The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 32



"Itu bisa saja memori yang coba kau lupakan selama ini." Dr. Reid pria berusia lima puluhan yang telah menjadi dokter keluarga Regan selama ini tengah memberikan penjelasan kepada Dylan mengenai gejala yang ia rasakan akhir-akhir ini.


"Tapi aku tak mengenali siapapun di dalam potongan gambar itu," ujar Dylan dengan putus asa.


"Mungkin karena kau mencoba melupakannya," ucap dr. Reid dengan sabar, dia menatap Dylan yang terlihat kacau sebelum melanjutkan ucapannya kembali, "Dengar, Dylan, mungkin ini adalah kenangan buruk jadi alam bawah sadarmu menguncinya rapat-rapat agar kau tidak mengingatnya, sampai ada sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini telah membuka kunci itu hingga kenangan itu kembali menyeruak kepermukaaan. Ada pribahasa yang mengatakan kalau kenangan itu abadi, sepahit dan seburuk apapun kenangan yang berusaha kita lupakan sebenarnya masih tersimpan dengan rapih di suatu tempat di dalam diri kita, hanya menunggu waktu yang tepat sebelum akhirnya kembali muncul kepermukaan, dan mungkin ini waktu yang tepat untukmu."


Dylan terdiam merenungi ucapan pria berambut putih itu untuk beberapa saat, mungkin ini adalah jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini membayanginya, tanpa sadar tangannya menggenggam liontin yang ada di balik kemeja.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Dr. Reid diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Dylan.


"Tidak ada." Dylan mengerutkan alis tidak mengerti dengan jawaban yang diucapkan dokter keluarganya itu.


"Yang harus kau lakukan adalah jangan melawannya, biarkan semua kepingan-kepingan puzel itu menjadi satu kesatuan gambar yang utuh."


"Tapi kepalaku rasanya mau pecah," ucap Dylan sambil menjambak rambutnya sendiri dan Dr. Reid bersimpati untuknya.


"Kalau kau mau, Dylan, kita bisa mencoba dengan metode hipnotis," Dr. Reid terlihat serius ketika memandang Dylan yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata menyelidik tapi yang ia temukan hanyalah keseriusan di dalam mata kelabu pria itu.


"Apa itu akan berhasil?" tanya Dylan dengan pelan.


"Kita tidak akan mengetahuinya sebelum mencobanya," ujar Dr. Reid sambil bersandar di kursi kerjanya, Dylan kembali terdiam memikirkan solusi yang mungkin satu-satunya jalan keluar dari permasalahannya, "Begini saja, kau pikirkan baik-baik kalau menurutmu perlu kita lakukan tapi kalau tidak perlu, kita lupakan saja hal ini, bagaimana?" Dylan mengangguk memahaminya, "Saat ini aku akan memberikanmu obat penghilang rasa sakit untuk kepalamu," Dr. Reid menulis resep lalu memberikannya kepada Dylan sambil kembali mengingatkannya untuk memikirkan melakukan hipnotis yang dijawab dengan anggukan oleh Dylan yang kemudian pamit pergi keluar dari ruangan bercat putih itu.


Dr. Reid terus mengawasi Dylan sampai ia keluar dari ruangannya lalu menutup pintu, dengan muka serius ia mengeluarkan telepon genggam dari saku jas praktiknya lalu menghubungi seseorang.


"Halo, Sir, dia baru saja pergi dari sini, ingatannya berangsur-angsur telah kembali, saya rasa waktunya tidak akan lama lagi." Dr. Reid terdiam menyimak ucapan dari orang yang ia ajak bicara di seberang telepon.


"Baiklah, Sir, saya mengerti." Ia menutup telepon kemudian kembali bersandar dikursinya sambil mengerutkan alis terlihat berpikir.


*****


Dylan berjalan menelusuri koridor rumah sakit ketika telepon genggamnya berbunyi dan langsung terseyum ketika melihat nama Emily tertera dilayarnya.


"Hallo, Cupcake, aku sudah selesai, dua puluh menit lagi aku sampai, apa kau sudah siap? Baiklah sampai jumpa," ujar Dylan masih dengan senyum menghias wajah tampannya, hari ini ia akan mengajak Emily berkencan, kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran.


Dylan memasuki Land Rover merah kesayangannya lalu mulai membelah jalanan kota New York yang padat, rencananya hari ini ia akan pulang dulu ke rumah, mandi, memakai pakaian terbaik dan untuk melengkapi kencannya yang sempurna ia akan mengganti kendarannya dengan salah satu super car yang terparkir di garasi miliknya dan Theo, ia kembali tersenyum membayangkan kencannya nanti kemudian berhenti di depan toko bunga untuk mengambil buket bunga pesanannya, Emily sangat menyukai mawar putih dan ia telah menyiapkan satu buket besar mawar putih untuk kekasihnya itu.


Dengan perlahan ia menaruh buket bunga yang sudah dirangkai dengan indah di kursi penumpang kemudian melanjutkan perjalannya, belum lama ia berjalan meninggalkan toko bunga itu ketika matanya melihat sebuah mobil sedan hitam mengikutinya di belakang, alisnya berkerut beberapa saat ia kembali melihat ke arah kaca spion dan mobil itu memang mengikutinya, untuk memastikan ia berjalan berputar putar sebelum akhirnya ia yakin kalau ia diikuti.


"Oh, sial!" umpatnya, secepat kilat ia mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi seseorang.


"Sial! dimana kau?" Tanya Alex cemas.


"Seventh Avenue," jawab Dylan singkat.


"Ok aku sedang ada di kantor, kau datang kesini, kita akan menjebaknya dan menangkap ******** itu," Dylan akan menutup teleponnya ketika ia mendengar Alex kembali memanggil namanya, "Parkir tepat di depan pintu masuk, apa kau mengerti?"


"Aku mengerti." Dylan menutup teleponnya lalu melesat menuju kantor pusat NYPD.


Seperti yang diperintahkan Dylan memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk, tak lupa ia mengambil buket bunga yang sengaja ia pesan untuk Emily sebelum keluar dari mobil, Alex dan salah seorang detektif bertubuh kurus yang bernama detektif Harry Martin telah menunggunya di lobi kantor.


"Dylan, kau tak perlu repot-repot membawakanku bunga segala," ucap Alex sambil tersenyum menggoda Dylan yang hanya memutar bola mata menghadapai teman detektifnya yang masih bisa bercanda.


"Ini untuk Emily... sial, Man, ini adalah kencan pertama kami dan para ******** itu malah mengikutiku hari ini," ujar Dylan geram.


"Hei, apa kau yakin kalau mereka bukan orang bayaran Daniel untuk menggagalkan kencan kalian?" Alex berkata dengan serius tapi Dylan bisa melihat sorot mata geli di dalam mata biru itu yang kini tengah menatapnya menggoda.


"Man, seriuslah."


"Baiklah-baiklah, maafkan aku, aku hanya bercanda." Alex tersenyum lalu memanggil beberapa teman polisinya.


"Dylan buka jaketmu."


Tanpa banyak bertanya Dylan melakukan perintah Alex lalu pria itu langsung memberikan jaketnya kepada salah seorang polisi yang memiliki tinggi badan hampir sama dengan Dylan kemudian mengenakan topi baseball untuk melengkapi penyamarannya. Detektif Harry Martin memberi arahan kepada beberapa orang polisi yang akan ikut dalam penjebakan kali ini, Dylan duduk mengawasi semuanya dengan harap-harap cemas, setelah mereka mengerti dengan tugas masing-masing akhirnya mereka mulai membubarkan diri dan siap beraksi.


"Tenang, kawan, kami akan menangkap para ******** itu, kau tunggu saja disini, paham?" Dylan menganggukan kepalanya menjawab pertanya Alex sebelum ia pergi bergabung dengan polisi lainnya. Semua penjebakan telah disusun rapi, Dylan menunggu dengan gusar di meja Alex, dia telah menghubungi Emily dan Theo untuk memberi tahu apa yang telah terjadi dan dengan menyesal ia harus membatalkan kencannya dengan Emily hari ini, Dylan akan menghubungi mereka kembali kalau semua sudah selasai.


Hal yang paling dibenci hampir semua orang adalah menunggu, begitu juga dengan Dylan. Beberapa menit terakhir ini hampir membuatnya gila, ia ingin para penguntit itu segera ditangkap agar semuanya jelas, siapa mereka dan apa tujuannya? Dylan merasa geram karena tidak bisa melakukan apapun, yang dia lakukan hanya sesekali membalas pesan dari Theo yang menanyakan kabar terbaru. Setelah hampir satu jam akhirnya Alex kembali sambil menggiring empat orang pria dengan setelan rapi yang tangannya telah diborgol.


Mata Dylan terbelalak melihat keempat pria yang dengan santai berjalan menuju ruang penjara di belakang, dadanya berdetak kencang, amarah menyeruak kepermukaan dengan emosi yang dimiliki ia berjalan mendekati iring-iringan, kepalan tangannya hampir saja menyentuh salah satu dari mereka kalau saja Alex tidak sigap menghalau pukulan itu, kemudian menyeret Dylan menjauhi keempatnya yang langsung dimasukan ke penjara.


"Dylan, tenangkan dirimu!" teriak Alex sambil menyeretnya kembali ke ruangannya.


"Tenang? Bagaimana bisa tenang, kau tidak diikuti mereka setiap hari dan itu bisa saja membahayakan hidup kita."


"Aku tahu, sekarang kau tenangkan dirimu, kalau kau menghajar mereka, kau yang akan masuk penjara karena penganiayaan, apa kau paham?" Alex berkata dengan tenang sambil mengawasi Dylan dengan mata birunya yang tajam.


*****