The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 30



Dylan menatap foto yang selama ini ia kenal sebagai orangtuanya, entah sudah berapa lama ia duduk di sofa apartemennya menatap foto itu sambil berusaha mencoba menyusun potongan-potongan gambar yang bermunculan dikepalanya sedari tadi, apa mungkin wanita itu ibunya?


Tapi sayang gambar wanita yang muncul dalam kilas memori Dylan hanya berupa potongan-potongan saja bukan secara utuh, sehingga sedikit sulit baginya untuk mengenalnya sebagai ibunya. Jadi siapa wanita itu sebenarnya? Apa hubungan dirinya dengan semua potongan-potongan gambar itu? Kepala Dylan berdenyut hebat membuat ia mengerang karena tidak tahan akhirnya ia merebahankan badannya di atas sofa. Selalu seperti itu setiap ia mencoba mencari jawaban tentang masalah ini kepalanya seolah menolak untuk bekerja sama. Tanpa terasa Dylan akhirnya tertidur sampai bunyi telepon genggam membangunkannya.


"Hallo," ujarnya dengan suara serak.


"Apa kau tertidur?" Dylan dapat mengenali suara Alex di antara kebisingin kantor NYPD.


"Tidak, apa ada hal penting?" Dylan berkata sambil bangun lalu duduk bersandar.


"Ada yang ingin aku sampaikan, bisa kita bertemu?"


"Baiklah, satu jam lagi ditempat biasa."


Dylan menutup teleponnya setelah mendengar jawaban persetujuan dari Alex lalu bergegas masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


Satu jam kemudian Dylan telah sampai di The Rock, ia melihat Alex tengah menunggunya di meja bar.


"Hai, apa kau sudah lama?" Dylan duduk di sebelah pria bermata biru tajam itu, dia lalu berteriak memanggil Max untuk memesan minuman.


"Tidak, aku baru saja sampai."


Alex memerhatikan penampilan Dylan, rambut coklatnya masih sedikit basah dengan mengenakan kaus biru dan jaket hitam, ia terlihat sempurna seperti biasa tapi Alex adalah seorang detektif yang tak bisa dibohongi ia bisa melihat ada masalah yang tengah dipikirkan pria disampingnya itu.


"Apa ada masalah?" Alex berkata sambil meminum screwdriver yang tadi dipesannya.


"Iya." Dylan menghembuskan napas berat sebelum melanjutkan ucapannya, "Tapi bukan hal yang penting, jadi ada kabar apa?"


Untuk saat ini Dylan sedang tidak mau membicarakan masalahnya yang masih belum jelas, lebih baik ia fokus terhadap masalah yang menimpa tunangan saudaranya.


Alex memahami keengganan Dylan untuk menceritakan masalahnya dan dia pun tidak akan memaksa temannya itu, Alex mengambil amplop coklat yang dari tadi dia simpan di atas meja lalu mengeluarkan isinya, Dylan mengernyitkan dahinya ketika melihat isi amplop itu adalah beberapa lembar foto.


"Apa ini?" Dylan bertanya sambil mengambil satu lembar foto mayat laki-laki berusia tiga puluhan berambut hitam, kulitnya telah memucat dan badannya membengkak.


"Dia adalah salah seorang penyerang tunangan Theo," ucap Alex yang sukes membuat Dylan terbelalak.


"Kalian menembaknya?"


Dylan bertanya sambil melihat foto-foto lain, kini ia melihat sebuah mobil pick up tua warna coklat lalu foto yang Dylan duga hasil dari CCTV terlihat seorang pria mengenakan topi baseball berada di balik kemudi pick up tua itu, tapi Dylan tidak bisa mengenali wajahnya yang tertutup topi.


"Tidak, bukan Polisi yang menembaknya," Alex berkata sambil meneguk minumannya lalu berbalik memghadap Dylan dengan muka serius, "seseorang telah membunuhnya, lalu menenggelamkan mayat dan juga mobil tua itu di sungai Manhattan."


"Ya Tuhan."


Dylan mengusap mukanya dengan kasar, rahangnya mengeras, sorot matanya terlihat marah mendengar kabar itu yang membenarkan prediksi mereka semua kalau ada seseorang yang lebih berkuasa di balik kejadian ini.


"Apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya Dylan pelan tapi Alex bisa mendengar suaranya yang sarat akan perasaan marah, Alex menggeleng menjawab pertanyaan Dylan tadi yang langsung mendapat umpatan darinya.


"Kami menduga kalau dialah pelakunya," Alex menunjuk foto pria dengan topi baseball itu, "tapi fotonya tidak terlalu jelas jadi kami belum bisa mengidentifikasinya."


Dylan menatap lekat foto pria itu, pria yang telah membuat Calista terbaring di rumah sakit, entah kenapa dadanya terasa sesak mengingat gadis bermata biru itu terluka, seperi ada bongkahan batu yang menghimpitnya. Dylan mengerang sambil memegang kepalanya, lagi-lagi rasa sakit itu datang bersamaan dengan potongan-potongan gambar kejadian yang sama, tapi kali ini ada sedikit perbedaan, Dylan melihat seorang pria berdiri depan sebuah mobil sedan hitam lalu ia berbalik menatap Dylan dengan sorot mata tajam seolah-olah ia bisa melihatnya tengah berdiri di sana.


"Kau tidak apa-apa?" Alex bertanya dengan cemas, Dylan masih terlihat bingung sebelum akhirnya mengangguk tapi Alex masih bisa melihat mata Dylan yang terlihat ketakutan, "Man, kau membuatku takut, kau kenapa sebenarnya?"


Alex bertanya setelah melihat Dylan kembali duduk tegak, tadi ia begitu ketakutan melihat pria itu tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya, keringat dingin sebesar butiran jagung terlihat membasahi badannya, napasnya terengah-engah dan untuk beberapa saat ia terlihat tak sadarkan diri.


"Entahlah kepalaku akhir-akhir ini selalu terasa sakit." Dylan memijit pelipisnya sambil bertumpu pada meja bar.


"Sebaiknya kau periksa ke dokter," Alex masih terlihat khawatir melihat kondisi Dylan seperti itu.


"Kau benar, sepertinya aku perlu ke dokter," ujar Dylan sambil meminum air putih yang diberikan Max, pria plontos itu juga terlihat khawatir melihat keadaan Dylan.


"Kau telah membuat kami semua khawatir, Nak."


Dylan tersenyum mendengar ucapan Max, tidak mau membuat semua orang kembali mengkhawatirkannya, Dylan mengambil foto-foto di atas meja bar lalu meneruskan pembicaraan mereka yang tertunda akibat dirinya.


"Jadi dia adalah orang di balik semua ini?" Alex melirik foto yang dipegang Dylan.


"Belum tentu, Dylan, tapi sepertinya orang ini mengetahui apa yang tidak kita ketahui."


Mereka kembali terdiam, Max merasa penasaran dengan apa yang menjadi pembicaraan mereka berdua, dia sedikit mengintip foto yang kini tergelatak di atas meja, sesaat ia mengerutkan keningnya tapi tiba-tiba matanya terbelalak, secepat kilat ia mengambil foto pria dengan topi baseball itu memerhatikannya dalam jarak dekat, yang membuat Dylan dan Alex saling pandang.


"Apa kau mengenalnya?"


Alex bertanya dengan penuh harap, begitu juga dengan Dylan yang serius menunggu jawaban dari Max yang masih diam membisu, pria itu mengambil kacamatanya di laci meja kasir, lalu kembali menatap foto itu untuk beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Alex.


"Aku rasa aku mengenalnya, tapi aku tak begitu yakin."


Max menurunkan foto yang ia tempel di dinding bar kemudian menaruhnya di depan Alex dan Dylan yang langsung memerhatikan foto beberapa prajurit mengenakan seragam latihan kaus hijau dan celana loreng terlihat tersenyum menatap arah kamera, mereka dapat memgenali Max ketika masih muda sebelum kehilangan kakinya.


"James Montana," Max menunjuk seorang prajut dengan rambut gelap yang berdiri di antara prajurit lainnya, "Dia adalah seorang ahli strategi dan kemampuannya yang paling handal adalah dia bisa memasuki area lawan tanpa terditeksi lalu melenyapkan musuh hanya dalam beberapa detik, kami menjulukinya Hunter."


Alex dan Dylan terperangah mendengar cerita Max, mereka kini menatap sosok itu dengan lebih seksama, mencoba membandingkannya dengan foto pria bertopi dari hasil CCTV yang tidak begitu jelas membuat keduanya kesulitan mencari kesamaan di antara keduanya dan tentu saja selain faktor umur dari pria itu yang kini telah berusia empat puluhan membuat fisik pria itu mengalami perubahan yang signifikan.


"Lihat jarinya," perintah Max sambil menunjuk foto dari CCTV, "Jari kelingking sebelah kirinya tidak ada." Alex memerhatikan foto itu dari jarak yang lebih dekat kemudian ia terbelalak, merasa penasaran Dylan mengambil foto dari tangan Alex dan menyadari kebenaran ucapan Max.


"Hunter kehilangan jarinya ketika ia tertangkap di Afganistan, dia mengalami penyiksaan oleh pemberontak sebelum tentara kita berhasil membebaskannya." Max terdiam beberapa saat menatap kedua pria yang duduk dihadapannya dengan serius.


"Tapi bukan cuma dia yang tidak memiliki jari kelingking, Max," Alex mencoba berpikir rasional sebagai seorang detektif.


"Iya kau benar, detektif, tapi kalau ini adalah tanda lahir dan bukan tato aku dapat pastikan kalau ini adalah Hunter," ujar Max sambil menunjuk tanda lahir dengan bentuk tak beraturan di punggung tangan pria bertopi itu, Alex kembali mengambil kedua buah foto lalu membandingkannya, ia bisa melihat tanda yang sama juga dimiliki oleh prajurit itu.


"Dan kalau tebakkanku benar kalau dia adalah Hunter, maka kalian memiliki lawan yang sulit dia adalah salah satu prajurit terbaik." Max dapat melihat kecemasan kedua pasang mata pria dihadapanya.


"Apa kau mengenalnya dengan baik, Max?" Max terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Dylan kemudian dengan enggan akhirnya dia mengangguk.


"Iya, sangat baik karena akulah yang mendidik dia hingga seperti itu."


*****