The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 29



Sepanjang perjalan pulang dari rumah sakit, Dylan lebih banyak diam hanya sesekali ia tersenyum menanggapi ocehan Emily yang berusaha membuatnya kembali tertawa. Emily tahu ada yang salah dengan kekasihnya itu, tapi ia tak mau memaksa Dylan untuk bercerita ia akan menunggunya untuk bercerita atas kemauan sendiri tanpa paksaan darinya.


"Well, kita sudah sampai."


Dylan telah memarkir mobilnya di depan rumah orangtua Emily, lalu ia keluar dan membantu kekasihnya keluar dari mobil. Sesampainya di dalam rumah Dylan langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa coklat muda yang ada di ruang keluarga, sedangkan Emily dengan berjalan dibantu tongkat langsung menuju dapur untuk mengambil minuman. Dia mengambil dua kaleng soda untuk dirinya dan Dylan, dengan perlahan dan dibantu Dylan dia duduk di samping pria yang dari tadi diam tak banyak bicara.


Beberapa menit berlalu dan tak ada yang buka suara, Emily bisa melihat Dylan beberapa kali menghembuakan napas berat sambil mengerutkan alis yang membuat kesabaran gadis itu hilang seketika.


"Dengar," Emily berkata sambil merubah posisi duduknya jadi menghadap Dylan, "Tadinya aku akan memberimu waktu sampai kau menceritakannya sendiri apa yang sebenarnya terjadi," Emily menatap Dylan serius, "tapi aku tak tahan lagi, jadi ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"


Emily mengangkat kedua alisnya meminta Dylan untuk bercerita, awalnya ia terlihat ragu-ragu lalu merubah posisi duduknya menghadap Emily yang menatapnya menuntut penjelasan.


"Ok, tapi kau janji tidak akan menyebutku gila?" Emily mengangguk cepat sebagai jawaban.


"Kau tahu ketika di rumah sakit tadi aku seperti melihat potongan-potongan gambar, yang aku sendiri tidak tahu apa dan siapa itu." Dylan mengerutkan alis mencoba mengingat-ingat kembali apa yang sebenarnya yang dia lihat.


"Aku tidak mengenal satupun dari gambar-gambar itu," dia menggelengkan kepala sambil menatap Emily yang tengah memerhatikannya dengan serius, "tapi gambar-gambar itu seperti ada ikatan denganku, seolah-olah aku ada di sana dan menjadi bagian dari itu semua."


"Seperti dejavu?"


"Iya, seperti dejava.. dan itu membuatku takut, aku masih bisa mendengar suara benturan keras dan teriakan seorang wanita."


"Apa kau mengenal wanita itu?" Dylan menggeleng lemah.


"Kilasan-kilasan gambar itu terus berputar dalam kepalaku seperti potongan film, dan itu membuatku sangat sesak seolah-olah tidak ada oksigen disekelilingku." Dylan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali menatap Emily dengan semangat.


"Em, pernahkah kau merasakan ketika kau melihat sesuatu yang tidak jelas berkelibatan dalam kepalamu dan itu.. itu.." Dylan mengangkat tangannya berusaha menggambarkan perasaannya yang tak karuan.


"Itu membuatmu sangat takut, seolah-olah jiwamu terhisap oleh pusaran gambar yang bahkan kau tidak tahu apa itu sebenarnya," Dylan akhirnya bisa menggambarkan perasaannya walaupun dengan terbata-bata.


Emily terdiam dan hanya menatap Dylan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, ia terlihat bingung dengan penjelasan kekasihnya yang kini terlihat putus asa.


"Ok, lupakan kau pasti menganggapku gila." Dylan dengan lemas kembali duduk menghadap depan sambil bersandar di sofa.


"Tunggu-tunggu, aku rasa aku mengerti." Emily menarik lengan Dylan supaya dia kembali duduk menghadapnya lagi.


"Iya aku mengerti." Emily mengangguk untuk lebih meyakinkan Dylan yang kini telah tersenyum bahagia karena ada seseorang yang bisa memahami perasaannya.


"Aku mengerti perasaanmu, seperti jiwa kita tersedot oleh gambara 'apapun' itu dan itu membuat kita seperti susah bernapas," Emily menatap Dylan serius yang kini tengah mengangguk bersemangat.


"Iya persis seperti itu, Em, oh syukurlah kau tidak menganggapku gila," Dylan mencium Emily singkat sambil tersenyum.


"Tentu saja kau tidak gila, Dylan," Emily menatap Dylan dengan sorot mata percaya sepenuhnya kepada pria itu, "Perasaan itu persis seperti ketika Harry Poter bertemu Dementor... persis seperti itu, Dylan." Emily menatap Dylan dengan serius, tangannya dilipat di atas dada, kepalanya mengangguk-ngangguk penuh keyakinan.


Mendengar itu seketika senyum di wajah pria itu menghilang, mulutnya kini hanya bisa menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Harry poter? Dementor? Harusnya ia sudah bisa menebaknya.


"Iya, Harry poter, tentu saja," ucap Dylan dengan lemas sambil kembali duduk bersandar di sofa.


"Kau tahu, Harry Poter melawan Dementor dengan kenang bahagianya," Emily tak memedulikan Dylan yang kini terlihat lemas, dia kembali berbicara, "Dia mengingat orangtuanya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang berarti baginya, dengan kenangan-kenangan itulah dia melawan Dementor."


Emily menarik napas panjang, dia menggeser duduknya mendekat kearah Dylan, dengan lembut dia menggenggam tangan kekasihnya.


"Jadi, Dylan, yang harus kau lakukan ketika gambar-gambar itu muncul adalah ingatlah kalau kau tak sendiri, ada aku, Theo, Lexa dan yang lainnya, jangan takut.. berpeganganlah pada kenangan yang membahagiakan, kalau itu membuatmu sesak dan kau merasa takut, tutup matamu dan ingatlah kami selalu ada disisimu."


Dylan tersenyum mendengar perkataan Emily, dia menariknya ke dalam pelukan lalu mencium kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Kau tahu," Emily kembali duduk tegak dan memandang Dylan dengan serius, "Aku berpikir mungkin gambaran itu ada kaitannya dengan masa lalumu, Dylan, apa wanita yang duduk disampingmu itu Ibumu?"


Dylan menggeleng tidak begitu yakin, dia tidak begitu mengingat ibunya yang sudah meninggal ketika dia masih kecil.


Dylan berusaha mengingat kembali bayangan itu, ia bisa melihat wanita itu duduk di sebelah anak kecil, matanya memancarkan kelembutan, senyumnya penuh dengan kasih sayang, tangan lentiknya mengambil sesuatu dalam tasnya, sebuah kalung. Kalung dengan rantai perak, dia memakaikan kalung itu di leher anak laki-laki bermata hijau yang duduk disampingnya itu lalu tersenyum lembut walaupun matanya memancarkan ketakutan sebelum akhirnya suara benturan itu membuat mereka terhempas.


Dylan bisa melihat kepala wanita itu terbentur jendela, darah mengalir dari pelipisnya menutupi mata dan pipi mulus wanita itu, tapi tangannya begitu erat memeluk tubuhnya, melindunginya dari benturan-benturan dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng. Anak itu menyurukan kepalanya ke dalam dada wanita itu sambil memejamkan matanya kuat-kuat, tangannya menggenggam erat kalung yang baru saja ia terima, mereka berputar-putar, semakin banyak benturan yang mereka terima dan akhirnya anak itu terlepas dari pelukan wanita pelindunginya yang kini telah terkulai lemas bermandikan darah, kepala anak itu membentur pintu mobil yang sudah tak berbentuk, dadanya terhimpit sesuatu yang membuat ia susah bernapas dan akhirnya kegelapan menyelimutinya.


Dengan napas terengah Dylan membuka matanya dan menatap Emily yang tengah menatapnya khawatir, tanpa dia sadari tangannya masih menggenggam sesuatu yang tak pernah ia lepaskan sepanjang hidupnya, sesuatu yang saat ini ada dibalik kemejanya.


Sebuah kalung perak dengan liontin cincin berhiaskan ukiran-ukiran rumit disekelilingnya.


*****