sambil menodongkan senjatanya ke arah kepala pria yang berdiri hanya satu meter darinya, tapi ancaman gadis itu tidak membuat Thomas gentar, dia tersenyum mengejek, tangannya tetap menodong ke arah Dylan.


"Kau pikir aku takut, tembak saja kalau berani," ucap Thomas dengan santai yang membuat Alexa sedikit tertekan dan gemetar melihat penjahat itu tidak takut akan todongan senjatanya.


"Tidak! Aku tak mau menjadi pembunuh sepertimu," ucap Alexa setelah bisa mengendalikan diri, "Tapi aku akan berbaik hati mengirim dan menghabiskan masa tuamu dengan putrimu di penjara," ucapan Alexa itu sukses membuat Thomas mengalihkan perhatiannya dari Dylan.


"Apa maksudmu?" Thomas bertanya dengan rahang mengeras, matanya menatap gadis dihadapannya dengan tajam.


"Well, tadi aku menghubungi Alex, dia mengatakan kalau Calista telah aman bersama mereka, sedangkan Suzane... putrimu dan orang-orang yang berusaha menangkapnya telah diamankan oleh NYPD," ujar Alexa berusaha terlihat santai berbeda dengan jantungnya yang bertalu hebat karena rasa takut.


Mendengar itu wajah Thomas merah padam, amarahnya berkobar seperti api yang telah menghanguskan kedua kendaraannya.


"Kurang ajar!" Teriaknya sambil mengalihkan todongan senjatanya dari Dylan ke arah Alexa.


Tepat sebelum pria itu menarik pelatuknya untuk menembak Alexa, Dylan melompat ke arah Thomas yang membuat senjata yang dipegangnya meletus tanpa arah, ia memegang pergelangan tanganya sambil memukul-mukulkannya ke tanah hingga senjata itu terlepas dari genggaman pria yang sebenarnya adalah pamannya sendiri, Dylan memukul kepala lawannya tapi pria paruh baya itu masih bisa melawannya dengan menggunakan kaki dia menendang Dylan hingga terpelanting.


Dengan napas terengah Thomas berusaha merangkak untuk mengambil senjata yang tergeletak tak jauh darinya, tapi gerakannya kurang cepat dari keponakannya yang sudah berdiri lalu menendang pistol itu menjauh dari mereka, Dylan kemudian menendang tubuh Thomas hingga kembali tergelatak dan terus menghujami perutnya dengan tendangan-tendangan yang akhirnya membuat pria paruh baya itu terbatuk mengeluarkan darah. Dylan kini membungkuk di atas tubuh yang tergeletak lemah, matanya nyalang menatap pria dibawahnya, napasnya memburu, tangannya mencengkram kerah kemeja pria yang bertanggung jawab atas kematian ibu kandungnya, lalu mengangkatnya dan sebuah pukulan-pun mendarat di pipi pria itu hingga kembali mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Ini untuk Emily karena kau telah menculik kembarannya!" Seru Dylan sambil kembali mengangkat kerah baju Thomas yang sudah terlihat lemas.


"Ini untuk Adikku yang telah kau khianati kepercayaannya," lanjut Dylan sambil kembali memukul pria yang sudah hampir hilang kesadarannya.


"Ini untuk Ayahku!"


"Dan ini untuk Ibuku yang telah kau bunuh!" Teriak Dylan sambil memukul Thomas sekuat tenaga yang ia masih miliki, pukulan terakhirnya itu berhasil membuat pria itu terkulai tak bergerak lagi.


"Dylan, cukup! Kau akan membunuhnya!" Seru Alexa ketika melihat sahabatnya itu masih akan memukul orang yang telah tak berbentuk itu.


Tangan Dylan berhenti di udara ketika mendengar teriakan Alexa, untuk beberapa saat dia sangat tergoda membunuh pria yang telah menghancurkan keluarganya itu tapi akal sehat kembali memasuki pikirannya, dia tidak boleh menjadi iblis hanya karena membunuh iblis. Akhirnya dengan napas yang sudah mulai kembali normal Dylan membiarkan tubuh pria itu tergeletak di atas tanah.


Ia berdiri lalu menatap Alexa yang duduk bersandar di ban mobil Van berwarna pink terang, sahabatnya itu terlihat berantakan tapi Dylan yakin dia jauh lebih berantakan.


"Semua sudah berakhir Dylan," ucap Alexa, bibirnya menyunggingkan senyum yang sama dengan kekasihnya yang membuat Dylan ikut tersenyum.


"Yeah, semua telah berakhir."


"Tidak, maksudku semua benar-benar telah berakhir... lihat itu."


"Kau benar, ini benar-benar telah berakhir." Dylan tersenyum ketika melihat iring-iringan kendaran itu, tapi senyum itu langsung hilang ketika melihat sahabatnya kini terkulai lemah, napasnya memburu, keringat membasahi tubuhnya sebelum akhirnya ia tergeletak tak sadarkan diri.


"Lexa!" Dylan berlari ke arah Alexa sambil berteriak yang membuat Alex dan Theo yang baru saja keluar dari mobil langsung berlari ke arah mereka ketika mendengar teriakan cemas Dylan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Theo sambil berjongkok di sebelah Dylan yang tengah berusaha menyadarkan Alexa.


"Sepertinya dia tertembak," ucap Dylan dengan suara bergetar ketika melihat darah keluar dari perut gadis itu, wajah mereka langsung pucat pasi ketika menyibakan coat yang ia pakai dan melihat pakaian gadis itu telah basah oleh darah.


"Demi Tuhan, Lexi, sadarlah!" Ucap Alex sambil mengambil alih tubuh gadis itu dari pangkuan Dylan, tangan kirinya menopang kepala Alexa yang terkulai tak sadarkan diri, sedangkan tangan kanannya menekan luka tembak untuk menghentikan pendarahan.


"Paramedis, dimana mereka!" Theo berteriak gugup, dan ketiga pria itu mengumpat ketika melihat mobil ambulan masih dalam perjalanan.


"Bertahanlah Lexa, aku mohon bertahanlah," pinta Dylan dengan suara gemetar, tangannya menggenggam tangan Alexa yang terkulai lemah.


Tak mau menunggu lebih lama Alex menggendong tubuh Alexa, ia berlari ke arah ambulan ketika melihat mobil itu telah berhenti di bahu jalan tak jauh dari mereka.


"Dia tertembak!" Teriaknya menarik perhatian paramedis yang langsung membuka pintu belakang ambulan meminta Alex untuk menaiki mobil itu lalu membaringkan tubuh Alexa di atas blangkar yang ada di dalamnya.


"Sir, apa kau akan ikut ke Rumah Sakit?" Tanya petugas medis yang terlihat dengan sigap memasang masker oksigen dan memeriksa lukanya.


"Sir?!" Ulang petugas itu ketika tidak mendapat jawaban dari pria bermata biru yang hanya menatap Alexa dengan wajah pucat.


"Tidak, dia tidak akan ikut. Aku yang akan ikut dengan kalian."


Alex menengok menatap Dylan dan Theo yang sudah berdiri di depan pintu ambulan, "Alex, kau harus berada di sini. Pastikan kau mengirim para b*j*ng*n itu kedalam penjara," ucap Dylan yang mendapat anggukan dari Theo.


Beberapa saat Alex hanya terdiam, dia kembali menatap Alexa yang tengah diberikan pertolongan pertama oleh para petugas medis, "Kalian benar, aku harus tetap disini," ucap Alex sambil menatap kedua sahabat Alexa itu. Alex melompat turun dan posisinya digantikan oleh Theo.


"Dylan, kau juga harus diperiksa kau menggunakan ambulan satunya lagi, kita akan bertemu di Rumah Sakit," ujar Theo yang langsung dipahami oleh Dylan.


"Alex... pastikan kau membuang kunci sel mereka agar mereka tak bisa keluar dari penjara, ok?" Ucap Theo sebelum pintu ambulan tertutup dan mobil itu melaju dengan suara sirine menerobos kekacauan yang terpangpang dihadapannya.


Dylan langsung berlari ke arah mobil ambulan satunya lagi dimana para petugas medis telah menunggu dan langsung membawanya pergi ke rumah sakit, sedangkan Alex masih berdiri memandangi iring-iringan ambulan itu hingga tak terlihat lagi, "Dia akan baik-baik saja, dia gadis yang kuat," bisik Alex lebih untuk dirinya sendiri.


"Para b*j*ng*n itu akan menerima akibatnya!" Bisiknya dengan suara menggeram lalu berbalik dimana ia melihat ketiga anak buah Thomas yang telah sadar kini tengah digiring polisi memasuki mobil tahanan dengan tangan di borgol.


Beberapa polisi berlalu lalang untuk mengamankan TKP dan beberapa barang bukti, garis polisi telah terpasang mengelilingi area rumah itu, mobil pemadam tengah sibuk memadamkan api dari sisa ledakan dua kendaraan yang sekarang hanya tinggal rangka berwarna hitam.


Thomas yang kondisinya masih belum sadar harus diangkut menggunakan tandu dan tangannya diborgol, Alex menghentikan mereka untuk melihat kondisi pria itu. Senyum miring khas Alex muncul ketika melihat dalang dari semua ini terlihat berantakan, kemeja mahalnya kotor oleh tanah dan darah, beberapa kancingnya telah lepas, wajahnya memar di beberapa tempat, hidungnya patah dan ia yakin beberapa giginya telah copot akibat pukulan Dylan tadi.


Alex berjongkok di sampingnya, "Aku akan memastikan kau akan menerima balasan dari semua ini!" Bisik Alex tepat di telingan Thomas, sebelum akhirnya membiarkan para petugas membawa penjahat itu menjauh dari hadapannya.


*****