
Keesokan harinya Dylan memasuki area lobi Regan's Hotel dengan santai, disebelahnya Theo berjalan dengan lesu.
"Tersenyumlah, Theo, kau akan bertemu dengan tunanganmu bukan mau menghadiri pemakaman," ucap Dylan dengan suara mengejek.
"Yeah, aku akan menghadiri pemakamanku sendiri."
Suara Theo yang lemas, mau tak mau membuat Dylan tersenyum melihat saudaranya itu yang telihat sangat tampan hari ini. Ibu mereka sudah mewanti-wanti dari semalam kalau mereka harus memakai pakaian formal dan menjaga kelakuan mereka di depan tunangannya Theo.
Hari ini mereka mengenakan stelan jas terbaik yang di pesan khusus dari designer yang biasa menangani para artis, politisi dan bangsawan itu, tak heran kalau pakaian itu tampak pas di badan mereka yang terlihat atletis, rambut mereka di tata dengan rapi, melihat mereka berdua berjalan di sepanjang lobi hotel seperti melihat dua orang model pria yang sedang melakukan peragaan busana, yang sukses menarik perhatian para pengunjung hotel.
Mereka memasuki ruangan VVIP restoran hotel yang terletak di lantai 23, yang menawarkan pemandangan kota New York yang padat. Seorang pelayan restoran membukakan pintu ruangan itu dan mengatakan kalau orangtua mereka akan segera datang.
"Jadi Alex belum mengetahu siapa yang menabrak Emily?" Theo duduk di salah satu kursi yang ada diruangan itu diikuti Dylan disampingnya.
"Mobil itu adalah mobil sewaan, dan orang itu memakai identitas palsu." Dylan menghembuskan napas kasar mengingat mereka belum mengetahui indentitas dan motif si pelaku.
"Alex berkata kalau orang itu telah merencanakan semua ini dengan matang, dia kehilangan jejaknya setelah malam itu. Sial! Aku bahkan tidak menyadarinya kalau dia mengikuti kami."
Dylan tampak marah dan memukul meja didepannya, mengingat tentang semua yang dikatakan Alex kalau mereka mengikutinya dari mulai keluar apartemen Emily.
"Dylan, hati-hati dengan cara bicaramu, tidak boleh ada umpatan, apa kau mengerti?"
Suara lembut milik ibu Theo terdengar dari arah pintu yang kemudian diikuti oleh Mr. Regan dibelakangnya. Sepertinya Dylan sedikit menaikan suaranya tanpa dia sadari.
"Yes, Mam," jawab Dylan sambil tersenyum dan memeluk wanita paruh baya yang terlihat anggun dalam balutan gaun biru tuanya, Theo bergantian memeluk dan mencium pipi ibunya.
"Kalian terlihat sangat tampan hari ini, walaupun kalian memang selalu terlihat tampan." Mrs. Regan tampak puas dengan penampilan kedua putranya itu.
"Apa semua baik-baik saja?" Mr. Regan bertanya sambil menarik kursi untuk istrinya, lalu duduk disampingnya.
"Iya, semua baik-baik saja, Dad." Dylan berusaha meyakinkan dan tidak mau membuat pria yang dia anggap ayahnya itu merasa khawatir. Mr. Regan menganggukkan kepalanya kalau dia mempercayai ucapan Dylan.
"Sebentar lagi dia akan segera sampai. Anak-anak, aku ingin kalian menjaga sikap kalian didepannya, paham? Terutama kau, Tedy!"
Theo memular bola matanya ketika mendengar panggilan ibunya itu.
"Aku berjanji akan menjaga sikapku, kalau kau berjanji tidak akan memanggilku Tedy lagi, Mom."
Ibunya terlihat hendak membantah, tapi kemudian membatalkannya.
"Baiklah, Tedy, aku tidak akan memanggilmu Tedy lagi."
"Mom, kau baru saja memanggilku Tedy!" Seru Theo yang terdengar putus asa.
"Itu untuk yang terakhir."
Mrs. Regan menganggukan kepalanya untuk lebih meyakinkan putranya itu, tapi usahanya sia-sia karena semua orang mengetahuinya kalau itu hanya akan bertahan satu hari saja. Dylan dan ayah Theo tersenyum melihat hal itu sedangkan Theo dengan pasrah hanya bisa memular bola matanya saja.
Seorang pelayan membuka pintu ruangan itu dan diikuti seorang gadis berambut pirang dengan mengenakan gaun putih selutut, dan blazer pendek warna hitam dengan sedikit aksen putih dipinggirannya.
Mereka semua berdiri untuk menyambut gadis dengan mata warna biru langit itu, tanpa canggung Mr. Regan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, apa perjalananmu menyenangkan?"
Gadis itu tersenyum memperlihatkan lesung pipit yang menambah kecantikan gadis itu.
"Ya, Paman, perjalannya sangat menyenangkan."
Dylan dan Theo saling pandang melihat keakraban diantara gadis itu dan ayah mereka.
"Oh, Sayang, aku bahagia akhirnya bisa bertemu denganmu." Ibu Theo tidak kalah antusias menyambutnya dengan pelukan.
"Suamiku dan Ayahmu, sering membicarakanmu, tapi mereka tidak memperbolehkanku menengokmu di asrama."
Gadis itu tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tertata rapi mendengar pengakuan dari Mrs. Regan.
"Baiklah, Calista, aku ingin memperkenalkanmu kepada Putraku, tunanganmu," Mr. Regan menggandeng gadis itu sehingga berdiri di depan kedua pria yang dari tadi tengah memperhatikannya.
"Calista, ini Theodore Edward Regan, putraku, dan, Theo, ini Calista McArtur, tunanganmu."
Terlihat kilatan gugup di mata gadis itu sebelum akhirnya kembali tenang, dia menganggukan kepalanya sedikit sebelum menjabat tangan Theo, Theo dapat merasakan kegugupan dari gadis itu, tangannya sangat dingin dan sedikit gemetar.
"Theo, kau boleh memanggilku, Theo." Theo tersenyum mencoba menghilangkan kegugupan gadis itu.
"Calista."
Suara gadis itu terdengar begitu merdu di telinga Theo, gadis itu menatap Theo dengan matanya yang sebiru langit dan tersenyum, kembali memperlihatkan lesung pipitnya yang menawan. Oh Tuhan, kenapa sekarang giliran Theo yang merasa gugup.
Suara batuk Mr. Regan membuat keduanya langsung melepaskan tangan mereka yang masih berjabatan.
"Calis sayang, aku ingin memperkenalkanmu kepada satu orang lagi, dia adalah..."
"Dylan, kau pasti Dylan kan?" Calista memotong ucapan Mr. Regan, suaranya bergetar, matanya menatap ayah Theo itu penuh harap. Dylan menaikan alisnya tak mengerti, bagaimana gadis itu mengetahui namanya?
"Iya, Calista, ini adalah Dylan Alexander."
Mr. Regan mengenalkan mereka sambil tersenyum lembut menatap Calista yang langsung menjabat tangan Dylan dengan antusias, ada pancaran lain di mata gadis itu, terlihat rasa rindu dan sedih?
Gadis itu menatap Dylan dengan mata berkaca-kaca, tangannya gemetar dan sedingin es, bibirnya bergetar ketika dia mencoba untuk tersenyum, sorot matanya seolah mengatakan dia ingin memeluk Dylan yang berdiri dihadapannya dengan pandangan bingung mendapat reaksi dari gadis yang baru dia temui pertama kalinya.
*****