The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 44



"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Mr. Regan berdiri di samping Dylan yang tengah duduk di kursi malas depan kolam renang di rumah mereka. Kolam berukuran cukup besar itu di design memiliki air terjun di ujungnya, sehingga walau hanya duduk tapi memiliki efek menenangkan karena mendengar suara percikan air.


Dylan membuka kaca mata hitamnya lalu duduk tegak, "Sudah jauh lebih baik, Sir," ujarnya sambil tersenyum.


Mr. Regan terlihat menganggukan kepala, kemudian duduk di samping Dylan. Pria yang selama dua puluh tahun ini telah menjadi ayah bagi Dylan itu saat ini menggunakan pakaian santainya mengingat hari ini adalah hari libur, hanya mengenakan kaus polo berwarna hijau tua dan celana khaki, ia terlihat santai tapi Dylan bisa melihat guratan-guratan lelah di wajahnya yang masih terlihat tampan di usia lima puluhan itu, dan ia menyadari kalau itu sebagian besar disebabkan oleh kejadian yang menimpa dirinya akhir-akhir ini.


"Nak, ada yang harus aku katakan padamu," Mr. Regan menatap Dylan serius, "Aku tahu seharusnya ini menunggu Ayahmu terbangun dari koma, tapi kita tidak ada waktu lagi. Dengan kejadian yang menimpamu kemarin menunjukan kalau musuh kita sudah mengetahui identitasmu yang sebenarnya, jadi menurutku kita harus mengumumkan kepada publik tentang identitasmu yang sesungguhnya," ucap Mr. Regan sambil menatap Dylan yang terlihat terkesiap mendengar rencanya.


"Maksudmu kita akan mengadakan konfrensi pers?"


"Tidak, itu sangat beresiko seseorang bisa saja membocorkan materinya sebelum konfrensi," Mr. Regan menatap Dylan dengan serius, "Jadi kita akan mengumumkannya di acara pertunangan Theo dan Calista."


Untuk beberapa saat Dylan hanya terdiam memikirkan rencana itu, "Itu seharusnya menjadi acara terpenting buat mereka berdua. Aku tak ingin mengacaukannya."


"Tidak, Theo yang mengusulkan ini semua dan Calista sudah menyetujuinya jadi hanya tinggal menunggu keputusan darimu. Bagaimana? Apa tidak masalah?"


Dylan kembali terdiam berusaha memikirkan semuanya, tentu saja apa yang diucapkan ayah angkatnya itu benar semua demi dirinya dan juga Calista, semakin mereka menunda pengumuman mengenai identitas dirinya maka semakin besar kesempatan musuhnya untuk menghabisi mereka berdua. Minimal kalau dunia telah mengetahui dirinya adalah pewaris dari grup Royal maka akan banyak mata yang mengawasi dirinya termasuk pers, jadi musuh mereka tidak akan bertindak dengan gegabah untuk mencelakai mereka berdua.


Dylan menarik napas panjang, "Baiklah, aku mengikuti semua keputusanmu, Dad" ucap Dylan dengan mantap yang membuat Mr. Regan mengangguk dengan puas.


"Bagus, aku akan mengurus semuanya kau tidak usah khawatir."


Mr. Regan berdiri lalu menepuk pundak Dylan ringan sebelum berlalu, tapi baru ia berjalan beberapa langkah Dylan memanggilnya, "Dad," Mr. Regan menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Dylan yang sudah berdiri.


"Terima kasih dan maafkan aku," ucap Dylan dengan terbata-bata, matanya menatap pria yang rambutnya sudah mulai memutih, pria yang dulu mengajarinya dan Theo bermain baseball di sela-sela kesibukannya, pria yang menyelinapkan pizza dan kaset game di saat dia dan Theo dihukum di dalam kamar oleh Ibu mereka karena bertengkar di sekolah, pria yang berjaga semalaman ketika ia sakit, pria yang memberinya semangat untuk kembali bangkit di saat ia terjatuh dari sepeda, pria yang selama dua puluh tahun ini selalu ada disisinya sebagai seorang ayah.


"Aku belum pernah mengatakannya, tapi aku sangat bersyukur dan berterima kasih karena kau telah menjadi Ayah yang luar biasa untukku selama ini." Mr. Regan merapatkan bibirnya dan mengangguk lemah, ia sangat terkejut karena bisa mendengar ucapan itu dari seseorang yang telah ia besarkan seperti putra kandungnya sendiri.


"Aku.. aku tak tahu apa jadinya seandainya bukan anda dan Mom yang membesarkanku. Terima kasih, Sir, bagiku kau tetaplah Ayahku," lanjut Dylan dengan suara nyaris bergetar, mereka hanya saling pandang untuk beberapa saat, tidak bisa dipungkiri kalau mereka saling menyayangi layaknya anak dan ayah, itu semua terlihat dari sorot mata mereka yang tak mungkin berbohong. Iya, bagi Dylan pria di hadapannya inilah ayahnya, walaupun tak ada hubungan darah tapi pria inilah yang mengetahui dirinya sebaik dirinya sendiri. Ia pernah membaca buku ada seseorang yang berkata 'Keluarga tidak harus berarti pertalian darah, tapi keluarga adalah seorang yang selalu berada di sampingmu, menjagamu, menghiburmu, menuntunmu kembali ke jalan yang benar di saat ia tersesat, itulah keluarga'.


"Dan maafkan aku, karena akhir-akhir ini telah membuatmu sangat khawatir," ujar Dylan sambil menunduk menatap riak-riak air kolam renang yang jernih.


Mr. Regan membuang napas berat, "Kau benar, Nak, kau telah membuat aku dan Ibumu sangat khawatir. Dia bahkan berencana mengurung kalian semua di dalam rumah sampai pelakunya tertangkap."


Dylan tersenyum mendengarnya, Ibunya yang satu itu memang sangat berlebihan bila menyangkut keselamatan anak-anaknya.


"Tapi tidak usah khawatir, kita akan segera membereskan ini semua. Dan... Ibumu pasti akan menangis bila mendengar apa yang kau ucapkan tadi padaku, setelah mengetahui kalau ingatanmu kembali, dia sangat khawatir kalau kau akan melupakan dan meninggalkannya."


"Itu tidak akan terjadi, Sir, bagiku Mom adalah Ibuku selama ini. Aku telah kehilangan Ibu kandungku, aku tak mau kehilangan seorang Ibu lagi."


Mr. Regan menganggukkan kepalanya, "Kau harus mengatakan langsung padanya, Nak, dan siapkan tissue yang banyak."


*****


Persiapan pesta pertungan Theo dan Calista membuat semua wanita disekeliling Dylan terlihat sibuk, bukan hanya Calista dan Ibu Theo yang sangat antusias tapi Emily dan Alexa serta ibu merekapun tak kalah antusiasnya. Mereka menyiapkan semuanya sendiri dari mulai gaun, pemilihan menu makanan dan bunga mereka melakukannya sendiri. Dan ketika suatu malam disaat mereka semua berkumpul untuk makan malam Mr. Regan bertanya kenapa tidak menyerahkan semuanya kepada jasa perencana pesta yang telah di sediakan hotel saja, Calista dan Ibunya dengan kompak berkata.


"Itu berbeda, ini adalah pertunangan sekali seumur hidup putra-putri kita, bagaimana bisa aku menyerahkannya kepada orang lain," ucap Mrs. Regan yang diamini Calista dengan menganggukan kepalanya dengan serius dan semangat tinggi. Dan akhirnya ketiga pria dewasa di keluarga Regan-pun kalah oleh kedua wanita itu.


Seperti hari ini tepatnya satu minggu sebelum hari-H pesta pertunangan, ibunya Theo dan ibunya Emily berencana untuk mengunjungi tempat katering dan kue.


"Tedy, jangan lupa kau temani Calista untuk fiting gaun nanti sore!" perintah ibunya yang langsung membuat Theo memutar bola matanya karena panggilan ibunya itu.


"Jangan khawatir aku telah mengingatnya, Mom," jawab Theo sambil memakan sarapannya.


"Bagus," ucap ibunya dengan puas, "Sayang, ingat jangan sampai kau pergi tanpa pengawalan ok?" Ucap Mrs. Regan sambil menatap Calista yang duduk disebelahnya dengan penuh kasih sayang, Calista tersenyum bahagia menyadari calon ibu mertuanya itu sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Iya tentu saja, aku akan meminta beberapa orang untuk ikut denganku."


Jawaban Calista itu cukup membuat wanita yang selalu terlihat anggun itu merasa puas dan tenang.


"Dan kau, Dylan, kau masih harus banyak beristirahat."


"Aku sudah sehat, Mom, kau lihat? Aku sudah bisa lari keliling lapangan bola sambil menggendongmu," ucap Dylan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan macam-macam anak muda, kau masih harus beristirahat, atau aku akan memborgolmu di tempat tidur lalu membuang kuncinya kalau kau tidak mau menurut!" Ancam Mrs. Regan sambil mengacungkan garpu yang dia genggam, tapi ancamannya itu hanya membuat Dylan meringis sambil tersenyum lembut.


"Ide yang sangat bagus andai Emily menemanimu di dalam kamar," bisik Theo sambil memasukam satu potong roti yang telah ia celupkan terlebih dahulu ke dalam cream sup asparagus.


"Kau benar! Aku akan mencobanya nanti," bisik Dylan dengan mata berbinar menatap jus jeruk di hadapannya seolah-olah shampine yang sangat mahal.


"Dan Emily akan membuatmu kembali berakhir koma di rumah sakit," ujar Theo sambil tertawa sebelum meminum jus jeruknya.


Dylan membuang napas berat, "Kau benar, sebaiknya aku mencari cara lain."


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Mrs. Regan bertanya karena penasaran dengan kedua putranya yang sedang berbisik-bisik.


Theo memandang Ibunya sambil tersenyum, "Tidak ada, Mom, aku hanya mencegah Dylan melakukan hal-hal aneh yang akan membuatnya kembali ke rumah sakit," ucap Theo santai yang membuat Dylan memelototkan matanya tak percaya.


"Dylan, jangan macam-macam aku serius dengan borgol itu!" ancam Mrs. Regan yang membuat Theo tertawa, tapi kemudian dia terdiam setelah melihat tatapan mematikan dari Dylan.


*****