
"Em, kenapa pipimu merah? Apa kau demam?" Dylan mendekati Emily yang masih berdiri untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu.
Emily menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan akal sehatnya, "Tidak, aku baik-baik saja," suara gadis itu terdengar gugup, dengan sekuat tenaga dia mengalihkan pandangannya dari dada Dylan yang sempurna ke mata hijau pria itu yang sialnya, mata itu kini tengah menatapnya dengan sorot jahil.
"Ayolah, Em, jangan bilang mukamu memerah karena aku." Dylan mengangkat satu alis matanya sambil terus berjalan mendekati Emily yang terus melangkah mundur.
"Ti-tidak, tentu saja tidak!" Emily mengangguk-anggukan kepalanya untuk lebih meyakinkan, tapi sayangnya itu malah membuat Dylan tersenyum penuh kemenangan.
"Em, kau bahkan pernah melihatku hampir telanjang, ingat 'malam para pria'?" Dylan membentuk tanda kutip dengan dua jarinya ketika menyebut 'malam para pria’. Perkataan Dylan itu sukses membuat wajah Emily seperti kepiting rebus.
Tentu saja Emily ingat malam itu, ketika itu mereka masih SMA, dan orang tua Emily harus pergi ke Washington untuk tugas ayahnya, maka Daniel mengundang kedua sahabatnya, Alex dan Gerard, serta tidak ketinggalan Theo dan Dylan untuk melakukan 'Malam Para Pria'. Mereka melakukan permainan gila, sebenarnya itu hanya permainan foker biasa saja seandainya taruhannya bersifat normal, tapi sayangnya mereka memang di luar batas normal jadi mereka bertaruh setiap yang kalah harus melepas pakaian mereka sehelai demi sehelai.
Emily dan Alexa malam itu berada di kamar mereka dengan setumpuk komik, kripik kentang dan soda yang mereka dapatkan sebagai sogokan dari Daniel supaya tidak keluar kamar, tapi sialnya kakaknya itu tidak memikirkan kalau mereka harus keluar kamar dan pergi ke toilet. Malam itu Emily dengan terburu-buru pergi ke toilet yang ada di lorong dekat ruang keluarga mereka, dan ketika dia melintasi ruangan itu dia berhenti dengan tiba-tiba, matanya hampir saja keluar, mulutnya menganga tak percaya ketika dia melihat para pria yang hanya menggunakan celana dalam saja sedang duduk mengelilingi meja kaca diruangan itu dengan kartu pada masing-masing tangan mereka.
Yang terjadi selanjutnya adalah Emily berteriak dengan kencang yang membuat semua pria di ruangan itu berdiri karena kaget, dan hal itu malah membuat teriakannya tambah kencang karena pemandangan yang harus dia saksikan dengan lebih jelas.
"Stop! Jangan ingatkan aku pada malam itu, ok?!"
Emily berjalan mengelilingi Dylan yang masih tersenyum jahil kearahnya, dan secepat kilat dia berlari menuju pintu kamar pria itu.
"Kau dari mana? Aku mencarimu dari tadi, kau berjanji akan mengajakku berlari di hutan kota sore ini, ingat?" Emily bertanya setelah dia mengingat kembali alasannya masuk ke kamar Dylan.
"Maafkan aku, Em, aku lupa tadi aku melihatmu tertidur jadi aku pergi ke gym sebentar."
Selama Emily tinggal dengannya memang Dylan lebih sering ke gym, dia perlu melakukan kegiatan apapun itu untuk menyalurkan hormonnya. Dylan melihat kilatan kecewa di mata gadis itu, tentu saja Emily kecewa, dia sangat menantikan aktifitas di luar ruangan itu karena selama dua hari ini Alex masih belum memberi laporan apapun mengenai kasusnya.
"Berikan aku waktu lima menit ok, aku akan siap-siap dan kita akan segera pergi."
Emily kembali tersenyum bahagia mendengarnya, "Baiklah, aku akan menunggu di depan."
Secepat kilat Emily keluar dari kamar Dylan dan menutup pintunya, menyisakan Dylan yang membuang napas berat sambil berjalan ke arah ruang pakainnya. Sepertinya malam ini dia perlu berendam air panas untuk melemaskan kembali otot-otot tubuhnya yang telah bekerja keras hari ini, di mulai dari gym dan sekarang dia harus berlari menelusuti hutan kota yang berada di dalam central park.
****
Lima belas menit kemudian Dylan memarkirkan mobil Land Rovernya di area parkir taman itu, mereka mulai melakukan peregangan ketika mulai memasuki taman itu. Sore ini central park terlihat cukup ramai mungkin karena hari ini adalah hari minggu di musim gugur, jadi banyak orang yang mendatangi taman seluas 3,41 km persegi itu hanya untuk menghabiskan sore hari dengan orang-orang terdekat mereka. Dylan dan Emily berjalan menuju area trek berlari yang berada di dalam hutan buatan yang berada tak jauh dari area parkir, area itu terlihat lebih sepi dari tempat lainnya di dalam taman itu hanya terlihat beberapa orang saja yang melakukan lari sore.
Mereka melakukan peregangan kembali sebelum berlari memasuki hutan kota itu, "Em, apa kau membawa alat itu?" Dylan bertanya di antara peregangan yang dia lakukan.
"Tentu saja." Emily menepuk saku jaketnya sambil tersenyum.
"Gadis pintar." Dylan tersenyum bangga karena Emily tidak pernah meninggalkan alatnya.
"Kau siap, Cupcake? Ayo kita mulai."
Mereka mulai berlari kecil memasuki area hutan itu menyusuri trek yang disiapkan khusus untuk para pelari, mereka berlari semakin masuk ke dalam hutan.
"Emily!"
Mereka menghentikan langkahnya ketika seseorang memanggil nama Emily, Dylan mengerutkan keningnya ketika dia melihat seorang pria menggunakan celana jeans, dan kaos hitam di balik jaket hoodie warna abu-abu yang dia kenakan tengah mendekati mereka berdua.
"Sam, apa yang kau lakukan di sini?"
Emily tersenyum gembira ketika dia mengenali sosok itu adalah Sam, teman kantornya dan telah beberapa kali mengajaknya berkencan dan sayangnya selalu dia tolak.
Sam pria yang cukup menarik, dia tinggi tapi badannya kurus tidak setegap dan sekekar Dylan, dengan kaca mata minusnya Sam terlihat pintar, pria itu tersenyum ketika melihat Emily tapi kemudian senyumnya hilang ketika melihat Dylan yang sedang mengawasinya seperti seekor elang, Dylan ingat pria itu, dia adalah orang yang sama yang pernah mengajak Emily makan malam ketika Dylan menjemput gadis itu pulang kerja.
"Aku sedang menuju arah danau untuk bertemu temanku ketika melihatmu memasuki hutan ini, dan aku hanya ingin menyapamu." Sam bertambah gugup ketika Dylan memandangnya seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Oh, Sam, kau sangat baik," Emily tersentuh dengan niat dari pria itu.
"Aku mendengarnya dari Jane, aku sangat menyesal, Em, aku harap ******** itu segera tertangkap."
"Oh, sial!" Emily mengalihkan tatapannya kearah Dylan yang baru saja mengumpat cukup keras itu.
"Dylan, kenapa? Apa ada yang salah?" Emily menatap Dylan bingung, kenapa pria itu mengumpat?
"Em, apa kau membawa telepon genggammu?" Dylan terlihat sedikit cemas.
"Tidak, aku meninggalkannya di apartemen, ada apa Dylan?" Emily menatap Dylan dengan penasaran.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja teleponku ketinggalan di dalam mobil, dan aku takut Alex akan menghubungi kita untuk memberitahu perkembangan terbarunya." Dylan baru mengingat itu ketika Sam menyebutkan soal kasus Emily.
"Kau bisa mengambilnya, ini belum terlalu jauhkan? Aku akan menunggumu di sini."
"Oh, tidak aku tak akan meninggalkanmu sendirian." Dylan menggelengkan kepala tak setuju dengan saran Emily.
"Ayolah, aku tak sendirian, Sam akan menemaniku di sini sampai kau datang lagi, kau tidak keberatankan , Sam?"
Sam mengguk dengan antusias, "Kau tidak usah khawatir, aku akan menjaga Emily dengan sangat baik." Dylan melihat Sam yang terlihat sangat bersemangat untuk menjaga Emily.
"Em, bagaimana kalau kau ikut denganku saja."
Dylan merasa tidak tenang harus meninggalkan gadis itu bersama temannya yang ia yakin bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri dengan tubuh kurusnya itu.
"Dengar, kau hanya akan meninggalkanku tidak sampai lima menit jika kau berlari, Dylan, ayolah ambil teleponmu, siapa tahu ada hal penting dari Alex."
Dylan memandang Emily sambil berpikir, mereka belum begitu jauh memasuki hutan itu, Emily benar dia hanya memerlukan waktu sebentar untuk sampai tempat parkir mobil.
"Baiklah, jangan kemana-mana tetap di sini ok? Jangan berani memasuki hutan ini tanpa aku!" Emily mengangguk sambil tersenyum meyakinkan Dylan bahwa dia tidak akan kemana-mana.
Dylan secepat kilat berlari menuju area parkir, suara dering telepon genggam terdengar ketika dia mendekati Land Rovernya, Dylan langsung membuka pintu mobil dan mengambil teleponnya, dia dapat melihat nama Alex terpampang di layar telepon.
"Dari mana saja kau, aku memghubungi kalian dari tadi!" Suara Alex langsung terdengar ketika Dylan mengangkat teleponnya.
"Kami sedang berlari di hutan kota, apakah ada perkembangan?" Dylan menutup kembali mobilnya dan mulai berjalan menuju area taman.
"Iya, kami berhasil mengetahui siapa pelakunya, dia adalah karyawan baru di tempat Emily bekerja, dia ingin membalas dendam karena Emily berhasil membongkar kasus korupsi Ayahnya."
"Korupsi?"
"Iya, Ayahnya saat ini di penjara dengan hukuman 20 tahun penjara, karena itu Ibunya terkena serangan jantung dan meninggal." Alex terdengar berbicara sebentar dengan rekannya, sebelum melanjutkan kembali percakapannya dengan Dylan.
"Kami berusaha menangkapnya tapi ******** itu tidak ada dirumahnya, dan demi Tuhan, dia bener-benar telah mengawasi Emily dari lama."
"Ya Tuhan." Dylan menghentikan langkahnya sebentar, tangannya menyusuri rambut merasa marah mengetahui ada yang mengawasi Emily selama ini. "Siapa nama ******** itu?" Dylan semakin mempercepat langkahnya memasuki area hutan.
"Namanya Samuel Reed, tingginya kira-kira 180... Dylan, ada apa?"
Dylan menghentikan langkahnya seketika, jantungnya berdetak dengan sangat cepat, matanya nyalang menatap hutan yang ada didepannya ketika Alex mengucapkan nama sipelaku berbarengan dengan suara tembakan di dalam hutan yang memekakan telinga.
"SIAL! EMILYYY!"
Dylan meneriakan nama gadis yang dia cintai itu, dia berlari seperti orang kesetanan memasuki hutan, sepanjang dia berlari dia berdoa memohon keselamatan gadis itu, Dylan berhenti seketika, jantungnya terasa di cengkram sangat kuat ketika dia melihat tetesan darah di atas tanah menuju ke dalam area hutan tidak jauh dari terakhir dia meninggalkan Emily.
"Sial, Dylan, apa yang terjadi?" Alex berteriak di seberang sana ketika sayup-sayup terdengar suara tembakan.
"Alex, kirim bantuan sekarang!" Dylan berteriak, suaranya menyerupai lolongan srigala yang terluka, dia kembali berlari menyusuri hutan mengikuti jejak darah yang ditinggalkan Emily, dia berpacu dengan waktu karena kalau dia bisa mengikuti jejak darah itu maka siapapun juga bisa mengikutinya termasuk ******** itu.
*****