
Ayah Daniel datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar mengenai istrinya dan Calista, dia merasa sedih setelah melihat keadaan Calista yang tertidur dengan perban dan infusan yang menempel dalam tubuhnya. Istrinya hanya sedikit shok saja jadi Mr. Winchester membawanya pulang, sedangkan Daniel pergi ke kantor polisi untuk menemani Dylan yang mencari informasi mengenai hasil investigasi dari salah satu penjahat yang berhasil ditangkap pengawal Calista.
Daniel berjalan menyusuri koridor kantor NYPD yang selalu ramai, dia terus berjalan sampai akhirnya menemukan Dylan duduk di depan meja Alex yang kosong.
“Hei!" Daniel menyapa Dylan sebelum duduk di samping pria itu yang hanya mengangguk menjawab sapaannya.
"Apa ada perkembangan?"
"Belum, Alex sedang menanyakan kepada polisi yang mengintrogasi b*j*ng*n itu."
Keduanya terdiam beberapa saat, sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya Alex datang dan dia terlihat sangat kacau.
"Man, kau terlihat sangat kacau sekali."
Daniel meringis melihat penampilan sahabatnya, rambutnya berantakan, janggutnya yang baru berumur sehari belum dicukur dan sepertinya bajunya bahkan masih yang kemarin.
"Kau tak akan mau tahu apa yang sudah ku lewatkan semalam, aku baru mau memejamkan mataku ketika mendengar soal Calista."
Alex terlihat lelah tapi sorot matanya memancarkan rasa marah karena penyerangan terhadap tunangan teman dekatnya itu.
"Maafkan kami, aku tak tahu lagi harus menghubungi siapa," Dylan merasa menyesal karena telah merampas waktu istirahat Alex.
"Lupakan, aku senang kau menghubungiku setidaknya aku bisa melampiaskan sedikit emosiku kepada ******** itu," Alex menyeringai penuh kemenangan dan diikuti oleh kedua pria dihapannya dengan rasa puas.
Daniel berdehem dan mukanya kembali serius, "Apa kau tahu motifnya?"
Alex menghembuskan napas berat.
"Belum, dia tetap dengan pengakuannya kalau itu hanya perampokan biasa."
"Bagaimana mungkin itu hanya perampokan, mereka beberapa orang dan hanya mengambil tas Caslista lalu bagaimana dengan boneka yang sengaja diletakkan di tengah jalan itu?" Dylan berapi-api mengingat kejadian yang menimpa tunangan saudaranya itu.
"Aku tahu, ini terlalu terencana kalau dibilang hanya perampokan biasa," alis Alex berkerut memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, "tapi bagaimana bisa boneka milik Calista ada di sana?"
Semua orang kini menatap Alex dengan serius, hal kecil itu luput dari perhatian mereka selama ini. Apa mungkin ada musuh dalam selimut?
"Kita harus menanyakan kepada Calista, apa dia membawa boneka itu ke New York atau dia meninggalkannya di London?"
Alex menatap Dylan dan Daniel secara bergantian matanya tajam menyelidik, mereka bersyukur bahwa mereka bukan orang yang harus satu ruangan dengan Alex di ruang introgasi karena dengan hanya tatapannya saja itu sudah bisa membuat para penjahat ketakutan.
"Kalau dia membawanya ke New york berarti ada dua kemungkinan," dia mengambil napas dalam sebelum melanjutkan teorinya, "yang pertama, ada yang berkhianat di dalam rumah itu atau yang kedua, ******** itu telah berhasil masuk ke dalam rumah yang di jaga dengan ketat dan... kedua kemungkinan itu sama buruknya."
Daniel dan Dylan tersentak dengan pemikiran Alex, dia benar kedua kemungkinan itu sama buruknya, kalau ******** itu telah berhasil masuk ke dalam rumah bahkan dengan pengamanan yang begitu ketat maka dia akan mudah mencelakai Theo dan Calista semudah kalau ada orang dekat yang berkhianat mencelakai mereka berdua tanpa ketahuan.
"Sialan!" Dylan menggebrak meja Alex memikirkan kemungkinan itu bisa saja terjadi.
Alex hanya bisa menghembuskan napas berat melihat Dylan menggebrak meja, ini kali kedua pria itu menggebrak meja kerjanya setelah sebelumnya ketika menghadapi kasus Emily, Alex mengalihkan tatapannya kepada Daniel yang diam membisu, raut mukanya serius menandakan kakak si kembar itu tengah berpikir.
"Apa yang kau pikirkan?" Alex bertanya sambil bersandar santai dikursinya, Daniel menatap Alex sesaat sebelum mulai mengutarakan pemikirannya.
"Ada yang salah," gumaman Daniel itu sukses membuat dia mendapat perhatian yang lain, Alex mengangkat alisnya meminta Daniel untuk menjelaskan hasil pengamatannya.
"Aku rasa pelakunya tidak bermaksud membunuh Calista," perkataan Daniel barusan membuat Alex dan Dylan memokuskan perhatiannya.
"Jadi maksudmu ini hanya perampokan biasa?"
"Tidak, ini bukan perampokan biasa, dengarkan aku dulu," Daniel menghirup napas panjang dan menatap keduanya dengan serius, "Ini terlalu terencana kalau hanya perampokan biasa dengan boneka milik Calista di sana, itu mematahkan prediksi soal perampokan biasa." Keduanya mengangguk menyetujui perkataan Daniel.
"Aku telah berbicara dengan salah satu pengawal yang ada di sana, dia bercerita seolah-olah para pengendara motor itu mengetahui tentang pengawalan terhadap Calista, sebagian dari mereka mencoba menghalau para pengawal ketika salah satunya mengambil tas Calista lalu menendangnya," Alex dan Dylan terkesiap mendengar salah satu dari mereka menendang Calista.
"Ingatkan aku untuk mematahkan kakinya!"
Dylan geram mendengar perkataan Daniel barusan, dadanya bergejolak marah hampir sama rasanya ketika mengetahui Emily ditembak tapi dengan sensasi yang berbeda. Alex dan Daniel mengangguk menyetujui Dylan untuk mematahkan kaki pelaku penendangan itu.
"Lanjutkan!" Alex berkata dengan serius.
"Bahkan ketika mereka hendak menembak salah satu dari mereka tiba-tiba sebuah pick up tua menghalanginya, kau harus memeriksa kendaraan itu, Alex." Alex mengangguk mengerti, "Tapi mereka tidak bermaksud membunuhnya," suara Daniel setengah berbisik, Alex kini mengerutkan keningnya begitu juga dengan Dylan.
"Kalau memang bermaksud membunuhnya maka ******** itu hanya tinggal membidikan senjata ketika dia sudah dekat dengan Calista dan... 'dor'."
Lagi-lagi perkataan Daniel membuat keduanya terkesiap kaget, jantung mereka berpacu dengan cepat memikirkan hal itu, ******** itu begitu dekat untuk mengambil tas dan menendang Calista maka kalau mereka ingin menembaknya atau menusuknya dengan pisau itu bukan hal yang sulit.
"Sial!" Kini Alex yang menggebrak meja.
"Jadi menurutku, ******** itu tidak bermaksud membunuh Calista tapi mencari sesuatu miliknya, Ibuku ada di sana tapi mereka tidak mengambil tasnya, mereka terfokus kepada Calista." Daniel mengakhiri hipotesanya yang kini membuat semuanya terdiam dengan adrenalin yang meningkat.
"Daniel, kau seharusnya menjadi detektif."
Alex berkata lalu beranjak dari kursinya sambil berteriak memanggil nama polisi yang bertugas menangani kasus Calista.
"Apa kau tahu apa yang mereka cari?" Dylan memandang Daniel dengan antusias.
Untuk sesaat Daniel hanya terdiam alisnya berkerut seperti berpikir, melihat Daniel seperti itu membuat Dylan begitu antusias menunggu jawaban calon kakak iparnya tersebut. Setelah beberapa waktu yang hening akhirnya Daniel menatap Dylan dengan alis mata terangkat dan mukanya terlihat serius, dia membungkukan badannya mendekati Dylan begitu juga sebaliknya, Dylan dengan serius mendengarkan perkatan Daniel.
"Bro, hanya Tuhan dan b*j*ng*n itu yang tahu apa yang mereka cari."
"Aah.. sial kau!"
****
Malam itu sepulang dari rumah sakit Dylan mampir ke rumah keluarga Winchester, ia berniat menginap di rumah Theo malam ini untuk mangamati situasi seperti yang diperintahkan oleh Alex. Ia berjalan ke arah taman belakang tempat dimana Emily selalu menghabiskan waktunya kalau berada di rumah orangtuanya, dan tebakannya benar ia bisa melihat siluet tubuh kekasihnya di bawah keremangan lampu taman itu.
Dylan berjalan dengan mengendap-endap tanpa suara, bibirnya menyunggingkan senyuman manis yang menghiasi wajah tampannya, sorot matanya memancarkan kasih sayang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Dylan memeluk Emily dari belakang yang hampir saja melompat karena kaget.
"Dylan kau mengagetkanku!"
Emily memegang dadanya yang berdebar cepat, sedangkan Dylan hanya tersenyum sambil menyurukan kepalanya ke leher kekasihnya untuk mencium wangi khas milik Emily.
"Aku merindukanmu."
Dylan berkata dengan bibir masih menempel di leher Emily yang mulai tertawa geli. Gadis itu merangkul leher Dylan dengan sebelah tangannya sambil mendongak memberi akses kepada kekasihnya itu agar leluasa menciumi lehernya, Dylan kini mencium leher bagian depannya, sesekali dia menggodanya dengan lidah dan gigitan lembut yang membuat Emily mengerang.
Mendengar erangan Emily membuat Dylan semakin bersemangat, kini ia meletakan kedua tangannya di samping kepala gadis itu dan menahannya agar terus mendongak ketika ia mulai menjelajahi teling, kening, hidung, pipi dan mulutnya. Ia mencium Emily dengan lembut dan mesra sebelum akhirnya lidah mereka saling merayu dan ciuman itu semakin panas untuk beberapa saat sebelum akhirnya hembusan angin malam musim dingin menyadarkan keduanya dimana mereka berada saat ini.
Mereka menghentikan ciumannya, dan hanya terdiam saling pandang, mata mereka berkabut karena gairah tapi juga memancarkan sorot cinta dan kasih sayang yang dalam di antara keduanya, tanpa ada interuksi mereka saling tersenyum, Dylan memberikan kecupan kecupan singkat di bibir Emily sebelum akhirnya berdiri tegak lalu berjalan mengelilingi kursi dan duduk di samping kekasihnya yang langsung memeluk pinggang Dylan kemudian menyurukan kepalanya di dada bidangnya.
Dylan merangkul Emily dengan mesra, sesekali ia mengelus rambut hitam gadis itu, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya, mereka menikmati kebersamaan yang dapat mereka rasakan saat ini dalam keheningan malam, yang terdengar hanyalah suara gemericik air terjun buatan dari kolam ikan koi ibunya.
"Aku juga"
"Hmm?"
"Aku juga merindukanmu."
Dylan tersenyum mendengar pengakuan Emily yang malu-malu.
"Apa kau sedang memikirkanku ketika melamun tadi?"
"Tidak, aku memikirkan Calista, bagaimana keadaannya?"
Emily bisa merasakan Dylan menghembuskan napas berat sebelum menjawabnya.
"Untunglah cederanya tidak parah, dua hari lagi dia bisa pulang."
"Syukurlah, Theo pasti sangat marah." Dylan mengangguk sebagai jawaban.
"Bagaimana dengan lukamu sendiri?"
"Besok aku harus kontrol ke rumah sakit, setelah selesai aku akan menjenguk Calista."
"Besok aku akan mengantarmu."
"Tidak usah, Mom yang akan mengantarku, besok kau harus kerja."
"Besok aku akan ijin." Emily mendengus mendengar ucapan Dylan.
"Kau terlalu banyak ijin, kau akan dipecat andai kau bukan putra pemilik perusahaan." Dylan tertawa mendengar perkataan Emily.
"Perlu kau tahu, kemarin aku dan Theo mendapat surat peringatan dari Direktur kami."
"Tidak mungkin!"
Emily langsung duduk tegak, dia membelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya, Dylan mengangguk sambil menarik kembali gadis itu ke dalam pelukannya.
"Direkturmu itu akan terkena serangan jantung ketika mengetahui siapa yang dia kasih surat peringatan." Dylan tertawa membayangkan hal itu terjadi.
Mereka kembali larut dalam keheningan, Dylan mengelus-elus kepala Emily dengan lembut, wangi tubuh Dylan dan sentuhan lembutnya merupakan candu tersendiri bagi Emily yang mulai merasa nyaman dan lama kelamaan gadis itu mulai terlelap.
Dylan merasakan hembusan napas Emily yang mulai teratur dan nyaman, ia tersenyum menyadari kalau gadis itu tidak bisa tidur selain dalam pelukannya dan Dylan merasa bahagia akan kenyataan itu, Ia masih duduk dengan tenang untuk beberapa lama sebelum akhirnya menggendong kekasihnya dalam pelukan hangat menuju kamar tidurnya di lantai dua.
Dylan menidurkan Emily dengan sangat hati-hati, menyelimutinya dengan lembut lalu mengecup keningnya sebelum ia berjalan keluar dari kamar Emily yang tengah tertidur dengan lelap.
*****