The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 35



"Sial, aku lupa harus kembali ke kantor, ada kasus yang harus aku selesaikan," ucap Alex sambil melihat jam tangannya.


"Aku juga harus pulang, orangtuaku akan menghukumku kalau pulang terlambat," ujar Daniel dengan alasan yang tak masuk akalnya.


"Baiklah aku juga harus pulang sekarang." Dylan siap-siap memakai jaketnya.


"Kau pulang ke apartemen? Aku ikut denganmu," ujar Gerard dengan semangat.


"Aku juga ikut denganmu," Daniel langsung merubah haluan setelah mendengar kata apartemen milik Dylan.


"Dylan, kau akan tidur di sini atau aku akan menelepon Emily," ancam Calista sambil menaikan alisnya membuat Dylan hanya bisa mengumpat sambil membuka jaketnya lagi.


"Sorry guys, kalian dengar sendiri," ucap Dylan sambil berjalan keluar dari ruangan diikuti oleh yang lainnya, sedangkan Theo hanya bisa menatap kepergian teman-temannya yang tak setia kawan itu.


Calista berdiri dari sofa kemudian berjalan ke arah bar mengambil minuman untuknya sendiri, sambil bersandar di meja bilyar ia menatap Theo dengan sorot mata tajam.


"Jadi, seleramu adalah model pakaian dalam?" Calista bertanya dengan santai tapi Theo bisa mendengar nada suaranya yang tajam.


"Aku hanya bercanda, Sunshine, kami hanya menggoda Alex," Theo berkata sambil tersenyum melihat gaya Calista yang tak seperti biasanya.


"Hmm... baiklah... aku percaya padamu, tapi apa kau tahu? sebelum aku datang ke New York aku ditawari menjadi model mereka," ujar Calista dengan santai yang membuat Theo terbelalak tak percaya.


"Kau serius?" Theo bertanya sambil berdiri mendekati Calista yang masih bersandar dengan santai di meja bilyar.


"Iya, aku sedang makan siang bersama dengan temanku Sarah ketika mereka mendatangi meja kami dan memberikan kartu namanya," Calista mengangkat alis matanya menggoda Theo yang telah memerangkap dirinya di antara meja itu.


"Aku sudah hampir menandatangani kontrak ketika para pengawal ayahku mendobrak pintu kantor mereka dan ayahku bersumpah akan membunuh siapa saja yang membuatku harus berlenggak lenggok hanya dengan pakaian dalam," Theo tertawa mendengar cerita Calista tapi ia juga bahagia karena mertuanya melakukan itu semua, kalau tidak entah apa yang akan Theo lakukan melihat tunangannya berlenggak lenggok hanya dengan pakaian dalam di depan jutaan pasang mata.


"Untunglah ayahmu melakukan itu, kalau tidak aku yang akan membunuh mereka semua," Calista tersenyum sambil mengalungkan tangannya di leher Theo.


"Apa kau tahu?" Calista menarik kelapa pria itu mendekat, "Aku memiliki beberapa koleksi terbaru dari mereka," bisik Calista pelan ditelinganya yang langsung membuat jantung pria itu berdetak kencang, adrenalinnya berpacu kencang.


"Benarkah?" Tanya Theo sambil menciumi lehar jenjang gadis itu, Calista mengangguk sebagai jawaban karena bibirnya kini ia gigit supaya tidak mengerang menikmati lidah dan bibir Theo yang menggoda leher serta telinganya.


"Apa kau mau melakukan show tunggal didepanku?" Theo kembali bertanya tapi setelah ia melihat mata biru gadis itu yang telah berubah karena gairah, membuat ia lupa akan pertanyaannya dan mulai mencium bibir Calista dengan lembut, tangannya perlahan turun ke bawah mencengkrang bokong gadis itu lalu mendudukanya di atas meja, ia memposisikan berdiri di antara kedua kaki Calista. Mereka semakin memperdalam ciumannya, tangan Theo kini telah dengan leluasa menjelajah di balik kaus longgar gadis itu, ia menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna dengan badannya, ia bisa merasakan Calista sedikit menegang ketika merasakan reaksi tubuh Theo yang disebabkan oleh keintiman mereka saat ini, mereka berciuman dengan sangat rakus untuk beberapa saat saling menuntut satu sama sama lain.


Perlu pengendalian diri yang sama besar dari keduanya ketika mereka mulai melepaskan ciuman intimnya dengan badan yang masih saling menempel, begitu juga kening mereka yang saling bertumpu satu sana lain, napas mereka saling memburu tidak ada kata yang terucap dari keduanya, mata mereka terpejam berusaha menenangkan debaran di dada yang menggila, perlahan mereka saling memandang sambil tersenyum mesra dalam kesunyian untuk beberapa saat, berusaha menormalkan kembali detak jantung dan napas mereka yang memburu, Calista yang pertama tersadar akan di mana posisinya saat ini yang membuatnya sedikit menegang dan membelalakan mata ketika bagian tubuhnya dapat merasakan ada sesuatu yang berubah dari tubuh Theo, dan sebagai wanita dewasa ia mengetahui apa itu.


Calista menggerakkan badannya merasa risih dengan posisi saat ini yang masih menempel sempurna di badan Theo yang langsung kembali memejamkan mata, rahangnya mengeras terlihat menahan sesuatu karena kegiatan tunangannya yang terus bergerak didalam pelukannya.


"Sunshine, sebaiknya kau diam atau aku tak yakin bisa mengendalikan diri lagi," ujar Theo dengan suara serak yang sukses membuat Calista langsung berdiri dari duduknya dan tubuhnya secara langsung menggesek bagian tubuh Theo yang menegang, perubahan posisi Calista secara tiba-tiba itu malah semakian membuat Theo menggeretakkan giginya menahan diri lalu dengan sangat perlahan mundur beberapa langkah sambil menahan napas.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja sepertinya malam ini aku perlu mandi air dingin... lagi," jawab Theo setelah bisa mengendalikan dirinya sambil tersenyum memandang Calista yang memerah, bibirnya bengkak karena ciuman mereka tadi dan matanya masih berkabut gairah, well, setidaknya bukan hanya ia yang memerlukan mandi air dingin malam ini, ujar Theo dalam hati.


"Jadi, apa kau akan melakukan show tunggal di depanku?" Theo kembali bertanya sambil berjalan mendekati Calista setelah bisa mengendalikan dirinya.


"Iya, tentu saja," jawab Calista sambil menaruh kedua tangannya di atas dada Theo, yang tengah menatapnya dengan pandangan berbinar, "Setelah kita nikah nanti," lanjut Calista sambil berjalan meninggalkan tunangannya yang masih diam mematung.


"Ya Tuhan, seharusnya aku sudah menduga hal itu," bisik Theo sambil tertawa.


"Aku akan menelpon ayahku agar dia menikahkan kita secepatnya, Sunshine, sebaiknya kau bersiap-siap," seru Theo sambil berjalan menyusul Calista yang tengah menatapnya sambil tertawa.


*****


Pria itu berjalan memasuki ruangannya yang sempit dengan membawa satu kotak pizza di tangan kanan dan kantung plastik berwarna putih yang berisi beberapa kaleng bir di tangan kiri, ia meletakan semua barang bawaannya di atas meja yang berada di tengah ruangan itu. Ia kini melepaskan jaket dan topi bisbol yang selalu ia kenakan lalu meletakannya di atas tempat tidur yang terletak di pinggir ruangan, dengan santai duduk di kursi bersiap membuka kotak piza itu ketika telepon genggamnya berbunyi kemudian mulai mengumpat ketika melihat nama yang tertera di layarnya.


"Apa kau telah mendapatkan cincin itu?" Hunter memejamkan matanya menahan emosi, ia bahkan belum mengatakan 'halo' ketika orang ini langsung bertanya tanpa basa basi.


"Belum, Sir," jawab Hunter singkat dan ia bisa mendengar kliennya itu mengumpat dan entah apa yang dia lemparkan saat ini yang pasti benda itu pasti telah tercerai berai menilik dari suara yang terdengar di balik telepon.


"Baiklah, keadaan semakin mendesak kita tidak ada waktu lagi untuk mencari benda sialan itu," ujar pria itu yang membuat Hunter menaikan alis matanya siap dengan perintah baru untuknya.


"Habisi pria itu secepatnya," lanjutnya setelah terdiam beberpa saat dengan suara sarat akan emosi.


"Ingat, lakukan seperti sebuah kecelakan, apa kau mengerti?"


"Aku mengerti, Sir, aku meminta bayaranku setengah dibayar sekarang untuk tugas ini dan setengah lagi setelah aku membereskannya."


Hunter tak mendengar apapun untuk beberapa saat, sampai ia mendengar suara email masuk di laptop miliknya yang memberi tahu kalau ada setoran masuk ke dalam rekeningnya yang membuat Hunter tersenyum dengan mata berbinar.


"Apa itu cukup?" Ucap pria diseberang telepon.


"Iya, Sir, senang berbisnis dengan anda," ujar Hunter sambil menutup teleponnya, dengan santai sambil bersiul ia berjalan ke arah dinding yang dipenuhi foto lalu tangannya mengambil satu lembar foto seorang pria berambut coklat dan bermata hijau tengah berdiri hendak memasuki mobil Land Rover merah miliknya.


Seringai jahat menghiasi wajahnya, matanya menatap tajam foto ditangannya bak seorang pemburu.


"Dor!"


*****