
Suasana di dalam ruangan tiba-tiba terasa hening, nuansa canggung menyeruak kepermukaan, untuk beberapa saat kedua pria itu hanya diam membisu larut dalam pikirannya masing-masing. Mr. Regan menarik napas panjang lalu membuangnya dengan berat sebelum akhirnya ia membuka suara.
"Baiklah, Nak, kau mau aku mulai dari mana?"
"Dari awal, Sir, aku mau tahu semuanya."
Mr. Regan diam beberapa saat lalu menganggukan kepala, ia berjalan ke arah sofa yang ada di depan tempat tidur Dylan kemudian duduk sambil menyilangkan kakinya, matanya menatap Dylan tajam.
"Richard McArtur, ayahmu," ucap Mr. Regan memulai kisah yang selama dua puluh tahun ini ia pendam, "Dia adalah putra tunggal dari Lord McArtur dan satu-satunya pewaris sah kerajaan bisnis grup Royal. Kakekmu, sang Lord, adalah seorang pria tua yang sangat keras kepala. Kalau kau pikir ia adalah pemeran antagonisnya, kau salah, Nak, Kakekmu sangat murah hati kepada karyawannya itulah kenapa grup Royal bisa seperti sekarang dengan karyawan yang sangat loyal kepada Kakek dan Ayahmu," Mr. Regan menatap Dylan sesaat, sebelum melanjutkan ceritanya.
"Permasalahan mulai terjadi ketika Ayahmu menikahi Ibumu tanpa persetujuan keluarga. Samantha Smith, Ibumu, seorang perempuan yang sangat cantik dan baik hati."
"Biar ku tebak, Ibuku seorang perempuan miskin dan Kakekku, sang Lord, tidak menyetujuinnya?" Dylan menatap Mr. Regan seolah-olah mengetahui arah kisah cinta orangtuanya, tapi pria yang duduk dihadapannya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Kau terlalu banyak nonton film, Nak," ujar Mr. Regan sambil tersenyum, "Kau benar, Kakekmu tidak menyetujuinya, bukan karena Samantha gadis miskin tapi... karena Samantha adalah tunangan sepupu Ayahmu, Thomas," Mr. Regan menatap Dylan yang menganga tak percaya mendengar ceritanya.
"Ya Tuhan, ini lebih bagus dari cerita Cinderela dan Romeo Juliet."
"Ini belum ada apa-apanya, Nak," Mr. Regan duduk bersandar di sofa, menggali kenangan yang ia ingat.
"Ibumu dijodohkan dengan Thomas tanpa sepengetahuan dan persetujuannya. Suatu hari Kakekmu mengadakan pertemuan antar keluarga McArtur dan Smith untuk membicarakan pernikahan Thomas dan Samantha. Di acara pertemuan keluarga itulah ia bertemu dengan Ayahmu lalu mereka berdua jatuh cinta pada pandangan pertama," raut muka Mr. Regan mulai terlihat serius, ia berdiri lalu berjalan mendekati Dylan yang masih dengan setia menunggu kelanjutan ceritanya, "Singkat kata Kakekmu mengetahui hubungan itu, dia sangat marah sampai mengancam mengeluarkan nama Ayahmu dari daftar keluarganya kalau sampai ia melanjutkan hubungan itu. Tapi, Ayahmu sama keras kepalanya dengan Kakekmu, ia tak menghiraukan gertakan orangtua itu hingga akhirnya ia diusir dari rumah," Mr. Regan duduk di kursi sebelah tempat tidur Dylan, ruangan terasa hening beberapa saat sampai akhirnya Dylan memecah keheningan itu.
“Bagaimana dengan keluarga Ibuku?"
"Well, jujur saja keluarga Ibumu tidak ada masalah dengan hubungan mereka, mengingat Richard adalah pewaris sah grup Royal, sedangkan Thomas hanya memegang suatu jabatan saja di perusahaan. Tapi mereka tidak mau kena murka Kakekmu, jadi merekapun menentang hubungan itu."
"Ckk.. ada apa dengan orangtua zaman dulu," ujar Dylan yang membuat Mr. Regan tersenyum.
"Apa kau mau aku melanjutkan kembali ceritanya?"
"Maafkan aku, iya tentu saja."
"Setelah menikah mereka berdua pergi dengan meninggalkan segala atribut kekayaan keluarga, mereka tinggal di rumah sederhana yang di beli Ayahmu tanpa sepengetahuan Kakekmu, sampai akhirnya kau lahir dan Kakekmu mengetahui hal itu."
"Apa Kakekku membenciku?" Mr. Regan terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Dylan.
"Itu juga yang dipikirkan Ayahmu. Suatu malam sang Lord mengirimkan beberapa orang pengawal untuk menjemput Richard dengan paksa karena takut mereka akan melukai kalian berdua, akhirnya Ayahmu dengan terpaksa mengikuti kemauan sang Lord. Sebelum pergi, Richard menghubungiku dan memintaku untuk membawa kalian pergi bersembunyi. Malam itu musim dingin salju mulai turun, dengan secepat kilat semampuku aku mengendarai mobil ke rumah kalian, tapi pemandangan yang kulihat di dalam rumah sederhana itu membuatku seperti ada di dalam mimpi, aku hampir tak mempercayainya."
"Apa yang terjadi?" Dylan bertanya dengan gugup karena Mr. Regan masih diam membisu tapi akhirnya dia menatap Dylan sambil tersenyum.
"Sang Lord, orangtua paling keras kepala seantero Inggris Raya sedang duduk di depan perapian sambil menggendong bayi yang tertidur lelap dalam pangkuannya. Dan kau tahu apa yang diucapkannya ketika dia melihatku memasuki rumah seperti orang gila? Dia berkata 'aku tak perduli kau seorang Regan, kalau kau membuat cucuku bangun, aku akan menembakmu!'," Mr. Regan tertawa mengingat kejadian malam itu tapi berbeda dengan Dylan yang hanya bisa menatapnya tak mengerti.
"Tunggu dulu, bagaimana bisa Kakekku berada di dalam rumah dan... menggendongku?"
"Setelah Ayahmu pergi dengan para pengawal, Kakekmu datang menemui Ibumu. Awalnya ia mengaku untuk 'meminta' Ibumu pergi meninggalkan Ayahmu karena bagaimanapun Richard adalah satu-satunya putra sang Lord, tapi setelah ia mendengar suara tangisanmu yang sangat kuat dan mata hijau milikmu, bagaimana bisa ia tidak mengenali darah McArtur yang mengalir di dalam dirimu, dia mengatakan kalau kau sangat mirip dengannya dan akan mewarisi segala miliknya, bukan hanya hartanya saja Dylan, tapi segala sifatnya juga... sekarang kau tahu darimana sifat keras kepalamu itu, Nak?" Tanya Mr. Regan sambil tersenyum.
"Anda salah, Sir, saya tidak keras kepala," ujar Dylan berusaha membela diri.
"Bukankah semua baik-baik saja, Kakek telah mengakui aku dan Ibuku, lalu apa yang salah?"
"Masalah sesungguhnya terjadi setelah kematian kakekmu, dia mewariskan semuanya atas nama Richard dan kau, Dylan. Setelah itu upaya-upaya pembunuhan terhadap keluargamu di mulai, tapi setiap upaya itu selalu berakhir dengan kegagalan sampai akhirnya kejadian malam itu yang menewaskan ibumu dan... kau. Seharusnya 'kecelakaan' itu menimpa semua keluarga McArtur termasuk ayah dan adikmu, tapi karena satu hal akhirnya hanya kau dan ibumu yang mengalami hal itu."
Jantung Dylan kembali berdetak hebat mengingat kejadian malam itu yang baru saja ia ingat beberapa hari lalu.
"Aku masih ingat ketika sampai ke rumah sakit, ayahmu terlihat sangat marah dan hancur, dia berteriak memerintahkan semua orang untuk mencarimu. Kau hilang, tanpa jejak seperti ditelan bumi sedangkan ibumu meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit."
Suasana hening untuk beberapa saat, dada Dylan terasa sesak mengetahui ibunya meninggal dalam kecelakaan malam itu, ia masih ingat bagaimana ibunya melindungi Dylan dari segala benturan dengan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng.
"Ayahmu benar-benar membuat kepolisian London ketar ketir karena kasus kecelakaan yang menewaskan ibumu dan menghilangnya dirimu, pihak kepolisian tidak menemukan kejanggalan apapun dari kecelakaan itu selain menghilangnya pewaris grup Royal. Tapi ia tahu kalau itu bukan kecelakaan biasa, seseorang telah merekayasaannya." Mr. Regan menarik napas panjang lalu pembuangnya berat, matanya menatap Dylan tajam.
"Beberapa bulan kemudian, Ayahmu menerima telepon dari seorang wanita yang ia kenal sebagai pengurus yayasan yatim piatu dimana orangtuamu menjadi donatur tetap di sana. Dia meminta Ayahmu untuk datang ketempat itu tanpa sepengetahuan siapapun, dia mengatakan kalau mengetahui sesuatu tentang kecelakaan itu. Hari itu juga kami menuju ke sana dan bertemu dengan Sofia, pemimpin yayasan dan setelah memastikan tidak ada yang mengikuti kami, dia mulai menceritakan kejadian malam itu."
Percakapan mereka terhenti ketika seorang dokter masuk memeriksa kondisi Dylan dan mengingatkan kalau dia perlu istirahat. Tanpa menghiraukan saran dokter, Dylan memaksa ayah angkatnya itu untuk melanjutkan kembali ceritanya yang mau tak mau dituruti pria paruh baya itu.
"Baiklah aku akan melanjutkan kembali, intinya Sofia melihat kecelakaan itu dan ia melihat seorang pria memeriksa keadaan kalian sebelum akhirnya seseorang turun dari kendaraan dan berbicara dengan pria itu, pria itu mengatakan kalau kalian semua tidak mungkin selamat dan kalaupun selamat dia masih bisa membereskan kalian di rumah sakit."
Dylan terlihat menegang mendengar cerita itu, dadanya kembali berdetak kencang, emosi dan amarah menyeruak kepermukaan ketika mengetahui seseorang telah membunuh ibunya dan hampir saja membunuh dirinya yang masih kecil.
"Setelah pria itu pergi, Sofia keluar dari persembunyiannya lalu mendekati kendaraan untuk memeriksa keadaan kalian, Ibumu terluka parah yang tak mungkin lagi untuk ditolong, tapi ia mendengar suara rintihan yang keluar dari bibirmu, secepat mungkin ia mengeluarkanmu dari kendaraan lalu membawamu ke rumah sakit dan mendaftar atas nama Dylan Alexander."
Untuk kesekian kalinya ruangan kembali hening, Dylan terdiam menyadari asal nama yang selama ini telah menjadi identitas dirinya terlahir dari kebaikan seorang perempuan yang telah menyelamatkan nyawanya.
"Kau koma selama beberapa minggu dan ketika sadar Sofia membawamu pulang ke yayasan. Ketika kami menemuimu, kau hanya memandang kami dengan pandangan kosong, dokter mengatakan kalau kau mengalami amnesia dan tidak tahu kapan ingatan itu akan kembali lagi. Ayahmu menganggap itu adalah jalan terbaik untuk menyembunyikanmu dari bahaya yang mengancam dengan mengganti identitasmu dari David McArtur, pewaris kerajaan grup Royal menjadi Dylan Alexander, seorang anak yatim piatu."
Dylan kembali terdiam dalam hati ia bersyukur mengetahui kalau ia tidak di buang selama ini, ia selalu beranggapan kalau ia telah di buang oleh orangtuanya sehingga berakhir di panti asuhan, ia kini bisa sedikit bernapas lega karena mengetahui kalau ayahnya melakukan itu untuk menyelamatkan nyawanya.
"Setelah kau sehat, Ayahmu memintaku untuk merawat dan mengawasimu. Aku membawamu pulang dan untuk menghindari seseorang mengenalimu, aku mengirim Theo dan kau ke Skotlandia untuk sekolah di sana, setelah dewasa kalian pulang ke Inggris dan tinggal di London hanya sebentar sebelum akhirnya kalian pindah ke New York," Mr. Regan mengakhiri ceritanya sambil menatap Dylan yang masih diam terpaku memikirkan kejadian yang membuatnya harus berpisah dari orangtua dan adiknya sendiri, hanya karena seseorang yang menginginkan kematiannya.
"Apa ada yang mengetahui rahasia ini?"
Mr. Regan kembali membuang napas berat sebelum menjawab pertanyaan Dylan.
"Selain kami bertiga, ibu kalian juga mengetahuinya, dan tentu saja Calista. Tapi, beberapa bulan yang lalu Ayahmu menghubungiku ia mengatakan kalau identitasmu sudah diketahui, ada seseorang yang mengiriminya surat yang berisikan foto-fotomu, Dylan. Dan tidak lama dari itu, Ayahmu mengalami kecelakaan dan terbaring koma sampai sekarang."
"Sial! Apa kita tidak bisa mengetahui siapa dalang di balik semua ini?"
Mr. Regan hanya bisa menggelengkan kepala terlihat menyesal karena sampai sekarang ia belum bisa mengetahui hal itu.
"Kita selalu mendapatkan jalan buntu, tapi Ayahmu menduga kalau ******** itu berada sangat dekat dengan kita."
*****