
"Selamat pagi, Cupcake," Dylan mencium kepala Emily yang masih terbaring nyaman di tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan dikamarku?" Suara Emily terdengar serak, dan matanya masih setengah terpejam.
"Semalam kami semua tidur di sini, Em, Daniel harus pergi pagi-pagi sedangkan yang lainnya sedang menunggumu di ruang depan."
"Apa ada hal penting?" Emily langsung duduk dan tersadar penuh dari tidurnya, berharap polisi sudah mendapatkan titik terang dari kasusnya.
"Tidak, tapi ada sesuatu yang harus kami bicarakan kepadamu," Dylan merapihkan rambut Emily yang terlihat berantakan tapi terlihat seksi di mata pria itu.
"Baiklah, berikan aku waktu lima menit untuk merapihkan diri." Dylan mengangguk lalu mencium kepala gadis itu sebelum keluar dari kamarnya.
Lima menit kemudian Emily keluar dari kamar dan mendapati ketiga pria itu sedang duduk di sofa ruang depannya dengan masing-masing memegang cangkir kopi, Dylan memberikan gadis itu satu mug coklat panas favoritnya, sebelum akhirnya duduk bergabung dengan mereka di sofa kuningnya.
"Apa tidurmu nyenyak, Em?" Alex tersenyum menatap Emily yang terlihat seperti anak kecil pagi ini dengan mengenakan celana pendek selutut dan kaos oblong biru muda yang terlihat kebesaran dibadannya, dia terlihat sangat menggemaskan.
"Ok, hal penting apa yang mau kalian bicarakan padaku?" Emily memegang mug coklatnya dengan kedua tangan dan mulai meminumnya.
Ketiga pria itu saling pandang, sebelum akhirnya Dylan berkata, " Em, mulai hari ini kau akan tinggal bersamaku."
Awalnya gadis itu hanya diam melihat ketiga pria itu secara bergilaran sebelum akhirnya dia mulai mengoceh menolak ide gila itu, Dylan memang sahabatnya tapi tidak mungkin dia tinggal satu apartemen dengannya, sebut saja dia kolot atau apapun juga, tapi ibunya mendidik dia dengan adat timurnya, tidak boleh ada alkohol, tidak ada pergaulan bebas. Dan sekarang dia akan tinggal satu apartemen dengan Dylan? Walaupun ibunya sudah mengenal Dylan dengan baik, tapi dia pasti akan terkena serangan jantung kalau mendengar anak gadisnya tinggal di apartemen yang sama dengan pria yang mencintainya, tanpa ikatan apapun.
"Dengar, Em, ini bukan waktunya kau berpikir tentang pantas dan tidak pantas. Ini demi keselamatanmu, Ibumu pasti memahami hal ini dan aku yakin dia akan setuju dengan kami, karena dia tidak mau anak gadisnya berada dalam bahaya." Dylan berusaha memberikan penjelasan tentang kondisi saat ini yang mengharuskannya mengambil keputusan ini.
"Em, keamanan diapartemenmu tidak begitu baik, aku bisa saja meminta beberapa polisi untuk menjagamu di sini, tapi aku yakin kau tidak mau hal itu iyakan?" Emily mengangguk menjawab pertanyaan Alex.
"Apartemen mereka dilengkapi sistem keamanan nomer satu, selain itu mereka akan selalu ada untuk menjagamu selama 24 jam, kau akan aman tinggal dengan mereka, sampai aku menangkap ******** itu, Em, aku janji secepatnya akan menangkapnya." Alex menggenggam tangan gadis itu yang masih duduk diam memikirkan semuanya.
"Tidak bisakah aku tinggal dengan Daniel?" Emily menatap Alex dengan matanya yang bulat.
Alex menggelengkan kepala, "Daniel ada tugas di luar selama sepuluh hari ini... Em, Daniel punya tanggung jawab yang harus dia kerjakan, dia bisa menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik, dia akan baik-baik saja." Alex cepat-cepat menjelaskan tentang kepergian kakaknya itu, sebelum gadis itu membuka mulutnya untuk bertanya lebih lanjut.
"Baiklah, aku akan tinggal dengan Dylan sampai penjahat itu ditangkap."
Perkataan Emily itu membuat ketiga pria di depannya menghembuskan napas lega, Dylan tersenyum sambil merangkul bahu gadis itu, sedangkan Theo mengacak-ngacak rambutnya seperti anak kecil, dan Alex mencubit kedua pipi gadis itu sambil berkata, "Gadis pintar."
"Baiklah, aku rasa aku harus berkemas," Emily bangkit dari duduknya.
"Kau tidak perlu melakukannya, Em, kami telah melakukannya untukmu." Theo menunjuk koper dan satu tas kecil yang berada dekat pintu keluar apartemennya.
"Jadi kalian sudah mengetahuinya kalau aku akan setuju dengan ide kalian?" Emily menatap ketiga pria itu yang kini tengah tersenyum penuh kemenangan, lalu memutar bola matanya tak percaya.
"Ayo sebaiknya kita pergi sekarang." Alex berjalan ke arah pintu dan membuka kunci apartemennya.
"Tunggu sebentar, aku akan berganti pakaian."
"Kau tidak perlu berganti pakaian, Em, kau sudah terlihat cantik."
Dylan merangkul bahu Emily dengan sedikit tekanan sehingga gadis itu tidak bisa beranjak kemana-mana. Alex yang pertama keluar dari apartemen setelah di nilai aman dia memberi tanda yang lainnya untuk mengikutinya.
"Em, aku lupa memberitahumu satu hal lagi."
Emily menatap Alex menunggu kelanjutan ucapannya ketika pintu lift itu terbuka, lalu mereka semua memasukinya.
"Ayahku telah menghubungi Bosmu dan kau akan cuti selama beberapa hari." Theo berkata dengan santai, dan Emily hanya bisa menganga tak percaya, dia tahu percuma saja dia membantahnya karena mereka sudah memutuskannya untuknya.
Oh Tuhan, dia berharap penjahat itu cepat tertangkap sehingga dia bisa terlepas dari para pria posesif ini.
*****