
Theo mengetuk pintu ruang kerja Dylan yang terletak tak jauh dari ruangannya sendiri, kemudian langsung masuk setelah melihat pria itu melambaikan tangan memberi isyarat dirinya untuk masuk karena ia sendiri sedang berbicara di telepon.
"Baiklah, sampai jumpa nanti malam." Dylan mengakhiri panggilan teleponnya sambil menatap Theo yang tengah duduk sambil memerhatikannya dari tadi.
"Apa kau yakin akan melakukannya?" Theo bertanya dengan serius akan keputusan Dylan untuk melakukan hipnoterapi, untuk sesaat pria yang sudah menjadi saudara Theo dari kecil itu hanya diam terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukan kepalanya.
"Iya, hanya ini satu-satunya cara untuk mengetahui siapa aku sebenarnya dan menghilangkan rasa sakit di kepalaku akibat potongan-potongan gambar itu."
Theo kembali menatap Dylan dengan tajam menyelidik mencari keraguan dari mata hijau milik pria itu, tapi ia tidak bisa menemukamnya yang ada di dalam sorot mata itu hanya keyakinan bulat akan keputusan yang ia ambil.
"Kau sudah memberitahu orangtua kita?"
"Iya, aku sudah menghubungi mereka dan aku yakin mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini malam ini."
Mereka tersenyum membayangkan sifat orangtua Theo yang tak akan melewatkan begitu saja momen terpenting dalam hidup anak-anaknya, walaupun Dylan bukan anak kandung tapi mereka menyayanginya sama rata dengan mereka menyayangi Theo.
"Mom menangis ketika aku memberitahunya," Dylan berkata dengan senyum hambar, "Dia takut aku akan melupakannya kalau aku ingat siapa orangtua kandungku."
"Dan apa kau akan melakukannya?" Theo bertanya walau terlihat santai tapi Dylan bisa mendengar nada cemas dari suaranya.
"Jangan bodoh, Theo, apa kau pikir aku seperti itu?" Theo menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Dylan.
"Sampai kapanpun kalian adalah keluargaku yang selalu ada untukku dan tak akan mungkin aku melupakan itu, orangtuamu adalah orangtuaku, dan kau adalah saudaraku, Theo, bahkan kalau aku mati sekarang tanpa mengetahui siapa orangtua kandungku sebenarnya, aku tak merasa khawatir... karena aku memiliki kalian." Dylan tersenyum tulus yang membuat Theo ikut tersenyum, lalu mereka hanyut dalam keheningan untuk beberapa saat.
"Bagaimana dengan Emily, kau sudah memberi tahunya?" Theo bisa melihat Dylan menghembuskan napas berat, ada kecemasan di dalam sorot mata miliknya.
"Aku sudah memberitahunya," ujar Dylan dengan lemas yang membuat Theo mengangkat alisnya bingung.
"Lalu?"
"Aku takut, Theo, bagaimana kalau dia tidak bisa menerimaku setelah mengetahui siapa aku sebenarnya?" Untuk beberapa saat Theo hanya menatap Dylan bingung sebelum akhirnya tertawa.
"Ya Tuhan, Man, yang benar saja... apa kau pikir dia wanita seperti itu?"
"Tidak, hanya saja..."
"Dengar, kau tahu itu adalah kecemasanku beberapa waktu lalu, apa kau akan melupakanku dan orangtuaku kalau kau sudah mengingat keluargamu sendiri? Tapi aku percaya kau bukan orang seperti itu dan kau telah mengatakannya tadi kalau itu tidak akan terjadi, jadi... percayalah pada Emily, dia bukan wanita seperti itu, kita telah mengenalnya sangat lama, Dylan, dia tidak akan meninggalkanmu hanya karena status, latar belakang dan masa lalumu."
Dylan menatap Theo sambil merenungkan perkatannya, dan akhirnya ia mengangguk sambil tersenyum lega karena yang diucapkan saudaranya itu benar, Emily tidak akan meninggalnya hanya karena latar belakang dan masa lalunya.
"Aku berencana melamarnya," ucap Dylan sambil tersenyum memandang Theo yang membelalakan mata terkejut.
"Wow, secepat itu, Bro?"
"Baiklah, aku mendukung apapun keputusanmu," ujar Theo sambil berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju jendela memandang jalanan kota New York yang padat, lampu-lampu jalanan menyemarakan malam yang dingin menjadi ceria.
"Apa kau mau aku menemanimu nanti?" Theo membalikan badannya dari jendela ke arah Dylan yang masih duduk bersandar di kursinya dengan santai.
"Tidak perlu, kau harus menemani Calista mencari gaun untuk acara hari sabtu." Mr. Regan akan mengadakan pesta pertunangan Theo dengan Calista bersamaan dengan pengenalan Theo dan Dylan sebagai pewaris Regan's dan ia akan nengundang semua colega beserta karyawan perusahannya, sudah dipastikan pesta itu akan menjadi sangat besar.
"Kau berjanji akan menghubungiku kalau ada apa-apa?" Entah mengapa Theo merasa sedikit khawatir dengan Dylan hari ini, sebut saja mereka sentimentil tapi yang pasti hari ini Dylan terlihat berbeda.
Dylan berdiri di hadapan Theo sambil tersenyum, "Aku berjanji akan menghubungimu." ia menatap Theo lembut, untuk beberapa saat mereka hanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Ini adalah langkah besar yang di ambil Dylan untuk mengetahui masa lalunya, walaupun Theo dalam hati menolak ide itu tapi ia juga tak bisa egois membiarkan Dylan tidak mengetahui latar belakangnya dan hidup dalam ketidak pastian, oleh karena itu ia akan mendukung keputusannya walau ada rasa takut kehilangan yang ia rasakan.
"Aku harus pergi sekarang." Dylan berkata memecah keheningan sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 7 malam.
"Aku janji dengan Dr. Reid jam 8," Dylan berkata sambil memakai coat hitamnya, dia memandang Theo beberapa saat sebelum akhirnya ia memeluk saudaranya itu dengan erat.
"Aku tak pernah mengatakan ini, tapi.. aku menyayangimu, Brother."
Theo hanya bisa mengangguk tak kuasa berkata apa-apa, Dylan melepaskan pelukannya lalu berjalan ke arah pintu tapi berhenti ketika tangannya telah memegang gagang pintu.
"Katakan pada orangtua kita, aku menyayangi mereka dan terimakasih."
"Sial, Dylan! Kau sebaiknya mengatakan kepada mereka langsung atau Mom akan menghukummu." Dylan tertawa hambar ketika mendengar ucapan Theo.
"Kau benar, sebaiknya aku mengatakannya langsung... baiklah aku pergi dulu," ujar Dylan kemudian dengan mantap membuka pintu dan pergi meninggal Theo yang masih berdiri memandangi punggung saudaranya yang semakin menjauh.
*****
Dylan dengan tegang berbaring di kursi khusus yang ada di ruangan bercat putih itu, Dr. Reid duduk di sebelahnya sambil melihat catatan yang ada dipangkuannya.
"Apa kau siap, Dylan?" Suara pria berambut abu-abu itu terdengar begitu menenangkan, Dylan menatap Dr. Reid untuk beberapa saat lalu mengangguk dengan mantap.
"Dr. Rose, dia sudah sudah siap," ucap dr. Reid sambil berdiri dan mempersilahkan seorang wanita kulit hitam berumur lima puluhan dengan wajah ramah duduk di kursi tadi, ia adalah seorang Psikolog terkenal yang akan melakukan hipnotis kepada Dylan.
"Baiklah, Dylan, kita mulai sekarang. Kau tenang saja ini tak akan menyakitimu, semua yang kau lihat hanya kenangan dari masa lalu yang sudah kau lupakan dan aku akan mencoba membantumu untuk menggali itu semua, apa kau paham? Bagus, kita mulai sekarang," ucap dr. Rose sambil menyuruh Dylan untuk memejamkan mata yang langsung ia turuti.
"Tenang dan kosongkan pikiranmu, Dylan, setiap kau menghembuskan napas kau akan semakin merasa tenang dan damai, tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan, ulangi terus menerus sampai kau sudah merasa sangat nyaman."
Dylan kembali menarik napas dan menghembuskannya, semakin lama ritme aktifitasnya semakin pelan dan jarang, tak ada yang berbicara yang terdengar hanya suara detak jarum jam dinding yang bergema di dalam ruangan. Dr. Reid memerhatikan Dylan sambil duduk dihadapannya, sedangkan Dr. Rose menghitung ritme tarikan napas Dylan yang semakin terlihat tenang, sampai akhirnya Dr. Reid menganggukkan kepala memberi tanda kepada rekan sejawatnya untuk memulai sesi hipnotis itu.
*****