The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 50



"Kalian pikir, Ayahku itu akan membebaskan kalian seperti janjinya?" Suzane berdiri mendekati keduanya, tapi Calista cepat maju menghalanginya untuk mendekati Alexa yang sudah berhasil mendapatkan pisau itu dan diam-diam mulai berusaha membuka ikatannya.


"Pada akhirnya dia akan membunuh kalian semua, atau... aku yang akan melakukannya," Ia menatap keduanya bergantian dengan sorot mata tajam.


"Bisa lepaskan ikatanku? Aku mau ke kamar kecil," ucap Calista mencoba mengalihkan perhatian Suzane dari Alexa yang masih berusaha membuka ikatannya.


Suzane menatap Calista dengan mencibir, "Kau pikir aku bodoh mau membuka ikatanmu!" seru wanita itu sambil menjambak rambut Calista hingga ia meringis kesakitan.


"Lepaskan dia!" Teriak Alexa dengan wajah merah padam melihat Calista ditarik lalu dihempaskan hingga gadis itu tergeletak di atas lantai. Seperti seorang jagoan Suzane berdiri mejulang di depannya. Ia berjongkok di atas tubuh Calista yang terbaring dengan tangan terikat kebelakang, "Kau, telah merampas semua kemewahan yang seharusnya aku miliki," ujar Suzane dengan suara dingin, tangannya merapikan rambut pirang Calista yang menutupi wajahnya.


Napas gadis itu memburu menatap Suzane yang kini sedang menodongkan senjatanya ke wajahnya, seolah-olah pistol itu adalah pisau bedah pelastik yang siap mengiris wajah cantik milik Calista, bibirnya gemetar, mata birunya terlihat cemas karena rasa takut sekaligus amarah yang bersemayam di dalam dirinya.


"Tapi tidak akan lama lagi, aku akan segera mengirimmu menemui, Ibumu!" Seru Suzan sambil menodongkan senjatanya di kening gadis itu.


"Aku bilang menjauh darinya!" Teriak Alexa putus asa, tapi teriakannya tak digubris oleh Suzane yang sudah diselimuti rasa dendam. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan tali yang kini mulai melonggar.


Amarah di dalam diri tunangan Theo itu lebih besar sehingga mengalahkan rasa takutnya, ia memandang mata Suzane dengan pandangan yang membuat para musuhnya merasa takut, begitu juga dengan Suzane yang terlihat terkejut melihat perubahan dari sorot mata calon korbannya.


Tangannya boleh terikat ke belakang, tapi tidak kakinya, dengan sekuat tenaga ia menendang Suzane hingga terpelanting ke belakang, senjatanya lepas dari tangan wanita itu dan kini tergeletak di bawah meja.


"Kurang ajar!" Teriak Suzane sambil bangkit lalu secepat kilat ia telah duduk di atas perut Calista sambil mencekiknya.


"AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Teriak Suzane, dengan tenaga penuh ia mencekik Calista yang kini wajahnya mulai memerah, mulutnya terbuka berusaha menghirup udara, kepalanya bergerak gerak mencoba melepaskan diri, kakinya menendang-nendang mencoba melawan, tapi sayang Suzane lebih kuat dari yang ia pikirkan.


Melihat itu Alexa berteriak penuh amarah ia berlari ke arah mereka lalu sekuat tenaga menendang punggung Suzane hingga wanita itu terjerembab ke depan, dengan amarah yang masih menyelimutinya ia sekuat tenaga menarik tangannya hingga akhirnya ikatannya terlepas.


"Kau tidak apa-apa?" Alexa bertanya dengan cemas, ia mendudukan Calista yang kini tengah mengangguk sambil menghirup udara dengan rakus mencoba mengisi kembali paru-parunya dengan oksigen.


"Dasar p*l*c*r!" Teriak Suzane sambil berdiri, matanya menatap Alexa yang sedang berusaha membuka ikatan tangan Calista dengan sorot mata seorang pembunuh.


Belum juga ikatan itu terlepas sepenuhnya Suzane telah berhasil menjambak rambut Alexa kemudian menyeretnya hingga ia berteriak kesakitan, tangannya memukul-mukul tangan penjambaknya.


"Sial! Lepaskan dia!" Teriak Calista sambil berusaha melepaskan ikatannya.


Tangan Alexa menggapai bagian atas mantel bulu Suzane dan menariknya hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan membungkuk di atas Alexa yang dengan tinjunya ia menghantam wajah Suzane yang langsung berteriak kesakitan, tangannya melepaskan rambut Alexa untuk menutup hidungnya yang berdarah.


Alexa berdiri, napasnya terengah-engah, rahangnya mengeras, matanya bagai laser yang menghujam tubuh wanita yang kini hidungnya telah patah, "Jangan memanggilku, p*l*c*r, dasar Ja**ng!" Seru Alexa sambil menarik tangan kanan Suzane lalu memelintirnya ke belakang dan dengan sikutnya ia menekan kepala wanita yang kini terlihat berantakan dengan darah keluar dari hidungnya hingga wajahnya menempel di dinding, ia mencoba meronta untuk melepaskan diri sambil berteriak memaki dan mengumpat.


"Diam atau aku akan mematahkan lehermu!" Ancam Alexa dengan suara menggeram.


Calista yang akhirnya bisa terlepas dari ikatannya, berdiri dengan membawa tali yang ia gunakan untuk mengikat tangan Suzane dengan sangat kencang hingga ia meringis.


"Jangan kalian pikir bisa lolos dari sini, anak buah ayahku akan segera masuk kedalam setelah mengetahui ada yang salah."


"Tidak, usah khawatir bukankah kau memerintahkan mereka untuk tidak masuk ke sini walau apapun yang terjadi," bisik Alexa di telinganya dengan suara menggeram.


Suzane kembali memberontak menyadari kesalahannya, "Diam, atau aku akan membuat kepalamu berlubang!" Ancam Calista, senjata yang sebelumnya ia ambil di bawah meja kini ia todongkan ke kepala Suzane yang langsung memucat dan tidak berani bersuara sedikitpun.


"LEPASKAN AKU!"


Calista terus berteriak membuat para penjaga tak curiga, berbeda dengan Alexa yang sibuk menyumpal mulut Suzane, kemudian ia mencari sesuatu dari saku mantel Suzane dan akhirnya ia bisa bernapas lega setelah menemukan apa yang ia cari, kunci mobil dan telepon genggam.


"Alex, apa kau masih jauh?" Alexa bertanya tanpa basa basi setelah Alex mengangkat teleponnya.


"Lexi, apa ini kau? Apa kau baik-baik saja?"


"Ya ini aku, Calista ada bersamaku dan saat ini kami baik-baik saja, apa kau masih jauh?"


"Tidak, kami sudah dekat."


"Bagus. Dengar, Dylan ada di gudang, aku menghitung ada lima orang di dalam gudang dan empat orang berjaga di luar, semua bersenjata lengkap."


"Sial! Baiklah, aku akan memberi tahu yang lainnya, dimana kau saat ini?"


"Kami ada di dalam rumah, kau akan melihat toko hewan dengan warna pink terang, percayalah kau pasti akan langsung menemukannya."


"Tetap di sana, bersembunyilah, kami akan segera sampai."


"Tidak, dengarkan aku. Aku akan mengalihkan perhatian orang di dalam gudang supaya kita bisa membebaskan Dylan."


"Sial, Lexi, jangan melakukan hal bodoh! Tetap diam di sana jangan melakukan apapun."


"Sudah terlambat. Injak gasmu dengan sangat kencang, Detektif!" Ujar Alexa sebelum menutup teleponnya. Ia berdiri lalu menatap Suzane yang terduduk di lantai, terikat dengan mulut tersumpl. Ia mengangguk ke arah Calista yang masih berusaha membuat suara-suara.


"Bukankah kau ingin memberi pelajaran?" Tanya Alexa sambil mengangkat gunting di depan Calista yang kini tersenyum.


"Oh ya, dan aku akan memastikan dia tidak akan melupakannya," ujar Calista dengan senyuman mautnya yang membuat Suzane membelalakan mata sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sepupunya itu mendekat dengan sebuah gunting di tangannya.


*****


"Sial!" Teriak Alex dengan putus asa, ia menginjak gas mobilnya dalam-dalam yang membuat kendaraannya seperti akan terbang meninggalkan kumpalan debu di jalanan.


"Apa yang Lexa katakan? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Theo dengan cemas setelah melihat ekspresi Alex yang langsung kembali tegang.


"Saat ini mereka baik-baik saja, tapi entah hal bodoh apa yang akan mereka lakukan," ucap Alex yang membuat Theo mengumpat, “Berpegangan, Theo! Kita tidak ada waktu lagi,” teriak Alex sambil terus meningkatkan kecepatan kendaraannya.


Mereka semakin dekat dari tempat dimana Dylan, Calista dan juga Alexa berada, Alex semakin memperdalam injakan gasnya ketika samar-samar mereka mendengar suara ledakan diikuti asap hitam yang membumbung tinggi dari arah dimana ketiganya kini berada.


"SIAL!!"


*****