The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 8



Dylan berjalan memasukin ruangan kantor Theo yang berada satu lantai dengan kantornya. Ayah Theo telah memberikan tanggung jawab kepada mereka berdua untuk menjadi bagian dari managemen The Regans Hotel, salah satu hotel bintang lima milik keluarga Regan yang kini sudah tersebar di beberapa negara Eropa. Awalanya mereka menolak hal itu karena mereka berdua ingin berdiri sendiri dengan kemampuan yang mereka miliki, tapi mereka juga tidak bisa menutup mata kalau hanya Theolah penerus semua perusahan Regan, jadi akhirnya Theo dan Dylan bekerja di sana dengan syarat bahwa tidak ada yang mengetahui status mereka sebagai pewaris Regan.


"Bagaimana keadaan Emily?" Tanya Theo ketika dia melihat Dylan masuk ruangannya dan duduk di depan meja kerja Theo.


"Dia baik-baik saja, aku menyuruhnya tidak masuk kerja hari ini," jawab Dylan sambil tersenyum.


Dia mengingat kejadian tadi malam ketika dia keluar dari kamar mandi dan mendapatkan pemandangan 'Micky Mouse' di depan lemari pendingin yang sukses membuatnya kembali kepanasan.


Theo mengernyit melihat Dylan yang terus tersenyum seperti ABG yang tengah jatuh cinta.


"Ok, ceritakan padaku apa yang terjadi tadi malam?" Theo bersandar dikursinya, melipat kedua tangan di dada dan menatap Dylan dengan sorot pandangan menyelidik.


"Tidak terjadi apa-apa." Dylan menjawab dengan santai sambil mengangkat bahu, Theo hanya mengangkat kedua alis matanya tanda dia masih menunggu jawaban jujur dari saudara angkatnya itu.


"Oh, Man! Aku bersumpah tidak terjadi apa-apa tadi malam, ok?" Dylan mencoba meyakinkan Theo yang di jawab hanya dengan hembusan napas keras, dan Dylan tahu tanda itu kalau Theo tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.


"Ok, semalam memang tidak terjadi apa-apa, tapi tadi pagi... kami berciuman... puas?" Dylan mencondongkan badannya ke arah Theo, dan pria itu akhirnya tertawa sambil bertepuk tangan.


"Jadi apa akhirnya dia mengetahui kalau kau mencintainya?" Theo berucap setelah berusaha menghentikan tawanya.


"Bagaimana kau tahu?" Dylan tampak terkejut menyadari kalau Theo telah mengetahui perasaannya kepada Emily.


"Ayolah, Man, hanya orang bodoh dan buta yang tidak dapat melihatnya," jawab Theo dengan santai dan sukses membuat Dylan menganga.


"Jadi siapa saja yang telah mengetahuinya?" Theo tersenyum jahil sambil menaik turunkan kedua alisnya ketika mendengar pertanyaan Dylan itu.


"Sial!" Umpat Dylan ketika dia menyadari reaksi Theo, yang menandakan bahwa semua orang mengetahuinya kecuali Emily.


"Apa Daniel mengetahuinya juga?" Dylan berusaha kembali tenang.


"Yap, dia mengetahuinya bahkan Alex dan Gerard juga mengetahuinya." Theo tersenyum melihat kelakuan Dylan yang menjedotkan kepalanya di atas meja.


"Tapi tenang, minimal Lexa tidak mengetahinya." Tapi tidak dalam waktu lama lagi, ucap Theo dalam hati sambil tersenyum.


"Jadi semua orang sudah mengetahuinya, kecuali Emily."


"Dan Alexa," sambung Theo, mengoreksi.


"Dan Alexa, tentu saja."


Dylan mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia sudah memahami kondisi saat ini, dimana rahasia yang dia kira hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya ternyata telah menjadi rahasia umum.


"Dengar, Dylan, tidak ada yang salah dengan perasaanmu ok?" Theo berusaha memberikan semangat kepada Dylan.


"Emily, dia gadis yang sangat baik dan cantik, aku menyayanginya dan Alexa seperti adikku sendiri. Aku tidak akan mempercayai pria manapun seperti aku mempercayaimu untuk membahagian salah satu dari mereka. Jadi, Dylan, aku mendukungmu karena aku percaya kau tidak akan menyakitinya."


Dylan tersenyum mendengar ucapan Theo itu, dia merasa sedikit beban yang dipikulnya berkurang, minimal ada satu orang yang berdiri disampingnya dan memberi dukungan tentang perasaannya pada Emily yang telah berubah dari sahabat menjadi cinta.


"Kalian berdua!" Teriakan seseorang di depan pintu kantor Theo menginterupsi percakan kedua pria itu, "Dengar, aku tidak tahu apa yang telah kalian kerjakan sampai Tuan Regan memanggil kalian berdua keruangannya, sekarang!" Lanjut pria paruh baya dengan raut muka serius itu, dia adalah Direktur pemasaran di hotel tempat Dylan dan Theo ditempatkan.


Muka pria itu memerah dan matanya melotot mendengar pertanyaan Theo.


"Tentu saja dia ada di sini, makanya dia memanggil kalian ke sana, se-ka-rang!"


Dia memberi tekanan pada saat mengucapkan kata sekarang, Theo dan Dylan langsung berdiri dan bergegas keluar dari ruangan ketika pria itu mencengkram lengan Dylan dan berbisik.


"Dengar, kalau sampai kalian membuatnya marah, aku akan memecat kalian berdua, mengerti!" Ancam pria itu sebelum pergi meninggalkan kedua pria yang masih berdiri saling pandang kemudian tertawa.


"Man, dia akan terkena stroke setelah mengetahui siapa yang dia pecat," bisik Dylan sambil berjalan di samping Theo, yang sukses membuat kedua pria itu tertawa membayangkan hal itu.


Setibanya di ruangan sang Presdir, Theo dan Dylan diminta duduk di sofa kulit berwarna merah marun yang tersedia diruangan itu, dengan santai sang Presdir yang notabanenya ayah Theo berjalan menyeberangi ruangan dan duduk dihadapan mereka berdua.


"Baiklah aku tidak akan basa-basi lagi, aku perlu bantuan kalian."


Suara pria yang masih terlihat tampan dengan mata biru yang tajam seperti mata Theo, serta rambut gelapnya yang tertata rapi itu terdengar serius, Theo dan Dylan saling pandang tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


"Apa yang bisa kami bantu, Sir?" Dylan memberanikan diri bertanya, setelah menunggu beberapa lama berharap ayah Theo itu menjelaskan permasalahannya.


Tuan Regan tampak membuang nafas berat sebelum menjelaskan kepada kedua anak laki-laki yang dia sayangi itu.


"Aku meminta kalian untuk menjaga seseorang," ucap Tuan Regan setengah berbisik, Theo dan Dylan kembali saling pandang tidak mengerti.


"Kenapa kau tidak menyuruh salah satu pengawalmu saja?" Tanya Theo yang mendapat dukungan anggukan dari Dylan.


"Tidak bisa, hanya kalian berdua yang aku percaya untuk menjaganya."


Pria paruh baya itu memandang keduanya dengan pandangan cemas, mau tidak mau membuat Dylan dan Theo merasakan ada sesuatu yang salah telah terjadi.


"Baiklah, siapa yang harus kami jaga?"


Dylan bertanya sambil menatap pria yang sudah dia anggap ayahnya itu yang kini tengah menatapnya dengan pandangan yang dia sendiri tidak bisa pahami.


"Kalian harus berjanji untuk menjaganya dengan nyawa kalian sendiri, apa kalian paham?"


Tuan Regan menatap Theo dan Dylan bergantian, mereka yang tidak lagi berani berkata apapun dan dapat memahami kondisi serius yang kini tengah menghadapi mereka.


"Kami berjanji, Sir, siapa yang harus kami jaga?"


Suara Theo terdengar serius, dan ayahnya terlihat lega setelah mendengar janji dari keduanya.


Tuan Regan menarik nafas berat kemudia berkata, "Namanya Calista McArtur, dan dia adalah tunanganmu, Theo."


Theo dan Dylan terbelalak tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dari mulut ayahnya sendiri.


Tunangan? Dia sudah bertunangan? Oh Sial! Theo berharap kalau hari ini adalah tanggal 1 april, dan ayahnya tiba-tiba berseru ‘April Mop!’ tapi itu tidak akan terjadi, mengharapkan hal itu sama saja seperti mengharapkan hujan salju di gurun Sahara. Tidak mungkin.


*****