The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 17



"Jadi, Jane bukan pelakunya?"


"Bukan, Em, bukan dia pelakunya."


Emily menghembuskan napas lega mengetahui bukan teman baiknya yang melakukan ancaman terhadapnya, setidaknya dia tidak salah dalam memilih teman. Setelah mendapat petunjuk dari penemuan Gerard, Alex kembali ke kantor polisi untuk melakukan investigasi lanjutan, dan mendapatkan surat penggeledahan untuk mengamankan komputer yang di duga digunakan si pelaku untuk mendapatkan foto keluarga Wincester, dan menjadikan komputer itu sebagai barang bukti.


"Dia memiliki alibi yang kuat, pada tanggal dimana orang itu menggunakan komputernya, hari itu dia tidak masuk kerja dan pacarnya menjadi saksi untuk itu." Alex berdiri dari kursinya dan berjalan kearah meja rekannya untuk mengambil berkas, kemudian duduk kembali.


"Kami sudah melakukan investigasi di kantormu, Em, atasanmu mengatakan kalau komputer Jane mengalami kerusakan satu minggu sebelumnya, jadi Jane menggunakan komputer baru sedangkan komputernya di bawa oleh bagian tekhnisi." Emily mengingat itu, Jane pernah komplain mengenai komputernya yang mati.


"Tapi sayangnya perusahaanmu belum melakukan update mengenai inventarisasi komputer, sehingga databasenya masih menunjukan kalau pengguna no ip komputer yang ditemukan Gerard masih atas nama Jane."


Alex mencoba memberi penjelasan kepada Emily dan Dylan yang saat ini sedang berada di kantor NYPD guna mendapatkan informasi hasil investigasi terbaru dari kasus yang dialami gadis itu.


"Jadi kita kembali menemukan jalan buntu?"


Suara Emily terdengar putus asa, kilat mata frustasi kembali terlihat di dalam mata amber milik gadis itu, melihat itu Dylan merasa marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk gadis yang dia cintai.


"Sial! Mengapa kau tidak melakukan apa-apa! Tidak adakah yang bisa kita lakukan untuk menangkap ******** itu?"


Dylan menggeram marah, dia berdiri dengan tiba-tiba sehingga menimbulkan bunyi derit kursi cukup kencang, dan sukses membuat beberapa orang polisi yang sedang berada di ruangan itu melihat kearahnya sebelum kemudian kembali kepada aktifitas masing-masing. Seperti tak mau kalah dari Dylan, Alex menggebrak mejanya untuk mendapat perhatian pria itu yang kini tengah berjalan mundar mandir di depan mejanya sambil berkaca pinggang.


"Dengar, bukan cuma kau yang ingin menangkap ******** itu, kita semua ingin menangkapnya!"


Alex menggeram dengan sorot matanya yang menatap Dylan tak kalah marah dari pria itu. Mereka saling pandang dengan sorot mata sama-sama marah untuk beberapa saat hingga akhirnya Alex menarik napas panjang untuk meredam amarahnya, Alex mengingatkan dirinya sendiri supaya jangan sampai terbawa emosi kalau tidak dia akan dikeluarkan dari kasus ini, dan dia tidak mau hal itu terjadi, ia haruslah orang pertama yang memasangkan borgol kepada orang yang telah membuat keluarga sahabat dekatnya itu mengalami penderitaan.


"Kau tahu? NYPD merupakan salah satu kantor polisi tersibuk di dunia, kau pikir kami di sini hanya mengurusi kasus ini saja? Kau tidak bisa bayangkan berapa kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penculikan yang kami terima setiap harinya, dan kau bilang kalau aku tak melakukan apa-apa?"


Kedua pria itu saling pandang dengan sorot mata saling mengintimidasi untuk kedua kalinya sebelum akhirnya akal sehat kembali memasuki pikiran Dylan.


"Maafkan aku, aku hanya merasa putus asa karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu orang yang aku cintai."


Emily menggenggam tangan Dylan yang telah kembali duduk, gadis itu tersenyum lembut kearahnya, dia merasa tersentuh dengan ucapan Dylan tadi.


"Aku mengerti.. dengar! Setidaknya kita dapat mempersempit wilayah pencarian kita, dengan ditemukannya komputer itu minimal kita mengetahui dimana ******** itu berada." Alex dapat menangkap sedikit kilat harapan kembali muncul di mata Emily yang tengah menatapnya serius.


"Kami telah menetapkan beberapa orang tersangka, dan akan segera melakukan interogasi kepada mereka."


"Kalian sudah memiliki tersangka?"


"Iya, Em, ******** itu pastilah salah satu dari orang-orang yang punya kewenangan mengakses komputer itu dan itu berarti hanya beberapa orang dari bagian tekhnisi saja."


Dylan mengangguk semangat mendengar informasi dari Alex, minimal mereka sekarang sudah memiliki beberapa orang tersangka.


"Em, apa kau memiliki seseorang yang kau curigai? Atau yang bertingkah laku aneh kepadamu akhir-akhir ini?"


Emily mencoba mengingat-ingat sesuatu apa saja yang bisa dijadikan petunjuk yang mungkin terlewat olehnya, tapi semuanya terlihat normal tidak ada yang mencurigakan.


"Well, selain Dylan yang mengaku-ngaku sebagai tunanganku, yang lainnya terlihat normal bagiku."


Alex tersenyum mendengar ucapan gadis itu, di saat suasana seperti ini Emily masih bisa mencairkan suasana jadi sedikit relax, sungguh ciri khas sikembar Wincester yang selalu bisa membuat semua orang tersenyum.


"Dan kau menganggap kalau itu tidak normal?" Alex mengangkat sebelah alis matanya dengan jahil.


"Yeah tentu saja itu tidak normal, aku rasa dia menderita narsisme."


"Ayolah, guys, serius ok?" Dylan mencoba mengembalikan pembicaraan mereka dan melupakan seputar narsisme tadi.


"Ok, maafkan aku tapi ini terlalu menarik untuk dilewatkan," Alex mencoba menghentikan tawanya sebelum kembali melanjutkan perkatannya, "Aku harus menceritakan ini kepada Daniel ketika dia pulang nanti."


"Oh, Man, yang benar saja," Dylan memutar bula matanya sebelum akhirnya menatap sang Detektif yang sialnya adalah sahabat calon kakak iparnya sendiri.


Alex mengangkat kedua tangannya tanda menyerah ketika melihat Dylan yang sudah menatapnya dengan pandangan membunuh.


"Ehm.. Ok kita lanjutkan." Alex melihat berkas-berkas yang ada dihadapannya sebelum akhirnya kembali membahas perkembangan kasus Emily.


"Kami telah meminta bagian Cyber Crime untuk memeriksa komputer itu siapa tahu ada petunjuk yang ditinggalkan pelaku di sana, tapi itu memerlukan waktu karena kami kekurangan tenaga ahli mengingat kejahatan dunia maya saat ini tidak kalah banyak dari kejahatan di dunia nyata." Itulah sebabnya kenapa mereka selama ini menunggu Gerard pulang dari perjalanan bisnisnya hanya untuk meretas facebook Emily.


"Tapi, tidak usah khawatir, Em, kita mempunyai solusi untuk masalah komputer."


Emily terdiam beberapa saat sebelum mengerti maksud Alex, "Gerard! Kita punya Gerard," suara gadis itu terdengar antusias, senyum mengembang di bibirnya dan senyuman itu menular kepada Alex dan Dylan, mereka tersenyum karena bahagia melihat harapan benar-benar telah kembali ke dalam sorot mata amber gadis itu, membuatnya terlihat semakin cantik.


"Iya, Em, kita beruntung karena kita mempunyai ahli cyber sendiri."


*****


Emily keluar dari kamar yang dia tempati di apartemen Dylan, rambut hitamnya di kuncir kuda, dia sudah siap dengan pakaian larinya yang berwarna pink, matanya berkeliling mencari sosok pria bermata hijau itu, tapi setelah dia berkeliling kesemua ruangan yang ada di apartemen, dia belum juga menemukan sosok itu.


"Dylan?"


Emily mengintip kamar pria itu untuk mengecek keberadaannya, tapi kamar bernuansa hitam putih itu terlihat sepi, tempat tidur king size yang berada di tengah-tengah kamar itu terlihat rapi.


"Dylan?"


Emily kembali berbisik memanggil sambil perlahan memasuki kamarnya, gadis itu berhenti di depan nakas yang berada di samping tempat tidur ketika matanya melihat dua buah pigura berwarna perak berada di atas nakas itu, dia mengangkat pigura pertama yang berisi foto berukuran pos card memerlihatkan foto kedua orang tua Dylan yang tersenyum bahagia dengan bayi laki-laki yang sangat lucu dalam pangkuan ibunya.


Dylan mewarisi mata hijau dan rahang yang tegas dari ayahnya, sedangkan rambut coklatnya dia warisi dari ibunya, Emily menaruh kembali foto keluarga kecil itu dan dia tersenyum ketika melihat foto mereka berempat saat kelulusan SMA dulu, Emily dan Alexa sebenarnya tiga tahun di bawah mereka tapi mereka berdua termasuk anak yang jenius sehingga mereka berdua mengikuti akselerasi dan langsung lompat dua kelas langsung ketika masih SD, sedangkan waktu SMP mereka lompat satu kelas, ketika mereka masuk SMA mereka sering di buli oleh yang lainnya karena mereka lebih kecil dan merupakan target empuk bagi para senior.


Theo dan Dylan yang tidak menyukai itu akan menjadi pembela kedua gadis itu dan melawan siapa saja yang berani menyentuh mereka, dan biasanya akan berarkhir dengan perkelahian antara Theo dan Dylan melawan anggota club basket karena ternyata perempuan yang membuli si kembar adalah kekasih mereka, dan akhirnya mereka berempatpun pulang dengan babak belur.


Emily berjalan mengelilingi partisi antara tempat tidur dan dua ruangan dibelakangnya.


"Dylan?"


Gadis itu mengintip di balik partisi berharap menemukan Dylan di dalam salah satu ruangan yang tertutup itu, ruangan di ujung diyakini Emily adalah kamar mandi Dylan sedangkan ruang satunya lagi adalah ruang pakaiannya.


"Dylan!" Emily berteriak mengira pria itu di dalam kamar mandi dan tidak mendengar panggilannya dari tadi.


"Apa?" Suara ngebas itu terdengar dari arah pintu kamar.


"Sial! Dylan, apa yang kau lakukan di situ? Kau mengagetkanku!" Emily hampir saja melompat karena kaget, dia memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Well, seingatku ini kamarku, Cupcake."


Dylan berjalan dengan santai masuk ke dalam kamar sambil membuka kaosnya yang basah begitu juga dengan rambutnya yang sedikit panjang terlihat basah oleh keringat. Demi Tuhan, kenapa pria itu harus bertelanjang dada -lagi- di depannya? Emily benar-benar tidak bisa mengendalikan detak jantungnya yang menggila ketika melihat pemandangan didepannya, tubuh Dylan yang basah oleh keringat terlihat sangat seksi.


*****